
Tama duduk di kursi yang ada di sebelah brankar istrinya. Wanita cantik itu terbaring lemah dengan wajahnya yang masih terlihat lebam dan luka di sudut bibirnya. Perlahan Tama membelai surai hitam yang tergerai indah.
Dalam hati Tama terus mengumpat kecerobohan dirinya yang meninggal Siska sendirian di taman. Tangan Tama perpindahan mengelus perut Siska yang masih rata. Kedua sudut bibirnya terangkat, ada rasa haru dan bahagia dalam hatinya.
"Emmh.." Gumam Siska, mengeliat kecil. Tama segera menoleh ke arah wajah istrinya yang perlahan membuka matanya.
"Mas," lirih Siska, ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu sudah sadar, Sayang. Apa yang kamu rasakan? Pusing? Mual? Atau kamu ingin makan sesuatu?" cerca Tama.
Tangan Tama terulur membantu sang istri untuk mendudukkan dirinya dengan perlahan.
"Dimana Naoki, Mas?" Siska mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang buah hati.
"Naoki sedang tidur di sana." Tama menunjukkan sebuah ranjang lain yang tersekat tirai di sebelah sisinya.
Mata Siska mengekor kemana arah tangan Tama menuju. Setelah itu Siska memperhatikan ruang yang ia tempati. Kamar ini jelas berbeda dengan kamar inap biasa. Di ruang itu hanya ada dia dan ranjang lain yang digunakan Naoki tidur. Sofa dan televisi serta lemari pendingin tersedia lengkap di sana. Belum lagi AC yang terus menyala, menyejukkannya.
"Siska, siapa sebenarnya orang yang tadi memukulmu?" tanya Tama yang langsung membuyarkan lamunan Siska.
Seketika Siska menundukkan kepalanya, Keduanya tangannya meremas selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
"Siska," panggil Tama lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lembut.
Tama sebenarnya bisa menduga siapa sebenarnya orang yang menganggu Siska saat itu. Namun, Tama ingin mendengarnya sendiri dari istrinya.
"Dia, mantan suami Siska Mas," lirih Siska dengan masih menundukkan wajahnya.
Tama menarik nafasnya dalam. Ia bisa merasakan bagaimana Siska merasa tertekan saat membicarakan pria brengsek yang pernah singgah di hidupnya. Bagaimana dia memberikan luka pada wanita yang sekarang menjadi orang terkasihnya.
Tubuh mungil Siska berguncang, seiring air matanya yang mulai luruh begitu saja. Bukan karena kandasnya cinta di masa lalunya. Namun, air mata itu jatuh karena meruntuki kebodohannya.
Tama berdiri dan segera meraih Siska dalam pelukannya. Membelai lembut punggung wanita pengisi hatinya. Wanita itu menelusupkan dirinya dalam dekapan hangat suaminya.
"Sudah, jangan bersedih. Nanti dedeknya ikut sedih," ucap Tama sambil mengecup pucuk rambut Siska.
"Dedek?"
Tama melonggarkan pelukannya, agar dia bisa melihat wajah Siska yang sedang mendongak menatapnya. Tama tersenyum lebar. Dengan lembut ia mengusap pipi Siska yang basah.
"Iya, sekarang ada kehidupan lain yang harus kau jaga." Tama menuntun tangan Siska kearah perutnya.
Mata Siska membulat sempurna, bulir bening itu kembali meleleh. Namun, kali ini karena rasa bahagia. Tama mengenggam erat tangan istrinya. Menatap lekat netra bening yang masih setia mengalirkan air mata yang menganak sungai.
"Terima kasih, Sayang." Tama mencium lembut kening Siska.
Siska mengangguk cepat. Ia masih belum bisa berkata, lidah masih terasa begitu kelu untuk berucap. Antara takut dan bahagia bisa mengandung seorang anak dari laki-laki yang dicintainya. Namun, dia juga merasa takut akan kejadian yang pernah menimpanya di masa lalu akan terulang kembali. Siska mengusap lembut perutnya yang masih rata dengan raut wajah sendu.
