Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Ada apa denganku?


__ADS_3

Sebuah sentuhan lembut mengusap rambut kusut Alex yang terlelap di ranjang istrinya. Pria sipit itu duduk di kursi rodanya, dengan kepala yang tersandar di brankar sang istri. Ia begitu tidak ingin jauh dari wanita yang paling penting dalam hidupnya.


Lembut dan dingin, sentuhan itu membangunkan Alex dari lelapnya. Mata sipitnya mulai mengerjap, saat ujung jemari lentik itu membelai pipinya. Alex mengangkat kepalanya, ia terpaku. Sepasang mata yang sayu dan seulas senyum yang sangat tipis, terlihat di wajah pucat yang masih terlihat cantik itu. Ia melihat ke arahnya dengan semburat rasa rindu.


"Sayang, kau sudah sadar!" wajah Alex berbinar bahagia. Ia mencium punggung tangan Arie berkali kali, lalu segera menekan tombol nurse untuk memanggil dokter dengan satu tangan lainnya.


Sadar?


Aku kenapa?


kenapa kita ada di sini?


Arie mengerakkan mulutnya. Namun, tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Perlahan Arie mengerakkan jemari tangannya dengan susah payah. Meraba perutnya yang terasa datar.


Perutku?


Bayiku, dimana bayiku?


Apa dia baik-baik saja?


Dimana dia?


"Sayang ada apa? katakan sesuatu!" pekik Alex panik. Ia mengenggam erat tangan istrinya.


Arie masih berusaha untuk bicara. Namun, tap ada satu katapun yang berhasil keluar dari bibirnya. Ia bahkan berusaha mengeja huruf dengan mulutnya. Namun, sayangnya bibir itu tidak bergerak sesuai kehendaknya, ia hanya sedikit terbuka dan mengatup beberapa kali.


Kenapa aku tidak bisa bicara?


Aku...bisu?


Aku tidak bisa mengerakkan bibirku. Aku tidak bisa, kenapa?


Alex apa yang terjadi padaku?


Katakan ...


Arie mengerakkan bola matanya ke arah Alex, dengan tatapan nanar pada sang suami yang sedang menatapnya.


Bulir-bulir bening meleleh dari sudut matanya. Alex semakin panik melihat Arie yang mengeluarkan air matanya.


"Sayang, Apa kau merasa sakit? bertahanlah sebentar lagi dokter akan datang," ucap Alex dengan panik.Ia menduga Arie menangis karena merasakan sakit pada tubuhnya. Mengingatkan berapa banyak luka dan jahitan yang di terima oleh tubuh mungilnya.

__ADS_1


Aku kenapa?


Kenapa kau bertanya begitu?


Alex mengenggam erat tangan Arie. Mencoba meredam kepanikannya sendiri. Alex merasa dia tidak berguna sama sekali. Ingin rasanya ia memindahkan semua rasa sakit di tubuh istrinya. Cukup dia saja yang terluka.


Tama segera masuk ke dalam ruangan rawat Arie, setelah mendapat panggilan dari kode nurse. Dengan langkah cepat ia berjalan ke ranjang Arie. Tanpa bertanya pada Alex. Tama segera melakukan pemeriksaan singkat pada Arie.


Mata Alex mengekor pada tiap gerakan tangan Tama. Kali ini bukan karena cemburu, tapi karena Alex ini membantu sesuatu, apa saja. Alex menunggu Tama mengatakan sesuatu yang bisa dia lakukan untuk istrinya.


Setelah melakukan periksa. Tama pun menoleh pada Alex yang sedang memperhatikannya. Tama sadar sepasang mata itu sudah lekat memperhatikannya sejak tadi. Namun, anehnya Tama tidak melihat adanya kilatan cemburu di manik hitam itu. Mata itu justru terlihat mengiba, seperti memohon sesuatu padanya.


Sejak kapan Arie sadar?


Sadar?


Aku kenapa?


Apa aku terluka, Dokter Tama tolong jelaskan sesuatu padaku?


Arie menatap Tama dengan terus bertanya dalam diamnya.


"Baru saja, lalu aku langsung menekan tombol nurse untuk memanggilmu," jawab Alex singkat, matanya masih terus memperhatikan Tama dengan binar mata yang sama.


