Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Baby girl


__ADS_3

"Huf ... haah ...huf ... haaa ..."


"Ayo Sayang semangat!" seru Tama sambil menirukan tarikan nafas Siska.


"Huf.. Ngghh,"


"Mas! aku yang sakit kenapa kamu yang ngejan!" bentak Siska.


Ia terus mencengangkan lengan Tama yang ada di sampingnya. Kuku kukunya tertancap menembus kulit dokter itu.


"Aku juga sakit, Sayang." ujar Tama yang menahan perih di lengannya.


Bidan dan perawat di sana ingin tertawa tapi takut dosa, melihat dokter yang biasanya handal menangani pasiennya sekarang malah bertindak seperti orang bodoh.


"Tarik napas hembuskan."


"Heengh..." Siska sekuat tenaga memberikan dorongan pada sang buah hati.


"Semangat Bu, sebentar lagi sudah mulai kelihatan rambutnya," ujar sang Dokter memberikan semangat.


Raut wajah Tama ikutan mengkerut saat melihat istrinya mengejan.


"Ayo Sayang, aku bantu kamu ngejan. Aku sedang membantumu mendorong bayi kita."


"Mas!" Pekik Siska kesal.


"Ughh...!" Siska mengejan setelah mengambil nafas dalam.


"Ambil nafas lagi, sedikit lagi. Ayo Nyonya," ujar sang Bidan memberikan semangat.


Tama sungguh tidak tega melihat istrinya merintis kesakitan, wajahnya penuh peluh. urat-urat lehernya menegang. Meskipun ia sering melihat pasien yaang kesakitan tapi melihat orang yang disayanginya menderita seperti ini membuat Tama ikut merasakan sakitnya.


"Ayo cepat keluar Nak, jangan buat Mama menderita seperti ini. Aku akan membelikan mobil untukmu. Apa kau tega melihat Papa berubah jadi harimau dengan semua cakaran di tubuh Papa," bujuk Tama pada sang bayi.


Para petugas medis yang ada di sana hanya bisa menahan tawa dalam perut mereka. Mereka tidak menyangka seorang direktur rumah sakit dan seorang ahli bedah bisa mempunyai pikiran konyol seperti itu.


Siska terus mengambil nafas dalam lalu mengejan, dengan satu dorongan kuat akhirnya sang bayi lahir.


"Oaaa...."


Bayi mungil itu menangis kencang. Siska bernafas lega begitu pula Tama, pria itu sudah berlinang air mata. Ia menatap wajah sayu sang istri yang telah berjuang antara hidup dan mati.


"Terima kasih sayang." Tama mengecup kening istrinya yang sudah penuh dengan peluh.


Suster meletakkan sang bayi yang sudah di bersihkan di dada polos Siska dan menutupi dengan kain, membiarkan sang bayi merasakan kehangatan sang ibu. Dengan penuh haru Siska menatap sang bayi yang masih terpejam. Mulut mungilnya terus mengecap mencari sumber makanannya.

__ADS_1


"Dia sangat cantik Sayang, sepertimu," ujar Tama penuh haru.


Siska mengangguk, tubuhnya masih terasa lemas. Ia hanya terus memperhatikan sang bayi yang sedang menangis. Tama pun membantu membenarkan posisi sang istri agar lebih nyaman.


Dengan telaten Tama pun mengarahkan sang bayi pada ujung pepaya gantung yang begitu segar. Siska mendesis merasa lidah kasar bayinya yang mulai. menyesap sumber ASI eksklusif miliknya.


"Apa kau Mas sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Siska sambil memperhatikan sang bayi yang tengah menyusu.


"Emh..belum maaf," lirih Tama.


Pria terlalu sibuk dengan pekerjaan yang ia tinggal selama cuti, hingga ia melupakan mandat sang istri yang menyuruhnya untuk menyiapkan nama sang jabang bayi.


Siska menghela nafasnya, kecewa memang tapi ia juga berusaha untuk mengerti. Perkejaan suaminya sebagai dokter tentu bukan hal yang mudah, dan sangat menyita waktu.


"Aku akan mencarinya sebentar."


Tama segera merogoh saku untuk mengambil ponselnya.


"Halo ... Alex apa kau tahu nama yang bagus untuk anak perempuan?" Tanya Tama setelah sambungan teleponnya di angkat.


"Itu anakmu, cari saja nama sendiri!" Sentak Alex di ujung telpon.


"Ck ... Kau kan punya anak perempuan. Pasti kau punya simpanan nama yang tidak terpakai, kan," kekeh Tama.


