Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Cup


__ADS_3

Naoki masih betah bermain dengan robot pemberian Tama, padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, biasa jam 8 anak kecil itu sudah terlelap.


Siska terus saja melirik jam berharga tiga puluh ribu di pergelangan tangannya, tak apalah murah yang penting bisa buat lihat waktu. Raut muka Siska tampak cemas karena Bu sari tidak bisa menggantikannya untuk menjaga Naoki di rumah sakit malam ini, tapi Siska juga tidak bisa bolos kerja lagi, awal Naoki masuk rumah sakit dia sudah bolos tiga hari.


"Naoki bobo dulu ya," bujuk Siska.


"Nao, main," ujar Naoki sambil menggelengkan kepalanya keras, anak itu masih asik dengan robot Ultraman miliknya.


"Sayang, Nao kan besok mau pulang, jadi harus bobo dulu," rayu Siska lagi sambil mengelus-elus rambut anaknya.


Siska pun naik ke atas tempat tidur, wanita itu merangkul Naoki dalam pelukannya. Cuma ini cara yang bisa Siska lakukan agar Naoki bisa segera tidur.


Naoki yang awalnya menolak akhirnya ikut berbaring di sisi Mamanya, tangan ank kecil itu masih saja mengutak-atik robot yang ada tangannya, sampai akhirnya terdengar dengkuran halus. Begitu juga dengan Siska wanita cantik itu turut hanyut dalam lautan mimpi.


Ceklek.


Pintu ruangan rawat inap anak itu terbuka, Dokter berlesung Pipit itu perlahan berjalan mendekati brankar di mana ibu dan anak itu terbaring. Bibir Tama terangkat ke atas membuat lengkungan sempurna. Tama sedikit tertegun melihat wajah Siska yang begitu tenang dalam tidurnya. Tama tak bisa selalu menemani Istrinya untuk menjaga Naoki, karena perkejaannya yang begitu sibuk, hanya sesekali Tama bisa menjenguk anak sambungnya itu.


"Kalau diam seperti ini, cantik juga," lirih Tama sambil membelai rambut Siska yang tergerai.


"Papa," ucap Naoki yang ternyata belum tidur sepenuhnya, dia merasa terganggu saat Tama juga membelai rambutnya.


"Hem anak Papa, belum tidur rupanya," ujar Tama dengan tersenyum. Dari awal pertemuan Naoki memanggil Tama papa, tak menolak, Tama justru senang Naoki bisa dekat dengannya.


Tama pun segera mengangkat tubuh kecil Naoki dalam pelukannya, menempelkan kepala Naoki di bahunya, dengan sedikit mengayunkan dan menepuk lembut bokongnya, Naoki pun terpejam dengan sempurna. Dengkuran halus terdengar di telinga Tama.


Siska yang merasakan pelukannya kosong, langsung membuka matanya, di lihatnya Naoki ada di pelukan Tama yang berdiri membelakanginya, wajahnya begitu damai. Pemandangan yang tak pernah Siska bayangkan sebelumnya. Rasanya sangat egois tapi Siska ingin waktu berhenti saat ini, biarkan Naoki merasakan perhatian dari sosok yang selalu di rindukannya.


Setitik air mata mulai mengenang di sudut matanya. Tama membalikkan badannya hendak membaringkan Naoki di ranjang, Siska pun memalingkan wajahnya, ia tak mau Tama melihat air matanya, sayangnya Tama sudah menangkap itu.


"Kau sudah bangun," ujar Tama sambil membaringkan tubuh kecil Naoki di atas kasur busa.


"Emh, iya," jawab Siska dengan kikuk.


"Dokter terima kasih, Naoki sangat suka dengan mainan yang Anda berikan, tapi saya harap Dokter tidak usah terlalu dekat dengan anak saya," tutur Siska tanpa berani memandang ke arah Tama.


"Kenapa?" tanya Tama dengan datar.

__ADS_1


"Eh.. kenapa ya, itu karena."


"Karena apa?"


"Karena saya akan susah, kalau Naoki mencari Dokter," Siska menutup mulutnya yang keceplosan, Tama tersenyum miring.


Wajah Tama yang sudah sangat dekat dengannya membuat Siska salah tingkah. Siska hanya tidak mau mengantungkan harapannya lagi, sudah cukup baginya sakit hati yang di rasakan dulu, dua tidak ingin mengulang sejarah lagi.


"Bagaimana kalau kau tinggal di rumahku, dengan begitu, kau tidak akan kesulitan saat Naoki mencariku," Tama memberikan saran yang cukup masuk akal, tapi sangat gila menurut Siska.


