
Siska menggerjapkan matanya berubah menetralkan cahaya yang masuk, ruangan itu sangat terang hingga membuat matanya silau. Tubuh Siska begitu nyaman berbaring di ranjang yang empuk, tunggu empuk? bukankah seharusnya dia tidur di bangku di depan ruang ICU? Naoki!.
Siska bergegas bangun. Namun, dia bingung dengan pemandangan di sekelilingnya.
"Di mana aku?" tanya Siska pada dirinya sendiri.
"Kau ada di ruangan ku," jawab sebuah suara dari balik pintu. Siska mengamati pintu yang ada di seberang tempat tidurnya.
Ceklek
Pintu itu terbuka, seorang pria memakai kemeja berwarna biru dengan di balut jas warna putih.
"Naoki, aku harus melihat Naoki!" seru Siska, bergegas turun dari ranjang.
"Stop!"
Tubuh Siska membeku di tempat. Entah kenapa Siska menuruti perintah Tama, padahal dirinya sangat mengkhawatirkan anak semata wayangnya.
"Duduk." Titah Tama lagi.
Tapi kali ini Siska tak menurut, dia tetap berdiri membeku di samping tempat tidur pasien. Tama berdecak kesal, dia melangkah mendekati Siska, mencengkeram bahu ibu satu anak itu, dan menggiringnya duduk di bangku. Mau tak mau tubuh Siska menuruti kemauan Tama.
"Dengarkan aku, keadaan Naoki sudah mulai membaik, besok dia akan di pindahkan ke ruang rawat inap," ucap Tama menjelaskan, Pria itu membungkuk mensejajarkan diri dengan Siska.
"Benarkah ,Pak?" lirih Siska, Mata berwarna coklat itu berkata kaca, Tama menjawab dengan anggukan kepalanya.
Kalimat syukur tak henti keluar dari bibir mungil Siska, tangan lentik itu meraih tangan Dokter di hadapannya dan terus mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Pak, terima kasih," ucap Siska lagi.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku, Pak, aku tidak setua itu," ketus Tama.
"Maaf Dokter," lirih Siska sambil tertunduk.
"Panggil aku sama seperti saat aku, di rumah mu," ucap Tama dengan sedikit berbisik.
__ADS_1
"A-apa maksud Pak, e Dokter?" jawab Siska terbata-bata, wajah sudah merah karena malu.
Ucapan Tama membuat wanita itu mengingat kejadian malam dimana mereka tertangkap warga. Namun, wajah Siska berubah sendu saat mengingat Tama meninggalkan rumah begitu saja tanpa pamit.
Tama memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajah Siska, Tama begitu menikmati ekspresi wajah yang di buat wanita yang ada di hadapannya. Sebuah hiburan tersendiri bagi Dokter jomblo itu, eh jomblo dah nikah kali.
"Iya seperti saat aku di rumah mu," ulang Tama menegaskan.
"Apa maksud Dokter, kita tidak ada hubungan apa apa kenapa aku harus memanggil, Mas," ketus Siska.
Tama mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Siska, kursi yang tak memiliki sandaran itu membuat Siska hampir saja jatuh karena menjauh dari Tama, untungnya tangan Tama dengan sigap menahan punggung Siska.
"Bukankah kau adalah istriku," ujar Tama, dan membuat wajah Siska kembali memerah.
"seorang istri yang di tinggalkan setelah ijab kabul, miris sekali," lirih Siska hampir tak terdengar, tapi karena jarak antara mereka begitu dekat. Tama dapat mendengarkannya dengan jelas.
"Hemm... jadi kau merajuk karena aku meninggalkan mu," ujar Tama dengan menyeting.
"Eh, siapa yang merajuk, jangan terlalu percaya diri Pak Dokter yang terhormat," ujar Siska menutupi gugupnya.
Tama membenarkan posisi duduk Siska dan melepaskan tangannya dari punggung istri sirinya itu. Tama membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Siska, Pria berlesung Pipit itu melepaskan jas putih miliknya, lalu mengantungkan di dalam lemari kecil. Siska terus mengamati laki laki itu dari tempat ia duduk, bentuk tubuhnya yang atletis masih terlihat walaupun di tutupi kemeja berlengan panjang.
Siska benar benar tidak menyangka kalau yang menikahinya adalah seorang dokter, seorang dokter yang patah hati lebih tepatnya.
"Kau akan jatuh cinta kalau terus menatapku seperti itu," ucap Tama, mengejutkan Siska.
Siska tak menyadari kalau Tama juga memperhatikannya dari cermin yang ada di depannya. Siska pun segera memalingkan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Ayo ikut aku," ajak Tama, Dokter muda itu menarik tangan Siska begitu saja.
"Eh.. mau kemana Dokter? seenaknya main tarik tangan saya," protes Siska, tapi percuma Tama tidak mendengarnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong rumah sakit, beberapa tenaga medis melihat mereka dan kemudian berbisik bisik.
"Dokter lepaskan," Ucap Siska setengah berbisik namun masih bisa di dengar oleh Tama. Siska berusaha meronta melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Diam dan menurutlah atau aku akan berbuat lebih dari ini," ancam Tama yabg kini sudah beralih memeluk bahu Siska.
Dokter berlesung Pipit itu mempererat pelukannya, mau meronta, Siska malu dengan orang dan para tenaga medis yang berlalu lalang, Siska pun hanya menunduk karena malu. Dokter muda itu tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Tama saat mereka sudah ada di kantin rumah sakit.
"Terserah Dokter saja, tapi yang harganya di bawah 10 ribu," ucap Siska.
"Heh," Tama mengerutkan keningnya heran.
Di bawah Sepuluh ribu, dapat apa dengan uang segitu, batin Tama.
Siska tampak acuh, Siska sedang memikirkan biaya rumah sakit Naoki, jadi dia harus bisa sehemat mungkin mengatur pengeluarannya.
Tama pun memesan dua porsi nasi rames dan dua gelas susu hangat. Siska di buat terkejut saat makanan mereka datang.
"Dokter, saya tidak punya cukup uang untuk membayar makanan ini," keluh Siska, perutnya memang lapar, tapi membayangkan harga seporsi makanan yang ada di depannya, membuat ***** makan Siska hilang.
"Aku yang bayar, anggap saja ini permintaan maaf dariku karena meninggalkan mu tanpa pamit," tutur Tama santai sambil mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Siska menimang sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk memakannya, dari pada dia sakit karena kelaparan. Tama tersenyum tipis melihat Siska menikmati makanannya.
"Kenapa kau tidak mengunakan Kartu yang ku berikan," tanya Tama tiba tiba.
"Kartu yang mana?"
"Yang aku letakkan di atas meja ruang tamu."
"Aku kira kau tidak sengaja menjatuhkannya, jadi aku hanya menyimpannya."
"Tunggu kenapa aku harus memakai kartu ATM Dokter?" tanya Siska yabg merasa ambigu dengan pertanyaan Tama.
"Tentu kau harus menggunakannya, itu adalah nafkah lahir dariku, nafkah batin akan segera menyusul."
Uhuk..uhuk...
__ADS_1
Siska tersedak udara, segera dia meraih segelas susu yang di sodorkan oleh Tama.