Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Menyimpan luka


__ADS_3

Matahari sudah semakin tinggi. Namun, tak ada niat untuk bumil itu bangun, dia masih terlelap nyaman dalam dekapan hangat suaminya. Tuan sipit itu seakan tak terganggu dengan bunyi bell pintu apartemennya.


"Sayang sepertinya kita kedatangan tamu," ucap Arie dengan suara seraknya.


"Emmhh.." Aleng hanya mengeliat dan mempererat pelukannya.


Ting...tong..


"Tuh kan, bunyi lagi," kini Arie mengatakan dengan membuka matanya lebar, ia benar-benar mendengar bunyi bell pintu.


Arie berusaha melepaskan tangan Alex yang melingkar di atas perut buncitnya.


"Sudahlah, mungkin itu hanya tukang susu, aku masih ngantuk, sayang," rengek Alex manja, Tuan sipit itu malah membenamkan wajahnya di leher istrinya.


"Kita kan ga langganan susu," ujar Arie heran.


"Tukang koran," jawab Alex asal tanpa membuka matanya.


"Ga langganan juga."


Ting..tong...


Drtt..drrt...


Selain bell pintu yang berbunyi, kini ponsel Arie juga ikut berbunyi.


"Alex, cepat lepaskan tanganmu, aku ga bisa nafas nich!" keluh Arie dengan nada sedikit tinggi.


Mendengar keluhan istrinya Alex sedikit melonggarkan pelukannya, Arie segera mengambil kesempatan itu untuk melepaskan tangan kekar yang membelitnya. Perlahan Arie bangun dan meraih ponsel di atas meja.


Adinata Sasongko Calling


Arie mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, sebelum ia menggeser layar ponselnya.


"Halo Ayah." Sapa Arie lembut.


Alex yang mendengar istrinya memanggil Ayah, segera membuka matanya lebar. dengan perlahan dia mendekati Arie yang duduk di tepi ranjang.


"Halo Nak, apa kau ada di apartemen?" tanya Adinata di ujung telepon.


"Iya, memangnya ada apa?"


"Cepat buka pintunya, ayah sudah memencet bell pintu sejak satu jam yang lalu,"


"Eh.. maaf Ayah, baiklah kami akan segera membuka pintunya."


Arie segera menutup telfonnya, dan menatap mata Alex yang ada di sampingnya dengan raut wajah yang sulit di jelaskan. Begitu juga Alex, kunjungan dadakan seperti ini bisa membuat Alex mati perlahan karena jantungan.


"Jangan diam saja, cepat keluar dan buka pintu untuk Ayah," titah Arie pada suaminya.


"Tapi, bagaimana kalau Ayah melihat wajahmu seperti ini," ucap Alex cemas.


"Tenang saja, aku akan mengatasinya, sekarang cepat cuci muka dan buka pintu untuk Ayah, ok," bujuk Arie pada suami sipitnya, Arie bukan tidak mungkin apa yang ada di pikirannya. Alex mengangguk kecil mengiyakan perkataan istrinya.


Alex segera bangkit dan bergegas ke kamar mandi, setelah selesai dengan langkah lebar Alex keluar dari kamar, menyusuri ruang tamu.


Ceklek.

__ADS_1


Alex memasang senyum semanis mungkin, sementara sang Ayah mertua menatap tidak suka padanya.


"Ayah," sapa Alex dengan seramah mungkin.


"Apa aku memberikan mu izin untuk memanggilku seperti itu," ucap Adinata datar.


"Maaf Tuan Adinata, Silahkan masuk." Alex memperbaiki ucapannya tadi. Mendapatkan tatapan tajam dari Ayah mertuanya hanya bisa menelan liurnya.


Adinata melewati Alex begitu saja, setelah berhasil mendarat bobotnya di sofa, Adinata melambaikan tangan memangil menantu yang diam mematung di samping pintu masuk. Bagaikan seorang asisten yang di panggil Majikannya, dengan cepat Alex mendekati Ayah mertua yang belum mengakuinya itu.


