
Dalam sebuah ruangan kantor yang cukup luas, ber-AC, dengan sofa yang empuk dan nyaman untuk di duduki, serta sebuah ruangan lain di balik dinding, ruangan yang terdapat kasur yang nyaman, sebuah lemari baju dan kamar mandi. Kembali ke ruang kerja, seorang wanita yang duduk di sebelah pria yang sedang berkutat dengan perkejaannya , sementara wanita cantik itu terus menghela nafasnya.
"Kau kenapa?" Ucap Alex tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Aku sangat boooosaaan" Arie mengerakkan kepalanya ke ke kanan dan ke kiri, dengan dagunya yang menempel di meja.
Ini sudah minggu ke dua Arie ikut ke kantor, tiap Alex kerja dia harus ikut kemanapun suami sipitnya itu melangkah, kecuali kamar mandi, alasannya tak lain dan tak bukan adalah kehamilan Arie, Alex yang mengalami kehamilan simpatik, akan merasakan mual dan muntah berkepanjangan saat jauh dari istrinya, sedangkan Arie sendiri tak merasakan sesuatu yang berarti dengan kehamilannya, hanya moodnya yang sering berubah dan sesekali ingin memakan makanan tertentu.
"Alex, besok aku di rumah saja ya, aku bosan di sini" ujar Arie mengadahkan wajahnya, melihat Alex yang masih serius dengan laptop di depannya.
"Tidak bisa, kau harus ikut, bagaimana aku bisa jauh darimu" ucap Alex lagi lagi tanpa menatap lawan bicaranya, masih fokus dengan layar datar dan jarinya yang terus menari di atas papan keyboard.
Arie memutar matanya malas, kalau orang lain mendengar ucapan Alex, mungkin mereka akan mengira Alex sangat mencintainya hingga tak ingin jauh dari istrinya, tapi kenyataannya Arie hanya di jadikan obat anti mual oleh suaminya.
"Aku mau pulang, aku bosan" Arie bangkit dari kursi besar yang di sediakan oleh Alex tepat di sampingnya.
"Pulang, pulang, enak aja , ga boleh, cepat duduk" Alex mencengkeram erat pergelangan tangan Arie. Menariknya hingga Arie jatuh ke pangkuan Alex, segera tangan kekar itu membelit di pinggang ramping Arie, dan mulai mengendus leher jenjang istrinya, hari ini rambut lurus Arie di kuncir tinggi, membuat Alex leluasa menjelajahi leher istrinya.
"Sudah hentikan, geli" Arie mengeliat saat Alex mulai menyesap kulitnya, nafas hangat berhembus di belakang telinga Arie membuatnya meremang.
Kalau begini terus, akunya bisa ga kuat, iisshh, gumam Arie dalam hati.
"Alex berhenti, atau aku akan..emmh," Arie mulai mengatupkan bibirnya, menahan suaranya, saat tangan Alex mulai traveling di balik kaos yang di pakainya.
Tangan Alex mulai nakal merambat ke segala arah, memainkan aset kesukaannya, di tambah bibir Alex yang terus menjelajah di leher Arie, membuat bumil itu mengeliat, mendongakkan kepalanya merasakan desiran hebat dalam tubuhnya, Arie mengigit bibir bawahnya, menahan suara yang hendak muncul dari kerongkongannya. Arie berusaha sadar dimana mereka berada, namun serangan Alex yang bertubi-tubi, membuat Arie tak tau sampai kapan dia bisa bertahan.
"Woi..woi, Stop, bisa ga bedain kantor sama kamar" ucap seorang pria yang baru saja masuk. dan di suguhi pemandangan yang membuat matanya sakit.
Alex mendongak Wajahnya, mendecak kesal, sementara wajah Arie merah padam, sungguh memalukan di lihat orang lain saat seperti ini, seperti maling Ayam yang kepergok warga, Arie buru buru turun dari pangkuan Alex. Tapi apa daya tangan kekar Tuan sipit itu tak melepaskan pelukannya, malah semakin erat, alhasil Arie hanya bisa duduk anteng di pangkuan sang suami menunduk malu, sambil mencubit gemas paha Alex.
"Kenapa Lex" tanya Daniel yang melihat wajah Alex yang meringis kesakitan.
"Kepo aja," ketus Alex.
"Bisa ga sopan dikit, kalau masuk ketuk pintu dulu" imbuh Alex dengan kepala yang bersandar di bahu Arie.
__ADS_1
"Biasanya juga ngga kan, Kalau mau iya iya liat sikon dong, jangan bikin mata jomblo ku sakit" ujar Daniel sambil duduk di kursi.
"Terserah, apa yang membuatmu kemari,"
"Seperti biasa masalah kantor, dan aku ingin berkenalan dengan istrimu," Daniel mengerlingkan matanya nakal.
