
"Aghh... Tua Bangka sialan" Li Wei mengumpat kesal, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu apartemen milik anak perempuannya.
"Kenapa sih Ma, pulang pulang ngomel terus," Ucap Nuwa yang baru saja keluar dari kamarnya, duduk di sofa yang berhadapan dengan Li Wei, sambil memakai high heels warna merah yang ia bawa dari kamar.
"Mama kesel, semua ATM Mama di bekukan, dan Kau tau Mama sudah tidak punya Saham lagi di Albied inc, ini semua pasti ulah Tua Bangka itu, Cihh.. semoga Dia mati mengenaskan, dan Arwahnya tidak diterima langit," wajah Li Wei merah padam, menahan amarahnya yang sudah sampai ubun ubun.
Sejak Li Wei tidak di perbolehkan masuk ke rumah utama keluarga Wang, dia tinggal bersama Nuwa di sebuah Apartemen yang di beli Nuwa dengan hasil kerjanya sebagai model, meskipun tak semewah apartemen yang di miliki Alex, tapi cukup nyaman untuk di tinggali.
"Udahlah Ma, ga usah marah marah terus, ngapain?"
"Mama ga terima, Mama udah capek capek ngurusin Papa angkat Kamu sampai dia mati, tapi ini balasan mereka, orang yang tak tau terima kasih, tak tau di untung" Li Wei melipat kedua tangannya di dada.
"Mereka masih tau terima kasih kok Ma, saham milik Mama di berikan Keke padaku, baik kan Kakak tampan ku itu,"
"Apa, jadi sekarang kau punya saham itu," Li Wei beringsut mendekati Nuwa mendengar ucapan anaknya itu.
"Iya," jawab Nuwa santai.
"Mama sih maunya cepet, ga dapet apa apa kan" Nuwa tersenyum meremehkan.
"Kan Mama sendiri yang bilang, harus main cantik, kenapa Mama grusah grusuh sendiri" imbuh Nuwa lagi.
"Kau masih kecil, jangan sok ngajari Mama"
"Mama liat aja nanti, Ayo Ma nanti Nuwa telat," ujar Nuwa sambil menarik tangan Li Wei.
"Eh.. ini mau kemana, bukannya kamu mau kerja?"
"Iya, tapi ada seseorang yang pengen ketemu sama Mama" sebuah seringai terbit di bibir tipis gadis itu.
"Siapa" Li Wei mengerutkan keningnya, sambil mengikuti langkah Nuwa.
"Nanti juga Mama tahu sendiri"
__ADS_1
Kini Ibu dan anak itu melesat di jalanan kota Surabaya, menuju sebuah studio foto, gedung yang besar dengan desain minimalis, namun terlihat elegan. "Setelah kedua wanita beda usia itu turun dari mobilnya, mereka berdua pun melenggang masuk. Nuwa berjalan di depan di ikuti oleh ibunya, gadi muda itu nampa menyapa beberapa karyawan yang berkerja di sana.
Sampai di sebuah ruangan foto, mata Li Wei membulat sempurna, melihat seorang gadis berambut cokelat bergelombang, sedang bergaya dengan arahan fotografer profesional yang sedang mengambil gambarnya. lekuk tubuh yang sempurna, berpose dengan indah di depan kamera.
"Ok, perfect, kita istirahat dulu" ucap seorang pria yang mengambil gambar model di hadapannya.
"Terima kasih, atas kerja kerasnya" Model itu membungkuk hormat pada sang fotografer, setelah itu dia berlari kecil ke atas seorang gadis yang melambaikan tangan kepadanya.
"Nuwa, aku kangen" ucap perempuan bermata coklat itu, sambil menggenggam erat tangan Nuwa.
"Aku juga kangen sama Kakak, aku ada kejutan untuk kakak," Gadis itu mengeryitkan keningnya, saat Nuwa berbalik dan menampakkan seorang wanita paruh baya di belakangnya, mata wanita itu membulat sempurna saat melihat Li Wei.
"Bibi Li Wei" keduanya saling berpelukan.
"Bibi kenapa bisa ada di sini?, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengan Bibi"ucap gadis itu manja.
