
"Selamat Pagi, Nenek!" ucap Arie dengan penuh semangat.
Arie baru saja turun dari mobil dengan di bantu pengawal pribadinya. Arie mengunjungi lagi rumah Ayahnya. kali ini tanpa Alex. Tuan sipit itu masih harus berkerja untuk bisa membuat istri kesayangan mandi uang setiap hari. Meskipun Arie bisa melakukan tanpa Alex berkerja keras sekalipun.
Puspa menyambut kedatangan cucunya dengan senyum semanis gula. Hatinya berbunga-bunga penuh pengharapan. Kedatangan Arie merupakan angin sejuk untuk Puspa.
Dengan langkah perlahan Arie berjalan mendekati sang nenek yang ada di dapur. Tentu saja tak ketinggalan sang pengawal yang terus mengekor di belakangnya.
"Ah... cucu kesayangan nenek, akhirnya kau datang juga. Nenek kira kamu lupa," ucap Puspa dengan wajahnya yang dibuat sendu.
"Tentu saja tidak Nek, bukankah kemarin aku sudah bilang akan ke sini. Di mana Ayah?" tanya Arie.
"Ayahmu di belakang, dia memberi makan pada ayam ayamnya," ucap Puspa dengan raut wajahnya yang terlihat jijik.
"Nenek bersiaplah, aku akan mengajak nenek ke rumah besar. Aku sedang merenovasi beberapa ruangan di sana, aku harap Nenek bisa membantu."
"Tentu saja Nenek dengan senang hati membantumu."
Lagi pula sebentar lagi aku akan tinggal lagi di sana, gumam Puspa dengan seringainya.
"Nenek kenapa melamun?"
"Ah.. tidak. Aku akan segera bersiap." Puspa melangkah menuju kamarnya.
Arie melangkah ke arah belakang rumah, mencari sang ayah. Ia tersenyum melihat Ayahnya yang sedang sibuk menebarkan jagung untuk ayam ayamnya.
"Ayah!" panggil Arie sambil melambaikan tangannya.
Arie hanya berdiri di ambang pintu penghubung. Ia tidak mendekati sang ayah karena merasa takut dengan ayam ayang yang terlihat beringas memakan makanan mereka.
"Hai sayang." Adinata meletakkan jagung di atas sebuah kursi kayu, lalu menepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel.
Adinata berjalan mendekati sang putri, melewati ayam ayam yang menghalangi langkahnya. Arie mengulurkan tangannya hendak menyalami tangan sang ayah.
"Ayah cuci tangan dulu, tangan Ayah kotor."
Adinata masuk melewati Arie dan segera mencuci tangannya di wastafel dapur.
Tak menunggu lama, Arie menarik tangan sang Ayah dan segera mencium punggung tangan ayahnya yang masih basah.
"Apa ayah sudah sarapan? ayah makan apa? Ayah sudah merasa sehat?, kenapa Ayah jalan kebelakang sendiri, kalau jatuh bagaimana?" cerca Arie sambil membolak-balik tubuh Adinata.
"Kalem, sayang. Mana dulu yang harus ayah jawab, hem." Arie menyengir kuda, ia pun melepaskan tangannya dari lengan sang Ayah.
"Mana suamimu?" Adinata mengedarkan pandangannya mencari sosok sang menantu.
"Tidak Ayah suami sipitku harus mencari uang yang sangat banyak untuk memanjakan istrinya yang imut ini," tutur Arie dengan senyum manjanya. Adinata terkekeh mendengar perkataan putrinya.
"Ayo, Nenek sudah siap." Puspa baru saja keluar dari kamarnya.
Memakai jubah berwarna putih dengan selendang hijau yang ia pakai menutup sebagian rambutnya. Puspa berias sebaik mungkin, sebagai nyonya rumah yang akan kembali. Puspa tentu ingin terlihat anggun dan berwibawa.
__ADS_1
"Wah... Nenek cantik sekali. Aku sampai minder karena kecantikan nenek," puji Arie sambil berjalan mendekat ke arah sang nenek. Puspa dengan pongahnya mengangkat dagunya bangga.