Tama melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Siska. Pria itu berlari tunggang langgang ke arah kamar mandi, perutnya bergejolak, menuntut untuk segera dikeluarkan.
Hoeeek...
__ADS_1
Tama mengeluarkan isi perutnya di atas wastafel. Namun, hanya cairan bening yang terasa panas dan begitu pahit keluar dari kerongkongannya.
Tubuh Tama terasa lemas, wajahnya berubah pucat kehijauan seperti sawi yang kematangan direbus. Tama menyalakan kran air untuk segera membasuh muka.
Berjalan dengan gontai, Dokter muda itu keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan lututnya seakan tidak kuat untuk menahan beban tubuhnya.
Tama menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas sofa yang ada di ruangan itu.
Siska yang melihat itu pun bergegas turun perlahan dari brankar. Kakinya menjuntai turun satu persatu. Dengan berpegang pada tiang infusnya. Siska berjalan mendekati pada suaminya yang terkulai lemas di atas sofa.
Tama memejamkan matanya, memijit pelipisnya dengan kedua ujung jarinya. Kepalanya terasa berat dan berputar putar.
"Mas, kenapa?Aku panggilkan Dokter ya." Ucap Siska dengan raut wajahnya yang begitu cemas.
Tama menggelengkan kepalanya cepat. Perlahan langkah Siska semakin mendekat. Lalu, Siska pun mendudukkan dirinya di sebelah Tama, tangannya terulur untuk mengusap rambut suaminya. Rasanya sungguh tidak tega melihat wajah suaminya yang pucat kehijauan seperti ini.
Baru saja tangan lentik itu mengusap lembut rambut Tama. Perut pria itu kembali bergejolak hebat, ia pun bergegas bangkit dan berlari kecil ke kamar mandi sambil menutup mulutnya.
Hoooeekk....
Hoeek....
Siska yang panik pun mengikuti langkah suaminya.
"Mas, kenapa? sebenarnya kamu sakit apa sih? aku panggil kan Dokter ya."
"Nggak usah, aku hanya mual biasa. Mungkin karena telat makan saja." Tama membasuh muka dan berkumur untuk menghilangkan rasa pahit dalam kerongkongannya.
"Kau ini keras kepala sekali sih, Mas!" keluh Siska seraya melangkah lebih dekat ke arah Tama. Namun, ia berhenti di pintu kamar mandi.
Meskipun ia merasakan pandangan yang terus berputar putar dan merasakan tubuhnya lemas luar biasa. Bahkan untuk sekedar berdiri saja Tama sudah mengerahkan seluruh tenaganya.
Satu tangan Siska terulur ingin membantu suaminya untuk berjalan keluar dari kamar mandi. Tama pun menyambut tangan istrinya. Namun, baru saja tangan lentik itu menyentuh lengan Tama, perut Tama kembali terasa dia aduk dan bergejolak hebat. Tama kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Mas!" pekik Siska.
Sepertinya aku kena kehamilan simpatik, batin Tama.
Nafas Tama terengah-engah, setelah mengeluarkan cairan bening pahit dari dalam lambungnya.
"Sayang, bisakah kau menjauh dariku," ucap Tama dengan sangat berat hati.
"Kenapa Mas?" tanya Siska bingung.
"Apa Mas Tama, nggak suka karena hamil?" wajah ibu hamil itu mendung seketika. Mata lentiknya kini sudah berkaca-kaca, tanggulnya bisa jebol kapan saja.
"Bukan, seperti itu Sayang. Sepertinya aku kena kehamilan simpatik, tolong tekan tombol nurse yang ada di dekat brankar," Tama segera menjelaskan.
"Baiklah." Siska membalikkan badannya berjalan dengan malas kearah brankar.
Siska pun segera melakukan apa yang di perintahkan oleh suaminya, lalu ia pun duduk di di atas ranjangnya. Sementara Tama masih duduk di atas closed, ia terlalu lemah untuk melangkah keluar.
