
Setelah tragedi dan drama pengerebekan di kompleks tempat Siska. Pun dengan segala bujuk rayu dan jurus kalian Semar mendem akhirnya Tama berhasil membujuk sang istri untuk pindah ke rumahnya.
Bukan perkara mudah untuk melakukan hal itu. Siska adalah seorang wanita yang mandiri dia tidak ingin mengantungkan dirinya kepada siapapun. Termasuk kepada suaminya sendiri. Ia belum bisa sepenuhnya percaya bahwa dia akan baik-baik saja dengan Tama.
Luka masa lalu yang di deritanya masih membekas. Membuat janda satu anak itu ragu. Ia takut, masa lalunya akan terulang kembali.
"Sudah semua kan?" tanya Tama.
Mereka baru saja mempacking barang barang milik Siska.
"Sudah mas," jawab Siska dengan senyum manisnya.
"Akut semua bang!" titah Tama pada dua orang kuli panggul yang disewanya.
"Baik pak," jawab dua orang itu serempak.
Dua orang pria bertubuh tegap itu pun mulai mengangkat kardus yang sudah di siapkan ke dalam truk. Tidak butuh waktu lama untuk melakukan tugas itu. Karena memang barang yang di pindahkan tidak begitu banyak. Karena selebihnya akan di belikan baru.
Setelah semua barang selesai di naikkan.Tama pun menyuruh Siska, Naoki dan Bu sari untuk naik ke mobilnya terlebih dahulu. Namun, sang pangeran kecil justru memberengut. Ia ingin menaikkan truk yang membawa barang bawaan mereka.
"Sayang, manis kita naik mobil papa aja ya," Siska berusaha membujuk Naoki yang terus merengek.
"Itu ma. naek itu tuk..tuk..," Naoki semakin merengek meminta naik ke dalam truk.
Naoki merosot dari gendongannya Bu sari dan secepat kilat berlari ke arah truk dengan kaki kecilnya. Untungnya Tama yang saat itu sedang berbicara dengan sang supir berhasil menangkap tubuh kecil Naoki.
"Mau kemana hem."
Tama menggelitik tubuh kecil Naoki, membuat si empunya mengeliat kegelian.
"Papa..geli.. geli.. hahahaha..."
"Mama...!" teriak Naoki saat Siska melangkah mendekati mereka.
Siska pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil Naoki dari gendongan Tama.
"Ma.. tuk," rengek Naoki lagi.
"Ga boleh, kita naik mobil papa aja."
Naoki mencebikkan bibirnya kesal. Anak kecil itu melipat tangannya di depan.
"Mama ga selu," ujar Naoki kesal.
Siska hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan anak semata wayangnya itu. Tama tersenyum lalu mendekat ke arah ibu dan anak itu. Tangannya terulur mengusap lembut pipi gembul Naoki.
"Naoki mau naik truk?"
Dengan wajah berbinar Naoki mengangguk cepat.
"Ok, nanti Naoki sama Bu sari naik truk." Tama mengacak gemas rambut putranya.
"Hole.. papa telbaik." Naoki langsung memeluk leher papanya dan memberikan kecupan besar di pipi Tama.
"Mas, kenapa di bolehin sih! Mereka semua orang asing, nanti kalau Naoki sama Bu sari di apa apain gimana?"
"Udah nggak apa-apa. Lagian ntar ada yang jaga kok!"
"Siapa?"
"Panjang umur mereka, baru mau di omongin," ucap Tama saat melihat mobil polisi yang masuk ke halamannya.
"Hua.. Bapak polisi. Mau Bapak polisi." Naoki merosot dari gendongan Siska. Namun, Tama segera mengendongnya lagi.
Sambil mengendong Naoki, Tama berjalan mendekati mobil polisi itu. Dua orang berseragam keluar dari mobil. Polisi yang sama yang membantu Tama mengatasi para emak emak julid.
"Bantuin apa nih, bro kita?" tanya seorang polisi to the point.
"Kawal keluarga gua," jawab Tama singkat.
__ADS_1
"Astaga. apaan loe minta di kawal segala. Untungnya kita udah selesai tugas bro."
"Ok lah. Cepat berangkat. Gua ada janji ama cewek soalnya," tukas seorang lagi.
"Papa.. mau naik itu," bisik Naoki pada Tama.
"Enggak mau naik truk?"
Naoki mengelengkan kepalanya cepat. Dia lebih tertarik pada dua orang pria berseragam itu dari pada truk tadi.
"Ok."
Tama membalikkan badannya, lalu melambaikan tangannya ke arah Bu sari mengisyaratkannya untuk mendekat. Bu sari pun mengangguk dan berjalan ke arah Tama.
"Bu sari tolong temani Naoki untuk naik mobil polisi, ya."
"Baik Dokter."
"Tolong kalian ikuti truknya saja, gua di belakang kalian."
"Ok lah." jawab dua orang pria itu hampir serempak.
Sari pun ganti mengendong Naoki, lalu mengekor pada kedua polisi yang masuk ke dalam mobil dinas mereka. Tama sendiri pun langsung melangkah menuju mobilnya, di mana sang istri sudah duduk manis menunggu.
"Jadi Naoki naik truk mas?" tanya Siska pada Tama, saat suaminya itu sudah ada di belakang kemudi.
"Enggak, dia mau naik mobil polisi, sama teman-teman ku."
"Apa kita nggak ngerepotin teman mas itu, kita kan cuma pindahan. Apa nggak berlebihan?"
"Sebenarnya mereka sendiri yang menawarkan diri saat aku bilang mau ngajak kamu pindah. Lagian mereka juga udah selesai tugas jadi ya nggak apa-apalah." Tama memasang save belt pada istrinya, lalu ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
Truk pengangkut barang itu berjalan di depan, kemudian di susul oleh mobil polisi. Setelah mereka agak jauh barulah Tama mengikuti mereka.