"Tentu saja, Nenek sangat menjaga wajah dan kulit nenek sehingga masih terlihat cantik di usia sekarang ini." Puspa berkacak sebelah pinggang, dengan satu tangannya menenteng tas kremes yang masih ia simpan dengan baik.
"Lihat rambut nenek juga di tata dengan bagus, dan make up nenek sangat cetar membahana. Nenek terlihat seperti Lady Diana. Sangat anggun dan juga elegan." Puspa semakin meninggikan dagunya.
"Aku harus belajar banyak hal pada nenek. Nenek tidak keberatan kan kalau mengajari ku," ucap Arie dengan wajah memelas.
"Hem.. aku tidak tau apa kau bisa untuk di ajari, ibumu saja bodoh dan tidak bisa apa-apa, jadi aku yakin keturunannya pun sama." Sindir Puspa, ekor matanya melirik remeh pada cucunya yang hanya memakai daster rumahan biasa.
Adinata mengepalkan tangannya. Ia merasa sangat marah, ibunya masih saja belum berubah. Selalu saja menjelekkan sang istri yang telah tiada. Baru saja Adinata akan membuka mulutnya, Arie sudah memberikan isyarat pada sang Ayah agar tidak bicara apapun dengan tangannya.
"Ah... nenek kenapa bicaranya selalu benar. Aku memang sangat bodoh dan lugu sampai aku tidak bisa membedakan hal sepele, maka dari itu aku ingin meminta bantuan Nenek, bisa kan?"
"Bantuan apa?"
"Bantu aku memilih atas ini, Nek."
Pengawal pribadinya menyodorkan dua paper bag yang sejak tadi di bawanya.
Alem menyuruhnya memilih dua tas ini aku bingung mau memilih yang mana.Mata Puspa membulat saat melihat tas yang di keluarkan Arie dari tempatnya.
Sebuah tas dengan merek terkenal berwarna hitam yang di bandrol dengan harga cukup malah di pasaran. Di paper bag satunya lagi masih dengan merek yang sama tapi dengan model yang sedikit berbeda. Sebuah tas berwarna putih di keluarkan Arie.
"Mana menurut nenek yang lebih bagus, yang hitam atau yang putih?"
"Anak TK saja tau, tentu saja yang hitam, itu lebih mahal. Sedangkan yang putih harganya tidak lebih dari 30 juta," tukas Puspa.
"79 juta. Begitu saja tidak tau," ketus Puspa dengan bangga.
"79 juta!" pekik Arie pura-pura terkejut.
"Tapi aku tidak suka, warnanya gelap tidak sesuai dengan daster yang ku pakai. Aku mau yang putih saja."
Anak bodoh, huh... memang dia keturunan orang bodoh. Tapi baguslah, dengan begitu ia akan lebih mudah aku manfaatkan.
"Karena aku tidak mau yang hitam, ini buat Nenek saja " Arie menyodorkan tas itu kepada sang Nenek. Dengan mata berbinar-binar Puspa menerimanya dengan senang hati.
"Wah... kau cucu yang berbakti."
Puspa menatap tas yang ada di tangannya dengan tak berhenti tersenyum. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan barang yang baru saja ia dapatkan.
Arie hanya tersenyum tipis. Ia membalikkan badannya dan menghampiri sang Ayah yang menatapnya dengan penuh tanya.
"Ayah, aku akan pergi sebentar dengan nenek bolehkan?" pamit Arie pada Ayahnya.
"Kau yakin Ingin pergi dengan Nenekmu, Nak. Ayah takut Nenekmu akan-
"Tidak akan Ayah, percayalah semua akan baik-baik saja." Arie memotong ucapan sang Ayah. Ia tahu apa yang dalam pikiran Ayahnya.
"Baiklah Nak, berhati-hatilah."
__ADS_1
"Tentu Ayah." Arie mengecup pipi Ayah.
"Ayo kita berangkat," titah Arie pada si asisten, yang di jawab dengan anggukan kepalanya.
