
Mobil yang di tumpangi Arie melaju dengan cepat membelah kemacetan Surabaya. ibu hamil itu lebih pendiam daripada biasanya. Ia hanya terus menatap ke arah luar mobil.
Semua yang di ceritakan oleh Kakak iparnya terus terngiang di telinganya. Kenapa Alex tidak menceritakan semuanya, apa Alex sengaja melakukannya. Apakah suaminya punya alasan lain?
Bagaimana nasib Ayah dan kakaknya sekarang? Apa mereka baik-baik saj. Melihat keadaan Nana yang menangis membuat Arie merasa bersalah. Ia harus selesai masalah ini secepatnya.
"Mba Boss, sudah sampai."
Teguran sang sopir membuat Arie tersadar dari lamunannya. Ia bahkan tidak sadar kalau sang pengawal sudah membukakan pintu untuknya, Arie pun menerima uluran tangan pengawalnya.
Otaknya yang masih sibuk memikirkan bagaimana ia harus bertanya pada suaminya tanpa membuatnya marah. Arie tidak suka saat Alex marah karena ujung-ujungnya dia sendiri yang harus begadang untuk memuaskan pusaka suaminya. Dengan langkah perlahan Arie berjalan dengan di bantu sang pengawal.
"Silahkan Nyonya," ujar sang pengawal setelah membukakan pintu ruangan tuannya.
Arie tersenyum. Pengawal itu menunduk hormat sebelum pergi meninggal ruangan itu. Arie berjalan mendekati sofa, lalu perlahan mendudukkan dirinya.
Ruangan besar itu tampak kosong. Entah ke mana tuan sipit itu sekarang. Bosan menunggu. Arie memutuskan untuk mencari suami tercintanya. Baru saja Arie hendak bangkit dari duduknya.
Mendengar suara pintu dibuka, Arie menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah pintu.
"Sayang apa yang kau lakukan." Alex bergegas menghampiri sang istri dengan setengah berlari. Arie menyambut kedatangan suaminya dengan senyum manisnya.
Alex segera membantu istrinya untuk kembali duduk. Alex mengambil bantal kecil lalu meletakkannya di belakang Arie, agar sang istri bisa duduk lebih nyaman. Alex meraup rambut Arie yang tergerai dengan satu tangannya, lalu mengipasi Arie leher istrinya dengan tangan lainnya. Sungguh perhatian kecil seperti ini membuat Arie meleleh.
"Sudah puas mainnya?" tanya Alex dengan terus mengipasi leher Arie yang berkeringat. Arie mengangguk kecil.
Ibu hamil itu masih memikirkan kata yang tepat untuk mulai bicara. Alex melepaskan rambut istrinya setelah tidak lagi melihat buliran keringat di kulit Arie.
"Alex apa kau tidak ingin memberi tahu aku sesuatu?" Arie mencoba memancing agar suami sendiri yang memberi tahunya.
"Apa?" Alex mengerutkan keningnya.
"Eh.. tidak tahu, mungkin kau ingin menceritakan cabang barumu."
Alex menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia tidak ingin berbohong pada istrinya, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin istrinya marah jika tahu dialah yang menghancurkan keluarga Sasongko.
"Apa yang harus aku ceritakan sayang, semua berjalan lancar. Ini semua membuatku sangat sibuk, sampai suamimu ini tidak punya waktu untuk sekedar memanjakan ratunya." Alex menarik lembut tangan sang istri hingga membuat wanita itu merebahkan kepalanya di atas dada sang suami.
Alex mengusap lembut rambut Arie sambil mencium pucuk kepalanya. Wangi yang selalu jadi candunya.
"Kalau begitu kenapa tidak minta tolong orang kepercayaanmu untuk mengurusnya. Aku tidak mau suami kesayanganku kelelahan," Ucay Arie dengan manja. Seulas senyum terukir di bibir Alex mendengar kata kesayangan.
"Benarkah aku kesayanganmu?"
"Tentu saja, setelah Ipul kau juga kesayanganku," ujar Arie menggoda. Arie tertawa dalam hati mendengar Alex terus menggerutu.
"Sebaiknya aku pecat saja supir sialan itu."
__ADS_1
"Eh, jangan dipecat kasihan kan pengantin baru."
"Kau kasihan padanya, tapi tidak pada suamimu. Keterlaluan." Alex mencubit pipi bakpao Arie dengan gemas. Arie terkekeh, lalu menarik dirinya Ia menatap intens pada mata Alex.
"Alex aku kangen Ayah, aku ingin mengunjunginya sekarang, tinggal beberapa hari lagi sebelum aku melahirkan. Aku ingin bertemu dengan ponakan kecilku, aku belum pernah mengunjungi mereka sejak bayi itu lahir." Arie mengedipkan mata beberapa melihat Alex dengan mata memohon.
Glek.
Alex menelan salivanya dengan kasar. Yang ia takutkan akhirnya terjadi.
"Sayang, kita bisa kesana lain waktu ya. Aku sangat sibuk sekarang," kilah Alex. Sebenarnya tuan sipit tidak berbohong, ia memang sangat sibuk. Akan tetapi yang lebih penting dari itu, dia belum mengetahui dimana Ayah mertuanya itu tinggal saat ini. Dia juga belum menjelaskan apa yang terjadi pada sang istri.
