
Arie terlelap dalam dekapan suaminya. Begitu pula Alex yang terpejam berlayar ke pulau kapuk tanpa membersihkan dirinya setelah pulang dari kantor.
Semburat senja sudah menghilang sepenuhnya, berganti dengan malam bertabur bintang. Bulan sabit pun terbit memancarkan pesonanya.
Alex menggerjapkan matanya, berusaha menetralkan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Ia tersenyum kecil melihat Arie yang masih terlelap dan menjadikan lengannya sebagai bantal.
Begitu damai, ia merasa sangat bersyukur karena Tuhan memberikannya kesempatan untuk bertemu dengan istrinya. Seseorang yang mengisi hari harinya dengan penuh cinta.
Alex mencium kening Arie, menyentuh bekas luka jahitan yang ada di pipi mulusnya. Alex membaringkan tubuhnya dengan satu lengannya ia gunakan sebagai bantal. Matanya menerawang ke arah langit langit kamarnya. Kenapa Arie bisa berpikir dia akan pergi meninggalkannya. Sekilas Alex teringat saat Arie menatapnya bermain dengan Cleo. Saat itu Arie tersenyum, walaupun belum begitu lebar, akan tetapi Alex bisa melihatnya. Namun, senyum itu memudar saat Devi datang untuk mengambil Cleo dari tangannya.
"Sial, kenapa aku bisa tidak peka seperti ini. Dia sudah berada di sini selama tiga bulan, dan aku baru menyadarinya sekarang."
"Aaaghhh...aku memang bodoh, membiarkan Arie tersiksa begitu lama." Alex menarik rambutnya frustasi.
Dengan perlahan Alex memindahkan kepala Arie dari lengannya dan menggantinya dengan bantal. Alex pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah menyelesaikan ritual mandi dan berpakaian rapih, Alex berjalan mendekati pintu kamar. Ia membuka dan menutup kembali pintu dengan sepelan mungkin. Ia tidak mau menganggu tidur sang permaisuri.
Alex melangkah menuju ke ruang kerjanya. Ia harus segera menyelesaikan sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak lama. Alex menyesal karena terlambat menyadari ini semua. Membuat istrinya kembali bersedih.
Alex sampai di ruang kerjanya Alex cukup terkejut saat melihat Kakek Wu di dalamnya. Pria itu sedang menikmati secangkir teh herbal favoritnya sambil duduk di duduk santai di sofa yang ada di sana. Alex menutup pintu lalu melangkah menghampirinya.
"Apa yang Kakek lakukan di sini?" Alex mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan kakeknya.
Kakek Wu menyeruput tehnya perlahan. Menghirup aroma khas dari kepulan asap tipis yang menyeruak dari cangkir di tangannya. Merasa di abaikan Alex pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Apa kau akan menghubungi seseorang untuk mengantikan wanita itu?" tanya Kakek Wu tanpa memandang ke atas Alex. Ia masih menikmati pemandangan yang ada luar jendela.
Pertanyaan Kakek Wu menghentikan jemari Alex yang sebelumnya menari di atas keyboard ponselnya. Alex mendongakkan kepalanya menatap sang kakek yang kini juga menatapnya.
"Kenapa Kakek bisa tahu?"
"Aku lebih peka darimu," jawab Kakek Wu santai.
"Seharusnya Kakek memberi tahu aku!" geram Alex, ia sampai mengepalkan tangannya kuat.
Kakek Wu tersenyum miring melihat kekesalan Alex. Kakek Wu memang tahu semua ini kan terjadi. Namun, ia ingin Alex menyadari kesalahannya sendiri.
"Aku ingin kau menyadarinya.Jadi apa rencana mu sekarang?"
"Aku ingin minta tolong pada Ayah, ada seseorang di rumah Sasongko yang bisa membantuku sementara ini."
"Pastikan kau menyelesaikan semua ini dengan baik, jangan sampai kau membuat Arie merasa bersalah!" tegas Kakek Wu. Ia beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Alex di ruang itu.
Alex menghela nafasnya panjang. Tidak menunggu lama Alex segera menghubungi ayah mertuanya. Setelah mendapat penjelasan dari Alex akhirnya Adinata setuju untuk membantu Alex.
__ADS_1
"Ayah, aku sangat berterima kasih atas bantuannya," ucap Alex dengan sungguh-sungguh.
"Ayah senang bisa membantu. Besok pagi dia akan ayah antarkan langsung ke rumah mu."
"Baik, sekali lagi terima kasih."
Alex menutup sambungan teleponnya. Ia segera bangkit dari duduknya lalu melangkah lebar meninggalkan ruang kerjanya. Alex tidak kembali ke kamarnya, melainkan pergi ke kamar Cleo.
Setelah sampai di depan pintu kamar putri kecilnya, Alex mengetuk pintunya beberapa kali, sambil memanggil sang baby sitter keluar. Devi pun segera membuka pintu untuk tuannya.
"Ada apa tuan, kenapa tuan kemari malam malam seperti ini," ucap Devi sambil tersipu malu, entahlah ia sangat senang tuannya menghampiri dirinya di malam yang dingin seperti ini.
"Kenapa lama sekali membuka pintu, apa Cleo sudah tidur?"
"Maaf tadi saya ada di kamar mandi, Tuan," kilah Devi. Ia tidak mungkin berkata jujur kalau dia Menganti pakaian tidurnya dengan gaun tipis saat mendengar suara Alex memanggilnya dari balik pintu.
