
Setelah acara menginap di rumah mertuanya yang luar biasa, membuat Alex kerja extra, hingga mengharuskan Alex bolos kerja, dan menyerahkan perkejaannya keada Chiko selama dua hari penuh, akhirnya Alex bisa bernafas lega, dan kembali ke kantor seperti biasanya.
Tuan sipit itu nampak sibuk dengan pekerjaan yang sudah dia hari terbengkalainya.
"Permisi Tuan," ucap Chiko yang batu saja masuk ruangan Tuannya.
"Ada apa,"
"Ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan Anda,"
"Siapa," ucap Alex lagi tanpa melihat kearah Chiko.
"Seseorang bernama Vivian, Tuan,"
Sejenak Alex menghentikan tangannya yang menari di atas keyboard.
"Biarkan dia masuk,"
"Baik, Tuan,"
Chiko keluar dari ruangan Alex, dan beberapa saat kemudian seorang wanita memakai dress marron yang melekat di tubuhnya, dengan belahan yang menampakan paha mulusnya, melangkah dengan anggun masuk ke dalam ruangan Alex.
"Hai Lex," wanita itu menyapa dengan suaranya yang lembut.
Alex menatap lekat wanita yang ada di hadapannya, wanita yang pernah menjadi ratunya, yang begitu ia puja.
"Kau tidak mempersilahkan aku duduk," ucap Vivian dengan senyum manis.
"Oh, maaf silahkan duduk,"
"Bagaimana kabarmu Vi," ucap Alex sambil terus menatap wajah lawan bicaranya, bertemu mantan mengingat kita akan masa lalu, begitu pun Alex, meskipun bukan getaran cinta, namun dia masih merasakan sesuatu di hatinya.
"Aku baik, bagaimana denganmu, aku dengar kau sudah menikah," ujar Vivian sambil menyilang kakinya.
"Ya, aku memang sudah menikah," Alex masih menatap lekat Vivian.
"Alex Aku ingin membicarakan sesuatu, Aku ingin minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu kita," ucap Vivian dengan wajah sendu.
"Waktu itu aku belum siap untuk menikah, aku masih ingin mengejar karir ku, kau tahu aku selalu bermimpi untuk menjadi seorang model terkenal dan...
"Dan selamat kau sudah meraih impianmu," Alex memotong ucapan Vivian.
Alex sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, alasan kenapa Vivian menolak lamarannya dan pergi meninggalkannya begitu saja, menyisakan sebuah cerita pahit untuk Alex.
"Alex, aku mohon aku masih Vi mu yang dulu," Vivian meraih tangan Alex, dengan wajah mengiba.
"Aku ingin kita bersama lagi," imbuh Vivian.
__ADS_1
"Vi, maaf aku sudah menikah," tegas Alex.
"Aku tidak perduli, aku bisa menjadi sugar baby mu, aku hanya ingin kembali bersamamu," Vivian menarik tangan Alex, meletakkannya di pipinya, lalu mencium tangan itu dengan lembut.
"Vi, sudahlah, semua sudah berlalu, kita sudah dewasa," Alex menarik lembut tangan kekarnya.
"Apa kau mencintainya,"
Alex hanya diam.
"Alex Wang, aku bertanya apa kau mencintai Istrimu," ucap Vivian dengan nada tinggi.
"Ya," jawab Alex singkat.
"Tidak, kau tidak mencintainya, kau hanya mencintai ku," air mata Vivian luruh, merasa iba dengan Vivian Alex bangkit dari duduknya, mendekati Vivian, Vivian langsung merengkuh tubuh Alex, Alex hanya diam dan membiarkan Vivian meluapkan emosinya.
Ceklek
Alex menoleh ke arah pintu yang terbuka, seorang wanita memakai dress warna biru, berdiri diam tanpa suara, sambil menenteng tas paperbag di tangganya, mata Alex membulat sempurna, dengan segera dia melepaskan tangan Vivian yang melingkar di pinggangnya. Vivian pun terkejut dengan tangan Alex yang dengan kasar melepaskan pelukannya.
"Ar..Arie kenapa kau kekantor, bukankah sebaiknya kau istirahat," Alex kelabakan, dia berjalan mendekati istrinya, takut jika Arie salah faham dengan apa yang barusan dia lihat.
Arie mengambil nafas dalam, bohong bila dia tidak marah, rasanya dia sudah ingin menjambak, dan menyeret keluar, wanita yang memakai baju kurang bahan itu. Arie segera meraih tangan suaminya, lalu bergelayut manja.
"Tapi aku kangen," ucap Arie dengan manja. bibir Alex terangkat ke atas, melihat tingkah manja istrinya, sungguh sesuatu yang langka.
"Makan siang untuk Suamiku," ujar Arie, Arie bermanja di dada bidang Alex m, menghirup kuat aroma maskulin suaminya. Arie mengalungkan tangannya di leher Alex, seakan mengerti Alex mencium singkat bibir istrinya.