"Hallo.. Nyonya, aku Daniel sahabat terbaik dari suamimu" Daniel mengulurkan tangannya, Arie mendongakkan wajahnya menatap Daniel, Arie pun mengulurkan tangannya menyambut tangan Daniel.
"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Arie" ucap Arie dengan senyum manisnya.
"Hmmm.. wanita yang rendah hati, Alex beruntung mendapatkan mu," ucap Daniel, wajah Arie bersemu merah mendengar ucapan Daniel.
"Ah tidak, biasa saja"
Pukk
Alex menepuk dua tangan yang saling bertaut, hingga membuat kedua tangan itu terlepas, tatapan tajam di dapatkan Daniel.
"Ciih.. dasar bucin," lirih Daniel hampir tak terdengar, sambil mengelus punggung tangannya.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun, aku mau membicarakan soal yang kemarin, bagaimana?,"
Alex melepaskan pelukan, lalu mengisyaratkan Arie untuk duduk di sofa, Arie menurut, melangkah kakinya ke arah sofa panjang hitam yang berada di ruangan itu, Arie yang bosan mendengar urusan bisnis yang di bahas suami dan rekan kerjanya, hanya bisa memasang headset dan mendengarkan lagu, yang mulai mengantarkannya berlayar ke pulau kapuk. Melihat Arie yang terlelap Daniel mulai membicarakan niat terselubungnya.
"Lex sebenernya aku bukan mau bahas masalah ini sama kamu," ujar Daniel sambil meletakkan berkas yang tadi di bacanya.
"Terus apa, bukannya tadi kamu sendiri yang bilang kesepakatan yang kita buat, tidak menguntungkan mu" ucap Lex mengerutkan keningnya.
"Ck.. itu hanya alasanku, aku ga pernah meragukan kemampuan mu dalam berbisnis, dan selama ini perusahaan kita berkerja sama dengan baik,"ujar Daniel, sambil melipat kedua tangannya.
"Terus apa maksudmu, apa yang ingin kau bicarakan"
"Vivian"
Mata Alex membulat sempurna saat mendengar nama itu, terkejut, tentu nama yang lama hilang dari hidupnya, nama yang membuatnya berkerja keras untuk belajar amnesia.
__ADS_1
"Ada apa dengannya" ucap Alex dingin, suhu di dalam ruangan itu terasa semakin dingin, walaupun tak ada yang mengutak-atik remote AC.
"Dia ada di kota ini, sepertinya dia akan lama disini"
"Tak ada hubungannya denganku," ketus Alex.
"Aku tau, aku hanya mengingatkan, ada seseorang yang harus kau jaga," ujar Daniel sambil melirik ke arah Arie yang tertidur meringkuk di sofa.
"Aku tau"
"Aku rasa, Vivian akan segera menemui mu," ujar Daniel sambil bangkit dari duduknya.
"Aku harap kau tidak berbuat sesuatu yang kau sesali," imbuh Daniel sebelum berlalu di balik pintu.
Alex menghempaskan tubuhnya di kursi, mengambil nafas dalam lalu perlahan menghembuskannya.
Flashback on.
Seorang laki laki bersimpuh di hadapan seorang gadis jelita, sambil membawa sebuket besar mawar dengan satu cincin di tangan satunya.
"Vivi, mau kah kau menikah denganku" ucap Alex dengan percaya diri.
Alex dan Vivian sudah lama menjalin kasih, mereka berpacaran sejak hari pertama masuk kuliah, di semester akhir sebelum mereka lulus, Alex memutuskan untuk melamar kekasihnya, di tepi danau kampus.
"Terima, terima" sorak beberapa teman yang berdiri melingkar di sekitar mereka.
"Maaf, aku ga bisa" ucap gadis itu, laki melangkah meninggalkan kerumunan.
perlahan bibir Alex melengkung ke bawah, semua orang yang bersorak perlahan pergi meninggalkan pria itu sendiri, tak ada yang menyangka akan penolakan yang di terima Alex, karena Alex dan Vivian selalu terlihat mesra dan bahagia.
"Alex," Daniel menepuk pundak temannya yang membeku, Alex pun tersadar dan berlari mengejar Vivian.
Alex mencari ke seluruh kampus, berkali kali dia menelfon dan mengirim ribuan pesan pada kekasihnya, namu tak satupun yang di balas, keesokan harinya Alex mendapatkan kabar kali Vivian pindah ke luar negeri.
Flashback off.
__ADS_1
Alex beranjak dari kursinya, dia mendekati Arie, lalu duduk di sebelah istrinya yang sedang tertidur lelap, pikiran Alex masih menerawang, apa yang akan dia lakukan jika Vivian menemuinya, Alex mengusap lembut rambut Arie, lalu mengecupnya perlahan dengan hati yang masih berkecamuk.