Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Kasih sayang Kakak


__ADS_3

Tama mengantarkan Arie ke rumah keluarga besarnya, sesuatu dengan permintaan Arie. karena Tama harus segera kembali berkerja, Tama hanya mengantar Arie sampai di depan pintu.


Ceklek.


Arie membuka pintu utama, Rumah besar itu terlihat sepi, tapi samar Arie mendengar suara tawa, mengikuti suara itu Arie sampai di sebuah ruangan dengan sofa besar dan layar datar besar yang terpasang di salah satu dinding.


"Apa aku menganggu kalian," Arie begitu saja ikut duduk di sebelah Arow yang sedang melihat film dengan istrinya.


"Eh, Arie kapan datang," ucap Nana yang yang bersandar manja di bahu suaminya. wajah Nana tak lagi pucat, perutnya terlihat semakin membesar.


"Baru saja," Arie pun ikut bersandar di bahu lain Arow.


"Aku seperti mempunyai dua istri kalau, seperti ini." Arow merangkul kedua wanita itu.


"Kalau begitu buat kedua istri mu ini senang, aku ke sini karena bosan di rumah, lalu apa bedanya kalau di sini juga sama," ujar Arie kesal.


"Bagaimana apa permaisuri ku juga menginginkan, apa yang selir ku mau." ucap Arow sambil menaik turunkan kedua alisnya, Nana terkekeh dengan tingkah Arow.


"Tentu, aku tau kaisar adalah orang yang adil, tidak ada salahnya kita memenuhi keinginan selir kecil kita." Nana memeluk erat pinggang suaminya.


"Cih.. menyebalkan, kalau mau drama jangan di sini," Arie mencebikkan bibir.


sepasang suami istri itu tertawa, puas rasanya mereka mengoda Arie.


"Ayolah jangan merajuk, aku akan memenuhi semua keinginanmu, ok," Arow mencoba membujuk adiknya.


"Baiklah, aku pingin ke Mall, pengen borong, pengen belanja, aku menghabiskan tiap sen yang ada di dompetmu," ucap Arie dengan bersungut-sungut.

__ADS_1


"Wah...wah.. lihatlah Adikku sudah mulai merampok kakaknya sendiri," ujar Arow sambil terkekeh.


"Baiklah, rampok aku sebanyak kau bisa," Arow bangkit dari duduknya, lalu membantu permaisurinya bangkit, karena perut Nana yang cukup besar membuat wanita cantik itu kesulitan bangun.


Arie mengandeng lengan kakak iparnya, berjalan menuju ke pelataran rumah. Arow dengan hati hati membantu istrinya duduk di depan, di samping kemudi. Mobil yang mereka tumpangi melaju cepat membelah kemacetan kota Surabaya, tak lama mereka pun sampai di sebuah pusat perbelanjaan, Arow merengkuh pinggang istrinya di sebelah kanan, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Arie.


Beberapa mata pengunjung Mall mengawasi mereka, berbisik bisik dengan persepsi mereka sendiri, sangat banyak manusia yang menilai seseorang dari apa yang mereka lihat, tanpa mau tau keadaan sebenarnya, mereka lebih suka berspekulasi sendiri, Arie memutar matanya malas, saat mendengar beberapa Ibu ibu yang membicarakannya.


"Kasian ya, istri tuanya hamil tua, kok pake masih gandeng wanita lain,"


"Iya, ceweknya juga ga tau mau, tempat umum gini terang terangan gandeng suami orang," timpal ibu lain di sampingnya.


Mendengar nitijen nyinyir Arie malah bergelayut manja di lengan Kakaknya, sambil tersenyum miring ke arah ibu ibu yang membicarakannya, biar sekalian puas kalian liat sinetron ikan terbang live, mungkin begitu pikiran Arie.


"Kau mau beli apa, Katan mau menghabiskan tiap sen uang kakakmu ini," ujar Arow, sambil menepuk-nepuk kepala Arie.


"Food court," Arow mengerutkan keningnya.


"Iya," jawab Arie santai.


"Kau tidak ingin beli, sepatu, tas , baju, perhiasan atau apalah,"


"Udah ya Kak, ga usah banyak tanya, masih mending aku ngakak ke food court di Mall gini, aku tuh kasian sama kak Nana kalau aku ngajak ke jajanan pinggir jalan, sebenarnya aku ga pingin ke sini, tapi yah mau gimana udah sampai juga sih ya, nikmati aja," Arie terus saja nyerocos sendiri, sampai tak sadar dia meninggal dua sejoli jauh di belakangnya.


"Ya ampun, lama banget sich!" Arie kembali melangkah ke belakang.


"Aku sudah lapar nih, cepetan," Arow dan Nana hanya bisa terkekeh melihat tingkah Adiknya.

__ADS_1


Sampai di jajaran para penjual makanan, Arie menyuruh Arow dan Nana untuk duduk menunggunya di salah satu meja, semetara dia sendiri, berkeliling untuk memesan makanan. tak berapa lama Arie duduk dengan kedua Kakaknya dengan senyuman yang lebar.


Seseorang wanita membawa nampan menghampiri mereka lalu meletakkan, Ayam goreng tepung dengan saus telur asin, udang crispy saos mentai, dia tersenyum lalu pergi, Arow baru akan mengambil sepotong ayam, namun Arie segera menepisnya.


"Tunggu," ujar Arie datar.


Dua orang datang dengan membawa dua mangkok seblak extra toping, seporsi besar bakso bakar, martabak telor dengan keju mozzarella. Setelah kedua berlalu, datang lagi yang lain dengan membawa sate taican, iga bakar madu, dan beberapa makanan lainnya, serta tiga jus buah semangka dalam gelas besar. Arie menyeringai melihat meja panjang di hadapannya penuh, sementara Arie memijit pelipisnya.


"Kau yakin akan memakan semua ini," Arow menatap heran pada Adiknya.


"Ga," Arie mengelengkan kepalanya, Arow kembali memijit pelipisnya.


"Sudah, yang penting Arie senang, Hem," Nana mengelus lengan suaminya.


Nana menatap Arie yang hanya. mengaduk aduk jus buah dengan sedotannya, Nana tau ada sesuatu yang menganggu fikiran Arie, sebagai sesama bumil, dan sebagai seorang kakak.


"Ayo makanlah," ujar Nan yang sudah duduk di samping Arie, yang menyodorkan sendok di depan adiknya.


Arie menatap Nana sejenak, lalu membuka mulutnya, membiarkan makanan di atas sendok itu masuk ke dalam mulutnya. Nana tersenyum melihat mata Arie yang sudah berkaca-kaca, seakan mengucapkan terima kasih lewat bening matanya, Nana mengangguk kecil seolah mengerti.


"Kenapa aku di cuekin," Ujar Arow yang sudah merasa seperti obat nyamuk.


"Ssstt...aku ingin memanjakan Adikku, jadi Raja diam dulu, ok," ucap Nana dengan senyum manisnya.


"Ya..ya... terserah," Arow meraih sate taican, lalu memasukkan ke dalam mulut.


Arie tergelak bersama Nana, melihat wajah Arow yang di tekuk masam, Nana mengambil sepotong iga lalu menyuapkannya pada Arow, Arie menatap kedua dengan hari, dia bersyukur bisa mendapatkan dua Kakak yang menyayanginya.

__ADS_1


__ADS_2