Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Mencuri waktu


__ADS_3

Waktu terus bergulir, hampir tiga minggu lamanya Adinata dan keluarganya tinggal di rumah kecil itu. Rumah yang berisikan kenangan manis Adinata bersama cintanya, tetapi bagi Puspa rumah itu adalah bukti kejahatannya.


Kesehatan Adinata semakin menurun, ia selalu teringat akan istri dan anak bungsunya Arie. Kini Arow berkerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil. Gajinya tidak besar, mungkin hanya akan cukup untuk menyambung hidup. Apa lagi sang ayang yang sakit dan memerlukan pengobatan membuat bebannya bertambah.


Adinata berselonjor di kamarnya yang sempit, kamar yang dulu ia tempati bersama Anjar saat menjadi istrinya. Wanita cantik itu selalu senang saat mereka berlibur ke rumah tua itu. Katanya di rumah tua ia merasa jauh lebih bahagia daripada di rumah besar. Dulu Adinata tidak mengerti maksud dari istrinya. Tapi sekarang ia sangat mengerti dan menyesal karena terlambat memahaminya.


Di rumah besar yang penuh dengan kenyamanan dan fasilitas, hidup Anjar tertekan. Ia di perlakukan seperti pembantu oleh ibunya tanpa sepengetahuan Adinata.


Mata pria paruh baya itu menatap jauh dengan sendu, wajahnya terlihat pucat.


"Maafkan aku Anjar, aku bahkan tidak bisa melindungi anak kita dari ibu. Maafkan aku." Adinata menunduk air matanya kembali jatuh.


Sementara di dapur. Puspa melemparkan sendoknya ke lantai.


"Apa yang kau beli, kau menyuruh nenekmu untuk makan makanan sampah ini!" Puspa berteriak kepada sang cucu yang sedang menyiapkan lontong sayur yang baru saja di belinya untuk sarapan.


Arow memilih untuk tidak mendengarnya. Setelah selesai menyiapkan lontong sayur di atas piring dia pun berlalu menuju kamar sang ayah.


"Hey cucu bodoh, kau tuli ya. Belikan aku makanan yang benar. Hei... Arow!!" pekik Puspa.


Wanita tua itu semakin geram, karena Arow sama sekali tidak menggubrisnya. Sejak malam itu, semua berbeda. Dunia Puspa jungkir balik kembali ke asalnya. Dia bukan lagi nyonya. Sekarang ia harus hidup seadanya. Marah, Puspa mengebrak meja.


Tangan keriputnya memungut kembali sendok yang di buangnya, lalu mencucinya di ember. Setelah di rasa bersih ia pun kembali duduk dan memakan lontong sayur yang di beli cucunya. Walau kesal ia harus makan, dia harus punya cukup energi untuk membalaskan dendamnya.


Arow mendorong pintu kamar ayahnya dengan siku, karena kedua tangannya membawa sarapan untuk mereka berdua.


"Ayah makanlah dulu, setelah itu minum obat ya," ucap Arow sambil menyodorkan sepiring lontong sayur pada Ayahnya.


Adinata tersenyum kecil. Arow mendudukkan dirinya di sebelah ayahnya dan mulai menyantap sarapan miliknya.


"Apa kau akan bertemu Nana lagi hari ini?" tanya Adinata lirih.


"Iya ayah, aku belum bisa membawa Nana dan Byaz kemari. Kami masih bertemu secara diam diam, karena Bapak belum memberikan izinnya." Arow menyuapkan lontong ke dalam mulutnya.


"Sampaikan salam ayah, dan kalau bisa tolong ayah agar bisa menemui Adikmu," punya Adinata penuh harap.


"Akan aku usahakan, tapi aku tidak bisa janji yah." Arow meletakkan piringnya yang telah kosong.


"Apa Ayah mau aku suapi?" tanya Arow saat melihat piring ayahnya yang masih penuh. Adinata menggeleng.


"Cepat bersiap dan temui istri dan anakmu,"


ucap Adinata. Arow pun mengangguk dengan semangat lalu bangkit dari duduknya.


Arow kembali ke dapur untuk mencuci piring kotornya. Ia tidak melihat lagi sang nenek, hanya ada piring kosong bekas makannya. Arow pun tidak begitu perduli. Marah, kesal dan kecewa itu yang Arow rasakan pada sang nenek.

