
Alex terus menarik tangan Arie. Ia merasa sangat marah saat melihat istrinya diperlakukan seperti itu. jika boleh rasanya dia ingin mencabik-cabik tubuh renta itu.
"Alex bagaimana dengan Kakak," Lirih Arie saat mereka berjalan menyusuri lorong.
"Bagaimana mereka? Kau masih mengkhawatirkan mereka. Lalu bagaimana denganmu sendiri hem, kau membiarkan wanita tua itu menyakiti mu seperti itu," Geram Alex sambil terus menarik tangan Arie. Arie pun diam, dan mengikuti langkah kaki Alex.
Hening, sepasang suami istri itu kini berada dalam mobil. Alex berharap Arie menceritakan semua kepadanya, tetapi Arie hanya diam membisu. Alex mengambil nafas dalam sebelum mulai bicara.
"Arie bisakah kau memberi tahuku siapa wanita tua tadi?" tanya Alex berusaha menahan emosinya.
Alex meraih jemari kecil istrinya. Arie pun menoleh ke arah Alex.
"Sayang, aku mohon, beri tahu aku semuanya. Kau tahu betapa marahnya aku saat melihat wanita itu menamparmu dari kejauhan. Rasanya aku ingin sekali memasukkannya ke peti lalu membuangnya ke laut," ucap Alex gemas. Arie tersenyum kecil mendengar perkataan suaminya.
"Lihatlah pipimu jadi merah seperti ini, ck. seharusnya kau membalasnya," Alex berdecak kesal.
"Aku tidak bisa membalasnya," lirih Arie sendu.
"Kenapa?"
"Karena, dia Nenekku," ucap Arie sendu, sekuat tenaga dia menahan mendung di matanya.
"Apa! jadi dia adalah Nenekmu, sial," Alex memukul setir mobil dengan keras.
"Ceritakan semuanya, aku yakin bukan kali ini saja dia memperlakukanmu seperti ini. Atau jangan-jangan dia yang membuatmu berusaha menjaga jarak dari keluargamu?" cerca Alex pada istrinya.
Arie pun mulai menceritakan, apa yang sebenarnya terjadi pada saat dia berada di rumah besar ayahnya. Alex terkejut berulang-ulang. Namun, disisi lain Ia juga merasa bersalah pada dirinya karena tidak berada di samping Arie waktu itu.
Alex merengkuh tubuh Arie dalam pelukannya, sebelum Arie menyelesaikan ceritanya.
"Maaf, seharusnya aku ada di sana bersamamu," ucap Alex, mempererat pelukannya. Arie pun membalas pelukan Suaminya.
Pelukan hangat dari suaminya. Hanya itu yang Arie butuhkan.
"Sayang, terima kasih," ucap Arie lembut. Ia melepaskan pelukannya, lalu mengecup singkat bibir tipis Alex.
"Jangan mengoda di saat seperti ini."
"Hmmm.. aku kangen Tuan sipit ku yang mesum sekarang," bisik Arie dengan nada manja.
"Awas ya, jangan mengeluh, aku akan membuatmu tidak bisa bangun dari tempat tidur," Ancam Alex, dengan seringainya.
"Hiii.. takut," canda Arie sambil tergelak.
"Dasar." Alex mengacak-acak rambut Arie.
Teruslah tertawa sayang, aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu lagi, gumam Alex dalam hati.
"Alex bisakah kau berjanji, kau tidak akan mengatakan tentang Nenek pada Kak Arow dan Ayah,"Ujar Arie dengan memohon. Alex menatap sejenak pada istrinya.
__ADS_1
"Baiklah aku janji."
Tapi aku tidak berjanji untuk tidak membalas perbuatannya.
"Terima kasih sayang."
Arie memeluk suaminya dan mengecup pipinya dalam.
"Bagaimana aku bisa tahan kalau kau terus menempel," keluh Alex sambil mendesah kesal.
"Hahaha...," Arie tergelak sambil terus menciumi wajah suaminya.
Rumah sakit.
Arow gelisah, sedari tadi calon Bapak muda itu mondar mandir di depan ruang operasi. sesekali dia melirik ke arah pintu. Sementara sang Nenek hanya duduk sambil mengelengkan kepalanya melihat Arow, yang lalu lalang seperti setrikaan.
Seseorang dokter keluar dari ruang operasi.
"Dok, bagaimana Istri dan Anak saya?" todong Arow.
"Selamat Tuan, Istri anda sudah melewati kondisi kritis dan anak laki-lakinya lahir dengan selamat," ucap dokter itu.
"Terima kasih Dokter," Arow memeluk Dokter itu dengan haru. Dokter itu menepuk pundak Papa muda itu sebelum melepaskan pelukannya.
"Cicit ku, Cicit pertamaku," lirih Puspa, ia mengusap sudut matanya dengan tangannya yang keriput.
