
Siska baru saja pulang dari club. Di tengah perjalanan, dia melihat seorang yang sedang berjongkok di tepi sebuah mobil. Lampu jalan yang tidak begitu terang membuat Siska tak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas.
Siska memutuskan untuk menepikan motornya. Tanpa melepaskan helmnya Siska turun dari motor dan mendekati pria itu.
"Mobilnya kenapa Mas," tanya Siska.
"Kayak ya bocor nih. mana ga bawa ban serep lagi." Pria itu menjawab tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya, dia terus saja menunduk sambil menekan nekan ban mobilnya.
"Bocor
ya. saya bisa bantu hubungi bengkel langganan saya mas. kalau Mas mau?" Siska mencoba menawarkan dirinya untuk membantu.
"Boleh Mba--
Ucapan Tama terhenti saat dia menoleh ke arah lawan bicaranya. Begitu pula Siska, wanita itu mundur selangkah saat netra keduanya bertemu. Siska membalikkan badannya. Namun saat ia akan melangkah pergi tangannya di cekal oleh Tama.
"Tunggu, apa kau sengaja menghindari dariku." kata kata itu lolos begitu saja saat melihat wajah seseorang yang ada di hadapannya.
Siska bergeming. Perlahan Tama bangun dari posisi awalnya. Dokter muda itu semakin mempererat tangannya saat Siska mulai mengambil langkah lagi.
"Apa kau dengar apa yang aku katakan? apa kau menghindar dariku? Siska Amalia!" Ulang Tama dengan meninggikan suaranya.
Tama merasa marah saat Siska hilang begitu saja setelah pertemuan mereka di club. Bahkan saat Naoki keluar dari rumah sakit, hanya pengasuh Naoki yang menjemputnya. Tama ingin menemui Siska di rumahnya, tapi rasa gengsi masih menahannya.
"Untuk apa saya melakukan itu, lagi pula saya tidak ada urusan lagi dengan Anda," Siska membalikkan badannya dan mengucapkan semua itu tepat di depan wajah Tama.
"Kau masih istriku ingat itu!" gemas rasanya mendengar ucapan Siska yang mengatakan tak mempunyai urusan dengannya.
"Hahahaha... istri, dua bulan lagi kita tidak akan punya hubungan itu. Bukankah Anda malu mempunyai istri seperti saya." Sindir Siska dengan tawanya.
"Maaf," lirih Tama.
Siska hanya mengeryitkan keningnya, mendengar permintaan maaf dari Tama.
"Anda tidak perlu minta maaf, saya tidak pantas untuk menerima maaf dari Anda."
Siska menghempaskan tangannya, mencoba melepaskan genggaman tangan Tama. Tapi tenaganya kalah kuat.
"Dengarkan aku, aku benar benar minta maaf. Aku marah saat melihat pria itu menyentuh mu," pekik Tama. Siska membeku.
Hati yang kosong itu sepertinya sudah mulai di tempati oleh janda satu anak itu. Rasa yang tidak di sadari oleh Tama sebelum Siska menghindar darinya. Terlalu cepat mungkin, tapi Tama ingin memulai lembaran baru. Mencoba mengisi hatinya dengan nama yang kini akan menjadi prioritas dalam hidupnya.
__ADS_1
"Jangan bercanda, Tuan." Wanita itu menatap tajam pada Tama, mencoba cari kebohongan tapi Siska hanya melihat sorot mata yang lembut dan tulis dari Tama.
"Aku tidak bercanda, kita mulai semuanya dari awal, ok." Tama meraih tangan Siska mengenggamnya dengan lembut.
Jantung Siska cenat cenut mendapatkan perlakuan seperti itu dari Tama. Tapi ada keraguan di hati janda beranak satu itu. Tak semudah itu baginya untuk memberikan hatinya lagi. Trauma akan penghianat di masa lalunya, membuat Siska takut.
"Tapi Mas, apa Tama ga malu punya istri seorang janda seperti saya," tanya Siska lirih sambil menundukkan wajahnya. Tama tersenyum tipis melihat wajah manis Siska yang tertunduk.
Tama melepaskan genggaman tangannya. Ujung mata Siska mengekor saat tautan jari kekar itu terlepas dari tangannya. Kini kedua tangan itu menariknya dengan lembut, membuat Siska masuk dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu apa adanya," bisik Tama lembut, entah benar atau salah Tama hanya mengikuti kata hatinya, dia tidak ingin lagi melepas Siska.
