Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Kemenangan pertama


__ADS_3

Rapat Dewan akhirnya di laksanakan. Arow menghirup nafas dalam sebelum memasuki ruang rapat. Alex sudah duduk di siku kanan meja dengan Chiko di sebelah kirinya, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya saat melihat Arow berjalan masuk dengan Haris di belakangnya.


Kakak dan adik ipar itu duduk berseberangan. Ada kilatan amarah saat netra mereka beradu.


"Apa kabarmu kakak tersayang? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Alex dengan penuh penekanan, dengan senyum miring yang jelas mengejek Arow.


"Semua baik, terima kasih sudah bertanya," jawab Arow singkat.


"Sebentar lagi semua tidak akan baik," gumam Alex.


"Apa yang kau katakan?"


"Tidak ada, saya hanya ikut merasa senang kalau semua baik baik saja," ucap Alex sembari tersenyum sinis.


Arow mengepalkan tangannya kuat. Ia merasakan perbedaan sikap adik iparnya itu. Tak ada lagi rasa hormat kepadanya sebagai seorang Kakak, ataupun sebagai rekan bisnis seperti dulu. Sekarang yang duduk di hadapan Arow seperti bukanlah adik iparnya.


Moderator pun mempersilahkan masuk semua pemegang saham SS Grup untuk masuk keruang Rapat.


Para pemegang saham pun mulailah masuk ke dalam ruang rapat dan mengambil tempat duduk mereka masing-masing.


"Selama pagi, saya akan langsung saja memulai rapatnya," ucap Chiko dengan penuh wibawa. sementara Alex asik menatap wajah kakak iparnya yang sudah mulai geram.


"Saya akan memperkenalkan pemimpin SS grup yang baru. Tuan Alex Wang."


Alex pun bangkit dari duduknya dan meraih mikrofon yang ada di mejanya.


"Selamat pa-


"Apa maksudmu pemimpin yang baru!" sentak Arow geram.


Alex hanya tersenyum tipis. Para pemegang saham yang lain pun tak memberi reaksi apapun.


"Kenapa kalian diam saja, apa maksudnya semau ini!" ucap Arow dengan murka.


Ia yang selama ini berjuang membesarkan nama SS Grup. walaupun memang dia bukan pemegang saham terbesar di sana tapai dengan kemampuannya memimpin, Arie di tunjuk sebagai CEO yang memimpin perusahaan itu.


"Tuan Arow, mungkin anda belum tahu." Alex memberikan kode pada moderator untuk menampilkan data yang ada dalam flashdisk yang di bawanya.


"Seperti yang anda lihat. saya adalah pemilik dari delapan puluh lima persen dari SS Group jadi saya rasa anda bisa menyimpulkannya sendiri," ucap Alex dengan senyum miring.


Arow terbelalak melihat semua daftar naman yang telah mengalihkan sahamnya kepada Alex. Hanya dia saja yang masih memiliki saham 15 % sisanya. Ia menatap satu persatu orang yang duduk di meja itu. Semua tampak acuh, dan terkesan menghindar darinya.


"Apa kalian semua sudah gila, Hah!"


Arow merasa marah, kecewa. Kerja kerasnya selama ini seperti debu yang terbang tak berbekas. Semua orang hanya dia tertunduk, kecuali Alex dan asistennya.


"Saya harap tuan tidak membuat keributan di sini. Jangan marah Tuan. Tentu mereka lebih memilih menyerahkan saham mereka, dari pada harus bertahan di perusahaan yang sudah di ambang ke bangkrutnya." Alex melipat kedua tangannya di dadanya.


"Omong kosong, jaga bicaramu!" sentak Arie dengan marah. Ia mengebrak meja, membuat semua orang terjingkat kaget.


Mereka tidak pernah melihat Arow semarah itu.


"Baiklah saya akan memberikan pilihan. Anda bertahan di sini dengan sisa saham yang ada atau.. Anda bisa menjualnya kepada saya seperti tuan tuan ini. Saya jamin, saya akan memberikan harga yang pantas untuk itu."


Arow semakin geram, ia mengepalkan kedua tangannya, tubuhnya sampai gemetar menahan amarahnya. Rasanya ia ingin melayangkan bogem mentah pada suami adiknya itu. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahannya.


"Bedebah kau Alex. Aku adalah Kakak iparmu ingat itu!" sentak Arow. Alex tersenyum lebar penuh kemenangan.


