
Langit pagi ini begitu hitam. Awan mengulum tebal tertata rapi di luasnya langit Surabaya.
Berbagai media sedang hangat membicarakan berita duka dari pewaris Albied inc.
Alex Wang di nyatakan meninggal dunia bersama sang istri Arieta Wang. Mereka berdua telah berjuang menahan semua luka yang mereka derita akibat kecelakaan yang menimpanya.
Kabar duka ini tentu saja menggegerkan seantero negeri. Alex adalah sosok yang di segani di dunia bisnis, dan juga sangat di puja oleh para nitijen karena ketampanannya. Kesuksesan di usia yang masih di bilang muda itu membawanya menjadi seorang yang di elu elukan masyarakat luas.
Sosok Arie juga tak pernah luput dari perhatian para nitijen, tak jarang bagaimana cara Arie berbusana selalu menjadi sorotan. Ia selalu tampil sederhana dan anggun. Kesederhanaannya selalu mendapatkan pujian dari banyak orang.
Semua media memenuhi halaman depan rumah keluarga Wang, berharap mendapatkan secuil berita dari sang empunya rumah. Tidak perduli dengan warna langit yang semakin pekat. Semua pemburu berita itu tetap setia menunggu di luar pagar.
Rumah Besar itu tampak lengang beberapa kursi sudah di tata menjajarkan di halaman rumah tayang luas dengan tenda di atasnya. Bunga bela sungkawa dari berbagai instansi berjajar rapi, sepanjang halaman rumah itu sampai meluber ke jalan raya. Seorang pria berpakaian serba hitam keluar dari rumah itu. Menghampiri para wartawan yang sudah menunggu sejak dini hari tadi.
Orang orang itu pun segera berdiri dan bersiap mewawancarai orang tersebut. Entah dia hanya body guard atau apa. Yang penting mereka bisa mendapatkan bocoran berita tentang keluarga Wang.
Perlakuan pria itu membuka pagar, semua wartawan itu segera menodongkan seribu pertanyaan kepadanya. Pria dengan kaca mata hitam itu hanya diam tak bergeming.
"Diam!" pekik pria itu. Karena sudah sangat tidak tahan dengan orang orang yang mengerubunginya seperti lalat.
Para wartawan itu pun langsung menutup mulut mereka. Pria itupun menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata lagi.
"Kalian semua dibolehkan untuk meliput berita di dalam, dengan catatan tidak boleh berisik. Hanya kamera saja yang merekam bukan mulut kalian. Jika ingin menanyakan apapun, tunggu setelah acara pemakaman selesai. Kami akan memberikan waktu kepada kalian untuk bertanya. Mengerti!_ tegas laki laki itu.
"Mengerti, Pak!" jawab mereka semua serempak.
"Masuk lewat sana, sebelum kalian akan de periksa dan harus mengisi data diri. Ingat jika ada satu suara yang keluar sebelum acara selesai, kalian tahu akibatnya!" tegasnya lagi, kemudian ia pun masuk kembali. Semua orang pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
Satu persatu para pencari berita itupun masuk lewat pintu di sebelah pos satpam. Mereka semua di periksa secara seksama.
Suasana duka menyelimuti rumah besar itu, hanya keheningan di terasa di sana bahkan sang angin pun seperti turut berduka, berhembus lembut. Namun, terasa dingin hingga menusuk tulang. Beberapa penjaga, berdiri tegak di beberapa sudut.
Sebuah panggung kecil, menghadap ke ara kursi yang telah terbentang di hadapannya. Dengan sebuah layar besar di belakang panggung. Panggung kecil itu di tata dengan begitu cantik berhiaskan bunga mawar putih di sekelilingnya.
Para wartawan pun mengambil tempat duduk mereka dengan diam. Seorang pelayan keluar dari dalam rumah. membawa minuman dan snack box untuk para wartawan itu.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya dua mobil ambulans masuk ke halaman rumah itu dengan satu mobil mewah di belakangnya. Kedatangan mobil jenazah itu langsung di sambut oleh pengawal dan beberapa pelayan. Mereka menurunkan satu peti jenazah dari masing-masing mobil.
