Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Bertemu mantan


__ADS_3

Matahari bersinar dengan teriknya. Akan tetapi tidak menyurutkan semangat seorang anak untuk bermain layang-layang. Ini adalah kali pertama dia bermain permainan itu. Di temani oleh sang Papa, Naoki begitu senang meskipun, bukan dia yang menerbangkan layang-layang itu.


Naoki hanya berlarian di sekitar Tama, yang sedang menarik ulur benar layang-layang tersebut. Akhirnya dokter muda itu bisa mengambil waktu istirahatnya, setelah pasien khusus penghuni ruang VIP di rumah sakit mereka pulang.


"Papa, layangannya putus!" teriak Naoki, ia menatap ke arah langit.


Kaki kecilnya mengayun cepat mengikuti arah benda bergambar kartun Doraemon itu melayang. Tama pun mengikuti langkah anaknya.


"Hei... jangan jauh-jauh larinya!" pekik Siska dari bangku taman.


Siska lebih memilih duduk berteduh di bawah pohon rindang di taman itu. Sejak dari kemarin Siska merasa tidak enak badan. Namun, dia tidak ingin mengacaukan liburan singkat yang sangat jarang ini. Ia pun memaksakan diri untuk ikut bersama suami dan anaknya.


Tama dan Naoki berlari semakin menjauh dan hilang dari pandangan Siska. Wanita cantik itu hanya bisa menghela nafasnya. Saat kedua laki-laki kesayangannya itu bersama, sepertinya mereka akan lupa padanya.


Merasa bosan duduk sendiri di sana. Siska pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di sekitar taman itu. Menyusuri jalan setapak, menikmati pepohonan rindang dengan angin semilir yang membelai lembut helai dedaunan. Beberapa macam bunga di tata apik di sepanjang taman dengan bentuk bentuk yang cantik, memanjakan setiap mata yang memandangnya. Keadaan Tama cukup sepi karena hari ini bukan weekend.


Siska memejamkan mata menghirup oksigen yang berbaur dengan aroma wangi bunga.


"Akhirnya ketemu juga."


Deg.


Jantung Siska seketika berdegup kencang mendengar suara bayang sangat ia kenal. Suara yang selama ini selalu ia hindari. Seketika keringat dingin membasahi tubuhnya, rasa takut menyergapnya.


"Kau masih sama seperti dulu, Siska." Sebuah tangan menyentuh bahu Siska, membuat tubuh kecilnya gemetar hebat.


Siska mengerakkan tubuhnya, membalik tubuh perlahan. Mata Siska membulat sempurna saat melihat wajah yang menyeringai menakutkan menatap dirinya.


"Do-Dodi," ucap Siska terbata.


"Kau masih ingat aku rupanya."


Pria itu menatapnya dengan seringai liciknya. Dodi laki-laki yang menghancurkan kehidupan Siska. Bukan nya secara mental tapi juga secara fisik, ia tidak akan segan mengayunkan tangan dan kakinya pada tubuh Siska. Meskipun saat itu dia sedang mengandung. Namun, Pria itu tidak perduli bahkan meninggalkannya sendirian dan pergi bersama wanita lain.


Tubuh Siska gemetar, dengan sekuat tenaganya Siska berusaha menepiskan tangan Dodi yang masih bertengger di bahunya.


"Apa mau mu. Pergi!" tukas Siska dengan bibirnya yang bergetar.


Dodi tertawa melihat Siska yang berusaha berani menghadapinya. Tawa Dodi mereda, dengan tatapan mengancam Dodi melangkah mendekati Siska.

__ADS_1


Siska memundurkan langkahnya. Siska segera membalikkan badannya dan berlari. Namun, terlambat satu tangannya sudah di cekal oleh Dodi.


"Mau lari kemana kau, heh!"


Siska meronta, ia menghempaskan tangannya agar bisa terlepas.


"Tolong!" teriak Siska sambil terus meronta.


"Berteriaklah sesukamu, tidak ada yang akan datang menolong," ujar Dodi dengan seringainya.


"Tolong... lepaskan!" Teriak Siska Lagi. Kondisi taman yang seperti membuat Siska semakin takut Dodi akan berbuat nekat kepadanya.


Plak.


Dodi menampar kedua pipi Siska. Ia merasa geram, karena Siska terus berteriak dan meronta.


"Diam! atau kau ingin aku berbuat lebih dari ini!"


Siska mengelengkan kepalanya cepat, ingatannya kembali ke masa dimana Dodi menghajarnya secara brutal. Saat Siska masih menjadi istrinya.