"Apa saya bisa menemui Isti saya Dokter?" tanya Arow yang masih berderai air mata.
"Baik Dok, sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ulang Arow lagi.
"Berterima kasihlah pada Tuhan Tuan, saya hanya perantaranya saja." ucap Dokter itu sebelum melangkah pergi.
"Arow, segera hubungi Ayahmu. Dia pasti sangat bahagia mendengar kabar baik ini," tutur Puspa dengan wajah berbinar.
"Iya Nek, aku juga akan memberi tahu Arie . kalau Nana sudah melahirkan."
"Tidak usah jangan hubungi dia," sergah Puspa.
"Kenapa Nek?"
"Maksud Nenek, biarkan Adikmu itu istirahat, bukankah dia juga sedang hamil. Tidak baik untuk terlalu sering berpergian di saat seperti itu," kilah Puspa.
"Nenek benar, tapi aku hanya ingin memberi tahu padanya saja, aku tidak akan menyuruhnya datang." kekeh Arow, sebenarnya Arow sempat bingung karena Adiknya pulang begitu saja tanpa berpamitan kepadanya.
"Arow lihat, Nana sudah akan di pindahkan," Seru Puspa, mengalihkan perhatian Arow.
Arie melangkah mendekat ke arah brankar yang di dorong oleh dua orang suster. dan di ikuti oleh seorang lainnya yang mengendong bayi kecilnya.
"Sayang," ucap Arow lembut. Nana hanya tersenyum tipis, badannya masih terasa lemas akibat anastesi yang belum hilang sepenuhnya.
__ADS_1
Arow beralih ke bayi kecilnya. Jelas tercetak wajahnya dengan ukuran mini. Arow meraih bayi yang masih merah itu dati gendong suster. Rasa haru dan bahagia menyeruak dalam hatinya.
Arow mengendong bayinya dengan kaku. Namun, tak menghentikan langkahnya mengikuti istrinya. Sampai di ruangan VIP, Arow membaringkan tubuh mungil itu dengan hati hati di dalam box bayi.
"Sayang, kita namakan siapa malaikat kecil ini?" tanya Arie pada istrinya.
"Aku sudah menyiapkan sebuah nama, Abyaz."
"Abyaz, bagus nama yang bagus, Aku suka," ujar Arow. Ia mencium kening Nana dengan lembut.
"Abyaz Sasongko, Cicit Nenek." ucap Puspa dengan suara lembut. Ia mengelus pipi gembul bayi merah yang tengah tertidur pulas.
"Terima kasih Na, kau sudah memberikan seorang pewaris untuk keluarga Sasongko,"
Ucap Puspa dengan bangga.
"Iya Nek." Nana pun tersenyum bahagia melihat Nenek dan suaminya yang begitu bahagia dengan kehadiran Abyaz.
*********
Apartemen Alex.
Arie bersandar di dada bidang milik suaminya. Kedua baru saja melakukan pertempuran singkat.
Drrrt..
ponsel Arie bergetar. Alex pun meraihnya dan memberikan pada Arie. Sebuah pesan singkat masuk di aplikasi berwarna hijau.
"Sayang lihat aku baru saja resmi menjadi seorang Tante!" seru Arie kegirangan. Ia menyodorkan layar ponselnya yang berisikan pesan foto dari Arow.
"Hmmn," jawab Alex singkat tanpa berniat melihat ke arah ponsel Arie.
Alex sungguh malas jika harus berurusan dengan keluarga Sasongko lagi. Baginya mereka adalah musuhnya, karena telah berani menyentuh Istrinya.
"Kok hmmn sih sayang," ucap Arie lesu.
"Trus aku harus bilang wow gitu."
Arie mencebikkan bibirnya. Melihat itu Alex baru bereaksi, dia mulai menyusup ke dalam selimut yang membungkus tubuh istrinya. Alex melingkarkan tangannya di perut Arie yang memunggunginya.
"Sayangku," bisik Alex sambil mengecup punggung Arie yang polos.
"Aku tidak suka kau membahas yang lain saat kita berduaan seperti ini,"lirih Alex dengan suaranya yang berat. Arie membalikkan badannya perlahan.
"Maaf," ujar Arie dengan wajah memelas. Alex masih acuh.
"Aku hanya senang Kak Nana sudah melahirkan dengan selamat, dan aku punya seorang keponakan yang sangat tampan," imbuh Arie yang tak bisa menutupi rasa bahagianya.
"Junior lebih tampan, lihat saja nanti,"ujar Alex tak mau kalah.
__ADS_1
"Jelaslah, lihat saja suamiku Dangan tampan. pasti junior setampan Papanya," Rayu Arie, melihat wajah Alex yang sudah mulai masam.
Alex mulai mendarat bibirnya, meraup tubuh kecil yang sudah mulai melebar itu kembali mengarungi samudera cinta yang panas, menengelamkan mereka dalam nikmatnya surga dunia.