Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Gone


__ADS_3

Hari sudah semakin sore Alex bersiap untuk pergi ke acara tahunan kantor. Pria sipit itu mengenakan kemeja putih di balut dengan jas hitam, sedangkan Arie memakai kaos sari warna biru dengan pinggiran warna emas, tampak cantik membalut tubuhnya.


"Haaah.. sebaiknya aku tidak usah hadir," ucap Alex sambil tertunduk lesu.


"Eh Kenapa?" ucap Arie, segera Arie duduk di sisi Alex.


"Aku tidak mau membagi mu dengan orang lain, aku tidak suka orang lain melihatmu secantik ini," ucap Alex manja.


"Ulu,... ulu Sayang, apa yang kau pikirkan sebenarnya."


"Kau berdandan begitu cantik, bagaimana kalau seseorang membawamu pergi," lirih Alex, entah kenapa melihat Arie hari ini membuat dirinya merasa insecure.


Arie tersenyum kecil, dia paling suka saat Alex bermanja seperti ini. Arie bangkit dari duduknya, lalu berdiri di hadapan suaminya. Dengan lembut Arie menarik tangan Alex, mengajaknya berdiri di hadapan cermin yang terpasang di sudut kamar.


Arie menuntun tangan Alex melingkar di pinggangnya.


"Lihatlah, seorang pria yang sangat tampan sedang memelukku, seorang CEO muda yang yang tampan dan berwibawa, dengan karismanya yang bisa membuat semua wanita bertekuk lutut, tapi dia memelukku, memeluk seorang gadis biasa seperti diriku." lirih Arie.


"Orang lain hanya melihatku, tapi Tuan sipit yang tampan ini adalah pemilik ku," imbuh Arie sambil mengelus rahang kokoh suaminya.


"Kau selalu bisa membuatku tersenyum, Sayang," ucap Alex kemudian mengecup singkat bibir Arie.


Arie mengalungkan tangannya di leher Alex, menjinjitkan kakinya untuk mengecup bibir seksi Tuan sipit, Alex menahan tengkuk Arie, memperdalam tautan mereka, cukup lama mereka menyatu bibir mereka.


"Sayang, aku rasa aku benar benar tidak bisa pergi sekarang," ucap Alex dengan suaranya yang berat.


"Emmh.. Sayang, jangan sekarang kita harus segera berangkat," Arie mengigit bibir bawahnya, mencoba menahan suara di kerongkongannya, saat tangan Alex sudah mulai berkelana di tubuhnya.


"Tapi aku ingin memakan mu sekarang," keluh Alex, dengan kening mereka yang menyatu.


"Lagi pula lihatlah lipstik mu sudah belepotan." ucap Alex sambil mengusap lembut bibir Arie.


"Ah.. aku jadi terlihat seperti badut karena mu," keluh Arie, Alex terkekeh sambil mencubit gemas hidung minimalis istrinya.


Setelah sesi raba dan cubit akhirnya mereka pergi ke acara perusahaan, meskipun dengan berat hati Alex berangkat.


Saat mereka tiba di tempat acara, acara sudah akan di mulai, tapi Hem sultan mah bebas ye kan.


Mobil sport yang di tumpangi Alex berhenti tepat di karpet merah yang gelar memanjang, Alex mengandeng tangan Arie dengan mesra, para wartawan tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil moment kemesraan CEO dari Albied inc.


Alex merengkuh tubuh Alex, dan mengecup singkat bibir istrinya, seketika muka Arie merah merona. Bagaimana bisa Alex melakukan itu di hadapan para wartawan.


"Wah, mesra sekali, aku jadi pengen."

__ADS_1


"Benar benar pasangan yang serasi."


"Tiba tiba malam ini terasa begitu panas setelah mereka datang."


Ucap beberapa wartawan yang mengabadikan momen pasangan muda itu.


Saat mereka masuk ke dalam, mereka di sambut alunan musik Hindustan. para tamu sudah datang sebagai besar adalah karyawan dari perusahaan Albied sendiri, dan beberapa tamu undangan. Mereka semua memakai pakaian seperti yang sudah di tema kan.


Setelah Kakek Wu memberikan sambutan, kini giliran Alex untuk naik ke panggung. Alex naik ke panggung dengan mengandeng mesra tangan istrinya, seakan akan menunjukkan pada dunia bahwa Arie adalah miliknya.


