Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Ledakan


__ADS_3

Chiko membuka perlahan pintu besar itu. Arie pun segera masuk dengan langkah cepat. Arie tercenung melihat keadaan dalam ruangan itu.


Tidak ada tamu hanya sang suami yang duduk di sofa besar sendiri. Ia menyandarkan tubuhnya, memijit kening dengan memejamkan mata. Wajahnya terlihat sangat lelah.


Ruang itu kosong, hanya tiga kursi plastik usang yang letaknya sudah tidak beraturan. Di samping suaminya tergeletak meja yang seakan baru saja di tendang. Dua mangkuk mie dan tiga gelas air putih yang masih utuh ada di lantai, dan sepertinya satu mangkok lagi terjatuh atau sengaja di lemparkan ke lantai.


Arie terheran melihat semua keadaan ini. Ibu hamil itu pun perlahan melangkah mendekati suaminya.


"Sayang," Arie memanggil sang suami dengan lembut.


Mendengar suara merdu yang menyerukan namanya membuat Alex perlahan membuka mata. Seketika Alex terkejut dan membenarkan posisi duduknya.


"Sayang kenapa kau bisa ada di sini. Bukankah aku sudah bilang tunggu saja di kamar, aku hanya sebentar," ujar Alex sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang.


"Sebentar? kau sudah meninggalkan ku lebih dari satu jam." Arie bersendekap kesal.


"Maaf."


"Aku yang menyuruh asisten kongslet mu itu, untuk membukakan pintu untukku," ketus Arie. Ia seolah mengerti apa yang di cari oleh suaminya.


Alex menatap Arie, lalu merentangkan kedua tangannya. Arie mengelengkan kepalanya. Namun, melihat sang suami menatapnya dengan memelas Arie pun meringsek kedalam pelukan sang suami. Mengambil posisi ternyaman agar bayinya tidak terhimpit.


Arie duduk di satu paha sang suami, berbaring nyaman di dada bidang milik Alex yang duduk dengan agak miring. Satu tangan sang suami melingkar di bahunya, dan satu lagi sibuk mengelus perutnya buncit.


Alex mengambil nafas dalam menghirup aroma wangi sampo dari rambut sang istri. Alex mulai berfikir tentang apa yang baru saja di lakukannya. Tuan sipit itu mulai ragu, apakah Arie akan marah jika mengetahui bahwa ia telah membuat keluarga Sasongko jatuh bangkrut tak bersisa.


Melihat wajah Adinata yang begitu menyesal dan merasa bersalah membuat Alex tidak tega. Namun, disisi lain saat melihat Puspa yang begitu pongah dan berdiri tanpa rasa bersalah, benar benar membuat Alex ingin menghajarnya.


Alex menghela nafas panjang. Kepalanya sungguh pusing memikirkan semua itu.


"Kenapa kau di sini sendirian? kata Chiko, kau sedang menerima tamu," ujar Arie sambil menggambar lingkaran lingkaran kecil di dada suaminya dengan telunjuk.


"Mereka sudah pulang, dan aku merasa sangat lelah." Alex mencium dalam pucuk rambut sang istri.


Sebenarnya Arie sedikit merasa heran. Tamu macam apa yang di terima Alex di tempat seperti ini. Namun, melihat suaminya yang terlihat lelah Arie pun tidak mempertanyakannya lagi. Ia percaya apapun yang suaminya ucapkan.


"Kau belum makan bukan. Ayo," ajak Alex


Apa kau menyembunyikan sesuatu lagi dariku? Arie bermonolog dalam hatinya.


Ia tahu suaminya sedang tidak dalam keadaan yang baik baik saja. Dia seperti menyimpan beban dalam hatinya.


Arie menarik dirinya dari pangkuan sang suami, lalu berdiri perlahan. Kemudian Alex pun bangkit dari sofa. Alex meraih bahu sang istri dan menuntunnya berjalan keluar.


Alex hanya terdiam selama mereka berjalan menuju restoran. Arie bertambah yakin kalau Alex menyembunyikan sesuatu darinya.


Siapa tadi yang dia temui? nggak mungkin kalau nemuin klien di tempat kayak gitu. Siapa yang begitu penting sampai dia tidak memperbolehkan seorangpun masuk ke sana. Di kantor saja aku bebas keluar masuk ruang meeting, bahkan saat Alex sedang melakukan rapat tapi hari ini, kenapa? Hemmm....jangan jangan Alex.


Arie bermonolog dalam hatinya. sambil melirik tajam ke arah suami yang sedang berjalan di samping.


Awas saja kalau macam macam," gumam Arie hampir tak terdengar.

__ADS_1


Setelah sampai di restoran, Alex menarik satu kursi dan membantu istrinya duduk. Selanjutnya Alex duduk di kursi yang berhadapan dengan Arie.


"Sayang." Arie menarik tangan sang suami lalu meletakkannya di pipinya. Ia menatap Alex dengan mata menggoda.


Alex yang semulanya termenung pun sedikit terkejut saat Arie meraih tangannya. Ia pun menatap lucu pada Arie yang bertingkah manja dan menggodanya.


"Apa?"


"Siapa yang kau temui tadi?, kenapa sampai aku tidak boleh masuk." Arie mengedipkan matanya beberapa kali.


"Ehm.. bukan siapa siapa hanya orang biasa," Alex berdehem untuk menyamarkan kebohongan yang ia ucapkan.


Cih.. wajah udah di bikin imoet juga masih nggak mau ngaku, gerutu Arie dalam hati.


