
Dengan sisa tenaga yang tersisa Eric berusaha untuk bangun, dengan susah payah dia berdiri dan mengangkat kursi kayu.
"Alex awas!" teriak Arie.
Dor!
Sebuah timah panas bersarang di bahu Eric, membuatnya berteriak kesakitan, kursi yang di angkatnya pun jatuh sebelum sempat dipukulkan.
"Maaf Tuan Alex, kami sedikit terlambat," ucap seorang dengan baju serba hitam, dengan Beberapa rekannya
"Cepat seret dia ke keluar!" teriak Alex dengan penuh amarah.
Para pengawal pun segera meringkuk Eric, pria itu masih terus meronta dan mengucapkan sumpah serapah untuk Arie saat polisi menyeretnya. Arie hanya bisa menutup telinganya dengan kedua tangannya, dengan Alex yang terus mendekapnya.
Alex segera membawa Arie dalam gendongannya. Alex bahkan tak melepaskan pelukannya saat mereka ada dalam mobil.
"Kita ke rumah sakit," titah Alex pada Chiko yang berada di balik kemudi.
"Baik Tuan."
"Alex, aku tidak apa apa, kenapa harus ke rumah sakit," ucap Arie lirih.
"Sayang tolonglah, aku ingin memastikan bahwa kau benar-benar baik baik saja," Alex tidak bisa menerima penolakan Arie, melihat tubuh istrinya yang lebam membuat hati Alex semakin sakit.
Alex mempererat pelukannya, dan menciumi rambut Arie berkali kali. Alex merasa gagal sebagai seorang suami, gagal menjaga istrinya.
"Sayang maaf, maafkan aku," ulang Alex berkali kali.
"Cukup, kau sudah mengucapkannya berkali kali, aku sudah bilang ini. bukan salahmu," ujar Arie sambil mengusap lembut wajah suaminya yang terlihat sedih.
"Sayang aku hanya ingin pulang, aku tidak mau ke rumah sakit," rengek Arie manja.
"Tapi, kita harus memeriksakan dirimu sayang, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan junior," bujuk Alex.
"Junior anak yang kuat, dia akan baik baik saja, aku hanya ingin pulang aku mohon," Arie menatap Alex dengan puppy eyes membuat Alex tak bisa berkutik lagi.
"Kita pulang ke apartemen?" tanya Alex dan di jawab anggukkan kecil oleh Arie.
"Kau dengar itu Chiko."
"Siap Tuan," jawab Chiko singkat, dan langsung memutar arah mobilnya.
Arie semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya. Arie merasa sangat jijik dengan tubuhnya sendiri, Arie masih bisa merasakan bekas sentuhan pria gila itu.
Setelah 3 jam berkendara akhirnya mereka sampai di apartemen Alex, pria sipit itu mengendong istrinya yang tengah tertidur namun dengan raut wajah yang begitu ketakutan, sesekali Arie mencengkeram kuat lengan Alex, Arie baru akan melepaskan saat Alex berbisik lembut di telinga Arie, sambil mengelus punggungnya.
"Tak akan Aku biarkan bajingan itu hidup dengan tenang," ujar Alex sambil menggeratkan rahangnya.
Sampai di dalam kamarnya Alex membaringkan tubuh Arie dengan lembut di atas ranjang, Alex mengecup kening Arie cukup lama. Lalu menutup tubuh Arie dengan selimut.
"Maafkan aku sayang, aku akan membuat bajingan itu hidup di neraka," ucap Alex seolah Arie mendengarnya.
__ADS_1
Alex memutuskan untuk membersihkan dirinya. Baru saja Alex menguyur tubuhnya di bawah shower, dia di kejutkan dengan teriakan istri.
"Aaaa," teriak Arie.
"Sayang, ada apa," Alex keluar dari kamar mandi dengan tergesa gesa.
Arie sudah duduk di atas ranjangnya, Alex segera berhambur memeluk istrinya yang tengah terisak. Arie tak menjawab hanya semakin menggelamkan dirinya di pelukan Alex.
"Sayang," panggil Alex dengan lembut.
Arie hanya terus menangis dan mempererat pelukannya. Tiba-tiba Arie mendorong tubuh Alex menjauh.
"Sayang ada apa?" Alex terkejut dengan tingkah Arie.
"A- aku kotor, jangan sentuh aku," ucap Arie dengan tergagap.
"Sayang apa maksud?"
"Aku kotor, aku kotor," ucap Arie berulang ulang, tatapan Arie tidak fokus, dia terus mengosok leher dan lengannya dengan kasar.
Alex memegang tangan Arie, agar tidak terus mengosok tubuhnya yang sudah memerah.
"Sayang hentikan, kau menyakiti dirimu sendiri." ucap Alex lembut.
Namun Arie masih saja menarik tangannya dan berusaha mengusapkan tangannya di area yang sama.
"ARIE." pekik Alex.
