Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Catch You


__ADS_3

Para pelayat sudah memenuhi semua kursi yang telah tersedia. Kakek Wu menunjukkan wajah datarnya. Begitu pula anggota keluarga lainnya, mereka semua duduk di sebelah dua buah peti mati warna hitam yang berjajar di hadapan mereka.


Setelah beberapa lama berkendara dengan kecepatan tinggi. Akhirnya mobil yang di tumpangi Daniel dengan kekasih dan calon mertuanya itu pun sampai di rumah besar Wang.


Suasana sendu menyambut mereka. Li Wei. wanita paruh baya itu dengan sekuat tenaganya menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Bagaimana tidak hatinya begitu bahagia melihat orang orang yang memakai baju hitam itu. Mereka sedang berkabung atas kematian anak tiri dan menantunya.


Rencana baru tiba tiba muncul di pikiran liciknya. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan berharga seperti ini begitu saja. Dengan senyum jahat Li Wei, meneteskan obat tetes mata pada matanya . Lalu membenarkan posisi kacamata hitam di hidungnya.


Daniel turun dari mobil dan segera bergegas membuka pintu untuk kekasih kecilnya. Kemudian ia baru membuka pintu untuk calon mertuanya itu.


"Alex, anakku!" pekik Li Wei begitu keluar dari mobil.


Semua orang yang ada di sana pun menoleh ke arahnya. Dengan setengah berlari Li Wei menghampiri dua peti mati yang ada di dalam ruang tamu. Danu


"Anakku.. Anakku..." Li Wei meraung-raung dengan berderai air matanya.


Kakek Wu dan keluarga lainnya yang melihat itu hanya membiarkan saja. Mereka hanya melihat drama yang di buat Li Wei dengan wajah datar.


Li Wei memeluk peti mati yang tutup itu secara bergantian. Nuwa yang baru saja masuk bersama Daniel, menyalami para tetua yang ada di sana. Danie mengambil tempat duduk di sebelah Arow. Sementara Nuwa menghampiri ibunya yang sedang menangis tersedu-sedu di antara keduanya peti mati itu.


"Anakku, Alex kenapa kau meninggalkan Mama begitu cepat Nak, maafkan Mama Karena belum sempat menengok menantu Mama!"


"Kau masih begitu muda, kenapa kau pergi. Bawa Mama bersamamu. Bagaimana aku harus hidup tanpamu, Anakku.. Anakku!"


"Huaaa....!!" Li Wei meraung keras.


Teriakannya terdengar sangat pilu. Membuat semua orang yang ada di sana turut merasakan kesedihan.


Blip.


Tiba-tiba, proyektor menyalakan dan menampilkan dua sejoli yang terlihat sangat bahagia. Semua mata beralih ke layar putih itu.


Foto demi foto di tampilkan. Memory bagaimana Alex dan Arie menjalani rumah tangga mereka dengan bahagia. Lalu gambar itu berubah, sebuah mobil sport berwarna hitam ringsek akibat kecelakaan. Kemudian sebuah video di putar, bagaimana upaya petugas pemadam kebakaran dan polisi mengeluarkan korban dari dalam mobil itu.


Nana tak kuasa melihat saat Arie berhasil di angkat keluar dari dalam mobil. Keadaan Arie sungguh mengenaskan. Nana menangis membayangkan bagaimana sakitnya adik iparnya, dengan tubuhnya yang bersimbah darah. Arow memeluk sang istri.

__ADS_1


"Semuanya sudah berlalu, sekarang Arie sudah baik baik saja," ucap Arow berusaha menenangkan istrinya. Meskipun Nia juga merasakan sakit dan tercabik melihat keadaan adiknya kala itu.


Kau benar dia sudah mati, tentu saja dia sudah baik baik saja, gumam Li Wei dalam hati.


Video itu berlanjut menampilkan keadaan Alex yang juga terlihat sangat buruk. Mereka berdua tidak sadarkan diri saat di masukkan ke dalam mobil ambulans.


Blip.


Layar kembali mati. Namun, sebuah suara terdengar mengema di sana.


Aku punya berita bagus untukmu, gadis yang kau cari ada di sini. Aku akan membantumu mendapatkannya.


Kau jangan bercanda


Arieta Wulandari kan namanya. Gadis yang gagal kau perkosa malam itu. Gadis yang membuatmu di buang dari keluargamu. Tenang saja aku akan membantumu membalas dendam.


