
Arow berjalan mondar mandir di ruangannya. Bagaimana bisa ini semua terjadi dalam semalam saja. Sahamnya anjlok dan di beli oleh adik iparnya.
Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan perusahaan Adinata yang ada di luar negeri pun sedang terjadi masalah. Itu yang menyebabkan Adinata tidak bisa pulang, bahkan pada saat menantunya melahirkan cucu pertamanya.
"Aaaghhh.. sial! kenapa semua jadi seperti ini?" Arow mengebrak mejanya kesal.
Bunyi ponsel menyadarkan Arow. Ia pun segera meraih dan menggeser logo hijau di layar ponselnya.
"Ha--lo Ayah?"
"Arow apa benar berita yang ayah dengar."
Arow menghela nafasnya. Ia tidak ingin membuat ayahnya khawatir. Akan tetapi Arow pun tak bisa menutupi semua ini lebih lama lagi.
"Arow kenapa diam, cepat katakan!" Hardi Adinata dari ujung telepon.
"Apa yang dengar sebenarnya?"
"Jangan bertele-tele. Jawab ayah dengan benar!"
"Iya, semua yang ayah dengar benar. Albied sudah membeli lima puluh persen saham SS Grup. Besok akan di adakan rapat dewan."
"Apa!? tapi bagaimana bisa, Nak? bukankah semuanya baik baik saja. kenapa tiba-tiba jadi seperti ini."
"Aku juga tidak faham yah. Alex tiba-tiba saja membatalkan semua kontrak kerjasama kami. Dan... dan aku tidak tahu harus berbuat apa lagi ayah." Arow mengusap wajahnya kasar.
"Dasar menantu kurang ajar, beraninya dia bertindak seperti ini," Geram Adinata.
"Maafkan ayah, Nak. kali ini ayah tidak bisa membantumu. kondisi perusahaan ayah di sini juga sedang tidak baik. Beberapa investor tidak mau lagi menginvestasikan dananya. Mereka memilih perusahaan lain."
"Apa ayah tidak merasa janggal dengan semua ini?"
"Maksudmu?"
"Kita seperti di serang secara bersamaan?"
"Kau benar? tapi siapa? siapa yang mempunyai kekuasaan sebesar ini, Nak?"
"Sudahlah, siapapun dia, kita harus tetap bertahan dan berusaha untuk bangkit. Jangan menyerah, kau masih harus memberikan masa depan yang cerah untuk cucuku."
"Ayah benar, baiklah aku akan menutup telfonnya."
"Baik. Jaga dirimu,"
"Baik."
Arow meletakkan ponselnya sembarang. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi yang sebentar lagi mungkin tidak bisa lagi di duduki olehnya.
Sementara di Albied inc.
Alex menikmati setiap detik detik kehancuran dari keluarga istrinya. Bukan karena dia kejam, akan tetapi Alex tidak suka cara nenek lampir itu memperlakukan Arie.
"Apa dia bilang, benalu. Kita lihat siapa yang benalu sebenarnya," gumam Alex dengan senyum smirk.
Alex tersenyum senang saat sebuah notifikasi email masuk di laptopnya. Senyumnya semakin melebar saat membaca isi email tersebut.
__ADS_1
"Aa... rasanya menyenangkan! aku harus segera pulang sekarang." Alex bangkit dari duduknya.
Dengan langkah ringan Alex melangkah keluar ruangan, baru saja beberapa langkah ia keluar dari ruangannya. Ia terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Tuan."
Alex menoleh dengan wajahnya yang kesal.
"Apa?"
"Sebentar lagi kita ada meeting dengan Mr. Huang," ujar Chiko.
"Kau saja, aku mau pulang."
Tuan ini bahkan belum waktunya makan siang, dan anda mau pulang. hiks.. hiks..
"Mr. Huang ingin bertemu langsung dengan Anda!"tegas Chiko mantap.
Walaupun Alex sudah menatapnya dengan tajam. kali ini dia harus tegar.
"Ck, dasar lalat jomblo, kenapa kau selalu saja ada di antara aku dan istriku," gerutu Alex, melangkah melewati Chiko begitu saja, kembali masuk ke ruangannya.
Chiko mengepalkan tangannya, meninju udara untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kamu ngapain, senam?" tanya Alex dari pintunya.
"Ehem.. tidak tuan, hanya pemanasan." Chiko berpura pura membenarkan jasnya.
Alex kembali masuk dan menutup pintunya. Chiko pun melihat dengan seksama pintu tuannya. Setelah yakin tertutup dia kembali menendang udara kosong sambil terus mengumpat.
Mereka berdua di layani langsung oleh manager restoran itu, mengiba betapa penting dan berkuasanya tamu mereka.
Wanita cantik yang menjabat sebagai manajer restoran itu pun mengantarkan Alex dan Chiko ke ke sebuah ruangan private di lantai tiga restoran itu.
"Silahkan tuan," ujar wanita itu, setelah membuka pintu.
"Hem," jawab Alex singkat.
Di dalam ruangan itu seorang pria berwajah oriental segera berdiri menyambutnya.
"Tuan Alex selamat datang." Mr Huang memeluk Alex singkat.
"Maaf membuat Anda menunggu,"
"Nali..a*. Kami juga baru sampai. Tuan perkenalkan ini adik saya, sesilia." Mr. Huang mengulurkan tangannya pada seorang gadis berambut panjang yang tadi duduk di sebelahnya.
"Perkenalkan saya sesilia." Gadis itu membungkuk hormat dengan senyum manisnya.
"Hem," jawab Alex dengan dingin.
Ada raut kecewa di wajah mungilnya. Namun, segera ia bersikap profesional, lalu kembali tersenyum.
