Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Mulai bertindak


__ADS_3

Hari yang sibuk di kantor. Tuan sipit itu sedari tadi tak mengangkat wajahnya dari atas meja. Tumpukan berkas menunggu di periksa dan di tanda tangani olehnya. Kini perusahaan Albied inc telah resmi berpindah tangan pada Alex sepenuhnya. Membuat Alex lebih sibuk dari biasanya.


Alex menaruh pena yang sedang tadi menari di atas kertas yang memerlukan nama Alex di atasnya. Alex menyatukan kedua tangannya, dan menopangkan dagu di atasnya. Tanpa jelas Tuan sipit itu sedang memikirkan sesuatu yang serius.


"Chiko ke ruangan ku sekarang!" Titah Alex pada asistennya lewat sambungan telepon kantor.


Tak perlu menunggu lama, Chiko pun sudah ada di hadapan Alex. Karena ruangan mereka bersebelahan.


"Ada apa Tuan?" tanya Chiko dengan hati hati, wajah Tuan sipit itu tampak tidak begitu bersahabat sejak datang ke kantor pagi ini.


"Batalkan semua kerjasama kita dengan SS Grup sekarang," ucap Alex datar. namun matanya menyorongkan rasa tidak senang saat mengucapkan nama perusahaan yang di jalankan oleh keluarga kakak iparnya itu.


"Tapi Tuan, bukankah kita mendapatkan ke untungnya yang cukup besar dari kerjasama kita dengan SS Grup?" Chiko merasa janggal dengan perintah Tuannya kali ini.


"Kerjakan saja perintahku, dan berikan saham itu pada saingan bisnis mereka," ucap Alex dengan smirk di wajahnya.


"Apa Tuan benar benar yakin dengan keputusan ini?" ulang Chiko dengan mode keppo darurat.


"Cepat kerjakan, atau kau mau aku cabut juga dan aku jadi OB, heh."


"Tidak Tuan, baiklah saya akan segera mengerjakannya." ujar Chiko dengan sedikit membungkukkan badannya, lalu melangkah pergi keluar.


Meski dengan gamang Chiko melaksanakan perintah dari atasannya, ia yakin Alex sudah memikirkan apa yang di lakukannya.


Alex melirik ponsel Arie yang terus bergetar di meja kerjanya, tak ada niat sedikit pun untuk Alex memeriksa pesan atau telepon yang masuk. Sejak hari di mana Alex mengetahui sikap Nenek Arie kepada istrinya. Ia pun dengan sengaja memutus akses mereka terhadap Arie.

__ADS_1


"Tidak boleh ada satupun orang yang boleh menyakiti istri kesayangan ku," ujar Alex geram, sambil mengepalkan tangannya.


*****


Arow. Papa baru itu sedan menikmati sinar matahari pagi bersama bayi mungilnya. Pria itu duduk berselonjor di sebuah kursi santai, meletakkan Abyaz di antara pahanya. Bayi itu terlihat sangat nyaman, sesekali dia mengeliat karena tangan jahil Arow yang terus menoel pipinya yang gembul.


Sementara sang istri duduk di sampingnya, bersandar di bahu Arow. Dengan wajahnya yang kesal karena telfon dan pesan yang dia kirim untuk adik iparnya tak mendapatkan respon apapun.Nana menghela nafasnya, ia menyerah dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


Arow sedikit menunduk kepalanya, mengecup lembut pucuk rambut istrinya. sungguh pemandangan yang sangat manis. Sebuah keluarga kecil yang sempurna.


Drrrt.. Drrrt..


Arow mengambil ponsel dalam sakunya yang bergetar. Ia mengeryitkan keningnya saat melihat nama sekertarisnya yang tertera di layar.


"Ha--lo Tuan," jawab seorang pria dengan tergagap.


"Cepat katakan ada apa?" tanya Arow yang dapat menangkap sesuatu yang tidak beres


"Albied, membatalkan semua kerjasamanya dengan kita Tuan."


"Apa!" pekik Arow membuat bayi di pangkuannya terjingkat bangun dan menangis kencang.


Nana langsung mengambil Abyaz dari pangkuan suaminya. Ibu muda itu mengayunkan baby Byaz dengan perlahan untuk menenangkannya. Byaz kembali tenang dan perlahan memejamkan matanya. Nana beralih melihat wajah Arow terlihat tegang dan bingung.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang serius di kantor?" Nana bertanya dengan suara yang lembut, wanita itu bisa merasakan kegelisahan Arow.

__ADS_1


"Hanya masalah kantor," kilah Arie. Ia tidak ingin Nana ikut merasa khawatir dengan apa yang terjadi.


Arow bangkit dari duduknya, dengan lembut


ia mengecup kening istrinya.


"Sepertinya aku harus ke kantor sekarang," ujar Arow dengan berat hati.


"Aku akan menyiapkan bajumu," ucap Nana seraya mulai bangkit dari duduknya. Namun, pergerakannya terhenti saat Arow menekan kedua bahunya, membuat Nana kembali duduk.


"Tidak sayang, aku akan menyiapkannya sendiri."


Nana menunduk lemah, ia merasa kecewa pada dirinya karena tidak bisa melayani suaminya seperti biasa. Arie tersenyum kecil melihat wajah istrinya.


Arow mengapit dagu kecil Nana dan mengangkatnya ke atas. Arow mengecup lembut bibir yang masih terlihat pucat tersebut.


"Aku tidak ingin kau terlalu capek, Sayang," tutur Alex dengan tersenyum. Hati Nana terasa hangat mendengar ucapan suaminya.


Arow menunduk mencium pipi gembul putranya yang terlelap.


"Papa pergi kerja dulu, jangan membuat Mamamu lelah, jadilah anak yang baik, ok," Arow bicara seakan bayi itu mengerti apa yang dia ucapkan.


Arow pun bergegas melangkah pergi ke kamarnya, tak butuh waktu lama untuknya bersiap.


Dengan kecepatan tinggi Arow mengendarai mobilnya. Sepanjang perjalanan ia terus berpikir keras tentang keputusan Alex yang dengan tiba-tiba memutuskan semua kontrak kerja mereka.

__ADS_1


__ADS_2