
Arie sedang berkutat di dapur, mencuci peralatan masak dan juga piring yang ia gunakan untuk sarapan.
Drrrt.. drtt.
Ponsel Arie bergetar. Arie segera membilas tangannya dengan air m, sebelum mengangkat ponselnya. Dengan senyum yang mengembang ia menggeser logo warna hijau di layar ponselnya.
"Hallo sayang."
Layar ponselnya menampilkan wajah cemberut suaminya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?"
Arie menyandarkan ponselnya di dinding, dengan camera dengan yang mengarah padanya.
"Aku kangen, Alex melengkungkan bibirnya ke bawah, dengan matanya yang membulat.
"Astaga, belum ada tiga puluh menit kau keluar rumah, bagaimana bisa kangen, Arie terkekeh geli dengan tingkah manja Alex.
"30 menit bagiku sedang seperti 30 hari."
"Lebay!"
"Apa kau tidak kangen, malah bilang aku lebay," Alex mencebikkan bibirnya kesal.
Terlihat sangat lucu. seorang pria dewasa memakai pakaian formal lengkap, sedang mencebikkan bibir dengan wajahnya yang manja. Arie ingin sekali tertawa namun dia berusaha menahannya.
"Iya, aku juga kangen." Mendengar kata kangen dari mulut istrinya, senyum Alex pun mengembang.
"Seberapa besar?"
"Sebesar ini."
Arie membentuk sebuah hati besar, dengan kedua tangannya yang menguncup di atas kepala. Bibir Alex semakin tertarik ke atas.
"Sudah ya, aku mau mandi dulu, bau."
"Ok, Sayang nanti habis mandi jangan lupa untuk mengabari ku."
"Untuk apa?"
"Tentu saja aku kan menelfon mu lagi," ucap Alex.
"Baiklah, love you."
"Love you more, muach!" Alex mengecup layar ponselnya, sebelum mengakhiri panggilannya.
Arie merasa geli dengan tingkah suaminya yang seperti ABG baru jatuh cinta, padahal sebentar lagi dia kan menjadi seorang Ayah.
__ADS_1
Chiko yang sedari tadi menyetir hanya bisa bergidik geri dengan perubahan pada Tuannya. Cinta memang sebuah penyakit yang sangat ganas, bisa membuat seorang CEO seperti orang bodoh. Sungguh penyakit yang mengerikan.
"Apa lihat lihat," ketus Alex, saat melihat Chiko yang melihatnya dengan tatapan yang aneh dari spion mobil.
"Ti--tidak Tuan," jawab Chiko dengan gelagapan, seperti maling jemuran yang ke pergok.
"Jangan kau kira, aku tidak tahu, kau terus memperhatikan ku dari tadi."
"Maafkan saya Tuan."
"Sudahlah kau tidak perlu minta maaf, aku tau kau pasti iri denganku." tukas Alex.
Astaga, Tuan bisakah anda normal seperti dulu, melihat anda seperti ini saya tidak ini jatuh cinta.
*************
Di sebuah kamar apartemen yang tidak begitu besar. Seorang wanita paruh baya menghempaskan tubuhnya di sofa. Mukanya tampak kusut, membuat kerutan wajahnya yang semakin bertambah.
"Sial, kenapa rencana ku gagal semua. Aku bahkan dengan susah payah menjemput bajingan tengik itu, tapi tetap saja gagal. Semoga saja Eric tidak mengatakan apapun tentangku."
Li Wei memejamkan matanya. kehidupannya sekarang tak seperti dulu, dia harus tinggal bersama Nuwa, di apartemen yang menurutnya sempit. Ia tak bisa lagi berlenggang dengan teman teman sosialitanya, sungguh hal yang memalukan.
"Sepertinya aku harus turun tangan sendiri," Li Wei menyeringai.
"Apa lagi yang Mama rencanakan? apa belum cukup usaha Mama yang gagal itu," ucap Nuwa yang baru saja masuk, tak sengaja di mendengar ucapan Mamanya.
"Apa lagi, Mama ingin anak itu lenyap. Aku tidak akan membiarkan Alex hidup dengan tenang. Aku akan melenyapkan keturunan dari keluarga brengsek itu," Geram Li Wei, tangan Li Wei mengepal kuat.
"Ma sudahlah, kita sudah hidup dengan baik. Aku masih bekerja," Nuwa berusaha membujuk Mamanya untuk hentikan semua aksi bodohnya.
Nuwa sadar semuanya terjadi karena kesalahan mereka sendiri, andai saja waktu bisa berputar kembali. Nuwa ingin memperbaiki semuanya, ia sadar selama ini yang ia rasakan pada Alex hanyalah ke posesif seorang adik.
"Apa kau bilang, hidup dengan baik. apanya yang kau sebut baik. Tua Bangka itu mengusirku dari rumahku sendiri dan membuatku harus tinggal di apartemen kecil ini. itu yang kau sebut baik." hardik Li Wei, matanya sudah memerah, menatap tajam pada putrinya.