"Cepat berikan uang mu!"


"Aku.. tidak membawa uang," jawab Siska.


Plak.


Sebuah tamparan mendarat kembali di pipi Siska, kali ini lebih keras. Hingga sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Dodi dengan beringas menarik rambut Siska memaksa wanita itu menengadahkan kepalanya.


"Kau tidak bawa uang heh, baiklah aku akan mengambil ini saja." Dodi menarik paksa kalung kecil yang ada di leher wanita itu.


"Jangan!" pekik Siska dengan suaranya yang bergetar karena menahan sakit di kepalanya. Rambutnya sendiri terasa lepas dari kulit kepalanya.


Dodi tersenyum miring. Melihat raut wajah ketakutan Siska, membuatnya semakin ingin menyiksa wanita itu. Dido menarik rambut Siska dengan keras kemudian melepaskannya, membuat Siska jatuh terduduk. Siska memberingsut mundur. Tangannya mencoba meraih apa saja yang ada di atas rerumputan itu.


Dodi menyeringai, tangannya terangkat naik. Ingin sekali dia mendengar Siska kesakitan karena tamparan.


Bruugh.


Dodi jatuh tersungkur sebelum sempat mendaratkan tangannya di tubuh Siska.

__ADS_1


"Mas!" pekik Siska.


Tama pun segera membantu istrinya untuk berdiri. Melihat kondisi wajah Siska yang memerah dengan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Membuat Tama geram.


Dengan langkah cepat Tama menghampiri bajingan yang berani menyentuh Istrinya.Tama menarik kerah baju Dodi, bogem mentah mendarat di perut pria itu berkali kali. Bukannya kesakitan pria itu malah tertawa.


"Hahaha.. kau memukuliku demi perempuan itu," ucap Dodi dengan mulutnya yang penuh darah.


"Dia itu cuma bekasku, cuma lon*e."


"Brengsek!"


Tama membabi buta memukul tubuh pria yang tidak ia kenal. Tama marah, hatinya terasa sakit mendengar ucapannya yang begitu merendahkan istrinya.


Sementara Siska, wanita itu terduduk di atas rerumputan dengan keduanya yang menutupi telinganya. Cemoohan yang keluar dari mulut kotor Dodi membuatnya mengingat kejadian di masa lalu.


Siska merasakan kepalanya berputar, semakin cepat. Pandangannya kabur dan kemudian wanita itu akhirnya roboh. Ia tergelak kehilangan kesadarannya.


"Siska!" pekik Tama yang baru saja menoleh ke arah sang istri.


Tama melepaskan tangannya dari Dodi dan segera menghampiri istrinya. Tama segera mengendong tubuh mungil Siska dalam dekapannya.


"Hahahaha... ambil saja wanita ****** itu, aku sudah puas menikmatinya. Lo*te dia cuma lo*te yang menjual tubuhnya, hahaha," Dodi terus tertawa, meskipun ia sudah terkapar dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Tama yang mendengar ucapan Dodi pun merasa kesal dan membalikkan kembali badannya. Dengan langkah lebar ia mendekati Dodi lalu menendang keras perutnya.


"Aghh!" pekik pria itu.


"Sekali lagi kau menyentuh istriku, aku akan pastikan kau membusuk di penjara!"


Dengan sengaja Tama menginjak kaki Dodi, hingga membuat pria itu mengerang kesakitan. Tama pun bergegas membawa Siska ke mobilnya, dimana Naoki sudah ada di sana Sebelumnya.


Tama bergegas membuka pintu mobil, dan segera membaringkan tubuh Siska di kursi penumpang yang ada di belakang.


"Mama!" teriak Naoki histeris, saat melihat keadaan sang mama yang tidak sadarkan diri.


"Papa, Mama." Naoki yang tadinya duduk di kursi depan pun segera pergi ke belakang. Ia memeluk tubuh sang Mama sambil menangis tersedu-sedu.


"Tenanglah, Mama baik-baik saja. Kita akan segera membawa Mama ke rumah sakit." Tama mencoba menenangkan Naoki, meskipun ia sendiri merasa sangat cemas.

__ADS_1


"Jangan menangis, Mama tidak akan suka melihatmu seperti itu." Naoki mengangguk kecil dan segera menghapus air matanya.


Tama segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia harus sesegera mungkin ke rumah sakit. Tama mengemudi dengan panik, sampai menerobos beberapa lampu merah. Ia tak memperdulikan mobil lain yang terus membunyikan klakson padanya.


__ADS_2