Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Harapan


__ADS_3

Dengan di antara supir kesayangannya dan satu pengawal perempuan. Arie pun di perbolehkan menemui sahabatnya. Itu pun setelah Arie melakukan perdebatan panjang dengan suaminya.


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mobil yang ia tumpangi pun sampai di depan sebuah kafe. Pengawal yang duduk di sebelah Ipul segera turun dan membuka pintu untuk Nyonya besarnya.


Arie perlahan menurunkan kakinya yang sudah bengkak dengan bantuan sang pengawal.


"Arie!" teriak seorang wanita dengan rambutnya yang di kuncir tinggi, wanita itu berlari ke arah sahabatnya yang baru saja turun dari mobilnya.


"Mba Yuli!" Arie pun sama berteriak, rasanya ia juga ingin berlari namun perutnya yang sudah sangat besar itu tidak bisa di ajak kompromi.


Yuli pun sampai di hadapan sahabatnya. Mereka berdua saling berpelukan seadanya karena perut besar Arie yang menjadi penghalang.


"Masuk yuk!" Yuli mengandeng tangan sahabatnya dan mengajaknya berjalan masuk. Ipul dan sang pengawal segera menyusul berjalan di belakang mereka.


"Dadi ibu negara ya," sindir Yuli sambil menoleh ke arah dua orang yang berjalan di belakang mereka.


Arie menghela nafas panjang sambil mengangkat kedua bahunya.


"Ya wes. Pasrah, Mba," ucap Arie dengan wajah yang di buat lesu. Yuli pun terpingkal melihat ekspresi wajah Arie.


Sang pengawal dengan sigapnya menarik sebuah kursi untuk Nyonya besarnya duduk.


"Terima kasih." pengawal itu tersenyum sambil membungkuk hormat dan berdiri di belakang Arie.


"Duduk di sana sama Ipul," titah Arie sambil menunjuk Ipul yang sedang duduk tidak jauh dari meja mereka. Pengawal itu bergeming, membuat Arie memberengut kesal.


" Wes gede ya, kapan HPL e?"


[ " Sudah besar ya, kapan HPL nya?" ]tanya Yuli dengan antusias, melihat perubahan perut Arie yang sudah sangat besar.


Arie melebarkan tangannya di atas perutnya sambil tersenyum.


"Seminggu maneh, Mba."


[ " Seminggu lagi, Mba." ]


Yuli tersenyum lebar, tangannya terulur ikut mengelus perutnya. Ia membayangkan jika ia hamil kelak. Pasti perutnya akan mengembang sebesar itu, karena pertumbuhan bayi di dalamnya.


Raut wajah Yuli berubah tegang saat mengingat ada seseorang yang menunggu mereka. Ia sesekali melirik ke arah pengawal yang berdiri di belakang Arie.


"Rie, iso elok aku?" tanya Yuli dengan gugup.


[ " Rie, bisa ikut aku?" ]


Arie mengerutkan keningnya, ia menangkap sinyal tak biasa dari sahabat. Pasti ada sesuatu yang membuat ia gugup seperti ini.


Apalagi Arie melihat Yuli yang melirik ke arah pengawal yang ada di belakangnya.


"Nangdi, Mba?"


[ "Ke mana, Mba?" ]

__ADS_1


"Melbu diluk."


[ "Masuk sebentar." ]


Arie pun mengangguk setuju. Yuli bangkit dari duduknya lalu membantu ibu hamil itu untuk berdiri.


"Kau tetap di sini!" titah Arie pada pengawalnya.


"Tapi nyonya."


"Tidak ada tapi, aku hanya ingin berbaring di dalam. Punggungku sakit, aku ingin istirahat sebentar. Kau bisa menunggu di luar pintu jika kau mau."


"Baik, saya akan berjaga di depan pintu."


Yuli bernafas lega, mendengar pengawal itu tidak ngotot untuk ikut masuk ke dalam kamar. Arie pun bangkit dari duduknya dengan bantuan dari Yuli, perutnya yang besar sungguh membuat ibu hamil itu kesulitan untuk bergerak. Mereka berdua berjalan ke arah belakang kasir.