Semua orang terkejut. Mereka melihat ke arah Arow dan Alex secara bergantian. Yang mereka tahu Arow adalah anak tunggal Adinata Sasongko, itu juga alasan mereka memberikan posisi sebagai CEO di SS Group kepadanya. Akan tetapi dia sekarang menyatakan dirinya sebagai kakak ipar dari pemilik Albied. Apa yang sebenarnya terjadi?


Semua orang mulai bergumam, berbisik bisik sambil sesekali melirik ke arah Arie yang berdiri geram. Tak ubahnya seperti emak emak kompleks yang dapat bahan gosip hangat.

__ADS_1


"Kakak ipar? benarkah? setahu saya istri saya adalah seorang yatim piatu."


"Kau-


Arow tidak melanjutkan ucapannya. Dengan kesal ia meninggalkan ruangan itu dengan Haris yang mengekor di belakangnya.


Dengan senyum penuh kemenangan Alex memandang kepergian Kakak iparnya itu.


"Tinggal satu langkah lagi," lirih Alex.


"Untuk semuanya saya ucapkan terima kasih, dan saya harap kerjasama kita berjalan dengan baik ke depannya."


"Selamat pagi."


Alex bangkit dari duduknya, begitu semua orang yang hadir di ruang rapat. Mereka pun menunduk hormat saat Alex mulai berjalan keluar, mereka kembali menegakkan tubuhnya saat Alex dan asistennya sudah keluar dari ruangan itu.


*****


Albied inc.


Alex masih berkutat dengan perkejaannya. Ia semakin sibuk karena harus mengurus perusahaan barunya. Alex sedikit mengerakkan kepalanya, saat lehernya terasa pegal. Alex menoleh saat mendengar suara pintu yang di dorong pelan dari luar.


"Kenapa berdiri di situ saja, masuk," ucap Alex saat melihat istrinya berdiri depan pintu.


Arie pun berjalan mendekat ke arah suaminya. Alex menarik lembut tangan Arie hingga membuatnya terduduk di pangkuan suaminya.


"Tumben?" ucap Alex sambil mengusap lembut perut Arie.


"Lagi pengen aja, ga ganggu kan?"


Alex tersenyum, bukannya menjawab ia makan menunduk dan menciumi perut buncit Arie.


"Halo kesayangan papa? kamu ga nyusahin Mama kan?


Sejak tadi pagi ia memang merasa junior sangat aktif dalam perutnya. Arie sampai harus duduk miring mengikuti gerakan junior, entah apa yang di lakukan dalam sana, sehingga membuat perut Arie terasa kaku.


"Mungkin junior kangen, pengen di jenguk papa, hehehe."


"Modus," sindir Arie.


"Udah ya marahnya," ucap Alex sambil mulai menyusuri leher jenjang istrinya.


"Kan sudah tiga hari, aku kangen junior." Tangan Alex mulai menyusup ke dalam mini dress yang di pakai istrinya mengusap lembut paha Arie yang mulus.


"Eemmh.. kan masih marah, aku bilang seminggu. Baru juga tiga hari," lirih Arie di sela des*hannya.


Arie meremas jas suaminya, saat Alex mulai aktif menyesap lehernya. Sementara tangannya sudah mulai menyentuh area sensitifnya yang masih berlapis kain penutup.


Sebenarnya Arie juga sangat merindukan sentuhan suaminya, akan tetapi dia juga ingin memberikan pelajaran pada Alex agar tidak membiarkan wanita lain sembarangan menyentuhnya. Alex hanya miliknya titik.


"Aku sangat merindukanmu, sekarang ya please," lirih Alex dengan suaranya yang berat. Nafasnya berhembus hangat di telinga Arie, membuat ibu hamil itu meremang.


"Ga mau, kamu sih. Nempel nempel sama cewek lain." Arie berusaha mendorong tubuh Alex menjauh.


"Kan ga segaja sayang."


Alex mengeluarkan tangannya dari balik dress istrinya, untuk menahan pergerakan Arie yang akan turun dari pahanya.


"Bisa saja di sengaja. Kamu ga taukan kalau perempuan itu suka sama kamu," ketus Arie. Sebagai seorang wanita tentu ia paham dengan cara sesilia menatap suaminya walaupun hanya lewat layar ponsel.


"Tapi kan aku sukanya sama kamu, aku enggak perduli sama yang lain." Arie mencebikkan bibirnya kesal.

__ADS_1


Alex mengangkat tubuh istrinya ke atas meja kerja. Menatap memelas dengan mata sipitnya.