"Cih, menjijikkan," lirih Vivian, yang sedari tadi melihat kemesraan dadakan di hadapannya.
"Emh.. maaf ada tamu rupanya," Arie menurunkan tangannya dan beralih melingkar di pinggang Alex.
"Siapa dia, sayang," Arie sengaja menekankan kata terakhir. jarang sekali dia mengucapkan kata itu.
"Dia, teman kuliahku," ucap Alex, ada raut wajah cemas di wajahnya.
Vivian bangun dari duduknya, berjalan perlahan dengan anggun.
"Perkenalkan saya Vivian, teman baik Alex, semasa kuliah dulu," ucap Vivian dengan senyum bunglon termanisnya.
"Jadi Anda yang bernama Vivian, suami saya sering bercerita tentang Anda," ujar Arie sambil mempererat pelukannya di pinggang Alex. Arie tersenyum miring.
"Benarkah, Alex sering bercerita tentang aku," Vivian mengerutkan keningnya. lalu memandang ke arah Alex.
"Tentu, aku tahu semua teman Alex, sebagai suami istri memang sudah seharusnya kami saling terbuka, iya kan sayang," Arie mencubit kecil pinggang Alex.
"Iya kau benar, Sayang," ucap Alex dengan senyum untuk menutupi rasa sakit di pinggangnya.
__ADS_1
"Apa kau mau ikut makan siang dengan kami, aku rasa aku membawa cukup untuk kita bertiga,"
"Tidak, terima kasih, aku harus segera pergi," tolak Vivian.
"Alex aku pergi dulu, kapan kapan aku akan mampir lagi," Vivian hendak memeluk Alex namun Arie semakin mengeratkan pelukannya. Vivian pun mundur dengan muka masamnya.
Ga akan ada lain kali, gumam Arie dalam hati.
"Baiklah, jaga dirimu, Vi," mereka akhirnya saling berjabat tangan.
"Sayang, Alex kecil sudah lapar," Arie sengaja berbisik kepada Alex, matanya malas, melihat wanita itu kembali menyentuh suaminya.
"Maaf Vivian, kau harus segera pergi, maaf tapi aku sudah tidak sabar untuk memakan istriku, e.... maksud ku masakan istriku," ujar Alex terkekeh sendiri dengan perkataannya, Arie yang sedari tadi menempel membuat otak Alex traveling.
"Suami nakal, maaf kau harus mendengarkan ini," ucap Arie dengan senyum kemenangan. Arie sudah tau Alex tak akan bisa bertahan dengannya.Pepet teros, pasti panas.
"Tidak apa-apa, kalau begitu aku pergi dulu, selamat siang," Vivian keluar dari ruangan itu dengan menggerutu.
Berani wanita itu membuat Alex sengaja mengusir ku, bener kata Bibi Li Wei, dia perempuan licik, gumam Vivian dalam hati, dengan langkah kesal dia meninggalkan kantor.
Arie segera melepaskan tangannya dari pinggang Alex, wajahnya berubah merah, Arie menari Alex, membuat suaminya duduk di sofa, Arie menyorongkan tubuhnya terus mendekat ke arah Alex, matanya menyorotkan kemarahan.
"Arie, apa yang kau lakukan, bukankah kau lapar," menatap mata Arie, membuat Alex menelan ludahnya.
Arie terus mendekat, hingga membuat Alex terbaring di sofa, Arie merangkak ke atas, mengungkung tubuh suaminya.
"Berani, sekali kau membiarkan tubuhmu di sentuh wanita lain," ucap Arie kesal, Arie duduk di atas tubuh Alex lalu
Kraakk.
Arie menarik kemeja Alex hingga membuat sebagian kancingnya terlepas.
"Arie, Sa....Sayang , apa yang kau lakukan," Alex tergagap, istrinya sudah seperti singa betina yang siap menerkam mangsanya.
Benar saja Arie mengigit pundak Alex dengan kuat, hingga membuat Alex mengerang kesakitan. bukannya melepas Alex malah memeluk erat tubuh Arie yang ada di atasnya.
"Tuan,.. Maaf" Batu saja Chiko masuk, dia langsung berbalik keluar lagi.
"Tidak bisakah mereka mengunci pintu, kalau mau iya iya," gerutu Chiko. di luar ruangan tentunya.
Setelah puas mengigit Arie melepaskan gigitannya, kulit Alex terlihat merah dan mengeluarkan sedikit darah.
"Lihat saja kalau kau sampai bertemu dengan wanita itu lagi." Arie turun dari tubuh Alex, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Alex masih tergeletak di sofa, merasakan perih di bahunya, bibirnya menarik ke atas.
"Ternyata sebesar itu rasa cintamu padaku," ucap Alex sambil memegang bahunya yang lebam.
__ADS_1