Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Sendiri


__ADS_3

Arie membuka matanya, tangannya meraba sisi kasur di sampingnya yang masih kosong, dengan perasaan malas dan kecewa di bangkit dari tidurnya, Arie masih duduk di atas ranjang miliknya, mengambil ponsel di atas nakas di sampingnya, di lihatnya sejenak lalu beralih ke arah pintu.


Hampir tengah malam namun tak ada tanda-tanda kepulangannya suami sipitnya. Arie hanya bisa menghela nafasnya, sudah satu minggu ini Alex selalu pulang larut, Arie selalu memantaunya melalui Chiko, dan memang Alex sedang berkutat di kantor sampai larut malam.


Ceklek.


pintu kamar terbuka seorang pria dengan wajah yang kusut, nampak kelelahan muncul dari balik pintu, Arie segera turun dan berlari kecil menghampirinya. Alex hampir saja terhuyung ke belakang saat Arie memeluknya.


"Hey, aku baru saja datang, aku masih kotor," ujar Alex, dia tak membalas pelukan istrinya. Arie tak mengindahkan ucapan pria itu, Arie malah semakin mempererat pelukannya. Jujur Arie sangat merindukan Aroma tubuh Alex, ingin sekali rasanya Arie terus seperti ini, entah karena kehamilannya atau karena yang lain, hanya dia yang tahu.


Alex pun akhirnya membiarkan Arie terus menempel padanya, sebenarnya Alex pun sama, Dia sangat merindukan istri nakalnya, tapi perkejaannya di kantor sungguh menyita waktunya, belum lagi acara ulang tahun kantor yang akan di adakan sebentar lagi. Alex bukan jenis orang yang bisa menyerahkan semua perkejaannya pada orang lain, selama dia bisa dia akan menghandle semua sendiri.


"Sudah, aku boleh membersihkan diriku sekarang," ucap Alex saat Arie melonggarkan pelukannya.


"Iya, kenapa kau pulang begitu larut, apa kau tidak capek," Arie membantu Alex melepaskan jas yang melekat di tubuh suaminya.


"Ga kok, jangan khawatir aku baik baik saja," Ale mengusap lembut rambut Arie.


"Aku akan menyiapkan air mandi untukmu," Arie bergegas ke kamar mandi, sementara Alex melepas sepatu dan baju yang masih menempel di tubuhnya.

__ADS_1


"Airnya sudah siap," ujar Arie yang baru keluar dari kamar mandi, Alex hanya mengangguk lalu masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, Alex bergegas keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Kau belum tidur," ucap Alex. Arie menggeleng sambil memainkan kakinya naik turun di tepi ranjang.


"Aku tidak bisa tidur,"ucap Arie, mengadahkan wajahnya ke atas.


"Tidurlah ini sudah sangat larut,"Alex menarik tubuh Arie berbaring bersamanya di kasur empuk, Alex yang langsung berlayar ke pulau kapuk sedangkan Arie masih terjaga, menikmati pelukan hangat tangan kekar Tuan sipit.


Sang Surya mulai menunaikan tugasnya, mata yang lentik mulai mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui sela tirai jendela kaca besar di, Tubuh Arie terasa ringan, tak terasa lagi lilitan tangan besar yang biasa menindih tubuhnya, inilah keseharian bang sipit pergi pagi pulang hampir pagi, sudah mirip lagu band wali.


"Janinnya sehat, air ketubannya juga cukup," ujar seorang dokter yang tengah melakukan USG pada Arie. Arie tersenyum melihat gambar buah hatinya di layar.


"Tapi saya sarankan, Anda untuk beristirahat dengan cukup, dan jangan stress, mengingat berat badan Nyonya yang turun 3 kilo, apa ada sesuatu yang menganggu fikiran Anda nyonya?," tanya dokter paruh baya itu, mungkin sebagai sesama wanita dia merasakan sesuatu dari Arie.


"Tidak Dok, saya hanya sering terbangun di saat tengah malam dan sulit untuk tidur lagi," ucap Arie dengan senyum yang dipaksakan.


"Jangan terlalu memikirkan sesuatu, jika ada yang mengganjal pikiran Anda lebih baik tanyakan dengan jelas, agar tidak menjadi beban," Ucap sang Dokter, seakan bisa membaca perasaan pasiennya.

__ADS_1


"Apakah hari ini Anda datang sendiri?,"


"Iya, Suami saya sedang sangat sibuk, saya tidak ingin menganggu pekerjaannya," ucap Arie sambil perlahan turun dari brankar.


"Ini resep vitamin untuk Anda, silahkan di ambil di bagian Farmasi," Arie menerima secarik kertas dari tangan Dokter itu.


"Terima kasih,"


Arie berjalan keluar lalu berjalan menyusuri lorong ke arah bagian Farmasi, sambil menunggu gilirannya di panggil, Arie duduk di kursi ruang tunggu, tak sengaja dia matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal. Arie segera bangkit dari duduknya, mengejar bayangan yang baru saja berlalu di salah satu lorong.


Apa itu Dia?, pasti bukan, untuk apa Dia disini?, apa Dia sakit?. Arie terus bergumam dalam hatinya, langkahnya bertambah cepat saat sosok itu berbelok begitu saja.


"Kemana Dia," Arie dengan langkah lebar menyusuri lorong ruang rawat, tangannya meremas tali selempang tas yang ia pakai, harap harap cemas, berharap mata yang salah.


langkahnya terhenti saat sebuah suara masuk ke gendang telinganya. dia mundur beberapa langkah untuk memastikannya, matanya membulat saat melihat wajah yang ia kenal lewat pintu yang tak tertutup sempurna.


"Maaf, Aku merepotkan mu," ujar seorang wanita yang bersandar di bantal yang di tata di belakang tubuhnya.


"Hemn.. tidak apa apa," ujar seorang pria yang dudu di samping brankar, sambil mengupas sebuah apel di tangannya, memotongnya kecil, cukup untuk satu suapan.

__ADS_1


"Terima kasih, kau selalu ada di saat aku butuhkan," kini tangan wanita itu mengenggam erat jemari sang pria. Pria itu tersenyum manis dan mengangguk.


__ADS_2