"Kau yang bikin anak, kenapa aku yang repot. Cari saja nama sendiri, dasar gila!"


Siska yang melihat sikap absurd suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kenapa suaminya yang pintar dan super kece ini mendadak oon. Apa setelah punya anak satu suaminya jadi kurang se ons.


Rumah besar.


Alex melempar ponselnya begitu saja di atas kasur. Dengan menggerutu tidak jelas ia mendekati istrinya yang sedang menikmati angin sepoi-sepoi sambil duduk di atas karpet dan bermain dengan Cleo.


"Kenapa wajah suamiku di tekuk masam begitu?"


Alex menghembuskan nafasnya, lalu duduk bersila di sebelah istrinya.


"Dokter gila itu, dia menelepon untuk menanyakan nama bayi perempuan padaku." ujar Alex sambil merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Papa...papa... Teo mau es klim," celoteh Cleo dengan bahasa cadelnya.


Cleo berjalan dengan sempoyongan kearah Papanya yang tengah berbaring di pangkuan sang Mama. Kedua tangan Alex terulur untuk mengangkat dan anak dan mendudukkannya di atas roti sobeknya.


Mau es krim ya, ok. Nanti kita beli es krim ya," jawab Alex.


Cleo pun mengerti dan mengangguk dengan riang.

__ADS_1


"Dokter gila? maksudnya dokter Tama?" tanya Arie.


"Iya, kalau bukan dia siapa lagi dokter gila yang aku kenal," ketus Alex.


"Ish ... sayang nggak boleh gitu. Kamu nggak ingat dia yang merawat aku, waktu masih di rumah sakit dan istrinya juga sangat berjasa menolong aku." Tangan Arie mengusap lembut rambut suaminya.


Aku tahu makanya aku jadikan dia direktur utama di rumah sakit. batin Alex.


Tangan Alex sibuk menggelitik anak perempuannya. Gadis kecil itu tertawa cekikikan karena ulah papanya. Alex begitu


bahagia, istrinya sudah kembali sembuh seperti sedia kala dan Cleo tumbuh jadi gadis kecil yang imut dan cantik membuat semua orang jatuh hati saat pertama melihatnya.


"Sayang, kapan kita buat Alex kecil?" tanya Alex.


"Umur Cleo masih belum genap dua tahun dan kau menanyakan Alex kecil," ketus Arie sebal.


"Hem ... maafkan aku, tapi aku sungguh sangat ingin mempunyai banyak anak darimu. Aku ingin rumah kita di penuhi tawa dan kebahagiaan dari anak-anak kita." Alex bangkit lalu duduk bersimpuh di sebelah Arie. Setelah Cleo turun dari perutnya untuk kembali bermain dengan boneka kelincinya.


"Memangnya kau mau punya anak berapa?" tanya Arie sambil mengusap wajah Alex yang menatapnya dengan penuh cinta.


"Sebanyak mungkin Sayang, dua puluh atau lima puluh."


"Lima puluh! kau pikir aku apa?!"


"Banyak anak banyak rejeki kan, lagi pula hartaku tidak akan habis tuju turunan," tukas Alex.


"Apa sih, emang aku kucing apa. Tiap tahun lahiran!"


"Kalau bisa kenapa tidak sayang. kita program bayi tabung agar kau bisa hamil kembar 6 sekali jalan, bagaimana? ideku bagus kan." Alex menaik turunkan kedua alisnya.


"Aku mati duluan sebelum anak kita genap lima puluh!" tukas Arie sebal.


Alex langsung menatap tajam pada istrinya.


"Jangan pernah menyinggung tentang kematian!" tegas Alex dengan nada bicaranya yang dingin.


"Maaf," lirih Arie, tangannya terulur mengusap lembut pipi suaminya.


"Aku tidak ingin mendengarkan kata itu lagi!"


"Iya maaf, aku hanya bercanda Sayang," ucap Arie dengan senyum di wajahnya.


"Meskipun bercanda!" tegas Alex lagi.


Arie mengangguk, kemudian ia memeluk tubuh suaminya. Ia sangat tahu bagaimana suaminya sangat khawatir padanya saat ia berada dalam ambang kematian. Bagaimana ia hampir setiap malam mendengarkan suara lirih sang suami untuk memintakannya tetap bertahan.

__ADS_1


Secuil demi secuil ingatan Arie mulai bisa mengingat semuanya, Dimana saat Alex melindunginya saat mereka berada di dalam mobil saat kejadian naas itu menimpa mereka.


__ADS_2