Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Hari yang manis


__ADS_3

Matahari mulai menyapa, memantulkan cahaya di tetesan embun pagi.


Arie masih menggulung dirinya dalam selimut, membiarkan suami sipitnya memeluk guling semalaman.


Aroma bumbu kacang yang khas menyeruak di Indra penciuman Arie. Aroma yang membuat Bumil itu tergoda untuk membuka matanya.


"Selamat pagi sayang," ucap Alex dengan senyum termanisnya.


Arie mengucek matanya, memastikan apa yang pengelihatannya.


Lelaki tampan duduk manis di sebelahnya, sudah rapi, memakai kaos polo berwarna biru berkerah, dengan celana pendek berwarna coklat. Di tangannya membawa sepiring nasi dengan sayur yang di kukus dengan siraman bumbu kacang, sepotong daging empal dan dua tempe goreng, tak lupa dua lembar rempeyek berukuran besar nangkring di atasnya.


Arie bangkit, menyandarkan tubuhnya di ranjang. Dengan senyum manisnya, Alex terus menatap lekat istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya. Rambut yang masih semerawut, muka yang masih kental bau bantal, tak mengurangi kecantikannya di mata Alex.


"Sayang, aku suapi ya," ujar Alex penuh semangat.


Inilah salah trik yang di lancarkan pria sipit ini, melayani istrinya sebaik mungkin, agar bisa buka puasa secepatnya.


"Aku haus," ucap Arie dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Alex dengan cekatan mengambil teh hangat yang di atas meja yabg sudah ia siapkan. Alex mendekatkan gelasnya langsung ke bibir istrinya.


Arie pun membuka mulutnya, meneguk perlahan air manis berwarna kecoklatan tersebut.


"Terima kasih," ucap Arie sambil mengelap sudut bibirnya.


Alex tersenyum dan meletakkan kembali segelas teh itu ke atas meja.


"Mau makan sekarang."


"Nanti, aku bahkan belum mandi," ucap Arie sambil menggeliatkan tubuhnya.


Alex menekuk wajahnya masam. Arie tertawa kecil melihat wajah suami sipitnya.


"Baiklah, aku akan makan sekarang." ujar Are sambil tersenyum.


Muka yang semula masam seketika berbinar. dengan semangat Alex mulai menyuapkan nasi pecel pada istrinya.


"Bagaimana, enak," ujar Alex penuh harap.


Arie mengacungkan dua jempolnya. mulut yang penuh membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Apa kau yang membuatnya sendiri."


"Tentu saja, bukan," Alex menyengir kuda.


"Aku menyuruh Ipul membelinya," ucap Alex.


"Hemm .. pantesan."


"Pantesan apa?"

__ADS_1


"Pantesan enak, tidak mungkin juga kau tiba-tiba membeli nasi pecel, kau kan tidak pernah makan makanan ini," ujar Arie.


"Aku hanya minta Ipul membelikan sarapan spesial, dan dia membelikan ini, yang aku bahkan tidak tau namanya," ucap Alex santai.


"Ipul memang the best, tau banget seleraku. kau harus menaikkan gajinya," Arie terus mengunyah makanannya.


Sial, kenapa supir itu yang dapat pujian, seharusnya aku kan, awas saja nanti.


Alex terus mengaduk nasi yang ada di piringnya, sambil menggerutu.


"Sini piringnya, aku mau makan sendiri," Arie meraih piring yang ada di tangan Alex, lalu meletakkannya di pangkuannya.


Mata Alex mengekor pada piring yang di bawa Arie mau mencegah tapi, takut Arie marah, akhirnya Alex hanya bisa membiarkan piring itu beralih tempat.


"Kenapa, Aku kan ingin menyuapi mu," ucap Alex.


"Kelamaan."


Alex hanya bisa menghela nafas panjang. perlahan Alex bangkit dari duduknya, tapi tangannya di cekal. Alex pun menoleh ke arah istrinya.


"Mau kemana," bibir Arie sudah monyong ke depan melihat Alex yang mau beranjak pergi.


Alex tersenyum lebar, lalu duduk tepi ranjang. melepaskan tangan Arie dari pergelangan tangannya, Alex menautkan kedua tangan mereka.


"Kenapa," ucap Alex lembut.