"Aku tidak punya muka lagi, berkumpul bersama wanita wanita kelas atas itu yang kau sebut baik," hardik Li Wei, dadanya naik turun menahan gemuruh di dadanya.
"Aku akan berusaha Ma, aku akan bekerja keras untuk mendapatkan semuanya," ucap Nuwa dengan nada yang sama tingginya, Gadis itu menatap ibunya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Berapa lama kau akan berkerja Lima tahun, sepuluh tahun, sampai kapan? Dengar Nuwa, kau hanya model amatir, tidak mungkin untuk mu menghasilkan uang yang banyak, paling cuma cukup untuk hidup pas Pasan di apartemen sempit ini. Lagi pula sejak kapan kau berubah, bukankah kau sangat mencintai Keke mu itu, kau bisa menikah dengan Alex kalau wanita kampung itu lenyap, iyakan!"
"Aku tidak mau jadi pembunuh, Keke bahagia bersama kakak ipar, untuk apa aku menganggu mereka lagi."
"Sejak kapan kau mengakui j***ng itu sebagai Kaka ipar mu," bentak Li Wei. ia menatap Nuwa dengan marah.
"Sejak aku sadar kalau aku tidak mencintai Alex." tukas Nuwa. tangan Nuwa mengepal kuat sampai gemetar.
Ini adalah pertama kalinya bagi Nuwa bertengkar dengan wanita yang melahirkannya. Gadis itu tak mau lagi menuruti semua ide gila Li Wei yang sudah kelewat batas.
__ADS_1
"Terserah, kau memang anak tak tau di untung, tapi ingat aku adalah ibu mu, kau harus tetap menuruti semua keinginanku."
Li Wei melangkah keluar dari apartemen itu dengan kemarahannya. Dia begitu marah pada putrinya yang berani menentang kemauan.
"Aki harus segera menghabisi perempuan kampung itu, dan segera menyatukan Alex dan Nuwa. Tidak akan ada menantu selain Nuwa di keluarga Wang." gumam Li Wei saat berada di dalam mobil.
Li Wei segera mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
********
Arie yang baru saja selesai mandi, dengan santai memilih daster yang berjejer di dalam lemari mahalnya. Daster dengan harga paling mahal 80 ribu itu sungguh kontras dengan lemari yang yang mewah itu. Arie memutuskan untuk mengambil daster warna ungu yang baru saja di belinya di pasar kemarin.
Drrrt.. drrrt..
Ponsel Arie bergetar, saat ia akan melepaskan handuk kimono yang di pakainya.
Arie segera mengambil ponselnya, dan segera ia menggeser logo warna hijau di layarnya.
"Apa kau sudah selesai, kenapa lama sekali," ucap Alex di ujung telepon. Aura dingin bisa di rasakan Arie hanya dengan menatap wajah Alex dari layar ponsel.
"Maaf sayang, jangan marah ya." Atie mencoba merayu Tuan sipitnya yang sedang merajuk.
Lagi pula baru satu jam yang lalu kita melakukan video call kan, kenapa dia marah. gumam Arie dalam hati.
Alex tidak menjawab, ia hanya menatap lekat latar ponselnya. Arie tampak begitu seksi dengan rambutnya yang basah, Alex juga bisa menebak tubuh polos Arie di balik handuk kimono yang di pakainya.
"Tapi aku kangen Sayang," ucap Alex dengan nada yang begitu manja. Membuat semua orang di ruang rapat terkejut.
Alex sedang mengadakan rapat, saat pria bucin itu melakukan Video call dengan istrinya. Semua staf yang hadir hanya bisa mengatupkan kedua bibirnya manahan tawa.
"Apa kau tidak berkerja Sayang, kenapa terus melakukan video call dengan ku," Arie menyandarkan ponselnya di meja rias, hingga kamera ponsel bisa menampakkan seluruh gambar dirinya.
Mata Alex membulat saat Arie akan melepaskan ikatan kimono yang di pakainya. Alex sungguh sangat senang melihat penampakan di layar ponselnya.
"Alex kenapa diam, apa kau sedang ada di ruangan mu sendiri."
"Tidak." jawab Alex singkat. perhatikannya masih tak teralihkan dari layar ponsel.
"Terus di mana?" Arie menghentikan tangannya yang akan menurunkan satu lengan kimono.
"Aku sedang rapat."
"Dasar Gila!!"
Arie segera mematikan sambungan teleponnya. Sementara wajah Alex yang tadinya bersemu merah kini langsung berubah masam. semua staf berusaha menahan suara mereka.
"Ada apa dengan kalian," ketus Alex, saat menyadari wajah wajah aneh di ruang rapat.
__ADS_1
Semua orang berusaha menormalkan kembali wajah mereka, dan melanjutkan rapat seperti biasanya. Walaupun mereka menertawakan ke bucinan atasan mereka dalam hati.