Air mata Siska menetes dengan anggun membasahi pipinya yang mulus. Siska membalas pelukan Tama dengan erat. Bisakah aku percaya padamu, batin Siska.
Tama melonggarkan pelukannya.
"Jangan menangis, nanti cantiknya hilang lho," ujar Tama sambil mengisap lembut pipi istrinya yang basah. Siska memukul dada Tama yang tersenyum mengejeknya.
"Trus gimana nih, nasib mobilku?" tanya Tama.
"Mas Tama lepas Siska dulu." jawab Siska lirih.
"Eh iya lupa." Tama pun melepaskan pelukannya.
"Emang bener bisa ke sini, kan udah tengah malem gini?"
"Bisa kok, bengkelnya buka 24 jam."
Mulut Tama pun membentuk huruf O sempurna.
Setelah menunggu beberapa saat, seorang lelaki bertubuh gempal datang mengendarai sepeda motor. Pria itu menepikan motornya lalu turun dan berjalan mendekati Siska.
"Ini Mba Mobilnya?" tanya pria itu.
"Iya Mas Ali, coba Mas periksa." jawab Siska dengan tersenyum.
Pria itu segera mengecek ban mobil milik Tama.
"Iya Mba bocor nih, tapi ga bisa sekarang selesai. Besok pagi gimana? soalnya kerjaan di bengkel lagi numpuk."
Siska melihat ke arah Tama.
__ADS_1
"Iya Bang, ga usah terburu-buru. besok kalau sudah selesai tolong anterin ke rumah istri saya," jawab Tama. Jawaban yang membuat Siska melongo.
"Siap Mas!"
"Ini kunci mobil saya, saya mau pulang, terima kasih," ujar Tama, pria gempal itu pun menjawab dengan anggukan.
"Ayo sayang kita pulang. Tama meraih pinggang Siska dan mengiringinya berjalan ke arah motor Siska terparkir.
"Mas Tama, apa apa sih malu," ujar Siska dengan wajahnya yang tersipu malu.
"Kamu bonceng ya, aku ga bisa bawa motor," ujar Tama tanpa memperdulikan omelan Siska.
Siska pun hanya bisa menghela nafas. Siska mulai naik di atas motor dan menyalakan mesinnya. Tama pun segera menyusul duduk di belakang Siska. Tangan Tama segera membelit di pinggang ramping istrinya saat sepeda motor itu melaju di atas aspal.
Tama menopangkan dagunya di atas bahu Siska. mendapatkan serangan dadakan seperti ini membuat jantung Siska lomba maraton.
"Mas tolong tangannya di kondisi kan."
"Tapi aku takut jatuh, kan ini pertama kalinya aku di bonceng seperti ini." kilah Tama.
Siska menyerah, Tama tersenyum memperhatikan wajah Siska yang memerah dari kaca spion.
Setelah 20 menit berkendara akhirnya mereka sampai di rumah Siska, tak terlalu besar tapi terlihat nyaman.
"Mas mau minum apa?" tanya Siska saat mereka sudah ada di dalam rumah.
"Ga usah, aku pengen istirahat," Tama menyandarkan tubuhnya di kepala sofa usang yang ada di ruang tamu.
"Mas tidur di dalam saja, ada kamar kosong kok."
Tama mengangguk, ia bangkit dari sofa dan berjalan mengekor pada Siska.
"Maaf ya Mas, seadanya."
"Apanya yang seadanya, ini juga nyaman banget," ucap Tama, diapun menghempaskan tubuhnya di kasur kapas yang sudah keras itu.
Siska pun tersenyum dan menutup pintu kamar. Siska memutuskan untuk membersihkan dirinya sebelum tidur. setelah menyelesaikan ritual mandi, Siska bingung di mana dia akan tidur.
Dia lupa kalau kamarnya sudah ada penghuninya, Naoki dan Bu sari, dan kamar satunya sekarang di tempati oleh Tama. Dengan langkah gontai Siska pun berjalan ke ruang tamu, dan menghempaskan tubuhnya di sofa.
Tama yang merasa haus pun keluar dari kamar untuk mengambil minum. Melihat lampu ruang tamu yang masih menyala, Tama pun melangkah ke sana untuk mematikannya. Tama tersenyum saat mendapati Siska tidur meringkuk di atas sofa.
__ADS_1
Dengan perlahan Tama mengangkat tubuh Siska, kemudian membawanya ke dalam kamar. Dengan lembut Tama membaringkan Siska di atas kasur, kemudian ia pin menyusul berbaring di sampingnya.