Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Maafkan Papa


__ADS_3

Apa kau sudah pernah mengendongnya?


Tanya Arie dalam diam, ia melirik ke arah sang suami yang mengusap air matanya yang mengalir. Alex menautkan kedua alisnya. Saat kedua netra mereka beradu.


"Sayang, apa kau ingin mengatakan sesuatu?"


Arie mengangguk kecil. Alex pun menyuruh perawat untuk mengambilkan pena dan sebuah buku catatan untuk istrinya. Perawat itu pun segera pergi untuk mengambilkan hal yang di inginkan Alex.


"Nyonya ini silahkan," ucap si perawat itu, ia membantu Arie memegang pena dengan jemarinya yang masih kaku untuk mengenggam.


Perawat itu juga memegangi buku catatan saat Arie mulai menorehkan tinta pada kertas putih itu.


Apa kau sudah pernah mengendongnya?


Perawat itu menyodorkan buku catatan yang sudah selesai di tulis oleh Arie. Alex hanya menjawab dengan gelengan kepala untuk menjawab pertanyaan istrinya.


Kenapa?


Tulisnya lagi.


"Aku takut akan membencinya, aku sangat takut kau tidak akan membuka matamu lagi, jika itu benar terjadi bagaimana aku bisa menyayangi anak itu. Dia terlalu mirip denganmu..." jawab Alex dengan tertunduk lesu.


Dadanya kembali merasakan sesak mengingat bagaimana ia pertama kali melihat kondisi istrinya.


Tapi aku baik baik saja, jangan membencinya. Putri kita tidak bersalah, dia bayi tanpa dosa. Sayang~~~~


Alex hanya tersenyum kecut saat membaca tulisan sang istri.


Kau tidak tahu bagaimana takutnya aku sayang, Bahkan aku akan membawa anak kita pergi bersamamu seandainya kau tidak membuka matamu.


Arie tidak bisa melanjutkan tulisannya, pena yang ia pegang terjatuh begitu saja. Serasa seperti sejuta semut mengigit jemarinya.


"Sayang, kenapa apa tanganmu terasa sakit?" tanya Alex dengan panik.


Arie mengelengkan kepalanya pelan.


"Sepertinya tangan Nyonya kram, dengan melakukan terapi, semuanya akan kembali normal." ucap si perawat itu menjelaskan dengan senyum ramah.


"Benarkah seperti itu?"

__ADS_1


"Benar Tuan, Anda tidak perlu khawatir." perawat itu mengangguk kecil.


Perawat itu meletakkan bike catatan dan pena di atas nakas untuk kemudian mengambil Bayi yang ada di samping Arie.


Anakku, mau di bawa kemana?


Arie menggerak gerakkan bola matanya. Perawat itu tersenyum ramah.


"Saya akan membawanya kembali ke ruang bayi Nyonya, sebentar lagi saatnya Nyonya melakukan CT scan. Jadi saya akan membawa bayinya untuk beristirahat di ruang bayi." ucap perawat itu menjelaskan. Arie pun mengangguk pelan.


"Tunggu," cegah Alex saat perawat itu akan menaruh bayinya di box.


"Berikan dia padaku, aku ingin mengendongnya sebentar," ucap Alex dengan ragu.


Perawat itu pun mengangguk lalu meletakkan bayi itu dalam gendongan sang papa. Tangan Alex terasa kaku untuk mengendong bayi mungil itu, ia takut melukainya. Mata kecil yang tadinya terpejam kini terbuka, menatap lembut netra papanya. Tubuh mungil itu mengeliat membuat satu tangannya menyembul di balik kain yang membungkusnya.


Jemari super mini itu memegang jari telunjuk Alex yang tadinya menoleh pipi gembulnya.


Ngghh...


Kepala kecil itu bergerak, dengan lidah mungil yang sedikit menjulur keluar dari mulutnya. Terlihat sangat mengemaskan. Alex merasakan sesuatu yang hangat mengalir di hatinya bercampur dengan rasa bersalah karena mengabaikan malaikat kecil itu.


Sudah berkali-kali air matanya menetes dari tanpa permisi. Bayi itu seakan mengerti dan memberikan senyuman untuk papanya.


Suasana di ruangan itu semakin menjadi haru. Arie pun ikut merasakan cinta Alex untuk buah hati mereka. Sedangkan perawat yang ada di sana jangan di tanya lagi. Dengan ponselnya ia sudah mengambil foto momen haru itu. Walaupun dia sendiri berderai air mata.