Arie memasang senyum iklan gigi Pepsodent. Ia melepaskan tangan sang suami, lalu menopangkan dagunya di kedua jemari tangannya yang di taukan.


"Hmm... bukan siapa siapa ya."


"Iya," jawab Alex singkat.


Sorot matanya terlihat sayu. Namun, menatap Alex dengan penuh kecurigaan. Alex tahu ini bukan pertanda baik.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan mereka.


"Selamat sore tuan, nyonya," ucap pelayan itu dengan ramah.


"Em.. sebentar."


"Ada apa sayang?"


"Menunya tidak ada yang enak," ketus Arie.


Alex menautkan kedua alisnya. Bukankah biasa Arie suka makanan di restoran yang ada di hotel ini. Di sini lebih menonjolkan menu lokal seperti selera istrinya. Tapi kenapa hari ini dia berkata seperti itu.


"Terus kamu mau makan apa?"


Arie mengisyaratkan agar si pelayan mendekat padanya. Pelayan itu mengerti dan membungkuk badannya untuk sedikit mendekat ke arah sang tamu. Melihat si pelayan yang begitu dekat dengan istrinya, membuat Alex berdecak kesal, untung saja pelayan itu perempuan. Kalau tidak ,Alex sudah menarik dan melemparkannya ke lantai.


Arie membisikkan sesuatu kepada pelayan itu. si pelayan pun manggut-manggut mengerti.


"Ok."


"Baiklah nyonya mohon tunggu sebentar." pelayan itu menegakkan kembali tubuhnya, ia sedikit membungkuk sebelum berlalu menjauh.


Setelah beberapa lama akhirnya si pelayan itu membawakan pesanan khusus Arie.


"Sayang, apa yang kau pesan?"


Alex memandang heran pada makanan yang ada di hadapannya. Ini bukan pertama kalinya dia melihat makanan itu. Akan tetapi dia juga tidak tahu jenis makanan apa itu.


"Ehem, makanan spesial untuk suami tercinta," ucap Arie dengan senyum yang paling manis.

__ADS_1


Alex berusaha tersenyum, meskipun jantungnya sudah jedak jeduk merasakan firasat yang tidak enak. Senyuman sang istri yang terlihat terlalu manis. Menandakan adanya kejutan yang akan terjadi.


Arie mengambil salah satu gorengan berbentuk kotak yang tersaji di piring, langsung dengan tangannya.


"Ayo sayang buka mulutnya .. aaa."


Tuan sipit itu menelan ludahnya, sebelum patuh membuka mulutnya dengan lebar. Satu dorongan dari jari telunjuk Arie, membuat tahu goreng itu masuk dengan sempurna ke dalam mulut suaminya.


Alex mengatupkan bibirnya, namun masih belum berani mengunyah. Entah kenapa ia tidak ingin makanan itu bersarang di dalam mulutnya.


"Kunyah dong sayang." Arie mengerakkan mulut sang suami.


Alex terlihat biasa saat pertama mengunyah.


Boomm


Mulut Alex terasa meledak. Kedua pipi bagian dalamnya terasa terbakar. Matanya langsung memerah dan berair. Telinga pun mulai berdengung sakit, mungkin sudah mengeluarkan asap.


Sang istri tersenyum bahagia melihat perubahan wajah suaminya. Ia bertambah semangat mengerakkan rahang Alex agar terus mengunyah. Meskipun Alex berusaha mengelengkan kepalanya Arie tidak perduli.


Beraninya kau menyembunyikan sesuatu dariku rasakan, gumam Arie dalam hati. Hanya seringainya yang jelas terlihat di wajahnya.


"Haaaaah,,...."


Alex membuka mulut lebar saat makanan itu sudah tertelan olehnya. Air liurnya mengalir deras, seiring dengan air matanya.


"Sayang tolong minum," ucap Alex dengan mulutnya yang ternganga.


"Emh... maaf aku ga pesan minum," ujar Arie dengan suara yang di buat manja.


"Katakan dulu yang sebenarnya. Kau bertemu dengan siapa? Baru aku akan memberikan minum!"


Alex membulatkan matanya, ia menatap Arie tak percaya. Bagaimana bisa istrinya menyiksanya seperti ini.


"Katakan dulu, siapa yang kau temui di ruangan itu tadi?!" kini suara Arie terdengar tegas.


"Bukan siapa siapa, hanya klien biasa," Alex berusaha bicara dengan mulutnya yang terasa panas, dengan tangannya Alex berusaha mengipasi wajahnya.


ck, masih nggak mau jujur juga. rasain tuh tahu ranjau, geram Arie.


Tuan sipit itu berusaha mencari benda yang bisa ia gunakan untuk mengurangi rasa pedas dalam mulutnya. Sial. Restoran itu sudah di booking olehnya. Jika tidak, ia bisa saja menyerobot minuman milik tamu lain.


Melihat suaminya yang masih tidak mau jujur membuat Arie kesal. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan pergi. Alex yang melihat sang istri pergi pun panik dan segera mengejarnya.


"Sayang!" teriak Alex. Arie berhenti dan menoleh.


"Jangan ikuti aku, awas saja kalau kau sampai meminum apapun selain dari tanganku. Aku pastikan kau tidur di luar selama seminggu!" Ucap Arie sambil menatap tajam pada Alex.


"Masih juga ga mau jujur, awas saja kalau ternyata dia ketemuan sama cewek di sana. Ihh.. aku bikin jadi pecel," gerutu Arie.


Para pelayan yang mendengar ucapan Arie pun berusaha menahan tawa mereka.

__ADS_1


"Sial," Alex terus berjalan mengikuti sang istri dengan rasa malunya.


__ADS_2