Pengawal itupun mulai menyusul langkah Arie dan Yuli yang berjalan mendahuluinya. Setelah melewati pintu di belakang kasir dan dapur kecil mereka pun sampai di sebuah pintu. Pengawal itu tetap berdiri di sana, Sementara Arie dan Yuli masuk ke dalam.


"Kak Nana!" pekik Arie dengan senyum lebar.


Arie melangkah agak sedikit lebih cepat ke arah sofa, di mana seorang wanita cantik yang sedang mengendong bayinya duduk sambil berceloteh ria. Mendengar suara yang memanggilnya, Nana segera menoleh. Ia bangun dari duduknya.


"Sayang." Nana berdiri dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Arie meraih bahu sang kakak dan mengelus punggungnya perlahan, mereka kemudian saling mencium pipi masing-masing. Pandangan Arie turun ke jagoan kecil ada di dekapan kakak iparnya.


"Ya Ampun! Ganteng banget ponakan Tante." Arie pun menghujani wajah Byaz dengan kecupan.


"Kak, aku kangen," ucap Arie mencoba untuk tidak terisak. Beda dengan Nana, wanita cantik itu sudah berderai air mata.


Yuli pun ikut terhanyut dalam rasa haru melihat keduanya yang saling melepaskan rindu. Tapi ia memilih untuk tetap berdiri dan menjaga jarak dari mereka. Yuli ingin memberikan ruang untuk kedua saudara ipar itu untuk saling bercerita.


Nana menuntun adik iparnya itu duduk di sofa bersama. Arie mengenggam erat tangan Nana, menyalurkannya kerinduan yang mendalam.


"Kau sulit sekali untuk menghubungi mu, sampai aku harus minta tolong pada sahabatmu untuk bertemu," keluh Nana dengan wajah sendu.


"Ponselku yang lama rusak, Alex tidak sengaja menjatuhkannya dan aku di belikan ponsel baru. Semua nomer yang ada di sana hilang. Aku hanya menyimpan nomer Mba Yuli dan suamiku, selebihnya hanya nomer supir dan asistennya," Arie menjelaskan panjang lebar pada Nana. Ia bahkan tidak menyadari bahwa yang ia ceritakan adalah rekayasa yang di buat suaminya sendiri.


Mendengar kata suami membuat wajah Nana berubah sendu. Ia teringat dengan Arow dan nasib rumah tangga mereka sekarang.


"Kak Nana datang sendiri? di mana Kak Arow? Kenapa tidak mengantar kakak dan Byaz?" Arie mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang kakak di ruangan itu. Nana tersenyum kecut.


"Arow harus bekerja, dia tidak bisa mengantarku kemana mana sekarang."


"Ck, masa begitu. Seharusnya Kak Nana dan Byaz itu jadi prioritas utama Kak Arow sekarang, dia bisakan meninggalkan pekerjaannya sebentar pada sekertarisnya." Tangan Arie mengalihkan Byaz dari gendongan sang ibu, meskipun dengan perutnya yang sudah mengganjal. Namun, Arie ingin sekali mengendong keponakannya itu.


"Kakakmu bukan lagi pemilik perusahaan, dia hanya pegawai biasa di tempat orang lain," ucap Nana dengan seulas senyum yang dipaksakan.


"Hahaha... kak Nana nggak usah ngelawak deh, nggak lucu tau!" Arie tertawa mendengar ucapan kakak iparnya, tapi tawa itu redup saat melihat wajah Nana yang serius. Tidak ada kebohongan di sorot matanya.


"Apa kamu tidak tahu, SS group sudah di ambil alih oleh suamimu? Apa kau tahu kabar Ayah sekarang? Ayah bangkrut, dia sakit. Kau tau semua itu karena ulah suamimu. Keluarga Sasongko kini sudah hancur Arie. Tidak ada yang tersisa selain berita yang mencemooh mereka karena skandal yang tidak jelas."

__ADS_1


"Apa kau tidak pernah melihat berita tentang kehancuran keluargamu sendiri, mereka bahkan tidak tinggal lagi di rumah besar itu," Nana mengatakan semuanya dengan penuh emosi, ia mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini ada di hatinya.