Hoe.... hoe..


Bayi itu menangis kencang. Alex merasa panik dan melihat ke arah perawat yang sedang membersihkan ingusnya dengan tisu.


"Kenapa dia menangis, apa dia tidak suka denganku?" tanya Alex pada perawat itu.


Pasalnya ini pertama kalinya ia mengendong putri kecilnya. Alex tidak tahu apa yang membuat malaikat kecil itu menangis dengan kencangnya.


"Tidak tuan, dia mungkin sedang lapar. Ini sudah waktunya dia minum susu," ucap perawat itu menjelaskan.


Alex pun merasa lega setelah mendapat penjelasan dari perawat itu. Alex tiba-tiba merasa takut kalau putrinya tidak suka padanya, karena beberapa hari ini Alex mengacuhkannya. Bahkan cenderung menolak kehadirannya.


Perawat itu mengambil bayi dari dekapan Alex lalu meletakkannya di box bayi. Si perawat itu pun segera membawa bayi itu ke ruangan khusus, untuk menyusuinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian beberapa perawat lain datang untuk membawa Arie melakukan serangkaian pemeriksaan dan tes terhadap dirinya.


Alex yang tadinya ingin menemani sang istri pun mengurungkan niatnya. Karena Alex pun juga harus melakukan pemeriksaan perkembangan paru-parunya yang robek.


Setelah cukup lama akhirnya Arie selesai melakukan pemeriksaan, ia pun diantara kembali ke kamarnya. Ternyata dalam kamar rawatnya sudah banyak orang yang menunggu kedatangannya termasuk sang suami.


"Arie sayang kau sudah sadar, Nak." Adinata mencium pipi Arie yang tidak terluka. Arie pun tersenyum tipis pada Ayahnya.


Arow dan Nana pun bergantian memeluk singkat sang Adik san mengecup keningnya. Raut wajah keduanya menatap Arie dengan penuh haru, mereka sangat bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan hidup pada Adik mereka.


"Maaf kami tidak bisa membawa Byaz," ucap Nana sendu. Anak di bawa usia lima tahun memang sebaiknya tidak di bawa ke rumah sakit.


Arie mengangguk pelan.


Tidak apa-apa kak, aku sudah sangat senang kalian semua ada di sini.


Arie menatap wajah wajah itu dengan binar bahagia.


Nana dan Arow pun perlahan mundur, memberikan ruang untuk Kakek Wu mendekat. Kakek Wu tersenyum pada Arie lalu mencium kening dan pipi cucu kesayangannya itu.


"Kau sungguh wanita yang hebat, semua akan baik-baik saja." Kakek Wu mengenggam erat tangan Arie.


Arie mengangguk kecil. Meskipun Arie tidak bisa mengingat apa yang membuatnya terbaring selemah ini di rumah sakit. Namun, ia merasa bahagia karena dukungan dari semua orang yang ia sayangi. Dia akan lebih semangat lagi untuk sembuh.


"Ehem.." Alex berdehem keras. Sebenarnya ia sudah merasa risih dan ingin sekali memarahi semua orang yang seenaknya menyentuh istrinya. Tapi apa daya, kakek dan ayah menantu juga kakak Arie. mereka adalah keluarga.


Tapi tetap saja Alex merasa panas saat mereka mencium wajah istrinya.


"Apa?" sentak Kakek Wu saat mendapat tatapan yang menyala nyala dari kakeknya.


"Tidak ada!" Alex membuang mukanya dengan sebal kesamping.


"Cih.. posesif, bagaimana keadaanmu. Melihat kau sudah kembali ke penyakit lamamu berarti kau sudah baik baik saja," sindir kakek Wu.


"Tentu saja Aku baik, memangnya kapan aku sakit," jawab Alex tidak mau kalah.


"Kalau kau baik, kenapa kau duduk di kursi roda seperti itu. Ah.. sepertinya aku harus memperkejakan beberapa perawat laki-laki untuk membantu Arie."


"Apa yang kakek katakan, dia sudah punya aku untuk apa memperkerjakan orang lain!" tukas Alex dengan kesal.

__ADS_1


"Tentu saja untuk membantu cucuku yang cantik ini. Membantunya turun dari ranjangnya, mengendongnya ke kamar mandi. Kau pikir kau bisa melakukanya," ujar kakek Wu, yang semakin menikmati cara Alex menanggapi ejeknya


__ADS_2