
Muka Arie mode merah setengah ungu, kecewa dengan hasil masakannya yang sudah terlanjur berkelana, namun akhirnya tak tersampaikan kepada Tuannya, Arie mengembuskan nafas kasarnya melihat tentengan paperbag yang dia angkat menghadapkan ke wajahnya sendiri.
"Diapakno iki" ( diapan ini) gumam Arie. dengan malas ia pun melangkahkan kakinya menuju mobil.
Arie membuka pintu dengan kasar, dan menutupnya dengan setengah di banting, membuat seorang di dalamnya terjingkat.
"Astaghfirullah, Mba Boss," ujar Ipul sambil terus mengelus dadanya. Ipul menoleh kebelakang mendapati wajah Nyonya Besarnya yang merah padam, dapat di pastikan kalau dia buka mulut pasti langsung di semprot.
Tanpa suara Arie menyodorkan paperbag yang di bawanya, Ipul menerimanya dengan senang.
"matur suwun Mba Boss," ucap Ipul dengan suka cita. Tidak perduli dengan Boss cantiknya yang patah hati, yang penting dapat makanan gratis, begitulah makna dari senyum yang terpancar dari wajah sopirnya ini.
"Pul hari ini kamu pulang dulu, aku mau jalan sendiri"
"Lha jalan piye Mba Boss?" Ipul sedikit bingung dengan perintah Arie.
"Pokoknya kamu pulang, hari ini kerja kamu cukup sampai disini, aku lagi sumpek, lagi pengen sendiri" ujar Arie kesal.
"iya..iya.. Mba Boss, tumben Mba Boss pake bahasa Indonesia?"
"lagi pengen jadi orang Indonesia, wes wes Ndang muleh"(sudah cepat pulang) ujar Arie, dengan mengibaskan tangannya.
"Lha mobil piye? di tinggal di kantor po piye?" (bagaimana mobilnya? di tinggal di kantor atau bagaimana?"
__ADS_1
"wes gowoen ae" ( sudah kamu bawa saja) ujar Arie sambil keluar dari mobil.
"yes"
Dengan Raut secerah mentari pagi, Ipul mulai mengendarai mobil meninggalkan kantor, sementara Arie memesan ojek online untuk mengantarkannya ke sebuah tempat langganannya di saat meriang melanda hatinya.
kendaraan roda dua itu kini melaju membelah kemacetan kota Surabaya, di bonceng Nang berjaket hijau Arie berkendara di bawah terik matahari, motor berhenti saat lampu merah menyala, mata Arie terus memperhatikan sisi jalan raya, dimana ada beberapa pedagang kaki lima yang membuka lapak mereka, nampak mengiurkan setiap Aroma dari makanan yang di jual para pedagang itu membuat Arie meneteskan air liurnya, Arie menepuk pundak Abang ojol lalu menunjukkan tempat yang ingin ia singgahi. Abang ojol dengan sigap membelokkan motornya.
"Tolong Pean enteni sek ya Cak" ( Tolong Anda tunggu sebentar) ujar Arie sambil melepas helm yang dia pakai, sesampainya mereka di tepi jalan raya.
Di depan deretan o di bawah pohon yang rindang, terdapat beberapa gerobak makanan yang di parkir berjajar, Arie melangkah menuju kerumunan konsumen yang sedang menyerbu mereka, ia mengantri dengan santai berdiri sambil mensendekap kan ke dua tangannya.
Tak sengaja Arie menatap seorang pria tua yang sedang duduk terkantuk di sisi sepedanya, ia pun memutuskan untuk berjalan ke arah Pria itu, ternyata pria itu sudah tidur, dengan kepala tertunduk di atas lututnya, Arie melihat box plastik berwarna putih yang di ikat di boncengan sepeda onthel pria itu.
"Mbah... Mbah..."ucap Arie lembut sambil menepuk pundak pria tua yang ada di hadapannya.
"Wonten nopo Mba" (ada apa Mba) ucap pria itu lirih.
"Sampean sadean nopo Mbah?" ( Kakek, Anda jualan apa? )
"onde onde Mba" dengan sedikit tertatih pria tua itu berdiri dia membuka penutup box yang di bawanya, menunjukkan jajan pasar yang terbuat dari tepung ketan, dengan bentuknya yang khas bulat dan berbalut wijen.
Terlihat Box itu masih terlihat penuh, ya jajanan tradisional seperti ini memang kalah bersaing dengan jajan kekinian seperti yang di jual para Abang Abang yang sedang di kerubuti pembelinya, tak jauh dari mereka berdiri sekarang.
__ADS_1
"Mbah sedoyo niki pinten?" (ini semua berapa kek?) tanya Arie sambil mengeluarkan lembaran merah dari dompetnya.
"satus seket Mba" (seratus lima puluh Mba)
"Sampean yakin Mbah? kan dereng jenengan itung" (Anda yakin kek? Anda bahkan belum menghitung) Arie mengerutkan keningnya heran.
"dereng kalong blas Mba, dadi mesti sakmunu, Mbah jukuk teko juragan sak munu Mba" ( belum ada yang laku Mba, jadi mesti segitu, kakek ambil dari majikan segitu) ucap Kakek itu sendu.
Lipatan kulit di tubuhnya yang renta nampak begitu kontras dengan apa yang dia lakukan, pakaian yang lusuh namun senyum yang ikhlas tak pernah lepas dari wajahnya sejak Arie berbicara dengannya.
"Nggeh mpun Mbah, jenengan bungkus sedoyo" ( ya udah kek, Anda bungkus semua).
"Alhamdulillah Mba, temenan Mba" (beneran Mba) ujar pria tua itu dengan mata yang berbinar bahagia, Arie mengangguk tersenyum, dengan tangan tuanya si penjual itu cekatan memasukkan onde onde ke dalam beberapa kantong plastik.
Setelah selesai beliau memberikan kantong plastik yang berisikan makanan kepada Arie, Arie pun menerima dengan lembut dan mengenggam kan lembaran kertas merah kepada si penjual.
"Mba niki duit e kakeh an" ( Mba ini uangnya kebanyakan) ujar si Mbah saat menghitung uang yang di berikan Arie.
"mboten nopo nopo, rejeki sampean" ( tidak apa apa, rejeki Anda) ucap Arie tersenyum ramah, Arie pun melangkah meninggalkan si Mbah yang terharu bahagia.
Arie menghentikan langkahnya, melirik kantong kresek di kedua tangannya, menghela napasnya sejenak berfikir, apa yang akan dia lakukan dengan semua onde onde ini.
"Kamu masih sama seperti dulu, Arie" suara lembut seorang pria membuat Arie membalikkan badannya, matanya membulat sempurna saat sosok tegap bermata coklat itu tersenyum manis kepadanya.
__ADS_1
"Dokter Tama"
"Kau masih mengingat ku" ujar dokter tampan itu dengan senyum yang membuat lesung di pipi kirinya nampak jelas.