"Aaa," Arie meminta Alex untuk membuka mulutnya. dengan senang hati Alex membuka mulutnya.


Satu suapan berhasil Arie masukkan ke dalam mulut suami. satu sendok, sepiring nasi, dengan dua hati yang hangat menyambut pagi di apartemen mereka.


Setelah selesai memandikan istrinya. kini pasangan suami istri itu menikmati pagi mereka dengan berjalan di taman. menikmati hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.


Berjalan dengan santai, bergandengan tangan. menikmati keindahan pagi. Alex berjalan perlahan mengikuti irama langkah kaki Arie.


Bumil itu nampak begitu cantik, dengan memakai celana training selutut dan kaos besar, membuat perutnya tak begitu kentara.


Senyum tak pernah lepas dari wajah keduanya, sesekali Alex mencium punggung tangan istrinya.


Ternyata bahagia itu sederhana. seperti saat ini, menghabiskan waktu bersamamu, membuatku melupakan segalanya, aku tidak akan pernah bisa membayangkan bila aku kehilanganmu. mungkin seketika itu nafasku akan terhenti.gumam Alex dalam hati.


"Sayang, kau kenapa," tanya Arie.


Alex yang lekat memperhatikan Arie dengan wajahnya yang sendu. Alex hanya menggeleng cepat.


"Apa kau lelah, kita bisa beristirahat di sana," Alex menunjuk sebuah bangku kosong, di bawah pohon mangga.


Arie mengangguk kecil. mereka melangkah menghampiri bangku kosong itu. Alex memegangi tangan Arie membantunya duduk perlahan, seakan Arie porselen kuno yang begitu rapuh.


Mata Arie menangkap sosok seorang pria yang tengah menjajakan dagangannya, pria itu menuntun sepeda onthel, dengan sebuah kotak kayu di atas boncengan sepeda.


Klinting, klinting..

__ADS_1


"Es potong,..es potong...!" seru pria paruh baya itu.


"Kau mau itu," Alex menunjuk pedagang es potong keliling, yang sedari tadi di perhatikan oleh istrinya.


"Iya mau," ucap Arie dengan manja.


Alex mencubit pipi Arie. mendengar suara istrinya manja seperti itu, membuatnya ingin memakannya sekarang.


"Issh sakit," rengek Arie.


"Jangan mengoda ku, kau menyuruhku puasa tapi kau terus melakukan itu," Alex melepaskan capitan jari di pipi bakpao Arie.


"Kapan aku menggoda mu, dasar otakmu saja yang mesum," Arie mengusap pipinya yang terasa panas.


Arie mencebikkan bibir kesal


"Lihatlah bibirmu saja sangat mengoda."


Cup


Alex mengecup singkat bibir berpoles lipstik warna nude itu.


"Alex," pekik Arie.


Alex terkekeh, lalu memeluk tubuh Arie dengan gemas.


kemesraan pasutri itu, tak lepas dari sepasang mata yang menatap mereka dengan marah.


"Alex, es potong nya menjauh," rengek Arie manja.


"Oh astaga, maaf. kau terlalu mengemaskan sampai aku lupa."


Alex segera melepaskan pelukannya. dengan langkah lebar Alex segera bergegas berlari mengejar pedagang es potong.


Melihat Arie yang duduk sendiri. sosok itu melangkah mendekat dengan seringai di balik maskernya.


Huft...


"Untung saja masih terkejar."


Alex kembali membawa dua potong es potong, berhenti tepat hadapan Arie dengan nafas ngos-ngosan. Alex memegangi menunduk memegangi kedua lututnya. setelah lahir maraton dengan pedagang es potong.


Melihat Alex, sosok itu kembali mundur, kembali ke balik pohon.


"Terima kasih suami sipit ku."


Cup


sebuah kecupan manis, mendarat di kening Alex yang penuh peluh.


"Agghh... aku tidak bisa puasa lagi, pulang. kita lanjutkan di rumah."

__ADS_1


Alex menyerahkan es potong yang di bawanya pada Arie, dan segera mengangkat tubuh kecil istrinya. Arie tergelak dengan tingkah Alex.


Arie mengalungkan kedua tangannya di leher Alex, sesekali mencium pipi suaminya. membuat Alex semakin frustasi.


__ADS_2