
Sebuah mobil mewah melaju dengan kencang. Tak memperdulikan lampu merah yang menyala. Yang pria itu tahu, dia harus segera sampai di rumah sakit.
"Ssshh ..sudah jangan ngebut, aku tidak apa apa," ucap Arie, sesekali mulut mungilnya mend*sah sambil mengelus punggungnya yang terasa sakit.
"Tidak apa apa bagaimana!"
"Lihat wajahmu...!"
Arie tersenyum saat rasa sakit di punggungnya berangsur hilang.
Alex merasa kesal sekaligus khawatir dengan istrinya. Bagaimana ia tidak merasa cemas. Sedang sejak kemarin malam istri kecilnya itu tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia terlihat gelisah dan kesakitan. Meskipun tak pernah mengeluh. Namun, Alex tahu istrinya merasa tidak nyaman. Sesekali Arie akan mengusap punggungnya dan selalu menganti posisi tidurnya.
Alex sudah menawarkan diri untuk menggantikannya mengusap punggung. Akan tetapi Arie selalu menolaknya. Bahkan menepis tangan Alex yang berusaha menyentuhnya.
Usia kandungan Arie baru genap delapan bulan. Akan tetapi Arie sudah merasakan mules, perutnya terasa kencang dan punggung Arie terasa berdenyut sakit. Dua hari berturut-turut Arie merasakan hal itu. Rasa sakit itu datang dan pergi tiap dua jam sekali, sampai membuatnya tak bisa tidur dengan baik. Namun, Arie tak mengkhawatirkannya karena ia mengira itu hal biasa bagi wanita hamil.
"Alex sudahlah, sudah tidak apa apa," ucap Arie lembut sambil mengelus pelan lengan suaminya.
"Diam, sebentar lagi pasti sakit lagi. meski kau tidak bilang aku bisa melihatnya," ketus Alex.
Tuan sipit itu menjadi semakin posesif setiap harinya. Ia akan memperhatikan tiap detail apa yang ada pada istrinya. Alex mengurus semua hal yang menyangkut Arie dengan tangannya sendiri.
"Sayang kita pulang saja ya, aku ga apa apa kok," dengan wajah memohon Ari menatap lekat wajah suaminya.
Jurus ampuh yang akan selalu bisa meluluhkan bongkahan es yang ada di hadapannya.
Alex segera menepikan mobilnya. Kedua tangan kekar itu mencengkram erat setir mobilnya.
"Jangan keras kepala seperti ini. Kau membuatku kesal. Apa aku pikir aku akan diam saja melihatmu meringis kesakitan seperti itu!" sentak Alex dengan marah.
Dia tidak marah dengan istrinya. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menolong Arie untuk mengurangi rasa sakit akibat kontraksi. Jika Alex mampu dia ingin sekali memindahkan rasa sakit itu pada dirinya.
"Aku tidak bisa melakukan apa apa, aku benci saat aku seperti ini," ujat Alex kesal.
"Sini."
Arie merentangkan kedua tangannya.
"Enggak!"
"Sayang," panggil Arie manja.
Alex berdecak kesal. Ia melepaskan save belt nya. Lalu masuk dalam pelukan hangat istrinya. Arie mengelus lembut punggung suaminya, agar bisa menghilangkan rasa kesal dan cemas yang bercampur menjadi satu.
Alex memeluk erat tubuh istrinya. Ia sungguh tak tega melihat wajah Arie saat kontraksi itu datang.
"Sudah tenang, aku tidak apa-apa," bisik Arie di telinga sang suami yang menempel di pundaknya.
Alex tidak menjawab, ia hanya memeluk istrinya semakin erat melepaskan semua rasa kesal dan cemas dalam hatinya. Meskipun tak sepenuhnya hilang, akan tetapi dia bisa sedikit lebih tenang.
"Jangan hamil lagi ya, aku tidak mau melihatmu kesakitan lagi," ucap Alex dengan penuh keseriusan.
Arie pun terkekeh mendengar ucapan suaminya. Ia pun melepaskan pelukannya, menatap wajah suaminya yang masih tampak kesal.
__ADS_1
"Kenapa tertawa?"
"Kau lucu." Arie mencubit gemas hidung mancung suaminya.
"Aku yang hamil kenapa kau yang panik seperti itu."
"Bagaimana aku tidak panik, kau tidak bisa tidur dengan baik. Makan juga terganggu.
Kau terus saja mengusap punggung dan perutmu sambil meringis menahan sakit sendirian saat aku berkerja.
Kau tidak menyuruhku untuk tidak khawatir dan melanjutkan tidurku, saat kau terbangun di malam hari karena kontraksi. Belum lagi kakimu yang membengkak seperti itu.
Bagaimana aku tidak cemas, melihat mu terus seperti ini. kita operasi saja ya." Alex mengenggam erat tangan kecil istrinya menatap wajah cantik itu dengan penuh pengharapan. Ia benar-benar tidak ingin melihat Arie kesakitan lagi.
Arie mengelengkan kepalanya. Ia ingin melahirkan secara normal. Karena memang tidak masalah dengan kandungannya.
"Aku ingin normal saja, ya."
"Kenapa kau begitu keras kepala." Alex meremas gemas kedua tangannya sendiri.
