Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Menyadari


__ADS_3

Matahari mulai menyapa, Alex tidur sisi Arie yang terbaring di brankar. Arie mengeliat merasakan tangannya yang terasa berat.


Benar saja, Alex menjadikan tangan Arie sebagai bantalnya. Arie tersenyum melihat wajah suaminya yang terlelap, lama sekali dia tak melihat wajah itu.


Namun senyum di wajah Arie segera pudar, saat mengingat apa yang terjadi, matanya lolos begitu saja.


kuat, aku harus kuat. bukan saatnya aku menangis, lirih Arie dalam hati.


Arie menengadah wajahnya, agar ana sungai itu berhenti mengalir. Arie mengusap pipinya yang basah.


"Arie kau sudah bangun Nak," ujar Adinata, pria paruh baya itu masuk dengan membawa sesuatu di tangannya.


Tak menjawab Arie hanya mengangguk kecil. melihat wajah Ayahnya, hatinya kembali teriris.


Alex menggerjapkan matanya, saat suara mertuanya masuk ke telinganya. Alex menatap Arie lekat.


"Kau sudah bangun," ucap Alex.


tak ada jawaban, Arie bahkan merasa enggan untuk melihat suaminya lagi.


"Keluar," lirih Arie.


"Apa, sayang," Alex tidak begitu mendengar apa yang di ucapkan Arie.


"Apa kau ingin sesuatu," tanya Alex lagi.


"Aku bilang Keluar," hardik Arie.


"Arie, ada apa Nak," Adinata mendekati anaknya.


"Ayah juga keluar," ucap Arie dengan nada lebih rendah.


"Arie aku akan di sini menemanimu," ujar Alex.


Arie tersenyum miring, menemani hal yang lucu di telinga Arie. mungkin jika dia mendengar kata itu sebelum hari ini mungkin Arie akan merasa senang, tapi hari ini. itu terdengar seperti lelucon.


"Aku bilang pergi, semuanya keluar," ucap Arie dengan marah.


"sssshhhh," Arie meringis sambil memegangi perutnya.


"Arie," Adinata dan Alex mendekati Arie.


Tangan Alex terulur menyentuh perut Arie, namun segera di tepis olehnya.


"Aku bilang keluar,"


Mendengar keributan dalam kamar rawat. Suster segera masuk ke dalam.


"Tuan, tolong, pasien butuh istirahat jangan membuatnya emosi," ujar suster.


Alex mundur beberapa langkah, ini pertama kalinya Alex melihat Arie begitu marah.


"Nyonya apa ada yang bisa saya bantu," ucap suster.


"Tolong jangan biarkan siapapun masuk ke dalam, suruh dua orang itu pergi," ucap Arie sambil meringis sakit.

__ADS_1


"Tuan tuan silahkan keluar dulu,"


Alex dan Adinata berjalan gontai keluar dari ruangan.


Adinata bingung dengan apa yang terjadi, Arie baik baik saja kemarin Arie . tapi dia malah kabur dari rumahnya. dan hari ini Arie mengusirnya dari ruangan,.


Adinata menghela nafas panjang. tak kalah kusut dari mertuanya Alex duduk dengan berkali kali mengusap kasar wajahnya.


"Sabar, apa yang kau lakukan hingga Arie begitu marah padamu," ujar Adinata, sambil menepuk pundak Alex.


Alex menoleh ke arah mertuanya, ini pertama kalinya Adinata sebaik itu padanya.


Alex hanya menggelengkan kepalanya.


"Bicarakan semuanya dengan baik baik,* imbuh Adinata lagi.


"Baik Ayah," ucap Alex sambil mengangguk.


"Ayah harus pergi, jaga Arie dengan baik," ucap Adinata, lalu bangkit dari duduknya.


Adinata yakin ada yang terjadi malam itu, sesuatu yang membuat Arie begitu terpukul. semua itu terjadi di rumah besar Sasongko.


Alex bangkit dari duduknya, saat melihat suster keluar dari ruangan Arie.


"Bagaimana keadaan istri saya suster?"


"Oh.. jadi pasien di dalam adalah ?" suster itu menggantung ucapannya.


"Apa maksud Anda?" Alex mengeryitkan dahinya.


"Saya kira Anda adalah suami dari, pasien di ruang VIP 2," ucap suster itu lagi.