__ADS_1
Tak berapa lama seorang Dokter dan seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu. Mereka berdua mendekati Siska yang sudah duduk di tepi brankar.
"Anda sudah sadar?" tanya dokter itu dengan ramah.
"Iya Dokter, sudah dari tadi. Sebenarnya bukan saya yang butuh pertolongan anda sekarang, tapi suami saya," jawab Siska dengan ketus.
Bukan maksud Siska untuk bersikap tidak sopan pada sang Dokter. Ia hanya masih sangat kesal pada suaminya yang menyuruhnya untuk menjauh.
"Maksud Anda, Dokter Tama?" tanya sang Dokter itu memastikan.
"Iya, tuh sekarang lagi di kamar mandi."
Sang Dokter pun langsung bergegas menuju ke kamar mandi. Mereka terkejut saat mendapati Tama yang duduk di toilet dengan wajahnya yang pucat kehijauan.
"Dokter Tama, apa yang terjadi?" Dokter itu pun mendekati Tama, lalu membantunya untuk berdiri.
Keduanya memaparkan Tama, menuju ranjang yang di tempati Naoki, lalu merebahkan di sebelah Naoki yang sedang tertidur pulas.
Tama mengangkat lengannya untuk menutupi matanya. Badannya sungguh terasa lemah tak berdaya, mulutnya terasa pahit, matanya panas dan berkunang-kunang. Belum lagi kepalanya yang terasa sangat berat dan berdenyut hebat.
Dokter pun segera memeriksakan keadaan Tama. Ia mengerutkan keningnya, tidak ada yang salah dengan keadaan dokter Tama. Dia sehat, hanya sedikit mengalami dehidrasi.
"Sepertinya aku mengalami kehamilan simpatik, pasang saja infus untukku. Aku tidak yakin bisa makan sesuatu selama beberapa hari ini," ucap Tama.
"Kenapa Dokter begitu yakin?"
"Istriku sedang hamil, dan kondisi yang aku alami saat ini mirip seperti apa yang di alami istriku saat kehamilan pertamanya. Jadi kemungkinan keadaanku akan sama persis seperti istriku dulu," tukas Tama.
Siska yang mulanya kesal kini menatap Tama dengan haru, ia tidak menyangka Tama masih mengingat apa yang ia katakan waktu itu. Terlebih sekarang Tama lah yang mengalami apa yang ia rasakan dulu. Hati Siska terenyuh, haru, bahagia dan iba bercampur menjadi satu.
"Baiklah kalau begitu, Dokter. Saya akan memasang infus dan memberikan vitamin serta obat untuk mengurangi rasa mual."
"Ya, tolong urus cuti untukku. Kalian bisa membawa berkas untuk aku tanda tangani di sini. Tapi untuk melakukan operasi sepertinya aku tidak bisa," imbuh Tama.
"Baik, akan saya laksanakan. kalua begitu saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dokter," ucap Siska ramah. Saat Dokter dan perawat meninggalkan ruangan itu.
Siska pun berjalan mendekati Tama, lalu ia duduk di samping suaminya, tentu saja dengan menjaga jaraknya.
"Mas," panggil Siska lirih.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Tama, lalu perlahan menurunkan lengan yang menutupi matanya.
Tama menatap wajah cantik istrinya dengan sejuta rindu yang tersirat di dalamnya.
"Aku di sini Mas," sahut Siska dengan senyum manisnya, ia merasa geli dengan ucapan Tama.
"Aku ingin bisa memelukmu, tapi aku akan mual saat kita bersentuhan. Agghh... menyebalkan!"
Tama menyadari keadaan ini saat dia terduduk dalam kamar mandi. Perutnya akan bergejolak saat mereka bersentuhan. Namun, di sisi lain Tama sangat merindukan istrinya. Sungguh simalakama.
__ADS_1
"Sabar ya, Sayang!"
Tama hanya mendesah, menghembuskan nafasnya dengan kasar.