"Ah.. Vivian, Bibi juga rindu sekali padamu," ucap Li Wei sendu, Vivian merasa aneh dengan raut muka Li Wei yang tiba-tiba berubah.
"Ada apa dengan kalian? apa yang sebenarnya terjadi?" Vivian mulai cemas.
"Tidak ada apa apa kan, hanya ibu merasa sedih dengan..." ucapan Nuwa menggantung begitu saja.
"Apa, sedih Kenapa!?, tolong katakan sesuatu Bi," Vivian mulai mengguncang tubuh wanita yang berdiri di hadapannya.
"Tidak Vivi, Bibi tidak bisa melibatkan mu, ini masalah keluarga, "Li Wei menggelengkan kepalanya, sambil tertunduk.
"Vivian, kita kerja lagi ,kau siap" Ucap seorang pria.
"Tentu" Jawab Vivian dengan manis.
"Bibi, Nuwa sebaiknya kalian duduk dulu, kita bicarakan semuanya setelah aku menyelesaikan pemotretan, Asisten ku, akan mengajak kalian ke ruangan ku" ucap Vivian sebelum meninggal ke dua perempuan itu.
Seorang wanita bertubuh kecil, mendatangi Nuwa dan Li wei, mengajak mereka ke ruangan yang di khususkan untuk Vivian istirahat. kedua wanita itu menikmati minuman istimewa yang di siapkan asisten Vivian. Tak lama kemudian Vivian menemui Nuwa dan Li Wei setelah menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Bibi, tolong jelaskan padaku, ada apa sebenarnya, kenapa Bibi dan Nuwa sedih" ujar Vivian sambil mendudukkan bokongnya di sofa sebelah Li Wei.
Li Wei mengambil nafas dalam, dengan wajah sendunya, dia mulai menceritakan sesuatu panjang lebar, dengan air mata kadal yang mengalir di pipinya. Vivian terperangah mendengar cerita dari Li Wei , dia menutup mulut dengan kedua tangannya, dengan kepalanya yang mengeleng.
"Astaga, Bibi aku sungguh tidak menyangka, Alex tega berbuat seperti itu pada kalian" Vivian memeluk Li Wei yang tengah terisak.
"Hiks...hiks... jangan salahkan Keke, Kak Vivi, sejak menikah dengan wanita itu Keke banyak berubah, bahkan Kakek juga tak menganggap keberadaan kami sama sekali" ujar Nuwa yang juga menangis tergugu.
Wanita macam apa yang di nikahi Alex, kenapa Alex begitu kejam kepada keluarganya sendiri, batin Vivian.
"Sejak kau berpisah dengan Alex dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, lalu beberapa bulan yang lalu Kakek menyuruhnya untuk menggantikannya mengurus cabang di Indonesia ini, baru sebulan dia disini, Bibi mendapatkan kabar bahwa dia menikah, Bibi dan Nuwa bahkan tidak di beritahu tentang pernikahannya," Li Wei bicara panjang lebar.
"Iya kak Vivi, dan kami tahu Keke menikah dari berita di internet" imbuh Nuwa.
"Keterlaluan Alex," tangan Vivian mengepal kesal.
"Kak, kak Vivi harus menolong kami, tolong jauhkan Keke dari wanita itu, aku yakin dia bukan wanita baik baik, dia hanya mau memanfaatkan Keke saja" Nuwa mengenggam erat tangan Vivian dengan penuh harap.
"Tapi aku takut, Kakak mu pasti masih marah padaku, karena aku meninggalkannya" Vivian tertunduk sendu.
"Apa Kak Vivi masih mencintai Keke" tanya, Nuwa, di jawab anggukkan kepala Vivian.
"Baguslah kalau begitu, aku juga yakin Keke masih mencintai Kak Vivi,"
"Tapi dia sudah menikah, Nuwa"
"Dia hanya penipu yang memperalat Alex, Vivi," Ucap Li Wei.
"Kau harus menyelamatkan anakku, karena dia tak lagi mendengarkan Mamanya.
"Baiklah, Bibi aku kan bicara pada Alex"
"Terima kasih Vivi, kau memang gadis yang baik, seharusnya kau yang jadi menantu keluarga Wang, bukan wanita ular itu," Ucap Li Wei geram.
__ADS_1