__ADS_1


Setelah mencuci bekas makannya, Arow pun pergi ke kamarnya untuk bersiap. Memakai kaos polos dengan celana jeans membuat Arow tampak kece, walaupun dalam kesederhanaan Arow masih belum kehilangan pesonanya.


Setelah berpamitan dengan sang ayah, Arow pun berjalan keluar rumah. Ternyata sang nenek menunggunya di dekat mobilnya. Sebuah sedan lawas, bukan lagi mobil mewah seperti yang ia pakai terakhir kali, saat mereka pertama sampai di rumah ini.


Arow sudah menjualnya, uangnya ia gunakan untuk membeli mobil sedan lawas ini dan sisanya ia gunakan untuk hidup keluarganya, setidaknya akan cukup sampai ia dapat gaji pertamanya.


Arow mengerutkan keningnya, saat melihat sang nenek. Arow berjalan mendekat. Sang nenek menoleh ke arahnya.


"Ada apa nek, apa perlu sesuatu?" tanya Arow dengan ketus.


"Nenek hanya ingin kau menemui Adikmu, nenek ingin minta maaf. Nenek tau nenek bersalah, tapi sekarang aku sudah sadar Arie juga cucuku. Aku ingin hidup tenang nak, aku tidak ingin di bayangin dosa di masa tuaku. Tolong, kau bisakan," Puspa berkata dengan wajahnya yang seolah menyesal, sangat menyesal.


Arow diam, dua mencoba menimang kebenaran dari apa yang di ucapkan oleh neneknya. Haruskah ia percaya lagi.


"Nenek tau, kau tidak akan percaya. tapi aku juga manusia nak. Aku di buat silau oleh harta tapi sekarang aku sudah sadar keluarga adalah segalanya. Aku tidak berharap suami Adikmu akan mengembalikan semua harta kita. Nenek hanya ingin minta maaf," ucap Puspa sendu.


Wanita tua itu menundukkan kepalanya, setitik air bening jatuh di pipinya yang kisut.


Arow menghela nafasnya.


"Baiklah Nek, akan aku coba. Ayah juga sangat merindukan Arie. Aku harap semua yang nenek katakan itu benar."


"Tentu cucuku, nenekmu ini benar benar ingin menebus dosanya." Puspa mengenggam erat tangan cucunya. Arow mengangguk kecil, ia berharap kali ini neneknya benar benar sadar.


"Aku harus pergi nek," pamit Arow. Puspa melepaskan genggamannya.


Setelah cukup lama berkendara Arow pun sampai di sebuah hotel pinggir kota. Hotel kecil dengan fasilitas seadanya. Pria itu memarkirkan mobilnya di dalam.


Ia pun segera menuju kamar lobby hotel untuk memesan kamar. Arow duduk di lobby sambil menunggu kedatangan sang istri. Tidak begitu lama sebuah taksi berhenti di depan hotel, seorang wanita cantik turun dengan mengendong putranya.


Arow segera berdiri dan menyambut kedatangan sang istri. Arow mengecup lembut kening istrinya, lalu mengambil Byaz yang tertidur pulas dari gendongan sang istri. Mereka berdua pun memasuki hotel dan melangkah menuju kamar ya g telah Arow pesan.


Kamar itu tidak begitu besar. Ada dua ranjang di sana, Arow membaringkan tubuh mungil Byaz di atas kasur. Bayi itu terlihat sangat pulang, ia tak terganggu meskipun sang ayah mengecupnya pipinya berkali kali


Nana tersenyum melihat tingkah sang suami yang begitu gemas dengan bayi mereka. Setelah puas menciumi wajah anaknya, sekarang Arie beralih pada sang istri. Ia mendekati Nana yang duduk di tepi ranjang yang kosong.


"Aku merindukanmu sayang," ujar Arow sambil memeluk erat tubuh sang istri. Nana pun membalasnya.


"Aku juga, aku tidak mau kembali ke rumah Bapak. Aku ingin terus bersamamu." Nana mengusap wajahnya di perut sang suami yang memeluk sambil berdiri.