"Apa Dokter sedang sakit, kenapa aku harus tinggal dengan Anda, aku masih punya rumah yang cukup nyaman untuk aku tinggali bersama anakku," sergah Siska dengan ketus, Siska pun mendorong tubuh Tama yang semakin mendekat.


"Sudah ku bilang, jangan panggil aku Dokter atau Pak saat kita berduaan seperti ini. Kau sudah memanggil ku Dokter sebanyak tiga kali, kau harus di hukum," deru nafas Tama sudah menyapu wajah Siska.


Terlalu dekat, Siska tak bisa berkutik, Tama sudah mengunci tangannya di belakang tubuhnya. Siska memejamkan matanya, entah kenapa, tapi wajahnya Tama yang membuatnya traveling.


"Iisssh... Aduh," Siska mendesis kesakitan, saat Tama menjentikkan jari dengan keras di kening Siska.


Muka Siska memerah, malu sekaligus sakit di bagian keningnya. Siska meruntuki dirinya, kenapa harus memejamkan matanya, pasti Tama sudah berfikir yabg aneh aneh.


Satu kecupan mendarat di kening Siska yang memerah, membuat wajahnya semakin merah bagaikan kepiting rebus.


"Jangan suka membantah Suamimu."


"Ah.. anu.. emm tidak," Siska salah tingkah bingung sendiri dengan apa yang di ucapkanya.


Tama melepaskan genggaman, seketika itu Siska segera melihat jam tangannya yang sudah usang, matanya membeliak melihat jarum jam yang sudah menunjuk pukul setengah sepuluh malam.


"Astaga Aku terlambat," ucap Siska, dengan buru buru Siska turun dari sisi lain ranjang, tak memperdulikan Tama yang memperhatikan wajah yang cemas dan takut. Siska segera mengambil tas selempang kecil dan memakai jaket hitam.


"Biar aku antar," Tama menawarkan dirinya, rasanya tak tega melihat Siska berkendara di malam hari seperti ini.


"Tidak usah, Dok eh Mas, saya bawa motor. Kalau boleh saya minta tolong jaga Naoki karena pengasuhannya tidak bisa datang malam ini."


"Baiklah."


"Terima kasih, Mas."

__ADS_1


"Assalamualaikum," Siska meraih tangan Tama dan mencium punggung tangannya.


Tama tertegun sambil terus memandangi punggung tangannya, mendengar suara pintu yang di tutup menyadarkan Tama dari lamunannya.


"Waalaikumsalam," jawab Tama walaupun telat.


Siska segera memacu motor maticnya dengan kecepatan tinggi, dia sudah terlambat, bisa di pastikan merica dan ketumbar akan menyambutnya datang, hah sepertinya Siska harus siap siap pake jas hujan.


Empat puluh lima menit Siska menaiki motornya, akhirnya dia sampai di sebuah club tempat dia mengais rezeki, gajian yang cukup lumayan membuat Siska bertahan, tak perduli dengan cibiran para nitijen, biarkanlah mereka bicara, Siska butuh uang karena dia harus menghidupi anak semata wayangnya.


Siska melepaskan helm menaruhnya di dalam jok , dan segera masuk ke dalam lewat pintu khusus karyawan. Seperti dugaannya seorang wanita sudah menunggu di tempat.


"Kamu niat kerja ga, jam segini baru datang!" hardik wanita yang memakai riasan tebal di wajahnya.


"Maaf Mba," ucap Siska sambil menunduk.


"Maaf maaf terus, emang maaf bisa bayar orang yang gantiin tugas kamu, ga kan. Kalau masih niat kerja tuh yang disiplin, tepat waktu, ga molor molor kayak gini, jangan di kira aku ga bisa tegas ya Ama kamu," cerocos Dewi.


Tuh kan panen merica, batin Siska.


"Ada apa ini?"


Tubuh Dewi langsung menegang mendengar suara bariton dari belakangnya.


"Eh tidak ada apa apa, Pak," kilah Dewi.


"Siska segera ganti bajumu dan cepat berkerja, dan kami Dewi bukankah seharusnya kamu melayani tamu di ruang VIP? kenapa malah berdiri di sini."


Siska mengangguk cepat, dia segera mengambil seragam kerjanya di loker dan bergegas pergi ke kamar ganti, dia juga tidak ingin berlama-lama di ceramahi Dewi.


"Iya Pak, maaf, saya hanya memberi tahu Siska untuk datang tepat waktu," dalih Dewi.


"Itu urusanku, cepat kerjakan perkerjaan mu!"


"Baik Pak,"


Dewi dengan kesal kembali masuk ke dalam club, seharusnya dia mendapatkan pujian dari Hendra karena mendisiplinkan pegawai, tapi malah dia sendiri mendapatkan teguran, sungguh sial.

__ADS_1


__ADS_2