Arie melipat kedua tangannya, mukanya di tekuk masam dengan bibirnya yang sudah manyun lima centi. Matanya sudah mulai memerah dan berkaca kaca.
"Hey... jangan seperti ini, aku janji akan membawamu bertemu dengan ayah, tapi jangan menangis." Alex merengkuh tubuh Arie dalam pelukannya.
"Makanya jangan terlalu sibuk, kau bahkan tidak sempat untuk mengantar istrimu ke rumah ayahnya sendiri untuk berkunjung. Mau bisa minta tolong kak Arow untuk mengurus cabang barumu. Aku dengar dia berkerja di perusahaan kecil sekarang,bukan lagi seorang CEO," ucap Arie panjang lebar.
Alex melonggarkan pelukannya, menatap heran pada sang istri.
"Darimana kau tahu?" Alex menautkan kedua alisnya.
"Darimana aku tahu itu tidak penting, tapi kau berhutang penjelasan padaku!" tegas Arie. Ia melepaskan tangan Alex dengan paksa, lalu beringsut mundur. Jika memungkinkan ia ingin segera berdiri dan secepat mungkin menjauh dari suaminya. Akan tetapi dengan kondisinya sekarang gerakan seperti itu malah akan menyusahkan dirinya sendiri.
Alex menghela nafasnya. sepertinya ia tidak bisa lagi menyembunyikan semua ini lebih lama.
"Semuanya, kenapa kau mengambil alih SS Group. Lalu rumah besar itu sekarang milikmu jugakan?!"
"Bukan."
"Bukan, jangan bohong!"
"Aku tidak bohong, itu semua milikmu bukan milikku."
Arie melongo mendengar ucapan suaminya. Arie mengelengkan kepalanya, di sambut anggukan kecil oleh Alex. Sebelum ia menopangkan dagunya di bahu Arie.
"Kenapa?"
"Karena aku mau."
"Yang jelas kalau ngomong," ketus Arie.
"Hmm.. seharusnya bukan aku yang harus menjelaskan sesuatu di sini, tapi kau."
"Aku." Arie menunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
__ADS_1
"Kau, menyembunyikan sesuatu dari ku." ucap Alex dengan raut wajah yang sudah tidak bersahabat.
Alex melepaskan pelukan, dan berdiri di depan sang istri.
"Aku, apa yang aku sembunyikan?" Arie mengerutkan keningnya, menatap Alex dengan bingung.
"Jangan kira aku tidak tahu bagaimana cara Nyonya besar itu memperlakukanmu. Dia bahkan, memanggilmu cucu haramnya dan kau diam saja. Kau hanya menangis dan tidak memberi tahu siapapun, Bahkan ayah mertua juga tidak tahu.
Kau pikir aku akan diam melihatmu di perlakukan seperti itu. Kau menyembunyikan semua itu dariku, aku hanya membalas apa yang apa yang dia lakukan. Apa itu salah!" ucap Alex dengan bersungut-sungut, mengingat bagaimana kasarnya wanita itu berbicara pada istrinya, dada Alex kembali bergemuruh. Kilatan amarah jelas terlihat di matanya.
Arie terkejut mendengar penuturan suaminya. Ternyata ia melakukan semua ini untuknya. Antara haru bahagia dan marah, Arie menatap suaminya dengan penuh arti.
Alex membalikkan badannya, lalu berjalan menjauh dari istrinya. Ia menghindar, tidak ingin berbicara lebih kasar lagi.
"Kau melakukannya untukku?" Alex bergeming.
"Sayang.." panggil Arie dengan lembut.
"Hem." jawab Alex singkat tanpa menoleh.
"Sayang, bantu aku!" pekik Arie keras. Alex menoleh, melihat Arie yang kesulitan untuk berdiri. Ia pun segera melangkah mendekat dan membantu istrinya.
"Duduk saja, kenapa berdiri!" ketus Alex. Ia memegangi tangan sang istri untuk membantunya.
"Aku mau menghampiri suamiku, sepertinya dia sedang ngambek."
Alex mengendengus, memalingkan wajahnya. Arie terkekeh kecil. Sungguh menggemaskan. Arie mengalungkan tangannya di leher Alex, menjinjitkan kakinya agar bisa melabuhkan kecupan kecil di bibir suaminya.
"Terima kasih,"ucapnya tulus.
"Hem."
"Jangan hem dong, ga suka ya di cium istrinya." Arie melepaskan tangan. Alex menangkap tangan itu dan mengalungkan lagi di lehernya.
"Suka, suka banget malah. tapi aku masih kesal mengingat apa yang di lakukan nenekmu itu. Kalau saja dia seorang pria, aku pasti sudah menghajarnya sampai babak belur, lalu membuangnya ke Afrika."
"Wah, ngeri ya!" Arie pura pura bergidik geri.
"Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh milikku!" tegas Alex, ia menatap dalam pada manik mata Arie.
"Sayangnya dia perempuan, tua. Jadi, kau tidak bisa melakukan itu semua." Arie tertawa kecil melihat wajah kecewa Alex.
"Hah.. kau benar, karena dia tua!" Alex ikut tertawa bersama Arie.
"Karena dia tua, jadi...
"Jadi apa?"
__ADS_1