"Arie sayang dengarkan aku, lihat aku," ucap Alex sambil mennakup wajah Arie dengan kedua tangannya.
Alex mencium bibir Arie dengan lembut, Arie menerima perlakuan suaminya dan membalas ciuman itu, Arie memejamkan matanya. Namun sekilas bayangan wajah Eric kembali terlintas di benaknya.
Arie refleks mendorong tubuh Alex menjauh.
"Sayang buka matamu, lihat aku!"
Alex mencium bibir Arie lagi, kali ini Arie terus membuka matanya. Alex terus memperdalam ciuman mereka, semakin panas dan menuntut.
Alex mulai turun menyusuri leher jenjang istrinya, melihat bekas merah di leher mulus itu membuat Alex geram, ia menyesap di tempat yang sama dengan lebih kuat dan mengigitnya, hingga kissmark itu berganti dengan bekas gigitannya.
"Hanya tanda dariku yang akan ada di tubuhmu," bisik Alex geram.
Arie hanya mengangguk sambil tersenyum, gigitan Alex membuat Arie meringis kesakitan. Namun Arie menyukai itu, biarkan rasa sakit itu menghapus jejak kotor dari tubuhnya.
Alex terus menerus memenuhi leher dan dada Arie dengan tanda kepemilikannya, Alex ingin menghapus semua jejak pria bangsat itu dari tubuh istrinya.
"Lihat aku sayang," ucap Alex dengan suara yang berat. Arie mengangguk kecil dengan Air matanya yang mulai mengalir.
Dengan ujung jarinya Alex mengusap air mata yang jatuh di sudut mata istrinya, Alex menghujani wajah Arie
dengan ciumannya, tak ada satu titik pun yang terlewat.
__ADS_1
Alex kembali menyatukan bibir mereka, perlahan Alex melucuti pakaian yang melekat di tubuh istrinya, keduanya semakin tengelam dalam hasrat yang mengebu. Tak sedetikpun Arie memalingkan wajahnya dari suami sipitnya.
Kini keduanya polos seperti bayi yang baru lahir. Alex mengangkat tubuh Arie, mendudukkan tubuh istrinya di atas pangkuannya.
Arie mengalungkan tangannya di leher Alex yang sedang bermain dengan gunung kembarnya, Arie mengigit bibirnya saat Intinya terasa penuh.
"Jangan di tahan," bisik Alex sebelum mengerakkan pusaka miliknya.
"Aaaaah," Desah Arie saat Alex mulai bermain di bawah sana. Dengan matanya yang masih terbuka, mengamati tiap peluh yang menetes di wajah suaminya.
Dengan cepat Alex terus mengerakkan tubuhnya, membuat Arie mengelinjang nikmat.
"Sayang buka matamu, lihat aku!" titah Alex di sela kegiatan panas mereka, Saat mata Atie sayup terpejam.
"Alex," lirih Arie dengan kembali membuka matanya.
"Terus seperti itu, lihat aku, hanya aku, kau hanya milikku!"
Wanita itu menatap lekat wajah suaminya, Arie mengusap lembut wajah Alex, dan mulai mencium bibir suaminya dengan mata yang terbuka.
"Alex."
"Seperti itu sebut namaku, hanya aku, emnh," racau Alex.
Alex terus menghujam milik Arie dengan kasar, dengan posisi yang sama. Sampai tubuh keduanya menegang, merai puncak kenikmatan.
Tanpa melepaskan tautan di bawahnya, Alex turun dari ranjangnya, mengendong Arie ala koala. mereka berdua membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Dengan telaten Alex memakaikan baju tidur pada Arie, setelah selesai Alex mengeringkan rambut istrinya yang basah.
Barulah setelah itu Alex memakai piyama tidurnya.
"Sayang apa terasa sakit," ucap Alex yang mengoleskan obat pada sudut bibir Arie.
"Maaf aku terlalu terbawa emosi tadi," imbuh Alex. Yang terlihat begitu merasa bersalah.
Melihat kissmark yang di buat Eric di leher Arie, benar benar membuat Alex lepas kendali.
"Aku menyukai apapun yang kau lakukan padaku," jawab Arie, sambil menatap lekat wajah suaminya.
Setelah mengoleskan salep di pergelangan tangan dan kaki Arie, serta di beberapa bagian tubuh yang di giginya hingga mengeluarkan darah. Alex merengkuh tubuh Arie dalam pelukannya. Hangat dan nyaman, Arie menyusupkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu," Alex mengecup kening Arie dengan lembut.
Setelah memastikan Arie tidur dengan nyenyak, Alex perlahan menggeser tubuhnya. Alex segera bangun, duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya.
"Buat dia menerima balasan yang setimpal," ucap Alex dengan menahan amarahnya.
"Baik Tuan," jawab Chiko singkat dari ujung telepon.
Alex segera mematikan ponselnya, dan kembali membaringkan tubuh di samping Arie. kembali merengkuh tubuh istrinya.
__ADS_1
"Selamat tidur sayang."