Hahaha.. baiklah Nyonya Wang, aku akan ikut dalam permainanmu.


Suara yang sangat familiar. Semua orang menoleh ke arah Li Wei. Wajah wanita itu berubah pias, sementara Nuwa yang tadi di sampingnya kini entah kemana.


Bantu aku.


Siapkan aku sebuah mobil truk besok, aku akan membayangkan berapapun harga yang kau mau.


Baik Nyonya, tapi kalau boleh tahu untuk apa?


Kau tidak perlu tahu, pastikan saja truk itu tidak memiliki plat nomer yang bisa di lacak.


Baik.


Kemudian sebuah video yang di ambil dari rekaman cctv mini market di tampilkan di layar. Bagaimana sebuah truk menabrak mobil sport hitam milik Alex secara sengaja.


Wajah Li Wei semakin pucat, Matanya membulat melihat semua yang di tampilkan di layar itu. Tubuhnya seakan lemas, panik. Bagaimana mereka bisa mendapatkan semua itu.


Sebuah foto di mana dengan jelas wajah Li Wei memberi amplop berwarna coklat pada seorang supir truk. Lalu sang sopir meninggalkan truk itu begitu saja.

__ADS_1


"Tidak! matikan itu, matikan!" teriak Li Wei, ia bangkit dari posisinya yang semula terduduk di lantai.


Berlari menghampiri proyektor yang menyorongkan gambar ke layar di depannya. Dengan marah bercampur malu ia membanting proyektor itu hingga hancur. Belum puas Li Wei menginjaknya dengan kesal.


"Kalian semua gila, apa ini!? kenapa kalian menayangkan gambar tidak jelas seperti ini!"


Lie Wei naik ke atas panggung lalu merobek layar putih yang terpampang di sana. Semua orang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Prok...prok..


"Apa kau sudah puas Mama?"


Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Semua orang terkejut melihat Alex duduk di kursi roda, dia tampak sehat dan tampan dengan mengenakan stelan jas warna hitam.


Lie Wei menghentikan aksinya. Matanya membulat wajahnya berubah pias dan pucat. Sedetik kemudian Li Wei melangkah menghampiri Alex. Namun, dua orang pengawal sudah mencekal lengannya.


"Apa yang kalian lakukan lepaskan, lepas!" Li Wei meronta berusaha melepaskan tangannya.


"Aku sungguh kecewa dengan mu. Aku sudah memberikan kelonggaran padamu dengan hanya mengusirmu keluar dari rumah. Tapi apa? kau tidak pernah menyadari kesalahan mu."


Alex menatap sang Mama dengan tajam. Kasih sayang untuknya sudah hilang entah kemana. Mengingat bagaimana luka yang di istrinya akibat ulah Mama tirinya.


"Hahahaha... memang apa yang aku lakukan. Apa aku salah? Aku hanya ingin mengambil bagian ku, tapi kau malah mengusir ku. Dasar anak tidak tau diri!" ucap Li Wei tanpa rasa bersalah.


"Bawa dia!" titah Alex pada pihak kepolisian yang sudah stand by di sana sejak awal.


"Hahahaha.. kau akan mati, secepat aku akan membunuhmu!" teriakannya. Meskipun sudah tertangkap basah dengan semua bukti yang ada. Li Wei masih tidak menunjukkan rasa bersalahnya.


Ia pun di seret masuk ke dalam mobil polisi. Sementara semua tamu di sana di buat bingung dengan drama yang baru saja mereka saksikan.


Kakek Wu naik ke atas panggung kecil yang sudah porak poranda akibat ulah menantunya.


"Maaf sudah merepotkan semua yang hadir di sini. Terima kasih atas waktunya. Dan selamat siang." Kakek Wu sedikit membungkukkan badan memberi hormat pada para tamu. Para tamu pun membalasnya dengan membungkukkan diri secara sempurna.


"Untuk para wartawan, kalian bisa ke arah sana untuk mendapatkan informasi sejelas-jelasnya tentang pa yang terjadi hari ini." Kakek Wu menunjuk ke arah halaman lain di sebelah rumah itu.

__ADS_1


Satu persatu tamu akhirnya membubarkan dirinya. Mereka cukup beruntung di undang untuk menyaksikan drama langsung di hadapan mereka. Mereka bukanlah orang yang datang untuk berbela sungkawa. Mereka ada tamu yang dengan sengaja di undang Kakek Wu secara langsung.


__ADS_2