"Sayang please," ucap Alex dengan memasang puppy eyes.


"Enggak!" tegas Arie.


"Please," Alex mengusap wajahnya ke dada Arie yang sangat berisi.


Satu tangan Alex menahan tangan Arie di belakang tubuhnya. Sementara satu lainnya mulai bermain dengan gundukan gunung yang ada di hadapannya. Arie melenguh kecil saat Alex mengigit buah dadanya yang masih terbalut bra, kancing bajunya sudah terlepas entah ke mana. Saat Alex menarik bajunya dengan kuat.


"Sekarang ya." tangan Alex mulai aktif mengusap paha mulus istrinya. Arie masih menggeleng sambil mengigit bibir bawahnya.


Alex menyeringai licik. Ia mulai bermain dengan inti Arie, mengelusnya lembut dari luar kain yang masih membungkusnya. Memberikan sentuhan yang membuat tubuh Arie bergetar, seperti aliran listrik yang menjalar di tubuhnya.


"A-- Alex jangan, masih belum boleh." Arie mengeliat dengan suaranya yang sudah terbata.


Alex tidak menjawabnya, ia bermain semakin liar dengan pucuk dada yang sudah menyembul keluar dari pengamanannya. Meresap ujung yang tegak menantang itu. Sementara jarinya masih bermain dengan tempo yang membuat Arie semakin hanyut dalam permainan suaminya.


Berbeda dengan apa yang di katakan mulut kecilnya. Arie merespon tiap sentuhan Alex dengan baik. Perlahan Alex melepaskan tangan Arie, ia membiarkan jemari lentik itu meremas rambut Alex. Semakin menenggelamkan wajahnya di dada Arie.


"Eh.."


Arie terkejut saat Alex mengehentikan semua aktifitasnya. Alex menarik sedikit kepalanya. Ia tersenyum melihat wajah Arie yang tampak kecewa.


"Kenapa?"


"Emmh.. itu kenapa berhenti," ucap Arie dengan wajahnya yang memerah.


"Bukannya tidak boleh."


"Emh.. itu aku mau, " lirih Arie.


"Mau apa?"


Arie yang sudah panas dingin akibat ulah suami sipitnya itu hanya bisa berdecak kesal. Ia tahu Alex sedang membuatnya merasa merasa ingin dengan sentuhan nakalnya itu.


"Alex...," panggil Arie dengan suara yang manja.


"Katakan.. apa yang kau inginkan."


"Aku ingin itu."


"Itu apa?" goda tuan sipit.


"Sudah bolehkah?"


Arie mengangguk kecil, sambil tersipu. Bagaimana tidak boleh, intinya sudah di buat basah oleh tangan nakal suaminya.


Alex menyeringai tipis. Ia pun mel*mat bibir mungil istri dengan kasar, menikmati setiap sentuhan dari belahan benda kenyal itu. Lidah mereka membelit satu sama lain, mengabsen jajaran gigi yang ada di dalamnya. Kedua tangannya dengan gemas memainkan gundukan yang menjadi favoritnya. Arie mengalungkan tangannya di leher Alex memperdalam ciuman mereka. Suara decakan dan lenguhan kecil terdengar jelas di ruangan itu.


"Tuan, ada yang haru-


Chiko yang baru saja masuk, terkejut dengan adegan 20+ yang tersaji di meja kerja atasan.


Arie mendorong tubuh Alex menjauh, dengan gelagapan membenarkan baju yang di pakainya, meskipun posisi membelakangi pintu.Namun, ia merasa malu kepergok berbuat mesum oleh anak buah suaminya.


Alex berdecak kesal, sambil menatap tajam ke arah Chiko. Asisten itu hanya bisa menelan ludahnya. Berapa kali sudah mata sucinya ternoda. Meskipun umurnya sudah hampir kepala tiga akan tetapi dia belum pernah melakukan adegan sepanas itu.


"Maafkan saya tuan." Chiko menunduk hormat lalu keluar dari ruangan itu.


"Alex malu," ucap Arie sambil menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Kita ke kamarnya," lirih Alex dengan suara yang berat. Ia tak bisa lagi menahan rasa yang sudah di ubun-ubun.


Wajah Arie sudah merah padam karena malu. Ia pun segera turun dari meja. Namun, di cegah oleh Alex. Tuan sipit itu mengendong istrinya ala bridal, mengajaknya masuk ke sebuah kamar untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


__ADS_2