Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Lagi


__ADS_3

Malam ini terasa panjang, suhu di kamar yang ber AC itu tak bisa mendinginkan dua manusia yang terbakar, suara ketukan pintu kamar yang terus menerus tak menganggu mereka, kali ini Arie menakup wajah Alex yang masih mengungkungnya, ******* bibir yang terlihat begitu menggoda, Arie mengubah posisi mereka kali ini dia duduk di atas suaminya, meskipun masih terasa pedih tapi dia menginginkan ya lagi, kali ini dia menghentakkan pinggulnya naik turun, membuat Alex merasakan kenikmatan yang luar biasa, tangan Alex mencengkeram bulatan di tubuh bagian belakang Arie, mengangkatnya membantu Arie mengayun lebih dalam.


"Auuhhhh" Arie menjerit kecil saat ujung paku bumi terasa menyentuh bibir rahimnya.


seketika itu ketukan di pintu terhenti, namun tak menghentikan aktivitas panas di ranjang yang sudah tak berbentuk lagi, setelah beberapa hentakan, tubuh Arie sudah ambruk di atas dada bidang suaminya, kini Alex mengubah posisi, dia mengungkung tubuh Arie lagi, dia menghujamkan kembali miliknya, d***han kenikmatan seperti lagu syahdu yang mengiringi malam mereka, tak terhitung penyatuan yang mereka lakukan, kedua tubuh polos itu bersimbah peluh, terlelap di saat bulan sudah mulai meredup.


Mata Arie terbuka saat matahari mulai merayap naik, bukan pagi jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan. Arie menyibakkan selimut melihat tubuh polosnya membuat Arie malu, mengingat bagaimana dia berlaku seperti wanita j*l*ng merayap di atas tubuh suaminya.


Perlahan Arie menurunkan kakinya.


"Aiiiisssshhh... " Arie mendesis merasakan perih di antara pahanya.


"mau kemana?" tanya Alex dengan suara seraknya.


"kamar mandi"


"apa kau bisa berjalan"


"bisalah, masa punya kaki ga bisa jalan" ketus Arie. Sambil menahan rasa nyerinya Arie melangkah perlahan, dengan cara jalannya yang seperti pinguin, ah jelas pertempuran semalam membuatnya sudah seperti ini.


Arie terhenyak saat tubuhnya terasa melayang, Alex mengangkat tubuh kecilnya yang berisi dalam gendongannya.


"biar cepet"Arie pun mengalungkan kedua tangannya di leher Alex agar tidak jatuh.


"cepet sih cepet, tapi kamu... tapi jangan seperti, ini pake bajumu dulu" melihat Alex yang tel***jang dada membuat jantung Arie jedak jeduk, bukan dada saja, tapi bawahnya juga polos.


"aku .. kamu juga kan ga pake apa apa "


"eh....." Arie baru sadar dia juga polosan, Arie menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada bidang suaminya, Alex terkekeh melihatnya.

__ADS_1


Alex mendudukkan Arie perlahan di atas closed, lalu ia mulai mengisi air di bathtub dengan air hangat.


"Berendam lah sebentar, itu akan membuat mu merasa lebih baik, aku akan menunggu di luar"


Arie masih membuang mukanya ke samping, dia begitu malu melihat wajah Alex. setelah selesai membersihkan dirinya Arie keluar dari kamar mandi.


Senyum Alex merekah sempurna di bibirnya melihat bekas pertempuran mereka di atas ranjang miliknya, Ranjang yang seperti di sapu angin topan dan bercak merah yang kontras dengan warna sprei yang putih, menandakan dia yang pertama kali melakukan itu dengan Arie.


Sebenarnya hal itu juga yang pertama baginya, meski Alex sering ke club, tak di pungkiri dia pernah cium dan raba sana sini, namun untuk berhubungan intim, no. dia bukan tipe orang yang celap celup lubang buaya seenaknya, apa lagi Kakek Wu mengancam akan mencoreng namanya dari keluarga bila dia sampai punya anak di luar nikah.


"giliran mu" suara Arie membuatnya tersentak dari lamunannya.


"hemn" Alex pun berganti masuk untuk membersihkan dirinya.


Pikir Arie menerawang, apa yang sebenarnya terjadi semalam pada dirinya, dia begitu rakus dengan tubuh Alex seolah candu yang tak ada puasnya. permainan yang begitu kasar dan nakal tapi ia suka.


ceklek..


"kenapa kau menatapku seperti itu" ucap Alex sambil mengosok rambutnya yang basah dengan handuk.


"apa yang kau lakukan padaku"


"apa maksudmu, aku tidak mengerti"


"jangan pura pura Tuan Alex, kau pasti mencampur sesuatu dalam makanan ku,"


"oh... ayolah.. bahkan aku baru pulang kerja kemarin malam , dan aku tidak makan malam bersamamu, bagaimana kau bisa menuduh ku"


iya benar juga, batin Arie.

__ADS_1


"jangan jangan kau yang menjebakku, kau ingin menikmati tubuhku yang seksi ini kan", Alex mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka bertemu.


"kau gila, bukankah kau bilang tadi, kita tidak makan malam bersama dan kau menolaknya saat aku akan menyiapkan makanan untuk mu" ujar Arie sambil mendorong tubuh Alex menjauh.


"lalu menurutmu aku yang melakukannya"


"iyalah, mungkin karena kau mau balas dendam, karena waktu itu gagal"


"CK... aku bisa melakukan itu tanpa obat apapun"


"jangan mengelak lagi pasti kau kan"


"kau"


"kau"


"kau"


"kaaauuuu" Arie meninggikan suaranya.


"ok...ok kalau memang benar aku apa boleh, sekali lagi" ujar Alex sambil mengerakkan alisnya naik turun. pipi Arie merona mendengar ucapan Alex.


"tapi...tapi... masih sakit" rengek Arie manja.


"aku sudah mengakuinya bukan, lagi pula dia juga sudah bangun" Alex menarik lembut tangan Arie membawanya menyentuh Alex kecil yang sudah tegak berdiri, di balik handuk .yang melilit di pinggang Alex, mata Arie membulat sempurna saat merasakan, apa yang di sentuh oleh jemarinya.


"dasar mesum" Arie memukul lengan Alex. dengan wajah yang merona.


"lagi ya"

__ADS_1


"tapi aku nanti ga bisa jalan" rengek Arie manja.


"aku gendong, lagi ya" Alih Alih berkata iya, Arie mengangguk sambil menggigit bibirnya bawahnya, Alex menyibakkan handuknya siap untuk bertempur sekali lagi.


__ADS_2