
Suara high heels yang beradu dengan lantai marmer menggema memenuhi ruang tamu, langkah kaki yang hilir mudik seorang wanita paruh baya dengan mulutnya yang terus mengomel, sementara seorang gadis duduk di sofa nampak kesal mendengarkan ceramah yang tak kunjung usai.
"kau sangat ceroboh, kau tau itu" langkah wanita itu berhenti, menatap tajam pada anak gadisnya.
"aku kan sudah bilang maaf Ma, nunggu Mama bergerak kelamaan" ujar Nuwa tak mau kalah.
"Nuwa" mendengar Mamanya menghardiknya, Nuwa hanya bisa mencebikkan bibir kesal.
"sekarang dimana wanita yang kau suruh pura pura hamil itu" ujar Li Wei sambil mendudukkan tubuhnya di sofa, mungkin kakinya sudah lelah olahraga di tempat.
"ga tau Ma, ga perduli juga" jawab Nuwa singkat, sambil mulai memainkan ponselnya.
"astaga..."Li Wei menghela nafasnya, mengusap wajahnya kasar, bukan dia tak mendukung apa yang di lakukan Nuwa untuk memisahkan Arie dan Alex tapi, itu terlalu gegabah, Arie tak sebodoh yang dia pikirkan, gadis kampung itu tak sesederhana dasternya.
"ya sudah, jangan berbuat sesuatu tanpa pengetahuan Mama lagi, mengerti," Li Wei meninggikan suaranya. Nuwa mengedikkan bahunya.
"Nyonya Besar," seorang pria bertubuh besar berjalan masuk, sambil membawa seorang wanita yang terlihat ketakutan, pria itu mencengkeram erat lengannya, agar dia mau mengikuti langkahnya.
"bagus,..bawa dia ke ruangan ku,"
pria itu mengangguk dan menarik paksa lengan wanita yang nampak sangat enggan untuk mengikutinya.
Sampai di sebuah ruangan kerja, pria itu menyuruh wanita itu duduk, tak begitu lama Li Wei datang dan duduk di di kursi kebesarannya yang bersebrangan dengan wanita itu.
"sudah beberapa lama kamu berkerja di sana"Li Wei mulai me wawancarai wanita di hadapannya dengan bahasa Indonesia yang kaku.
"su..dah... hampir satu tahun,"lirih wanita itu.
"aku akan membayar semua pengobatan Adikmu, kalau kau mau menuruti perintahku"
Wanita itu mengangkat wajahnya , memberanikan dirinya menatap Li Wei, ya dia memang butuh uang untuk adiknya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, tapi bagaimana Nyonya ini tahu tentang adiknya, siapa wanita yang duduk di hadapannya ini sebenarnya.
"jangan melihat ku seperti itu, aku bisa tahu semuanya, kau mau atau tidak" ujar Li Wei dengan senyum sinis.
"kau hanya perlu mendapatkan tanda tangan Alex, di kertas ini," Li Wei menyodorkan kertas yang bertuliskan huruf Mandarin yang dia tak mengerti sama sekali,
wanita itu menerima kertas itu dengan tangannya yang gemetar, meskipun ragu dia akhirnya menerapkan tawaran itu.
"akan saya lakukan Nyonya" Li Wei menyeringai, rencananya sudah mulai berjalan.
****
__ADS_1
Rumah sakit Al-Irsyad, seorang laki-laki berderai air mata, memeluk istrinya, mengenggam erat kertas hasil lab yang baru saja ia terima.
"Dia benar Adikku," Arow menyusutkan air matanya, rasa haru dan bahagia menyelimuti dirinya, saudara yang selama ini dia cari akhirnya dia temukan.
"iya.. mas, aku turut bahagia" Nana mengusap lembut pipi suaminya, menampakkan senyum bahagia.
"dan kau tahu siapa lagi yang akan bahagia karena akan bertemu dengan bibinya" Arow mengerutkan keningnya.
Nana meraih tangan suaminya perlahan mengarahkannya menyentuh perutnya yang masih rata. Mata Arow membulat sempurna, Nana tersenyum sambil mengangguk kecil. Arow merengkuh tubuh kecil istrinya, menghujaninya dengan kecupan di seluruh wajahnya. tak perduli dengan lalu lalang orang yang memperhatikan tingkah mereka, bagaikan kejatuhan bulan, Arow merasa hidupnya hari ini benar benar bahagia.
"kita akan menemui bibi, baby" Arow menunduk, seolah berbicara dengan janin mereka.
"iya papa" Nana berbicara dengan suara seperti anak kecil.
Drrrt...
sebuah pesan masuk, belum sempat Arie membuka pesan itu, kini berubah panggilan masuk di layar ponselnya.
"Hallo..."
"biasakah kita bertemu, aku sudah mendapatkan hasil labnya"
"ehm... baiklah, dimana?"
