Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Sama saja


__ADS_3

Mobil sport hitam milik Alex melaju dengan kecepatan sedang. Hari ini ia ingin memanjakan istrinya sesuai dengan permintaan kecil istrinya. Setelah kejutan kamar bayi yang di desain sendiri oleh Alex. kini mereka pergi ke sebuah minimarket untuk membeli telur berisi coklat.


"Sayang, kapan kau menjadikan kamar di sebelah kita menjadi seperti itu? perasaan kemarin masih kamar kosong?" tanya Arie sambil terus mengunyah kripik tempe yang ada di pangkuannya.


"Kemarin malam, saat kau sedang tidur. Aku menyuruh mereka menatanya dengan sepelan dan secepat mungkin."


"Sepelan dan secepat mungkin?"


"Sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara gaduh dan tidak menggangu tidurmu, tapi harus selesai sebelum fajar menyingsing," jawab Alex menjelaskan.


"Terus kenapa kenapa seperti itu desainnya?"


"Kenapa kamu nggak suka?" Alex memicingkan matanya ke arah Arie.


"Siapa bilang aku nggak suka. Unik aku suka banget," jawab Arie dengan senyum lebarnya.


"Terus?"


"Aku cuma pemasaran aja, kenapa kamu kepikiran buat desain seperti itu. Biasanya kan kamar anak itu identik lucu trus pake warna warna pastel, banyak boneka dan mainannya. Lha itu malah banyak buku sama bola dunia, emang bayi bisa baca?" cerocos Arie.


"Kamu taukan arti dari kalung yang kamu pakai itu."


Arie mengangguk kecil sambil menyentuh liontin berbentuk bulat yang menggantung di lehernya. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, membayangkan bagaimana manisnya Alex saat memberikan kalung itu untuknya.


"Sayang," panggil Alex, yang langsung membuat Arie tersadar dari lamunannya.


"Eh..iya."


"Kamu kok malah melamun." Arie menyengir kuda.


"Sama seperti halnya liontin itu. Kamar junior aku anggap sebagai langkah pertama membuat dunia baru untuk keluarga kecil kita." ucap Alex menjelaskan.


"Hem...aku bisa kena diabetes kalau kau bersikap manis seperti ini." Arie mengoyangkan tubuh, merasa gemas dengan sang suami.


Alex mengulum senyum. Tangannya terulur mengusap sudut bibir Arie yang terkena bumbu dengan ujung jempolnya. Arie tersipu malu.


"Perhatikan jalannya, ntar nubruk lagi," ketus Arie untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Alex hanya tersenyum kecil mendengar ucapan istrinya. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di minimarket yang mereka tuju. Mobil Alex pun terparkir sempurna di tempat parkir yang tersedia.


Alex segera turun, lalu melangkah mengitari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Arie. Alex melingkarkan tangan Arie di lengannya. Sepasang suami istri itu tampak mesra dengan senyum yang terus tersungging di bibir mereka.


"Selamat datang selamat berbelanja," ucap seorang pegawai laki laki yang menyambut mereka. Dengan senyum ramah, ia membukakan pintu kaca untuk Arie dan suaminya.


Alex langsung melayangkan tatapan tajam pada pegawai itu. Tajam seakan menusuk sampai ke tulangnya. Pegawai itu masih berusaha tersenyum meskipun merasa sangat takut dengan tatapan Alex.


"Apa kau bosan hidup, tundukkan kepalamu!" hardik Alex.


"I-iya Pak," jawab pegawai itu dengan gugup. Sebenarnya ia juga bingung apa yang sebenarnya membuat pelanggan satu ini marah kepadanya.


Arie pun langsung menyeret suaminya untuk masuk.


"Maafkan suami saya ya mas."


Pegawai itu hanya mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.


Dengan terpaksa Alex mengikuti langkah Arie yang terus menyeretnya. Tubuhnya memang terseret bersama Arie, tetapi Alex masih menetap tajam pada pengawal yang menyapa mereka di pintu.

__ADS_1


Arie berjalan cepat menuju rak paling ujung yang ada minimarket itu. Arie menakupkan wajah Alex, memaksanya untuk melihat ke arahnya.


"Kamu ngapain sih, bikin malu," lirih Arie dengan kesal.


"Apa! aku nggak suka dia senyam-senyum sama kamu seperti itu," jawab Alex ketus.


"Ya ampun sayang, dia hanya bersikap ramah. Dia menyapa semua orang yang masuk ke dalam minimarket ini, bukan hanya padaku saja. Itu memang tugasnya," Arie mencoba menjelaskan pada macan pecemburu di hadapannya ini.


Bukannya mendengarkan perkataan istrinya, Alex malah terus menatap ke arah pintu masuk di mana pria itu masih berdiri dengan menyambut para pelanggan yang datang.


"Aku harus mencari tau rumah mata keranjang itu, aku harus memberikannya pelajaran" ucap Alex geram.


Baru saja Alex mau melangkah. Namun, terhenti karena Arie memegangi pergelangan tangannya.


"Mau ke mana?"


"Mau mencongkel mata keparat itu!" Arie mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tetap di sini atau kau akan tidur di sofa malam ini," ucap Arie dengan bersungguh-sungguh.


"Kau membelanya!" sentak Alex.