Perjalanan dimulai dengan hening. Siska merasa gugup berduaan dengan suaminya seperti ini. Rasanya jantung Siska berdetak kencang, gugup campur malu. Seperti ABG yang baru jatuh cinta.
"Lho mas kok belok, mereka kan lurus?" tanya Siska saat Tama mengambil jalur yang berbeda dengan arakan mobil lainnya.
"Kita belanja dulu. Kulkas di rumahku kosong."
Mulut kecil Siska pun be o ria.
Shahhh..
Tiba-tiba Hujan turun dengan sangat deras. Tama pun segera menepikan mobilnya di lahan kosong di pinggir jalan. Air langit tumpah dengan begitu keras dan lebat membuat jarak pandang tidak memungkinkan lagi untuk berkendara.
"Kita tunggu sampai hujan agak reda."
"Iya mas," ucap Siska sambil mengangguk kecil.
Tama mengambil ponsel di dasbor mobil dan mengirim pesan singkat untuk kedua sahabatnya. Setelah itu dia meletakkannya lagi ke tempat semula.
Hujan turun dengan lebat membuat suhu di sekitar menjadi lebih dingin. Siska mengusap kedua lengannya dengan tangan. wanita itu hanya memakai atasan lengan pendek berbahan sifon, membuat udara dingin lebih mudah menyergapnya.
Tama membuka save belt nya lalu pindah ke kursi belakang. Mata Siska hanya mengekor pada apa yang di lakukan Tama.
"Dingin ya, sini." Tama menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Awalnya Siska ragu. Namun, rasa dingin membuat mengikuti langkah Tama. Dokter itu menyeringai licik saat suka mulai melangkahkan satu kakinya. Tama menarik tangan wanita itu, membuatnya jatuhnya terduduk di atas pahanya.
"Aku akan menghangatkanmu," bisik Tama dengan suaranya yang sudah berat.
Tubuh Siska menegang saat mendengar ucapan suaminya.
"Mas tapi-
"Ssshh, please. tidak ada yang akan melihat kita." satu telunjuk Tama menempel di bibir mungil istrinya.
Tama mengusap lembut pipi Siska, bergerak pelan ke belakang. Menarik tengkuk sang wanita, dan menempelkan bibir mereka.
__ADS_1
L*matan lembut di awal, berubah semakin ganas dan panas. Satu tangan Tama sudah traveling di balik rok pendek istrinya. Mengusap lembut inti yang mulai berkedut basah.
Des*han Siska tertahan dengan bibir suaminya. Tama melepaskan tengkuk istrinya. Mengarahkan kedua tangan mungil itu untuk mengalung di lehernya.
"Ah..."
Suara desa*an Siska lolos begitu saja saat Tama memainkan ujung gundukan dengan lidahnya. Merasa malu, Siska menutup mulutnya sendiri. Tama mencium punggung tangan yang menutupi bibir istrinya.
"Mendes*h lah, jangan di tahan."
Nafas keduanya saling memburu, tak dapat di pungkiri keduanya menikmati permainan lidah di tengah hujan deras yang mengguyur. Tama masih betah bermain dengan gundukan dan tubuh istrinya. Sedangkan Siska sudah merasakan sangat ingin, Tama sudah membuatnya melakukan pelepasan hanya dengan lidah dan jarinya.
Kini tubuh keduanya sama polosnya. Siska duduk di antara paha suaminya. Tidak lagi merasa malu. Ha*rat keduanya sudah saling mengebu. Siska mengangkat sedikit pinggulnya untuk mencium leher suaminya.
Tama yang sudah merasa tegang, segera memasukkan pusaka miliknya ke goa rimba.
"Emmh..."
Siska mengerang intinya terasa penuh saat Tama memasukkan miliknya.Tama memberikan jeda untuk Siska bernafas sebelum mengerakkan pusaka miliknya.
Tangan Siska mencengkeram bahu Tama saat, Keduanya tangan Tama mengerakkan pinggulnya naik turun.
Tama menambah ritme saat gelombang kenikmatan datang. Siska semakin melen*uh panjang saat Tama turut mengerakkan tubuhnya. Membuat pusaka tumpul itu terasa begitu dalam masuk ke intinya.
Tama ******* bibir istrinya kasar, sambil terus mengerakkan tubuhnya.
Alam seakan mendukung terjadinya tragedi mobil bergoyang itu. Hujan semakin deras membuat suara duet kenikmatan dari dalam mobil tak terdengar.
"Mas.." lirih Siska saat merasa sudah di ambang batasnya.
"Ber- sama," dengan suaranya terbata, Tama menghujam miliknya lebih dalam dan kasar.
"Emmhh..."
"Ah..."
Siska ambruk di dada bidang suaminya. Tubuhnya terasa lemas, Tama mengelus rambut dan punggung polos istrinya.
"Lagi ya sayang." ucap Tama sambil menyelipkan rambut Siska ke belakang telinganya.
"Di rumah aja ya mas," jawab Siska dengan suaranya yang terdengar memelas.
"Tapi nanggung nih, posisinya." Tama mengerakkan lagi pusaka yang masih belum di cabut.
"Mas.." rengek Siska memelas. Ia bisa merasakan pusaka milik suaminya sudah on lagi.
Tama menyeringai tipis dan kembali mel*mat bibir istrinya lagi. Tidak ada penolakan.
Permainan ke dua di mulai dengan posisi yang berbeda. silahkan reader halu sendiri posisinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siap siap koyo ya Mba Siska
__ADS_1