Aku koma!


"Apa bisa di sembuhkan?" tanya Alex dengan sangat cemas. Ia takut semua ini akan permanen.


Tidak masalah jika memang Arie menjadi bisu. Dia akan tetap mencintainya seperti sebelumnya. Namun, Alex tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan sang istri yang harus menerima kenyataan pahit kalau dia harus kehilangan suaranya.


"Apa itu bisa di sembuhkan? kapan Arie bicara lagi? Apa yang harus aku lakukan?" lirih Alex di saat mengatakan pertanyaan terakhir. Tanpa permisi air matanya mulai jatuh perlahan.


Arie melirik ke arah suaminya dengan tatapan sendu. Wanita itu ingin sekali meraih tubuh Alex dan menenggelamkan dirinya dalam pelukannya hangat suaminya.


Sayang...


Tama pun mengangguk dan melihat ke arah pasiennya lagi. Arie melihat Tama dengan sejuta tanya di sorot matanya.


"Kau sudah melahirkan. Selamat kau melahirkan seorang putri yang cantik," ucap Tama saat ia menangkap jemari Arie yang meremas selimutnya di bagian perut.


Arie berganti melihat ke arah suaminya.

__ADS_1


Apakah itu benar, Sayang?


Seakan mengerti apa yang ingin diucapkan oleh istrinya. Alex pun menanggapi tatapan sayu itu dengan anggukan. Arie menggeser Wajah melihat kearah langit langit. Ia memejamkan matanya dengan penuh syukur.


Terima kasih Tuhan kau telah memberi aku seorang putri.


Di mana dia sekarang?


Di mana putriku?


Aku ingin bertemu dengannya, Alex. sayang tolong antarkan aku melihatnya.


Arie melihat ke arah suaminya, dengan sekuat tenaganya, Arie berusaha untuk berbicara. Bahkan rasanya dia sudah berteriak memanggil nama Alex. Namun, tetap saja tak satupun kata yang keluar dari kerongkongannya.


Dokter Tama, di mana putriku?


Tama!


Dasar kalian semua tuli.


Arie memberengut kesal, akan tetapi kenyataannya ia hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.


Sedangkan kedua pria yang ia teriak dan umpat dengan sekuat tenaganya sedang membicarakan sesuatu tentang dirinya. Itulah kenapa Alex dan Tama tidak menyadari sepasang manik kecoklatan yang sedang menatap mereka.


"Aku akan segera menyiapkan beberapa pemeriksaan mendetail pada Arie. aku akan membawanya ke untuk melakukan CT scan," ucap Tama menjelaskannya.


"Aku ikut, Aku akan ikut kemanapun ia pergi!" tegas Alex dengan nada tak ingin di bantah.


"Tidak bisakah kau diam dan beristirahat di sini. Berbaringlah dengan nyenyak, biarkan kami para dokter melakukan tugas kami tanpa mendapatkan tatapan tajam darimu , Tuan." ucap Tama setengah memohon.


"Tidak bisa, aku akan ikut."


"Alex dengarkan aku, kau juga butuh istirahat. Kondisimu belum bisa dikategorikan baik. Kami juga harus memantau perkembangan paru-parumu."


Alex menatap tajam pada Tama. Bagaimana dokter gila itu bisa mengatakan keadaan Alex di depan istrinya yang baru saja sadar dari koma.


Alex menarik lengan Tama, memberikannya isyarat untuk mengikutinya. Tama dengan bodohnya masih menautkan alis.


Dengan satu tangannya yang mengerakkan roda pada kursi rodanya. Sementara tangan lainnya di gunakan Alex untuk mengeret Tama sedikit menjauh dari brankar sang istri.


Alex menarik lengan Tama dengan kasar agar dia menunduk.

__ADS_1


"Apa kau ingin aku memindahkan mu ke Afrika hah!" bisik Alex dengan kesal.


"Gila, jangan mentang-mentang kau donatur terbesar di rumah sakit ini, kau bisa seenaknya saja memindahkan dokter terbaik sepertiku," tukas Tama yang tak mau kalah.


__ADS_2