Perlahan Alex berjalan mendekati Ayah mertua, walaupun masih merasa ragu, tapi Alex harus berusaha mengambil hati ayah mertuanya. Agar bisa segera di akui sebagai menantu oleh Adinata.


"Apa Ay-


"Maksud saya Tuan, apa Anda ingin minum sesuatu?" tanya Alex dengan senyum manisnya yang di paksakan.


"Tidak usah repot-repot aku hanya sebentar," jawab Adinata.


"Sama sekali tidak merepotkan."


"Tidak usah banyak bicara cepat panggilkan putriku kemari," titah Adinata.


"Baik," Alex menundukkan wajahnya, dan segera pergi ke kamar.


Dalam hatinya Alex merasa cemas, bagaimana kalau sampai Ayah mertuanya melihat wajah Arie yang masih lebam, dan lagi beberapa bagian tubuh Arie yang mendapat gigitan drakula cinta. Alex mengusap wajahnya kasar, seharusnya Alex lebih bisa menahan dirinya.


Ceklek


"Sayang, " lirih Alex memanggil istrinya.


Arie yang sedang duduk di meja riasnya pun menoleh. Alex di buat terkejut saat melihat wajah istrinya yang tertutup sempurna dengan make-up, semua bekas luka Arie tak ada lagi, lebam dan luka di sudut bibirnya pun hilang.


"Ini namanya the power of make up," jawab Arie sambil terkekeh, tapi sesaat kemudian dia kembali mendesis karena ujung bibirnya tetapi perih.


"Sstt.. sayang pelan saja, aku tau bibirmu masih terasa sakit, apalagi di tambah perlakuanku tadi malam," sesal Alex.


"Jangan cemberut seperti itu, Aku tidak keberatan sama sekali," ucap Arie sambil menarik pelan tangan suaminya, dan menaruh telapak tangan dingin itu di pipinya. Alex tersenyum dan mengecup singkat bibir merah Arie.


"Ayah sudah menunggu di depan, sepertinya beliau ingin mengatakan sesuatu yang serius dengan mu."


"Alex, aku takut," lirih Arie hampir tak terdengar. Namun masih bisa terdengar oleh Alex karena jarak mereka yang begitu dekat.


"Apa yang kau takutkan Sayang, bukankah Ayah begitu menyayangimu, kenapa kau merasa takut?," Alex mengerutkan keningnya merasa ambigu dengan apa yang baru saja di ucapkan istrinya.


Arie hanya membalas pertanyaan suaminya dengan senyum di wajahnya yang terlihat cemas, perlahan Arie bangun dari duduknya di bantu oleh Alex, mereka berdua pun keluar dari kamar bersama.


Arie berjalan menghampiri Adinata, yang tengah duduk di sofa menatapnya dengan nanar.


"Ayah," sapa Arie lembut, Arie segera meraih tangan Adinata dan menciumnya dengan takzim.


Adinata mengelus lembut rambut pucuk rambut Arie, ada rasa rindu terpancar jelas dari mata pria paruh baya itu, Arie menengadahkan kepalanya, menatap sendu pada Ayahnya. Mata Pria itu Sudah memerah saat melihat wajah putrinya.


"Ayah," panggil Arie lembut.


"Nak, kenapa kau tidak pernah lagi mengunjungi Ayahmu ini?" tanya Adinata sendu.


Arie menarik dirinya, lalu duduk di samping Ayahnya, sementara Alex menyiapkan minuman di dapur, sungguh menantu yang berbakti.

__ADS_1


"Ehm.. Maaf Ayah aku malas sekali untuk keluar rumah, mungkin bawaan bayi," ucap Arie sambil mengelus perutnya.


"Benarkah, kau tidak bohong?" tanya Adinata penuh selidik.


"Kenapa aku harus berbohong pada Ayah," jawab Arie pura pura kesal.


