Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Dingin


__ADS_3

Malam semakin larut, hari ini sungguh melelahkan bagi Arie, matanya sudah lelah membaca novel, namun rasa kantuk tak kunjung menyerangnya, bayangan Alex bersama wanita itu masih berputar putar di pikirannya.


"Ayolah Arieta Wulandari sadar, ga pantes koen cemburu," ( kami tidak pantas cemburu), Arie memukul mukul kepalanya sendiri, berharap bisa menghilangkan ingatannya.


Arie memutar musik dari ponselnya, bukan lagu koplo seperti biasanya, kali ini lagu lawas milik Westlife yang menemani malamnya, ia memasang headset di telinganya lalu menarik selimut menutupi tubuhnya, perlahan alunan lagu berjudul My Mandy mengiringinya masuk ke alam mimpi.


****


"ini berkas berkas terakhir" ucap Alex dengan wajah kusut.


"iya Tuan,"Ujar Chiko sambil meletakkan lima tumpukan map di meja Alex, mata Alex sudah terasa sangat berat, dia segera meraih map itu, membuka dan menandatanganinya.


"Anda tidak memeriksanya dulu Tuan"


"Aku percaya padamu" Alex menyerahkan berkasnya pada sekretaris nya.


"Maaf sudah membuatmu berkerja sampai selarut ini, mulai besok aku akan lebih merepotkanmu" ucap Alex sampul menepuk bahu Chiko.


"Tentu tuan" Chiko membungkuk hormat kepada Tuannya yang berjalan keluar ruangan.


Alex memacu mobilnya dengan kencang dia ingin segera sampai di apartemen, setelah beberapa menit, akhirnya dia sampai, dengan perlahan Alex membuka pintu menyusuri Ruang tamu, segera menuju kamarnya.


Ceklek...


Perlahan Alex mendorong pintu kamar, ia takut akan membangunkan Arie yang terlelap, namun ranjang itu kosong, Alex berjalan cepat membuka pintu kamar mandi, kosong tak ada seorangpun di ruangan itu, dia keluar kamar mencari Arie di dapur, ruang tengah, balkon tak ada sosok yang ia cari, Alex merasa sangat gelisah mencari Arie, langkahnya terhenti saat melewati pintu di sebelah kamarnya. Alex meraih gagang pintu, di kunci.

__ADS_1


tok..tok...tok..


"Arie...Arie... apa kau di dalam" Alex terus mengetuk pintu namun tak aja jawaban dari dalam kamar. Alex teringat kunci cadangan di laci kerjanya. ia bergegas ke ruang kerja mengambil kunci tersebut.


Pintu kamar akhirnya terbuka, Alex merasa lega mendapati Arie yang tidur dengan bergulung selimut, Alex mengulum senyum berjalan mendekati Arie, menyibakkan selimut, lalu mengangkat tubuh Arie, membawanya kembali ke kamar utama. Alex merebahkan Arie dengan perlahan agar tidak membangunkan Arie.


Setelah selesai membersihkan dirinya Alex turut menelusup masuk ke dalam selimut, ia melepaskan headset yang terpasang di telinga Arie, meletakkannya di atas nakas, Alex mengecup kening Arie lembut.


"selamat tidur" Alex merengkuh Arie dalam pelukannya menengelamkan wajahnya di tengkuk leher Arie, tengelam dalam mimpinya yang beraroma manis dari tubuh istrinya.


Pagi menjelang Arie mulai membuka matanya, mengeliat tubuhnya, matanya mengedarkan pandangan, kamar yang berbeda, kamar Alex. Bukankah dia tidur di kamar sebelah, apakah Alex memindahkannya kemari, lalu dimana dia, Arie bergegas keluar mencari suaminya namun nihil tak ia temukan. Arie memutuskan untuk membersihkan dirinya, setelah menyelesaikan ritual mandi Arie meraih ponselnya di atas nakas.


Aku pergi ke luar kota tiga hari,


pesan singkat yang di kirim Alex di ponselnya, Arie terduduk lesu di tepi ranjang.


Pagi hari yang melow Arie hanya duduk di meja makan sambil mengaduk aduk nasi di piringnya tak ada selera sama sekali.


"wes lah nek Alex ngunu, aku ya ga ngurus" ( ya sudah kalau Alex begitu, aku juga ga mau perduli) bentak Arie kesal, membentak pada udara kosong di hadapannya, Arie membersihkan sarapan yang tidak dia sentuh sama sekali.


*****


Jogjakarta


Alex sama sekali tidak fokus dengan rapat di kantor cabang barunya, berkali kali dia melihat ponselnya yang hening, tak ada notifikasi yang masuk, tiba tiba dia merasa ada yang kurang, sesuatu yang sepele, Arie sering mengirimkan emoticon lucu atau menanyakan menu makan siang yang ia inginkan, namun sejak tadi pagi tak ada pesan masuk sama sekali, Alex berdecak kesal membuat semua orang di ruang rapat terkejut.

__ADS_1


"Apa ada yang salah Tuan" ucap seorang pria yang duduk di sebelah Alex, dia tak tega melihat temannya yang sedang melakukan presentasi , diam membeku berkucurkan keringat dingin.


"Tidak, lanjutkan" ucap Alex datar.


"Baik Tuan" Pria itu memberikan isyarat kepada temannya untuk melanjutkan presentasi.


*****


Dua hari sudah Alex berada di Jogjakarta ini adalah hari terakhirnya di kota ini, masih tak ada pesan yang terkirim dari istrinya, sedangkan dirinya sendiri terlalu gengsi untuk menghubungi Arie, akhirnya Alex hanya menanyakan kabar Arie kepada sopir pribadinya.


"Dia tidak sedang sibuk apapun, kenapa tidak menghubungi ku" ucap Alex sambil menatap foto pernikahan mereka di layar ponselnya, Arie yang terlihat cantik dengan senyum manisnya.


"ah.... sial, kenapa aku harus perduli dengan wanita itu" Alex menggeser layar ponselnya, menghubungi seseorang.


"pesankan aku tiket sekarang"


"baik, Tuan" ucap seorang di ujung telepon.


penerbangan lokal sore ini membawa Alex pulang ke Surabaya, dengan langkah lebarnya Alex menyusuri bandara Juanda, bergegas pulang.


Tut...Tut....


nada yang sama sejak pertama dia menghubungi ponsel Arie. tak ada jawaban.


"Di mana Arie, kenapa dia tidak mengangkat teleponnya" wajah Alex merah, membuat Ipul menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


"Yo opo nek, Tuan sampek eruh. Ya Allah lindungilah hambaMu ( bagaimana kalau Tuan sampai tau) batin Ipul dalam hati


__ADS_2