Arie mengikuti langkah Puspa yang sudah melangkah keluar mendahului dirinya. Sang sopir kesayangan Arie membukakan pintu mobil untuk Puspa dan Mba Boss.
Mobil yang mereka tumpangi pun mulai melaju di jalanan desa. Sampai beberapa lama mereka pun akhirnya masuk ke jalanan kota. Hiruk pikuk kota menyambut mereka.
Setelah berkendara cukup lama mereka pun akhirnya sampai di rumah besar Adinata. Gerbang di buka lebar oleh penjaga pintu. Membiarkan mobil sang empunya masuk ke halaman rumahnya.
"Silahkan Nyonya." Pengawal pribadinya membungkuk hormat setelah membukakan pintu untuk Arie.
Setelah membantu Arie turun , ia pun beralih membuka pintu untuk Puspa. Puspa berjalan dengan angkuh di ikuti oleh cucu dan pengawal pribadi Arie.
"Non Arie!" sambut seorang wanita paruh baya yang dengan penuh suka cita. Arie tersenyum lebar pada wanita itu.
"Bibi apa khabar? Bagaimana apa sudah selesai beres beresnya?"
"Belum Non," jawab wanita paruh baya itu dengan wajahnya yang tertunduk.
Arie menautkan kedua alisnya melihat perubahan pada Bi asih. Orang yang Arie beri kepercayaan sebagai kepala pelayan di rumah itu. Arie menoleh ke belakang.
Pantas saja Bi Asih menunduk takut, ternyata sang Nenek sedang menatapnya dengan penuh amarah. Arie mengelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajahnya ke arah Bu Asih lagi.
"Bi Asih nggak usah takut, Nenek sekarang sudah berubah. Dia udah nggak jahat lagi. Malahan Nenek mau bantu kita bersih bersih rumah, iya kan Nek," ucap Arie penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Arie melirik ke arah sang nenek yang melihatnya dengan melotot. Bi Asih pun mengangkat wajahnya dan melihat Arie dengan terkejut.
"Apa.. benar Non?"
"Iya beneran, kasih tau aja sama nenek apa yang perlu di bersihkan ok." Bi Asih mengangguk kecil.
"Apa yang katakan, kau menyuruhku jadi pembantu di rumahku sendiri!" ucap Puspa dengan dadanya naik turun menahan amarah.
"Tidak Nek, mana berani aku berbuat kurang ajar seperti itu. Kau hanya minta bantuan pada Nenek. Lagipula bukankah aku sudah memberikan tas mahal pada Nenek, jadi sudah seharusnya nenek membayarnya dengan sedikit bantuan, atau nenek mau membayarnya dengan uang Nenek sendiri. Karena Alex bilang aku hanya boleh beli satu, jadi yang satu pasti belum di bayar." Arie memasang wajah polos tanpa dosa sambil. Mata Puspa hampir loncat dari tempatnya mendengar penuturan Arie.
"Nanti aku akan kirim tagihannya pada nenek kalau begitu." Arie mengayunkan kakinya hendak masuk. Namun, terhenti saat tangannya di tarik oleh sang Nenek.
"Ada apa Nek?"
"Apa yang harus aku kerjakan?"
"Jadi Nenek mau membantuku?" tanya Arie sambil mengulum senyumnya.
Puspa diam tak bergeming. Hanya matanya menatap sinis pada Arie.
"Bi Asih tolong ajak nenek ke dalam dan katakan apa saja yang harus dia kerjakan. Setelah itu buatan aku empat jus Alpukat. Aku akan menunggumu di samping kolam renang, temani santai di sana ya Bi, sekalian sama dia dan Ipul," ucap Arie dengan lembut. Bi Asih pun mengangguk patuh.
"Mari Nyonya besar ikut saya," ujar Bi Asih sambil menahan tawa.
Wajah Puspa sudah seperti tomat kematangan, sangat merah. Dengan langkah yang di hentakan Puspa masuk mengikuti langkah pelayan yang pernah berkerja dengannya itu.
__ADS_1