
Bulan sabit pun tersungging di bibirnya. Mendengar bisikan nakal yang di tutup dengan sebuah kecupan manis di pipi Alex.
Atie menyengir kuda memperlihatkan jajaran giginya. Alex mengelus lembut rambut Arie lalu mencubit gemas hidungnya yang minimalis.
"Uh... manisnya istriku," ujar Alex dengan menatap gemas pada Arie.
"Uh... gantengnya suamiku." Arie membingkai wajah Alex dengan kedua tangannya.
"Ehem! bisa kita makan sekarang," ucap Kakek Wu dengan nada menyindir. Alex mencebikkan kesal, ia merasa kakek Wu sudah menganggu momen manisnya.
Suasana di meja makan terlalu manis karena virus kebucinan pasangan suami istri itu. Arow sampai bergidik geli melihat keduanya.
"Bilang saja kalau Kakek iri," gumam Alex lirih.
"Aku mendengarnya, Lex." kakek Wu melirik tajam pada cucunya.
"Maafkan suamiku kek, dia seperti ini karena terlalu mencintaiku. Iya kan sayang." Alex mengenggam tangan sang suami.
Alex membusungkan dadanya, ia merasa senang dan bangga dengan ucapan sang istri yang membelanya.
"Tentu sayang." Alex mengecup punggung tangan Arie yang mengenggamnya.
"Sudah, kami tidak akan kenyang hanya dengan melihat cinta yang kalian pamerkan. Tuan Adinata, silahkan mulai makan malamnya." Kakek Wu mengulurkan tangannya untuk mempersilahkan Adinata mengambil makanan yang tersaji di meja.
Adinata menoleh lalu tersenyum ramah pada Kakek Wu.
"Tentu Tuan, tapi saya sangat bahagia melihat Alex yang sangat mencintai anak saya." Adinata kembali menatap sang menantu yang juga menatapnya.
"Tolong jaga anakku dengan baik," pesan Adinata.
"Tentu Ayah." Alex mengangguk dalam, ia mempererat genggaman tangannya pada sang istri.
Ada rasa yang tidak bisa di jabarkan dengan kata. Akhirnya sang Ayah mengakuinya sebagai menantu. Alex menatap sang istri dengan mata berkaca-kaca, ia mengangkat tangan Arie lalu menciumnya berkali kali.
Mereka pun akhirnya memulai makan malam mereka dengan khidmat, walaupun satu personil tak kunjung datang. Meja makan itu terasa hangat. Canda tawa dan perdebatan kecil menyelingi santap malam mereka. Sampai saat...
__ADS_1
"Maaf aku terlambat, tubuhku sangat lelah setelah berkerja seharian." ucap Puspa yang baru saja bergabung di meja makan.
Suasana mendadak hening. Tidak ada seorangpun yang ingin menyapa sang nenek yang baru saja ikut bergabung. Adinata fokus pada makanannya. kedua pasangan suami istri itupun sama. Mereka berempat hanya fokus pada pasangan mereka masing masing.
Kakek Wu yang menyadari hal itu pun tak tinggal diam. Ia tersenyum menyambut Puspa, lalu menyuruh pelayanan yang berdiri agak jauh dari mereka untuk melayani Puspa.
"Tidak mengapa Nyonya, lagipula kami baru saja memulai acara makan malam ini. Silakan anda duduk," ujar Kakek Wu dengan sopan.
Kakek Wu bukannya tidak merasa marah pada wanita yang telah menyakiti hati cucu kesayangannya itu. Akan tetapi, tamu tetaplah tamu. Tamu adalah raja, jadi sang tuan rumah harus memperlakukan tamu mereka dengan baik. Apalagi merekalah yang mengundang Puspa untuk datang, jadi sudah sepantasnya mereka berlaku sopan.
Puspa duduk di ujung meja makan yang berhadapan langsung dengan Kakek Wu.
"Nenek mau makan apa? aku akan mengambilnya untuk Nenek?" celetuk Arie, ia sengaja membuka pembicaraan sepele itu untuk mencairkan suasana.
"Bisa kau-
"Kau tidak usah repot-repot seperti itu sayang. Biarkan para pelayan yang akan melayani dia!" tegas Alex yang memotong langsung ucapan Puspa.
Puspa mendelik kesal ke arah Alex. Puspa merasa jengkel karena kehilangan kesempatan untuk bisa di layani oleh Arie. Bukan karena Puspa menyayangi cucunya, akan tetapi ia ingin melihat Arie melayaninya seperti seorang pembantu.
"No, dengarkan aku. Duduk manis dai sini dan habiskan makananmu."
"Sebelum aku menghabisimu," bisik Alex begitu lirih di telinga Arie.
