
Pagi menyapa dengan lembut. Wanita hamil itu berdiri di atas hamparan pasir putih dengan bertelanj*ng kaki. Sang suami memeluk tubuhnya dari belakang. Dengan satu tangannya yang henti mengelus perut Arie yang sudah membesar.
Arie tampak cantik dengan memakai dress selutut warna biru, tak lupa kacamata hitam yang bertengger di atas hidung minimalis miliknya.
Arie menghirup dalam aroma pantai yang akan dia rindukan. Rasanya begitu berat untuk mengakhiri liburan mereka. Banyak kenangan yang terjadi di sini. Arie mengenggam erat jemari tangan Alex yang melingkar di atas perutnya.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini," ucap Arie sambil tersenyum menatap ombak yang bergulung bersama.
"Hem.. kapan kita akan memberikan junior adik?"
Arie mengeryitkan keningnya. Mendengar ucapan absrud yang baru saja di ucapkan oleh Alex. Yang di dalam perutnya saja belum keluar, bagaimana dia bisa membicarakan soal adik.
"Ngomong apa sih, nih lo. junior aja masih di dalem masa mau buat adek. Mau taruh di mana adiknya?"
Alex terkekeh mendengar perkataan istrinya.
"Iya sih. Tapi aku maunya kamu hamil terus," jawab Alex enteng.
Sebuah jawaban yang sukses membuat istrinya ternganga sekaligus bergidik geri.
"Kamu aja yang hamil sendiri," ketus Arie, lalu ia melepaskan tangan Alex yang melingkar di pinggangnya.
Kemudian Arie berjalan menjauh meninggalkan suaminya dengan menggerutu. Alex pun segera menyusul langkah Arie. Setelah ia sampai di dekat Arie, Alex pun langsung menyambar tangan kecil istrinya.
"Sayang."
"Hem."
"Kita harus pulang sekarang."
Arie menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Alex. Ia masih begitu berat untuk meninggalkan tempat ini. Arie Membalikkan tubuhnya, Dan berhadapan dengan Alex yang berdiri di belakangnya.
"Harus sekarang ya," lirih Arie sendu.
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan nanti malam."
Arie berusaha mengerti dengan perkerjaan suaminya. Mereka sudah berlibur cukup lama. Itu pasti sudah membuat perkejaan Alex menumpuk di kantor.
"Baiklah," Atie menunduk dalam. Meskipun mulut kecilnya mengiyakan tapi dalam hatinya masih sangat berat untuk pergi.
Alex memeluk tubuh Arie. Ia bisa mengerti apa yang di rasakan istrinya. Akan tetapi Alex juga harus segera menyelesaikan urusan.
"Kita akan kembali saat junior sudah punya adik, ok."
"Aduh," pekik Alex, saat Arie mencubit lengannya dengan keras.
__ADS_1
"kelamaan tau," ketus Arie.
Alex pun tergelak, lalu mencium kening i berkali kali. Sepanjang kekasih itu pun berjalan menuju mobil mereka. Sebelum memasuk mobil, Arie mengedarkan pandangannya, seakan merekam momen terakhir sebelum ia pulang.
"Nanti kalau kamu kangen aku, kamu ke sini aja ya," ucap Arie begitu saja. Dengan tatapan kosong melihat ke arah laut lepas.
"Emang kamu mau pergi kemana?" tanya Alex enteng.
"Enggak tau," ucap Arie sambil mengedikkan bahunya.
Alex mengacak-acak rambut istri gemas.
"kamu ada ada aja. Kamu nggak akan pergi kemanapun tanpa aku!" tegas Alex.
Arie hanya tersenyum. Kemudian ia pun masuk ke dalam mobil dengan pintu yang telah di bukakan oleh suaminya. Setelah menutup pintu mobil Arie. Ia pun segera masuk ke dalam mobil.
Kini mobil sport hitam itu mulai melaju perlahan membawa semua kenangan indah yang terpatri dalam hati mereka.
Rembulan mulai menampakkan dirinya. Walaupun hanya separuh. Namun, tidak mengurangi kecantikannya di antara gemerlapnya bintang.
Di sebuah rumah besar yang kosong. Karena sebagian penghuninya Telang mengundurkan diri. Tampak dua orang pria dewasa sedang sibuk mempersiapkan diri mereka. Merapikan jasnya dan memeriksa memeriksa beberapa berkas berkas yang akan mereka bawa.
Wajah keduanya terlihat gugup. Namun, juga penuh harap. Begitu pula seorang wanita yang tak lagi muda. Ia terlihat sibuk memeriksa penampilannya.
Adinata dan anaknya mempersiapkan malam ini dengan sebaik mungkin, dengan sesempurna mungkin. Mereka merasa hari ini adalah hari penentu, di mana mereka akan keluar dari masa-masa sulit mereka.
"Bagaimana? apa sudah siap?" tanya Adinata kepada anaknya.
"Sudah," jawab Arow mantap. Ia merapikan lagi dokumen yang ia bawa, sebelum memasukkannya ke dalam tas.
"Ayo kita pergi sekarang." Adinata melangkahkan kakinya mendahului sang putra.
