
Setelah operasi selesai Arie di bawa ke ICU. Dokter masih harus memantau perkembangan Arie selama ia koma. Arie terbaring dengan berbagai peralatan-peralatan medis yang menempel di tubuhnya, yang digunakan untuk memantau kondisi Arie secara detail.
Arow mengenggam tangan adiknya yang terbaring lemah, balutan perban di kepala dan luka jahitan yang masih Basar di pipinya. Pemandangan itu sungguh menyayat hatinya.
"Kau harus kuat Arie, aku akan membawa Ayah dan Byaz untuk menemuimu. Kau ingin Byaz bersamamu kan. Aku akan membujuk Nana agar membiarkanmu membawa Byaz dan mengendongnya sepuas hatimu. Tapi bangunlah... buka matamu." Cairan bening meleleh begitu saja, laki laki itu terlihat sangat rapuh.
Kakek Wu yang sejak tadi berdiri di samping Arow pun hanya bisa terdiam. Dia sendiri pun tidak sanggup melihat keadaan Arie. Namun, Kakek Wu mencoba untuk kuat. Dia harus kuat, kedua cucunya membutuhkannya saat ini.
"Atie akan baik-baik saja, dia akan bangun sebentar lagi," ucap Kakek Wu.
Perlahan pintu terbuka. Alex masuk dengan memakai kursi roda yang di dorong oleh pak Darwis. Dokter sebenarnya sudah melarang Alex untuk turun dari ranjangnya. Keadaannya masih belum stabil. Akan tetapi Alex bersikeras untuk menemui istrinya.
Alex mencengkeram kuat pinggir kursi roda. Rasanya seperti di cabik, ia belum bisa melihat keadaan Arie dengan jelas. Namun, Alex merasa istrinya dalam kondisi yang lebih buruk darinya. Pak Darwis mendorong kursi roda Alex sampai disisi ranjang Arie.
Alex tak bisa lagi menahan air matanya. Tanpa permisi cairan bening itu meleleh begitu saja. Dadanya terasa amat sesak dan semakin sakit, berkali kali lipat dari rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya.
Tulang rusuknya terasa semakin dalam merobek paru-parunya. Alex ingin berhenti bernafas saat ini juga. Tangannya gemetar terulur menyentuh tangan Arie yang begitu pucat.
Matanya menatap pada wajah pucat yang terbaring di hadapannya. Pikirannya kacau hatinya berkecamuk antara marah dan rasa bersalah karena tidak bisa melindungi istrinya.
"Kau...harus membuka matamu. Aku tidak mengizinkan kau pergi," dengan suara gemetar Alex mengatakan itu.
Arow menatap nanar pada Alex. Ia tidak bisa membayangkan hancurnya hati adik iparnya. Ia sendiri sudah sangat sedih melihat kondisi adiknya.
"Aku tidak mengizinkan kau pergi, kau dengar itu!" ucap Alex lebih lantang. Ia mengenggam erat tangan Arie.
"Panggil Dokter, cepat!" teriak Alex, ia tidak perduli dengan rasa sakit saat ia berteriak. Pak Darwis pun mengangguk kecil lalu segera pergi memanggil para dokter.
__ADS_1
Kakek Wu melangkah mengitari brankar untuk mendekati sang cucu.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Arie akan segera siuman." Kakek Wu mengelus bahu Alex, berusaha menenangkan pria itu.
"Baik baik saja, bagaimana kakek bisa bilang seperti itu. Apa aku tidak melihat keadaan istriku. Berapa macam alat yang mereka pasang untuk menopang hidupnya." Alex meluapkan amarahnya.
Tak berapa lama beberapa dokter pun masuk ke dalam ruangan itu. Alex memutar kursi rodanya. Dengan mata yang memerah Alex menatap satu persatu wajah dokter yang ada di hadapannya. Tatapannya terhenti saat melihat wajah yang ia kenal.
"Selamatkan dia," Alex menegangkan jari telunjuknya pada sang istri yang sedang terbaring.
"Jika dia tidak bangun dalam tiga hari, kalian semua akan ikut bersamanya. tanpa terkecuali." ucap Alex dengan tatapan dingin.