Mendengar ucapan Alex suster itu terdiam sejenak.


"Tuan maaf boleh saya mengatakan sesuatu." ucap suster itu dengan wajah serius.


"Tentu silahkan,"


"Saya sempat melihat istri anda berdiri di depan Kamar VIP 2, tapi saat saya tegur, beliau malah bilang sedang mencari kamar temannya," ucap suster itu.


Bagai di sambar petir, saat Alex mendengar ucapan dari suster itu.


"Terima kasih suster sudah memberitahu saya," ucap Alex lesu.


"Sama sama, saya permisi Tuan," suster itu pun melangkah pergi.


Alex terduduk lesu, pantas Arie marah. ternyata dia melihat Alex bersama dengan Vivian, dan Arie hanya diam.


Sejak kapan Arie tau semua ini, aku bodoh, bodoh, brengsek, ucap Alex lantang dalam hati.


Flashback on.


Alex sedang berkutat dengan perkejaannya, ponselnya terus saja berdering. awalnya Alex mengabaikan, merasa risih dan berisik akhirnya Alex mengangkatnya.


"Haloo mau apa lagi," ucap Alex datar.

__ADS_1


"Alex tolong aku, aku.. aku hamil," ucap seorang wanita dengan suara serak.


"kau hamil itu bukan urusan ku," ketus Alex.


"Aku akan mengugurkan anak ini,"


"Kau gila," hardik Alex.


"Tolong aku," ucap Vivian dengan terisak. Alex menutup telfonnya. mengusap wajahnya kasar.


Alex meraih jasnya dan pergi menemui Vivian.


Sampai di sebuah apartemen, Alex masuk tanpa mengetuk pintu.


Alex mendapati Vivian yang tengah menangis sendirian.


"Alex," Vivian langsung berhamburan ke pelukannya. Alex membiarkannya.


"Apa yang terjadi," Alex menarik lembut tangan Vivian untuk duduk di sofa.


Bagaimanapun mereka berdua adalah teman, Alex berniat membantu Vivian semampu yang dia bisa.


"Aku hamil, tapi Charles tidak menginginkan anak ini. bagaimana ini, karirku hancur, hidupku hancur Lex, bagaimana kali Dady tau," ucap Vivian sebelum, tangisnya kembali pecah.


"Apa keputusan mu," ucap Alex datar.


"Aku ingin anak ini mati, aku tidak mau dia ada," Ucap Vivian sambil memukul perutnya. namun di tahan oleh Alex.


"Kau gila, apa salah anak ini, kau dan kekasih brengsek mu yang berdosa, kenapa anak ini harus menanggungnya," ucap Alex dengan kecewa.


Alex begitu kecewa dengan Vivian bagaimana bisa dia berfikir begitu. Alex sendiri sangat menantikan kelahiran bayinya, bagaimana bisa dia membiarkan bayi lain di bunuh di sini.


"Tetaplah di negara ini sampai anak itu lahir, aku akan merawatnya," ucap Alex.


"Kau mau merawatnya, dia anak haram Lex," Vivian menatap Alex penuh selidik.


"Tidak ada anak haram, perbuatan kalian yang haram, soal Dady mu, aku akan meyakinkan beliau agar mengijinkan mu tinggal di negara ini selama setahun," imbuh Alex.


Vivian terdiam, mendengar ucapan Alex. Alex benar, Dia dan Charles yang salah, dua orang dewasa yang tidak bisa berfikir dewasa.


Vivian perlahan menyentuh perutnya.


"Alex, terima kasih, aku akan melahirkan anak ini," ucap Vivian.


"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Alex.


Alex pun pergi meninggalkan apartemen Vivian


Beberapa hari setelah Alex bertemu dengan Vivian. Alex di hubungi oleh manajer Vivian, Alex di beritahu kalau Vivian masuk rumah sakit.


Flashback off.


Alex merahasiakan semua ini dari Arie. melihat betapa tidak sukanya Arie saat melihat dia dan Vivian saat di kantor. Alex memutuskan untuk diam.


Alex tidak ingin Arie sedih, tapi dia salah.

__ADS_1


Bugh


Alex memukul tembok dengan tinjunya sendiri. kesal pada dirinya.


__ADS_2