Sementara sang ibu sudah menunggu di samping mobil. Adinata membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkan ibunya untuk masuk. Lalu ia sendiri duduk di depan. Setelah mengunci pintu Arow pun segera menyusul dan duduk di kursi kemudi.
Mobil itu pun mulai melaju perlahan. Keadaan di dalamnya hening. Ketiga orang itu larut dalam pikirannya masing-masing. Namun, satu yang pasti mereka sama sama berharap makan malam ini adalah awal yang baik untuk kerjasama mereka.
Setelah beberapa saat mobil yang mereka tumpangi pun sampai di sebuah hotel ternama di Surabaya.
"Selamat datang tuan dan nyonya Sasongko. Perkenalkan saya adalah manager di hotel ini. Mari silahkan, saya akan mengantar Tuan dan nyonya ke tempat yang telah kami sediakan," ucap seorang pria, yang menyambut kedatangan mereka.
Ia dan beberapa orang pelayan di belakangnya membungkuk hormat kepada Adinata dan keluarganya sebelum mengantar mereka ke ruangan VIP yang di pesan oleh sang tuan.
Puspa mengangkat dagunya tinggi. Ia merasa tuan yang akan mereka temui pasti tahu. Kalau mereka dari keluarga yang berada. Sehingga dia memberikan penyambutan khusus untuk mereka. Sementara Adinata dan Arow merasa kalau mereka di sambut dengan berlebihan.
Sebuah karpet merah tergelar khusus untuk mereka dengan hiasan bunga di kanan-kiri nya. Dan mereka pun di sambut oleh manager dan para pelayan dengan jumlah yang cukup banyak. Bahkan saat menjabat sebagai CEO Adinata tidak pernah di perlakukan se istimewa itu.
__ADS_1
"Tuan dan nyonya silahkan masuk," ucap sang manager.
Pintu besar itu di buka oleh dua orang pelayan. Para pelayan membungkuk hormat mempersilahkan ketiga tamu itu masuk. Puspa tersenyum lebar melihat semua orang menunduk hormat kepadanya. Dengan langkah angkuhnya Puspa melewati para pelayan itu.
Mereka bertiga pun memasuki ruang VIP yang di sediakan. Mereka menghentikan langkahnya dan melihat ke sekelilingnya. Ruangan itu lebih seperti ruangan sidang daripada tempat untuk makan malam. Ruangan itu polos putih tanpa hiasan apapun.
Tiga buah kursi plastik di atur agak jauh, menghadap ke sebuah sofa single besar yang lebih terlihat seperti singgasana. Tidak ada meja dan perlengkapan makan.
"Ayah apa ini? bukankah kita di undang untuk makan malam?" tanya Arow heran.
Adinata mengelengkan kepalanya. Ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Karena dia sendiri pun merasa heran dengan keadaan di ruangan itu.
"Di mana kita akan duduk? kursi plastik ini!"
Puspa menunjukkan kursi plastik yang berjajar di hadapannya itu dengan geram.
Wanita yang menolak tua itu benar benar merasa terhina. Dia bahkan tidak pernah duduk di kursi yang kayu kualitas rendah. Bagaimana bisa tuan sialan itu menyediakan kursi plastik yang usang untuk dia duduki.
"Sudahlah Bu duduk saja, mungkin kita saja kita di suruh untuk menunggu sebentar di sini," Adinata mencoba membujuk sang ibu untuk tenang. Meskipun dia sendiri merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa kau bilang duduk, di sana. Lebih baik aku berdiri sampai kakiku patah dari pada harus duduk di kursi jelek itu!" sentak puspa penuh amarah.
"Nenek duduk saja dulu, nanti aku akan bertanya pada manager hotel," Arow pun ikut membujuk neneknya. Ia tidak mau keras kepala neneknya akan merusakkan kerja sama yang akan mereka bicarakan dengan sang tuan nantinya.
"Pelayan!" teriak Puspa yang sudah tidak sabar.
Seorang pelayan pun masuk dengan tergesa-gesa.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Apa ini semua? Di mana meja dan kursi makan yang seharusnya ada di sini. Bukankah kami di undang untuk makan malam di sini heh!"
"Maaf Nyonya, kami hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh tuan," jawab pelayan itu sambil tertunduk.
Puspa mengeras rahangnya. Guratan amarah tampak jelas di wajahnya. Mendengar ucapan si pelayan itu Arow dan Adinata pun merasa heran. Namun, mereka memilih diam.
"Pergi dan bawakan aku teh herbal!" titah Puspa.
"Maaf nyonya kami hanya di perbolehkan menyediakan makanan saat tuan sudah datang," jawab pelayan itu.
"Ibu sebaiknya duduk dulu." Arie menarik lengan ibunya, lalu mendudukkannya di kursi plastik yang tersedia.
Malu pasti. Puspa sungguh merasa pantatnya duduk di atas tumpukan kotoran. Menjijikkan, bagaimana seorang nyonya besar diperlakukan seperti jelata. Wajah yang sudah tidak muda lagi itu mengeras menahan amarahnya.
"Tuan macam apa sebenarnya yang mengundang mu kemari," gerutu Puspa sambil membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
Adinata dan Arow pun turut duduk. Berusaha tidak mengabaikan sang nenek yang terus menggerutu.