Bagai tersambar petir, Arie terkejut mendengar penuturan Kakak iparnya. Ia sama sekali tidak tahu menahu tentang itu semua. Alex membatasi dirinya dengan dunia luar, Arie pun tidak curiga dan menurut saja, ia menganggap itu adalah salah satu bentuk perhatian suaminya.


"Ak- aku tidak tahu kak," ujar Arie terbata, dia cukup syok dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Aku sudah tidak bersama lagi dengan Kakakmu." Arie melebarkan matanya yang sudah berkaca-kaca, menatap Nana dengan tidak percaya.


"Kalian bercerai?" tanya Arie dengan suara seperti tercekat. Nana menggeleng pelan.


"Bukan, tapi Bapakku menyuruh aku untuk pulang ke solo, sampai keadaan keluarga Sasongko membaik. Tapi kapan? semuanya tidak akan kembali dengan cepat. Aku tahu Bapak hanya khawatir dengan ku, tapi sampai kapan aku harus menunggu," lanjut Nana dengan air mata yang sudah jatuh begitu saja.


"Tapi bagaimana bisa aku harus berpisah dari suamiku. Bagaimana dengan Byaz? dia butuh papanya." Nana menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang, tangisnya pun pecah.


Byaz ikut menangis kencang, seakan mengerti duka yang dirasakan Mamanya. Nana pun segera menghapus air matanya, dan meraih Byaz dari gendongan tantenya.


"Sshh... anak Mama, tenang ya sayang. Maafin Mama." Nana mengayunkan Byaz dalam dekapannya. Tidak berapa lama baby itu pun kembali tenang.


Hati Arie terenyuh dan sedih melihat kakak iparnya. Terlebih keponakannya yang harus berpisah dengan papanya. Arie sendiri tidak bisa membayangkan jika ia harus mengalami hal yang sama. Dengan wajah sendu Arie menatap perutnya.


Arie pun tidak mengerti kenapa suaminya tidak menceritakan semua ini kepadanya.


"Arie, aku harap kau bisa membantu kakak untuk bicara pada suamimu. Aku mohon, tolong bujuk Alex untuk memaafkan Ayah," ujar Nana mengiba.


"Memaafkan ayah? Kenapa? Apa ayah berbuat sesuatu?"


"Aku juga tidak tahu, tapi Arow bilang. Ini semua terjadi karena kesalahan keluarga Sasongko yang membuat Alex marah, dan berimbas pada semuanya," ucap Nana sendu.


"Kak, Maaf aku tidak tahu tentang semua ini. Aku akan menanyakan pada Alex. Aku berjanji Kak Nana akan bersama dengan Kak Arow lagi." Arie bangkit dari duduknya. Nana tersenyum sambil menatap Arie dengan penuh harap.


"Lalu bagaimana keadaan Ayah kak? dimana sekarang ayah tinggal?" Arie merasa cemas pada keadaan Ayahnya. Ia pasti syok dengan semua yang terjadi.


Arie ingin menjenguk sang Ayah, rasa rindu selalu mengelayut di hatinya. Meskipun ia berusaha menghindar tapi ia tidak bisa memungkiri perasaan itu. Ia tidak pernah menemui Adinata, semata-mata karena sang nenek yang tidak mengharapkan kehadirannya di rumah besar Sasongko.


"Aku tidak tahu, kakakmu bilang mereka menempati rumah lama, tapi aku belum pernah ke sana." Nana menunduk lesu.


"Terima kasih sudah memberi tahuku semua ini Kak, aku akan berusaha membantu."


"Terima kasih." Arie mengangguk kecil.


"Aku pulang dulu kak, bye baby Byaz." Arie mencium pipi gembul Byaz sebelum melangkah menjauh.


Langkah Arie terhenti saat Yuli mengulurkan tangannya menghentikan langkah Arie. Arie mengerutkan keningnya menatap sang sahabat penuh tanya.


"Aku mek ngilingno, ngomong seng tenang ambe bojomu. Ojo ambe emosi,"


[ " Aku cuma ingin mengingatkan, bicaralah dengan tenang dengan suamimu. Jangan sambil emosi," ] ujar Yuli menasehatinya.


Arie mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Iya Mba, pasti." Arie memeluk sahabatnya sebelum mereka berdua keluar dari kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2