Nana begitu merindukan sosok hangat sang suami. Ia begitu tersiksa jauh dari belahan jiwanya. Begitu pula Arow, ia harus menghadapi semuanya tanpa adanya Nana di sisinya, bukanlah hal mudah.


Air mata wanita cantik itu lolos begitu saja, menumpahkan rasa rindu yang selama ini membuat sesak dan sulit untuk bernafas. Arow melonggarkan pelukannya, mengecup dua mata yang berlinang air mata.


"Jangan menangis, hatiku sakit melihatnya."

__ADS_1


Arow membopong tubuh sang istri ke atas ranjang. Ia mengungkung tubuh kecil itu, mengecup lembut bibir yang sangat ia rindukan. Lembut dan perlahan, saling menyesap menyalurkan rasa cinta yang begitu besar.


Nana mengalungkan tangannya di leher Arow, memperdalam ciuman mereka. Hasr*t sudah mengelayar di tubuh keduanya. Arow mulai turun dan mencicipi dada sang istri yang semakin berisi. Sebuah len*uhan kecil lolos dari bibir Nana, membuat Arow semakin ingin.


"Sudah bolehkah?"


Nana mengangguk kecil, ia sudah menyelesaikan masa nifasnya dua Minggu yang lalu. Jujur ia pun sangat menginginkan sentuhan sang suami.


Arow tersenyum, ia pun kembali mel*mat bibir sang istri, tangan pun aktif melepaskan baju yang Nana pakai. dengan satu tarikan dress yang di pakai istrinya pun lolos, menyisakan penutup inti saja. Tak menunggu lama penutup itupun teronggok di lantai. Arow menarik dirinya melepaskan apa yang melekat di tubuhnya.


kini keduanya sama-sama polos. Dengan perlahan Arow memasuki goa rimba sang istri. Nana mele*guh saat sosis berurat itu mulai masuk dan memenuhi dirinya.


Arow mulai memompa, mengerakkan pinggulnya dengan cepat. Nana meremas rambut sang suami yang sedang memainkan ujung dadanya.


"Sayang... Aku emmh," ucap Nana saat dia sudah mencapai puncaknya.


"Sebentar lagi." Arow memompa semakin cepat. Nana meng*rang merasakan intinya berkedut.


Saat yang sama Arow pun menegang dan mengeluarkan semua lavanya ke dalam rahim sang istri. Nafas kedua terengah-engah. Arow mengecup kening istrinya.


"Terima kasih sayang," ucap Arie sebelum mencabut miliknya, dan berbaring di samping Nana. wanita itu hanya tersenyum kecil lalu meringsekan tubuhnya di pelukan sang suami.


"Untung Byaz nggak bangun ya," kata Arow kemudian tertawa.


"Mungkin dia tau kalau papanya lagi kangen."


"Papa aja yang kangen, Mama nggak kangen?"


"Nggak kangen, tapi rindu," ucap Nan dengan senyum menggoda.


Arow tertawa lepas, ia sungguh merindukan saat-saat seperti ini bersama sang istri. Meskipun merasa tidak lagi berada di rumah mewah. Hotel yang mereka sewa pun hanya tempat biasa. Catnya pudar plafonnya retak dan hanya ada kipas angin yang menyegarkan mereka.


"Maaf ya, uangku hanya cukup untuk tempat seperti ini."


"Dimana pun asal bersamamu, aku bahagia," sahut Nana sambil mempererat pelukannya.


"Sayang sampai kapan kita terpisah seperti ini, aku nggak mau lagi berpisah sama kamu," rengek Nana manja.


"Aku juga tidak mau seperti ini, sabar ya sampai aku mendapat pekerjaan yang lebih baik. Aku akan menjemputmu dan Byaz." Arow mengecup pucuk rambut istrinya.


Aku harus bicara dengan Arie, agar dia membujuk suaminya untuk memaafkan ayah, gumam Nana dalam hati.


Keluarga kecil itu pun menghabiskan waktu mereka di kamar hotel itu. Saling melepaskan rindu sebelum mereka berpisah lagi.


__ADS_1


Pada kemana tuh jempol rontoknya 🤭😂😂 Mak dah semangat 45 lho.


Terima kasih untuk untuk yang udah baca dan like dan kasih hadiah. semoga di lancarkan rejekinya 😘


__ADS_2