Melihat ada kecanggungan, Mr. Huang pun segera mempersilahkan Alex dan asistennya untuk duduk.
"Tuan, saya sudah melakukan seperti yang anda instruksikan kepada saya." Mr. Huang mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya. lalu menyodorkan kepada Alex.
__ADS_1
Alex segera membuka map itu, senyum puas melihat di bibirnya.
"Anda berkerja dengan bagus tuan, saya sangat berterima kasih," ujar Alex sembari menutup map tersebut dan memberikannya kepada Chiko.
"Tidak tuan, seharusnya saya yang harus berterima kasih kepada tuan. Kalau bukan karena kebaikan hati anda mungkin saya dan keluarga saya sudah ada di jalanan," ujar Mr. Huang dengan sungguh sungguh.
Sesilia pun ikut mengangguk dalam. Alex bagaikan dewa penyelamat bagi keluarga Mr. Huang. Di saat perusahaan mereka hampir gulung tikar. Albied lah yang pertama menawarkan bantuannya. Di saat semua orang menolak untuk memberikan bantuannya.
Namun Alex meminta Mr. Huang untuk merahasiakan kerja sama yang mereka jalin bersama. Hal itulah yang membuat Sesilia semakin kagum dengan sosok Alex yang begitu dermawan dan berwibawa. apalagi setelah melihatnya secara langsung. Ketampanan Alex menyihirnya, bahkan sesilia sampai tidak berkedip melihat Alex.
"Tuan tidak perlu sungkan, kita sama sama menguntungkan. Bisnis tuan juga berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. Lagi pula saya juga di merasa sangat beruntung karena saya juga mendapat keuntungan yang besar."
"Itu semua berkat tuan muda, saya hanya menjalankan seperti yang tuan muda ajarkan. Tuan sungguh hebat strategi pemasaran yang tuan berikan sungguh efektif. Dan sekarang banyak sekali investor yang datang pada kami untuk bergabung. Saya sungguh sangat berterima kasih kepada tuan." Mr. Huang meraih tangan Alex dan membungkuk hormat berkali kali.
Alex segera menarik tangannya. Namun, Mr. Huang memegangnya dengan kuat. Sehingga Alex hanya bisa membiarkannya.
"Mr. Huang, tolong jangan seperti ini, saya hanya membantu semampu saya saja. Saya hanya minta untuk perusahaan anda juga bisa membantu yang lainnya," ujat Alex dengan senyum miring di wajahnya.
"Tuan, bolehkah saya bertanya? kenapa anda tidak membantu tuan Adinata langsung melalui Albied inc seperti saya dulu. Tuan malah menjadikan H. corp yang notabenenya baru saja bangkit sebagai penolongnya," tanya Huang dengan ragu. Ia sungguh takut pertanyaannya menyinggung hati pemegang saham terbesar perusahaannya itu.
"Saya ada alasan khusus untuk itu. Berikan berapapun yang tuan Adinata minta. kalau perlu anda sendiri yang datang dan menawarkan bantuan agar dia tidak merasa sungkan."
"Baik tuan," jawab Mr.Huang singkat.
Meskipun merasa aneh. Namun, Mr. Huang menuruti perintah Alex. Bright.corp yang ada di bawah pimpinan Adinata memang sudah di ambang kehancuran, sama seperti dirinya dulu. Bedanya, Alex lah yang langsung turun tangan dan menyelamatkan perusahaannya dan terus memberikan instruksi kepada Mr. Huang untuk bisa membangkitkan perusahaannya lagi.
Berbeda dengan Bright.corp. Alex hanya menyuruh Mr.Huang membantunya secara finansial, memberikan berapapun pinjaman dana yang di butuhkan oleh Adinata.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Alex bangun dari duduknya,di ikuti oleh Chiko.
"Kenapa terburu buru tuan, makanan kita bahkan belum datang," cegah Mr. Huang.
"Maaf saya tidak bisa menemani anda makan siang, saya sudah ada janji yang lebih penting!" tegas Alex.
"Baiklah tuan saya tidak akan mencegah Anda." Huang pun menjabat tangan Alex dan juga Chiko.
Tidak ingin terlewatkan sesilia pun turut maju beberapa langkah agar bisa memegang tangan idolanya. Namun, naas karena terburu-buru sesilia tersangkut kakinya sendiri, dan jatuh terhuyung ke depan. Ia pun menabrak tubuh Alex yang berdiri di hadapannya.
"Sesilia!" bentak Huang. dengan matanya yang sudah melotot.
"Ma-maafkan saya tuan," ucap sesilia sambil menarik dirinya menjauh.
"Hem, berhati hatilah," ucap Alex dingin.
"Maafkan adik saya tuan," Mr Huang menunduk sambil terus berucap maaf.
"Tidak apa-apa, dia juga tidak sengaja. Saya harus pergi sekarang." Alex pun membalikkan badannya dan segera meninggalkan ruangan itu.
"Janji penting apa yang tuan maksud. Bukankah meeting kita dengan klien masih nanti sore tuan?" tanya Chiko saat mereka sudah ada di mobil.
"Bodoh, tentu saja Janji makan siang dengan istriku. Kau urus saja klien itu sendiri," ketus Alex.
Chiko memutar matanya jengah. Percuma bertanya saat kebucinan tuannya sudah kambuh seperti ini.
Mak. kapan lalat jomblo ini kau pertemukan dengan jodohnya. Aku juga mau merasakan bucin.
__ADS_1
Maaf ya tong. kalau kisahnya aku tulis di sini juga ntar yang baca beribet ðŸ˜. maafkan emakmu ini, Nak.