Maafkan aku ayah.


"Bukan begitu, Ayah hanya merasa ada sesuatu yang aneh."


Jelas Adinata melihat Arie di acara tahunan kantor Albied inc.tapi sekarang kenapa putrinya malah bilang kalau dia malas keluar rumah.


Adinata menatap lekat wajah Arie yang sedang menunduk. Arie memang bukan pemain sinetron yang handal memainkan peran mereka, wanita yang sudah berbadan dua itu tidak begitu pandai menutupi perasaannya.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu pada Ayah, Nak?" tanya Adinata lagi, Sepertinya pria itu sudah mentok, mencari jawaban yang tak kunjung ada membuatnya memilih untuk bertanya langsung pada Arie.


"Bagaimana keadaan Kak Nana, apa semua baik?" tanya Arie tiba tiba.


"Kakak mu baik baik saja."


Arie bisakah kau tidak mengalihkan topik pembicaraan kita!" ucap Adinata dengan nada tinggi.


"Aku tau kau berbohong pada Ayahmu ini, Arie bisakah kau katakan saja apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari Ayah!" desak Adinata yang tak bisa lagi mengontrol emosinya.


Adinata merasa sangat bingung sekaligus kesal, merasa jengkel dan marah pada dirinya sendiri, tapi itu terlampiaskan pada anaknya.


"Ayah, ini silahkan di minum," ucap Alex , yang baru saja tiba, setelah melangkah cepat dari dapur.


Adinata melihat ke asal Alex sejenak, kemudian menatap Arie lagi. Alex yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara keduanya memilih untuk tidak ikut campur, tapi saat mendengar Adinata meninggikan suaranya, Alex pun bergegas ke ruang tamu.


Melihat Arie yang seakan meminta pertolongannya, Alex pun bergegas duduk di samping istrinya, setelah menaruh teh yang sudah dingin di atas meja. Adinata berdiri berniat untuk mengelus lembut putrinya. namun, Arie beringsut mundur. Adinata berjongkok di hadapan Arie, karena Arie terus saja menunduk.


"Maafkan Ayah Nak, Ayah tidak bermaksud membentak mu," sesal Adinata, pria paruh baya itu meraih tangan putrinya namun Arie menariknya kembali.


"Tuan Adinata, lebih baik Anda pulang sekarang," tutur Alex dengan tidak bersahabat.


Adinata mengeryitkan keningnya, berani sekali menantu tak di itu mengusirnya. Tak ada raut ketakutan di wajah Alex seperti sebelumnya, melihat Arie yang tertunduk sedih, membuatnya tak perduli lagi dengan status mertua dan menantu.


"Apa maksud mu? apa kau mengusir ku?" bentak Adinata.


Alex hanya diam dan menatap tajam pada mertuanya, ia sudah geram dengan mertuanya yang bersikap kasar pada Arie.


"Alex tidak bermaksud seperti itu Ayah, tapi lebih baik Ayah pulang dulu, aku ingin istirahat, kepalaku terasa sedikit pusing," tutur Arie, sambil memegang erat tangan suaminya.


"Tapi Nak, ayah-


"Aku mohon Ayah."


"Baiklah Ayah akan pulang, maafkan Ayah Nak, aku sungguh tidak bermaksud membentak mu," ujar Adinata lagi.


Arie hanya bisa memandang punggung Ayahnya yang berlalu di balik pintu.


Maafkan aku Ayah, maafkan aku tidak bisa mengatakan semuanya.


Pria paruh baya itupun pergi dengan sesal di hatinya, tak seharusnya dia terlalu terbawa emosi. Alex segera merengkuh Arie dalam pelukannya, tubuh wanita itu bergetar, Alex tau ada sesuatu antara Arie dan keluarganya, hanya saja Arie belum siap mengatakannya.


"Sayang apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Alex setelah Isak Arie mereda.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin kamu," lirih Arie di tengah isaknya.


__ADS_2