"Cleo sudah tidur, Tuan." Devi menarik sedikit gaunnya kebawah agar belah dadanya lebih terlihat jelas
Alex menatap tajam pada perempuan yang ada di hadapannya. Rambutnya terurai panjang dengan memakai gaun tidur yang tipis, memuakkan. Sementara Devi malah malu-malu sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Rasanya panas dingin di tatap intens oleh sang tuan yang gagah dan tampan itu.
"Kemasi barang mu, besok pagi kau harus keluar dari rumah ini!" tegas Alex.
"Tapi Tuan apa salah saya?" tanya Devi gelagapan.
Yang Devi tidak tahu. Alex memberhentikan Devi berkerja karena Arie. Alex sudah lalai dalam menjaga perasaan istri kecilnya itu. Sekecil apapun duri yang masuk dalam rumah tangga tangganya. Ia akan segera mencabutnya.
Apalagi saat Alex tahu kalau Arie merasa insecure dengan keberadaan baby sitter itu. Meskipun tidak mungkin bagi Alex untuk berpaling. Namun, Alex lebih memilih untuk menjaga hati sang istri.
"Tidak usah bertanya salahmu apa. Besok kau harus sudah bersiap pergi, aku kan memberikan pesangon lebih untukmu." Alex melangkah meninggalkan kamar anaknya.
"Bawa Cleo ke kamar ku sekarang!" titah Alex sambil berlalu.
Devi menarik rambutnya frustasi. Dia masih bingung kenapa Alex tiba-tiba memecatnya. Selama ini ia sudah berusaha berkerja dengan baik dan bersikap semanis mungkin di hadapannya. Dengan kesal ia segera mengambil kimono tidur untuk menutupi gaunnya yang tipis, lalu segera mengangkat Cleo dari box bayi.
Devi mengetuk pintu kamar Tuannya.
"Masuk," sahut Alex dari dalam.
Devi pun masuk sambil mengendong Cleo. Ia sempat tertegun melihat Alex yang berselonjor di atas ranjangnya. Ia tersenyum, terlihat sangat bahagia. Dengan sorot penuh cinta Alex membelai pipi istrinya yang terlelap. Alex yang menyadari ada yang memperhatikannya pun segera menoleh ke arah Devi. Tatapan seketika berubah tajam, tidak lagi lembut seperti saat ia melihat ke arah istrinya.
"Baringkan Cleo di box, dan cepat keluar dari kamar ini!"
"Baik Tuan." Devi pun segera membaringkan Cleo di box bayi yang ada di sana. Dengan cepat ia pun segera keluar dari kamar itu.
"Kau akan pulang malam ini juga, siapkan barang-barang mu!" titah Alex sebelum Devi menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Tapi Tuan ini sudah malam."
Alex menatap tajam pada Devi.
"Aku tidak peduli, cepat keluar!"
Devi pun segera menutup pintu dengan sedikit kasar, membuat Arie terbangun dari tidurnya. Arie memicingkan matanya, menatap Alex duduk di sebelahnya. Namun, pria itu menatap ke arah pintu yang tertutup.
Arie menarik lengan Alex agar Alex menoleh padanya.
Sayang, apa yang kau lihat ?
Arie menatap Alex dengan lembut saat Alex menoleh padanya, dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
"Kau sudah bangun? Kau pasti lapar, ingin makan sesuatu?" cerca Alex. Ia menghujani wajar Arie dengan ciuman lembut.
Arie menggelengkan kepalanya pelan. Dengan senyum tipisnya ia terus menatap Alex, laki-laki yang begitu sempurna baginya.
"I love you," lirih Arie.
"I love you more, honey."
Alex mengunci Arie di bawahnya. Dengan lembut ia mencium bibir istrinya, perlahan turun ke leher jenjang Arie menyesap dan meninggal jejak kepemilikannya di sana. Arie mendesah, ia bisa merasakan bagaimana Alex menginginkannya saat ini. Hembusan nafas hangat menyapu kulit tipisnya, menderu dan mengebu.
Kancing baju Arie mulai terlepas dari lubangnya, seiring cium Alex yang semakin turun. Menyesap ujung berwarna pink kecoklatan dengan rakusnya. Arie meremas rambut Alex menekan lebih dalam.
Satu tangan Alex meremas gemas melon kenyal yang selalu menjadi favoritnya.
"Sayang, apa kau menginginkannya?" ucap Arie di sela desahannya yang tertahan. Matanya terpejam menikmati setiap sentuhan Alex.
Alex melepaskan ujung gundukan dari dalam mulutnya, mengangkat wajahnya. Menatap mata sayu sang istri.
"Sangat, aku sangat merindukan saat melebur bersamamu." Alex merapikan pakaian dalam istrinya dan mengancingkannya kembali.
"Tapi lebih dari itu aku ingin menikmatinya bersamamu. Bukan hanya sekedar pelepasan yang aku inginkan. Saat ini kau masih sangat rapuh. Aku akan menunggumu sampai benar benar sehat, dan kita akan mengarungi samudera cinta itu lagi." Alex mengecup singkat bibir Arie.
Sebenarnya Arie di perbolehkan berhubungan dengan suaminya sejak dua bulan yang lalu, akan tetapi Tama masih tidak menyarankannya. Mengingatkan kondisi panggul Arie dan tulang pahanya yang belum sembuh sempurna.
Alex tidak ingin menyakiti istrinya hanya untuk kebutuhan seksualnya. Ia ingin cinta yang menyentuh istrinya bukan sekedar naf*u yang menggebu.
Tapi apa tidak sakit, kalau kau tegang dan tidak mengeluarkannya?
Tulis Arie pada buku dan pena, yang baru saja ia raih dari atas nakas. Alex tersenyum kecil.Ia menundukkan kepalanya menempelkan bibirnya di telinga Arie.
"Ada Lifebuoy."
__ADS_1