Semua mata tertuju pada mereka, aura kebahagiaan terpancar jelas dari dua insan yang ada di atas panggung.


"Selamat menikmati acaranya dan selamat malam," ucap Alex menutup sambutannya, semua hadirin bertepuk tangan riuh.


Seseorang yang berdiri di sudut ruangan melihat mereka dengan mata tajamnya, dia mengepalkan tangannya.


"Aku akan membuatmu menderita," gumam orang itu lirih, kemudian berlalu.


Alex membaur bersama para tamu yang datang, dengan masih mengandeng mesra tangan Arie.


"Selamat atas kehamilan istri Anda Tuan," ucap seorang laki-laki paruh baya.


"Terima kasih Tuan Anderson." jawab Alex ramah. Namun, Alex segera menjabat tangan Anderson saat tangan pria itu terulur kepada Arie.


"Alex aku ingin ke kamar kecil," bisik Arie lirih.


"Baiklah aku akan mengantarmu."


"Tidak usah, aku tidak akan lama, lagi pula aku bukan anak kecil yang mudah tersesat," tegas Arie.


"Baiklah aku akan menunggumu di sini," ucap Alex, Arie mengangguk kecil.


Bergegas Bumil itu berjalan melewati kerumunan manusia. menuju kamar kecil untuk menunaikan hajatnya.


"Huft... lega," desah Arie dengan posisi masih duduk di atas toilet.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Arie bangun dan hendak membuka pintu toilet.


Ceklek.. Ceklek.


Arie mencoba memutar handle pintu tapi tak bisa.


Dok..dok..dok..

__ADS_1


Arie mulai mengedor pintu dengan keras.


"Apa ada orang?, tolong buka pintunya!!" pekik Arie.


"Tolong!! siapa saja buka pintunya!!" Arie berteriak dengan kencang. Namun suaranya kalah dengan musik up beat yang mengalun di pesta.


"Tolong...tolong..!!"


"Alex tolong aku," suara Arie mulai melemah, tenaganya sudah habis untuk mengedor pintu, mata Arie tiba tiba gelap


Brugh.


Ceklek pintu itu terbuka, seorang laki-laki tersenyum lebar melihat Arie yang sudah tak sadarkan diri.


Alex yang merasa cemas karena Arie yang terlalu lama di kamar kecil, Alex memutuskan untuk menyusulnya. Namun, ada saja kolega yang datang mengucapkan selamat kepadanya, dan membuat langkah Alex terhenti.


"Chiko, cepat kau susul Arie ke kamar kecil," ujar Alex dan langsung mematikan ponselnya. Hatinya begitu gelisah, memikirkan Arie yang tak kunjung kembali.


Chiko langsung mengecek setiap kamar kecil, tak ada seorangpun di sana. Malah dengan jelas di di tempelkan di pintu kamar kecil tersebut sedang rusak.


"Maaf Tuan saya tidak menemukan keberadaan Nyonya," lapor Chiko.


"Bodoh, periksa semua dengan benar!" hardik Alex di ponselnya.


"Aku ku buang kau ke Afrika kalau sampai Arie tidak ketemu!" bentak Alex lagi, dengan kasar menutup telfonnya.


"Sial seharusnya aku tidak membiarkan pergi sendirian," runtuk Alex pada dirinya sendiri.


Alex mengusap wajahnya kasar, dia pun berlari mencari keberadaan istrinya. setiap sudut sudah di periksa tapi tak ada tanda-tanda dari Arie.


"Cepat cari dia, dasar kalian orang tidak berguna, dasar tidak becus!!" bentak Alex pada penjaga yang berpakaian serba hitam.


"Ada apa ini?" tanya Kakek Wu.


"Kek, Arie hilang," lirih Alex.


Tubuh Alex lemas tak bertenaga, luruh seketika di lantai.


"Cepat cari ke semua tempat, dan periksa semua cctv," perintah kakek Wu.


Semua penjaga segera menjalankan perintah kakek Wu, walaupun mereka sudah menyisir semua ruangan, tapi mereka tak bisa membantah, dan kembali mengecek ulang setiap sudut gedung itu.


"Tenanglah kita pasti akan menemukannya," ucap Kakek Wu, berusaha menenangkan Alex.

__ADS_1


__ADS_2