Semua dokter menunduk kepalanya, takut jelas. Setelah mengetahui siapa pasien yang mereka rawat. Para dokter itu faham jika ancaman pria itu bukan hanya omong kosong belaka.
"Baik Tuan," jawab seorang dokter yang mewakili semua rekannya.
Setelah mendapatkan ancaman dari Alex. para dokter itu pun keluar dari ruangan itu dengan penuh rasa takut.
Kakek Wu di antara pulang Pak Darwis. Di usianya yang sudah renta, tidak baik bagi Kakek Wu terlalu lama di sana. Sedangkan Arow dia juga harus pulang untuk memberikan kabar langsung pada Ayahnya.
Matahari bergulir dari singgasananya. Awan awan putih mulai pulang beriringan. Warna langit mulai berganti, gemerlap bintang memenuhi kelamnya malam. Malam yang bergitu indah untuk di nikmati semua pasangan yang sedang di mabuk asmara. Namun, tidak dengan pasangan yang ada dalam ruangan bernuansa putih itu.
Alex masih setia menemani istrinya. Meskipun kakek Wu dan para dokter sudah membujuknya untuk istirahat namun Alex tetap pada pendiriannya. Ia tak sedikitpun bergeming dari sisi Arie. Tangan mereka saling bertaut, tak ada rasa lelah yang terpancar dari wajah Alex. Ia sungguh tidak ingin jauh dari istrinya, seakan wanita itu akan pergi jika Alex melepaskan tangannya.
Alex menatap lekat pada Istrinya. Wajah yang selalu tersenyum saat menyambutnya pulang kerja. wanita yang selalu merepotkannya dengan semua tingkahnya yang manja dan mengemaskan. Seperti film yang diputar balik. Semua memory kebersamaan mereka berputar di kepala Alex.
Arie gadis yang begitu keras kepala itu mampu membuatnya jatuh cinta. Merasakan hal hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bibir terangkat ke atas dengan matanya yang sendu.
__ADS_1
"Buka matamu sayang, apa kau ingin menghukumku seperti ini." Alex mengusap lembut lengan Arie.
"Aku sudah pernah bilang aku akan pergi bersamamu, kemanapun itu. Jika kau tidak ada aku akan mengikuti mu."
"Aku ingin kita tetap bersama, aku tidak bisa jika tanpamu. Bagaimana aku bisa bernafas saat nyawaku bahkan tidak ada dalam raga ini. Kau harus bangun, aku tidak bisa sendirian merawat anak kita, aku bahkan belum melihatnya. Aku...tidak sanggup, dia mungkin akan sangat mirip denganmu. Aku takut akan membencinya. Buka matamu sayang, aku mohon...atau kau ingin aku membawanya pergi menemuimu sayang, aku akan melakukannya. Aku kan benar benar melaksanakannya," ucap Alex lirih di akhir kalimatnya. Ia meletakkan telapak tangan Arie yang terasa dingin di pipinya.
Ceklek.
Pintu kamar VIP itu terbuka. Tama masuk ke dalam ruangan itu, ia perlahan berjalan mendekati Alex yang seolah acuh dengan kehadirannya.
"Lex kau sebaiknya istirahat, kondisimu belum pulih. Kau masuk masih butuh perawatan." ucap Tama sambil memandang wajah pucat Arie.
"Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian." jawab Alex singkat.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengatur agar kau bisa di sini bersamanya." Tama tahu Alex tidak akan mendengarkan siapapun. Maka satu satunya jalan adalah membuat mereka di rawat di ruangan yang sama.
"Jaga matamu dokter!" hardik Alex saat menyadari Tama menatap lekat pada istrinya.
Tama menghela nafasnya.
"Tenang saja, aku sudah menikah dan istriku juga sangat cantik," ucap Tama santai.
"Itu tidak merubah apapun, kau tetap seorang pria. Aku tidak suka ada pria lain yang menatap istriku seperti itu," ketus Alex.
"Tentu saja aku pria, kau pikir apa? nggak jelas," ucap Tama kesal. Alex meliriknya dengan tatapan meremehkan.
Bahkan di saat seperti ini pun, tuan sipit ini tidak lupa untuk cemburu. Benar benar cinta yang gila.
__ADS_1
"Apa kau sudah melihat anakmu?" tanya Tama yang berusaha mengalihkan pembahasan mereka.