Semburat merah terlihat jelas di pipi chubby Arie. Ia begitu malu mendengar ucapan suaminya yang menjurus ke arah kegiatan panas mereka.
"Alex benar sayang, di rumah ini tidak kekurangan pelayanan bukan. Kau tidak harus melayani nenekmu. Lihatlah Bahkan piringnya sudah penuh dengan makanan." Adinata menunjuk ke arah Puspa dengan dagunya.
Arie pun menoleh ke arah sang nenek yang memelototi pelayan yang sedang sibuk mengambilkan makanan untuknya. Pasalnya piring makan Puspa di penuhi dengan berbagai macam sayuran yang notabenenya tidak ia sukai.
Arie mengatupkan mulutnya untuk menahan tawanya. Sebuah pemandangan yang cukup menghibur semua orang yang hadir di sana. Wajah Puspa begitu geram, memaksa sayuran itu masuk ke dalam mulutnya sendiri.
"Kak Arow. Apa Kaka bisa membantuku," ucap Arie tiba tiba, Raut wajahnya terlihat serius.
Arie menjeda ucapannya untuk mengelap sisa makanan di bibirnya dengan tisu.
__ADS_1
"Tentu katakan saja, aku akan membantumu dengan sekuat tenaga," ujar Arow dengan serius.
"Apa Kakak bisa membantuku menjalankan Bright corp?"
"Uhuk, A-apa yang kau bicarakan?" Arow hampir saja menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Pelan pelan, ini minumlah." Nana menyodorkan segelas air untuk sang suami.
"Terima kasih sayang," ucap Arow. Nana mengangguk kecil dengan senyum manisnya.
Adinata pun tidak kalah terkejutnya. Matanya membulat sempurna, mendengar ucapan putri bungsunya.
"Tidak Arie ini tidak benar, Ayah tidak ingin kau melakukan ini." Adinata mengelengkan kepalanya cepat.
Sungguh bagi Adinata bisa berkumpul bersama seperti ini sudah sangat cukup baginya. Ia tidak ingin Alex dan kakeknya menganggap kedekatan mereka hanya untuk mengambil perusahaannya kembali. Sekalipun tidak pernah terbersit dalam benak Adinata untuk melakukan hal itu.
"Kalau untuk itu, sepertinya aku tidak bisa membantumu. Aku ingin membangun usahaku sendiri, meskipun sekarang aku hanya karyawan di perusahaan kecil. Tapi aku yakin suatu saat aku pasti bisa membangun usahaku. Apalagi sekarang Nana dan Byaz sudah ada bersama denganku." Ucap Arow sambil meraih pundak sang istri.
"Aku yakin bisa melewati semua ini dengan mudah, dengan dukungan dari istri tercintaku ini," imbuh Arow lagi. Nana tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya.
Dasar dua laki laki bodoh, semuanya sudah di depan mata malah kalian tolak, dasar bodoh bodoh, aku menyesal punya cucu dan anak sebodoh mereka. aku harus punya rencana lain kalau seperti ini. gumam Puspa sambil menatap tajam kearah putranya.
"Kalian ini kenapa sih, aku bahkan belum menjelaskan alasanku meminta kak Arow membantuku menjalankan perusahaan tapi kalian sudah menolaknya mentah-mentah," ucap Arie dengan bersungut-sungut.
Alex mengusap pelan punggung sang istri yang terlihat kesal.
"Kak Arow lihatkan perut aku sudah segede apa. Junior sebentar lagi mau brojol. Waktu Alex sudah sangat sedikit untukku, kalau dia harus mengurus Bright corp, semua waktunya akan habis untuk berkerja," keluh Arie dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Aku selalu menunggu kepulangannya sampai larut malam, sangat jarang aku bisa makan malam bersamanya seperti ini. Selain itu aku juga khawatir kalau dia jatuh sakit karena kelelahan. Apa Kakak masih tidak mau membantuku, hemh?"
Alex terenyuh mendengar alasan sang istri meminta Arow untuk membantunya mengurus Bright corp. Alex kira Arie merasa iba pada kakaknya yang berkerja di perusahaan kecil dan ingin agar kakaknya menjalankan Bright corp agar mereka bisa hidup nyaman seperti semula. Namun, ternyata dialah alasan di balik itu.
Arow merasa tidak enak melihat adiknya yang bersedih. Ia tidak menyangka alasan di balik tawarannya bukanlah karena belas kasihan. Melainkan bentuk dari kasih sayang seorang istri yang mengkhawatirkan suaminya.
Alex merengkuh tubuh Arie dalam pelukannya, ia merasa bersalah karena membuat Arie khawatir.
__ADS_1