Dari mobil mewah yang datang, Kakek Wu dan Tuan Adinata, Arow berserta istri dan bayi mereka pun turut di pemakaman itu. Mereka memakai baju serba hitam dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mereka.
Sementara itu di sebuah apartemen.
Seorang wanita paruh baya melenggak-lenggok mengikuti irama musik jazz favoritnya dengan senyum bahagia buang mengembang di bibirnya. Dengan langkah seperti sedang berdansa ia berjalan mendekati nakas, mengangkat sebotol anggur merah lalu menuangkannya ke dalam gelas berkaki yang ada di sebelahnya.
Ia pun menyesap cairan merah itu sambil melanjutkan dansa tunggalnya. Raut wajahnya begitu bahagia seakan baru saja dia memenangkan lotre miliyaran.
Air mata gadis itu sudah berderai sejak tadi, saat ia melihat berita tentang kematian kakaknya yang tersayang.
Li Wei menoleh ke arah pintu, dimana sang anak berdiri di sana menatapnya dengan tajam. Li Wei tersenyum kecil lalu berjalan menghampiri Nuwa.
"Apa kau sudah siap, kita akan menghadiri pemakaman Kakak dan kakak iparmu. Oh... hati Mama sungguh hancur, Mama sangat kehilangan Alex kecil ku." Li Wei mengusap air mata yang mengalir di pipi Nuwa.
Ungkapan yang sangat tidak cocok dengan wajahnya yang terlihat bahagia. Nuwa menepis tangan ibunya dengan kasar.
"Kenapa Mama seperti ini, Keke meninggal Ma. Apa Mama tidak sedih sedikit pun, Keke kan juga anak Mama!"
__ADS_1
"Seorang anak tidak akan mengusir ibunya," tukas Li Wei dengan penuh amarah.
"Mama sendiri yang membuat Kakak melakukan itu Ma, apa Mama lupa."
"Sudah diam dan segera bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat."
Li Wei menutup pintunya dengan keras. Malas sekali harus mendengarkan ceramah dari anak kecil itu. Merusak paginya yang indah.
"Akhirnya kau menyusul Ayahmu." Li Wei berjalan ke arah lemari.
Memilih baju terbaik yang akan dia kenakan ke pemakaman anak tersayangnya. Li Wei merias wajahnya secantik mungkin. Namun, juga memberikan sedikit efek make up pada kedua matanya, agar terlihat sendu dan sembab seolah dia menangis semalaman.
"Selamat tinggal Anakku, sebentar lagi kakek kesayanganmu akan menyusul mu ke liang lahat. Anak saja kau tetap naif seperti dulu, membiarkan aku melakukan apapun sesuka hati Mamamu ini. Kau tentu tidak akan mati secepat ini Nak, aku hanya mau sedikit dari hartamu. Tapi kau malah mengusir aku dan membuatku jadi gelandangan seperti ini. Jadi jangan salahkan aku jika aku menginginkan kematian mu, Hahahaha....."
Li Wei tertawa pada cermin di hadapannya. Ia mengenakan kacamata hitam penyempurnaan penampilannya. Seringai jahat tersungging jelas di bibirnya.
Li Wei bangkit dari meja kursi meja riasnya. dengan langkah lebar dia keluar dari kamarnya.
"Nuwa siapkan mobilmu, kita akan segera berangkat!" teriakannya pada gadis yang sedang menangis sesenggukan di ruang tamu apartemennya.
"Daniel akan menjemput kita Ma," jawab Nuwa dengan suara seraknya, ia terlalu lama menangis.
"Baguslah setidaknya kau punya kekasih kaya raya. Kalau tidak kita akan benar benar menjadi gelandangan kalau hanya mengandalkan gajimu sebagai model yang tidak seberapa itu."
"Ma."
"Apa, Mama bicara apa adanya. Lagipula kenapa kau menangis seperti itu, bukannya bagus kalau Alex mati. Kau akan menjadi pewaris tunggal keluarga Wang."
__ADS_1
"Aku tidak mau semua itu Ma!" Nuwa mengelengkan kepalanya cepat. "Nuwa mau keluarga kita seperti dulu."
"Kau memang gadis bodoh. Terserah apa mau mu. Cepat hubungi pacarmu itu, kita harus segera berangkat."