Arie memutar matanya jengah. Tidak ada cara lain lagi untuk menjinakkan tuan sipitnya. Meskipun ini di tempat umum. Haah... sudahlah lebih baik malu karena mesum, daripada Alex melanjutkan ke posesifnya yang mulai tidak terkendali.


Cup


Arie menjinjit untuk memberikan ciuman besar di pipi suaminya. Alex tersenyum sangat tipis hampir tidak kentara. Alex menundukkan kepalanya lalu mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk.


"Malu banyak orang," lirih Arie. Alex menatap dingin pada istrinya.


Arie pun mendarat kecupan singkat di bibir Alex. Namun, tangan kekar itu segera meraih tengkuk lehernya, membuat kecupan kecil itu berubah menjadi luma*an singkat. Pipi Arie merona saat Alex melepaskan pagutan mereka.


"Malu tau," lirih Arie.


Alex hanya tersenyum kecil lalu meraih bahu sang istri, memeluknya dengan posesif. Ingin rasanya Arie menutupi wajahnya dengan kantong kresek agar tidak terlihat. Ia merasa sangat malu, beberapa pengunjung minimarket itu berbisik bisik sambil sesekali melirik ke arahnya.


"Apa yang ingin kau beli?" tanya Alex.


"Eh.. iya mau beli apa ya?" Arie sampai melupakan tujuan mereka ke minimarket itu karena tingkah suaminya.


"Kau bilang telur coklat apalah itu."


"Iya kau benar, aku mau beli kinder Joy!"


"Ok, kita beli itu."


Keduanya pun mulai mencari di sekitar rak makanan ringan. karena tidak kunjung menemukannya, akhirnya Alex pun pergi menghampiri seorang pegawai wanita untuk bertanya. Setelah mendapatkan informasi ia pun kembali kepada istrinya.


"Sayang, ternyata barang yang ingin kau beli tidak ada di rak sebelah sini," ujar Alex.


"Dari mana kau tau?"


"Aku tadi bertanya pada pegawai di sini, ayo." Alex menarik lembut tangan istrinya untuk berjalan menuju ke meja kasir.


Mata Arie berbinar seketika melihat jajanan coklat yang di bungkus dengan plastik yang menyerupai telur ayam. Melihat binar di wajah sang istri membuat Alex turut tersenyum.


"Kami beli semua ini termasuk yang ada di gudang kalian," ucap Alex pada kasir yang kebetulan seorang wanita.

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab kasir itu dengan senyum manisnya. Ia pun segera menyuruh pegawai lainnya untuk membawa semua stok kinder joy yang mereka punya.


Wajah gembira Arie berubah masam. Ia sangat tidak suka saat kasir itu terus tersenyum pada suaminya dengan tatapan memuja. Meskipun Alex tidak merespon, dan memasang wajah seperti biasa, datar dan acuh. Tapi tetap saja Arie tidak suka. Akan tetapi di sisi lain Arie juga ingin membeli telur mainan itu. Akhirnya dengan segala kesabaran yang ia punya, Arie memutuskan untuk menunggu transaksi mereka selesai tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Setelah Alex selesai membayar, Arie pun keluar mendahului suaminya. Dengan langkah cepat ia pun sampai ke mobil mereka, dengan kasar Arie membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali dengan keras. Alex pun segera menyusul sang istri yang terlihat marah.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Alex saat sudah berada dalam mobil. Arie acuh, wajahnya di tekuk masam dengan bibirnya yang mengerucut.


"Bukannya seharusnya kau senang. Aku sudah membeli semua ini." Alex mengangkat kedua tangannya yang menjinjing dua plastik besar berwarna putih.


"Kamu seneng kan di senyumin cewek cantik," celetuk Arie.


"Hah... apa? cewek cantik siapa?" Alex menaruh di kresek yang berisi kinder joy de kursi belakang dengan wajah bingung.


"Halah...pura pura, dari tadi di senyumin kasir itu. Sok sok an nggak liat," gerutu Arie dengan lirih. Namun, masih bisa di dengar Alex.


"Kau cemburu?" tanya Alex dengan senyum lebar. Ia merasa bahagia sekaligus lucu melihat wajah istrinya.


"Nggak cuma kesel," kilah Arie.


"Aku mencintaimu." Alex merengkuh tubuh Arie tanpa aba-aba.


"Ish... apaan sih," ucap Arie malu malu.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."


"Aku juga."


Alex melepaskan pelukan, lalu mendaratkan ciuman besar di bibir Arie.


"Aku ingin segera pulang, aku sudah sangat ingin makan kue apem milikmu," ucap Alex dengan suaranya yang terdengar serak menahan hasr*tnya.


Ia pun memasangkan sabuk pengaman pada sang istri, lalu memasang miliknya sendiri.


Arie menoleh ke atas luar jendela, untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena ucapan Alex yang absrud. Namun, saat itu..


"Awas!"


"Aaaaaaaa!"


Bruak.


.


.


.


.


.


Mampir novel punya kak Tufa Hans. Tambahkan di rak buku kalian ya gaes ❤️❤️😘🤗 happy reading. Jangan lupa jempolnya.. kopi atau mawar buat tambahan imun emak 🤧🤧. sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih sebanyak banyaknya. Arie sama Alex sudah mulai kelihatan hilalnya 🥲 terus pantengin biar ga kelewatan 😚😉


.


__ADS_1


__ADS_2