Tak ada pembicaraan lagi. Arie hanya menatap wajah suaminya dengan terus tersenyum. Rasanya sungguh beruntung memiliki suami seperti Alex. Dalam benak Arie terlintas memori bagaimana dia jungkir balik menjalani rumah tangganya yang di dasari sebuah kesalahpahaman.
Bagaimana Ia harus menghadapi ibu mertua dan adik ipar yang tidak menerima keberadaannya sebagai istri Alex.
Hati yang dulu terasa sangat jauh, sekarang hanya Namanya yang terukir dan terucap oleh bibir itu.
Pahit manisnya rasa cinta yang ia jalani bersama tuan sipit yang sekarang menjadi miliknya. Seutuhnya. Bahkan ia lebih khawatir dengan Arie ketimbang dirinya sendiri.
"Kenapa menatapku seperti itu," ketus Alex yang masih merasa kesal karena Arie yang tidak mau menuruti kemauannya.
Alex mendesah, membuang kasar nafasnya ke samping. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat kata keramat itu keluar dari mulut mungil istrinya.
"Kenapa tiba-tiba bilang begitu," ucap Alex dengan lembut. Ia membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"Aku hanya ingin mengatakannya. Aku mencintaimu Tuan Alex Wang."
"Aku juga sangat mencintaimu, melebihi rasa cintamu."
Alex menekan kedua tangannya di wajah Arie. Sehingga membuat bibir Arie monyong ke depan seperti ikan. Alex memberikan ciuman besar di bibir istrinya.
Alex melepaskan tangannya dari wajah Arie. Lalu ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Kita pulangkan?" tanya Arie sambil melihat suaminya yang mulai menyetir.
"Enggak, kita akan ke rumah sakit."
"Tapikan aku udah ga sakit lagi?"
"Kita periksa aja, ok."
"Tapi kemarin kan udah sayang, dan dokter bilang ini hanya kontraksi palsu. Kita pulang aja ya. Please." Arie menyatukan kedua tangannya dengan wajah yang memelas dan matanya yang di bulatkan. Terlihat sangat imut.
"Sayang jangan seperti ini, aku ingin kau di periksa sekali lagi. Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja!" tegas Alex. Tuan sipit itu tidak ingin di bantah lagi.
__ADS_1
Arie pun akhirnya mengangguk pasrah. Alex pun menepuk pelan kepala Arie.
Sementara di tempat lain.
Seorang pria paruh baya sedang duduk dengan banyak keringat dingin yang mengucur dari tubuhnya. Punggungnya sampai basah karena keringat yang bercucuran. Pikirannya kalut ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Begitu banyak orang yang akan kehilangan perkejaannya bila Bright corp hancur. Akan tetapi Adinata juga tidak bisa mempertahankan perusahaannya lebih lama lagi. Hampir semua aset yang ia punya telah di jual untuk menutupi biaya operasional perusahaan.
"Sepertinya tidak ada cara lain." Adinata meremas kuat secarik kertas yang ada di tangannya. Marah, kesal, kecewa, sedih, semua perasaan itu bercampur aduk dalam hatinya.
Perusahaan yang ia dirikan untuk anak dan cucunya kelak nyatanya tak bisa lagi ia pertahankan. Terbayang wajah mungil kedua anaknya yang sekarang telah dewasa dan menjadi orang tua.
Wajah Arie yang bahkan tidak ia ingat saat bayi karena ia tidak sampai hati untuk melihat. Apalagi saat para perawat mengatakan anaknya telah tiada. Ia semakin menyesal karena Adinata merasa belum bisa membahagiakan putri bungsunya.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah bahkan tidak bisa memberikan apapun untukmu sekarang." Adinata mengusap wajahnya kasar.
Hati pria paruh baya itu sekarang terasa remuk, mengingat pertemuan terakhir dengan putrinya yang tidak begitu mengenakan.
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Semua tak mungkin kembali. Seandainya Adinata bisa mengendalikan emosinya. Seandainya.
Namun semua tak akan kembali. Waktu tidak akan berputar kembali.
Buliran bening kini mulai meleleh di wajahnya yang mulai keriput. Masa tuanya, seharusnya dia habiskan bermain bersama cucu dan anaknya. Namun, semua keinginan itu sudah terhempas ombak bersama hancurnya Bright corp.
Bagaimana dia bisa membuat cucunya tersenyum. Saat dia bahkan akan kesulitan untuk hidup keesokan harinya. Bagaimana dia bisa membahagiakan anak anaknya, kalau dia kelak hanya akan menjadi beban untuk mereka.
Pria itu, masih diam dengan buliran yang terus mengalir semakin deras. Ruangan senyap itu menjadi saksi titik terendah seorang Adinata.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dr.Tama : "Mak."
Emak: "Hemm."
Dr. Tama: "Aku kapan buka segel Mak ðŸ˜ðŸ˜. Si Arie dah mau brojol, aku belum buka puasa.
Emak: "Besok, kalau Mak udah dapet jurus yang cocok buat kamu.
Dr.Tama: "Cepetan Mak. Apa mak ga kasihan Ama tower ku. Berdiri doang, tapi di anggurin." 😔ðŸ˜.
__ADS_1
Emak: "Ga usah bawel, malu tuh sama Chiko. Dia aja masih cari sangkar burung."
Dr.Tama: "Iya Mak."