"baik, aku akan ke sana" Arie menutup telfonnya, mengembuskan napas panjang, sebenarnya dia penasaran juga dengan hasil lab yang di lakukan Arow, tapi di sisi lain dia belum bisa menerima kenyataan kalau seandainya dia benar bagian dari keluarga itu.
Setelah bersiap, Arie bergegas ke basement dimana sang supir sudah setia menunggunya. mobil yang membawa Arie melaju di tengah terik, dan pekatnya polusi udara, tak berapa lama Mereka pun sampai di cafe yang di maksud Arow. Arie bergegas keluar berjalan menuju teras cafe dimana dua orang sudah menunggu kedatangannya.
"Arie, apa Khabar?" Nana langsung bangkit dan memeluk Arie, Arie pun membalas pelukannya dengan lembut.
"baik kak, Kaka sendiri bagaimana?" Arie melepaskan pelukannya.
"baik sangat baik, duduklah aku akan memesan makanan untuk Adikku tersayang"
"Adik?"
deg
Meskipun Arie tahu kemungkinan besar itu ada, bagaikan petir di hujan yang lebat, meskipun kau tahu itu akan terjadi namun itu tetap akan mengejutkan, Arie mematung masih mencoba mencerna apa yang dia rasakan, bahagia, terharu, marah, atau apa.
Nana menarik tangan Arie lembut, membawanya duduk di antara Arow dan dirinya.
__ADS_1
"kau benar-benar adikku," Arow mengenggam erat tangan Arie, Arie tersadar dari lamunannya saat Arow meremas erat jari jarinya. Arie menoleh ke wajah tampan Kakak laki lakinya yang sudah berkaca-kaca.
"aku benar-benar, Adikmu, Aku sungguh punya keluarga" air matanya mulai menetes perlahan, Nana merengkuh bahu Arie, mengelus lengannya perlahan, Nana tak kuasa menahan air matanya.
"ya kami keluarga mu," tegasnya lagi , sambil menyodorkan kertas di hadapan Arie.
Air mata Arie semakin mengalir deras, dia tak sendiri sekarang ada Kakak dan kakak iparnya, dia punya seseorang untuk di panggil Kakak. Arie menatap kertas itu lekat, kertas yang menunjukkan bahwa dia mempunyai orang yang bisa dia sebut saudara.
"Ayah akan sangat bahagia kalau tau kau masih hidup"
Deg.
Arie melepaskan tangannya dari genggaman Arow, bunga mawar yang mekar di hatinya seketika kering, Arie mengusap Air mata di pipinya dengan kasar, hatinya terluka, ya dia hanyalah cucu yang tak di anggap sepadan oleh keluarganya, hingga Ayahnya sendiri pun tak tahu keberadaannya.
"ada apa" Arow merasakan perubahan di tatapan mata Arie yang sembab.
"tidak Tuan, tidak ada apa apa"
"Tuan?, Arie aku kakakmu, kenapa kau memanggilku seperti itu"
"maaf, saya hanya menempatkan diri saya sesuai dengan derajat saya Tuan" Arie dengan sengaja menekankan kata Tuan saat dia bicara.
"apa maksudmu" Arow merasa bingung, namun Nana memberikan isyarat untuk tenang dengan matanya.
"Arie sayang, aku tahu semua ini tidak mudah bagimu, tak mudah bagimu untuk memaafkan yang telah terjadi," ucap Nana dengan penuh kelembutan.
"tapi sayang, aku harap kau akan bisa membuka sedikit hatimu untuk kami," Arie menatap Nana dengan sendu, wanita yang begitu lembut bicara dengannya.
"beri aku waktu kak" lirih Arie, Arow tersadar luka yang di torehkan oleh neneknya begitu dalam untuk Arie, bayi merah yang tak bersalah menjadi sasaran ke egoisan keluarganya, yang seharusnya saling melindungi dan mengasihi.
"maaf,"lirih Arow.
"aku tak bisa memutar waktu untuk mengubah semuanya, tapi aku akan berusaha menjadi Kakak yang baik untuk mu ke depannya, percayalah," Arow mengenggam erat tangan Arie.
"beri aku waktu" ulang Arie.
"tentu, tapi aku harap kau masih mau bertemu dengan kami" ucap Arie penuh harap.
"tentu, aku mau pulang sekarang"Arie bangkit dari duduknya.
"Arie, bolehkah aku memelukmu"
__ADS_1
Arie tak menjawab, dia merentangkan kedua tangannya, Arow tersenyum segera meraih Arie dalam pelukannya. pelukan yang begitu hangat.
Adikku sayang maafkan aku, aku berjanji akan selalu menjagamu, maafkan kakak, lirih Arow dalam hati, hanya air matanya yang bicara. Nana pun tak bisa membendung air matanya.