
Seorang wanita tergeletak di lantai yang kotor, di dalam bangunan yang kumuh, tubuhnya hanya di alasi kardus bekas.
"Emmh.. "
Mata Arie mulai mengerjap, perlahan terbuka, matanya membulat sempurna saat melihat keadaan sekelilingnya yang gelap, hanya beberapa cahaya masuk melalui celah atap yang bolong.
"Ah... sudah sadar kau rupanya," ucap seorang pria yang duduk di atas kursi kayu, sambil memainkan sebuah pisau kecil di tangannya.
Arie berusaha untuk bangkit. Namun, sialnya tangan Arie di ikat ke belakang, begitu juga kakinya yang di ikat dengan kencang.
Siapa kau, kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini.
Lepaskan aku!
"Emhh.. emhh.." hanya itu yang keluar dari mulut Arie, karena lakban yang menutup mulutnya
Perlahan pria itu bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati Arie. Dia berjongkok tepat di hadapan Arie. Mata Arie terbelalak saat melihat wajah yang ada di hadapannya, tubuh Arie bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
"Kenapa takut," Pria itu menyeringai melihat wajah Arie yang terlihat begitu ketakutan.
Tolong lepaskan aku, aku mohon.
"Hemm.. kau masih sama seperti dulu," Pria asing itu membelai pipi Arie, perlahan tangannya turun ke tubuh Arie dan berhenti di perutnya yang terlihat membuncit.
Arie memejamkan matanya, tubuhnya beringsut berusaha menjauh. Arie merasa begitu jijik saat tangan pria itu menyentuhnya.
Pria itu menyeringai, menekan nekan perut Arie dengan pangkal pisau yang ada di tangannya.
"Kau sudah hamil rupanya, kau menolak benih dariku tapi malah hamil dengan orang lain!" Geram pria itu.
Tolong hentikan, tolong lepaskan aku.
Alex tolong aku!
Arie mengiba dalam hatinya. melihat pria itu mulai mencondongkan tubuhnya membuat Arie semakin takut. Wajah pria itu semakin mendekat hingga pipi mereka saling menempel.
"Bagaimana kalau aku mengeluarkan anak ini, dan membawamu pergi. Kau tau aku begitu menginginkan mu," bisik pria itu.
Deru nafasnya terdengar memburu, Pria asing itu menjilat pipi Arie yang basah dengan air mata.
"hihihi.. " Pria itu tertawa cekikikan di depan wajah Arie.
"Aku selalu menyukai ekspresi wajah saat kau takut," ucap pria itu dengan seringainya.
Pria itu menarik dirinya, tapi tetap di posisinya yang berjongkok di depan Arie.
Pria itu melepaskan lakban yang menutup mulut Arie, dengan satu tangannya Pria itu mencapit dagu Arie, dan mendongakkan wajahnya ke atas.
__ADS_1
"Hemm, bibirmu terlihat semakin seksi," ujar pria itu dengan mata yang berkabut.
Pria itu berusaha menempelkan bibirnya di bibir Arie. Namun, Arie mengerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha menghindar.
Plak
Plak
Dua tamparan mendarat di masing-masing pipi Arie, begitu kerasnya hingga membuat sudut bibir Arie robek di kedua sisinya.
"Kenapa kau selalu membuatku berbuat kasar!" bentak pria itu.
"Apa yang Anda inginkan, tolong lepaskan aku," ucap Arie mengiba.
"Aku menginginkan mu!" pekik pria itu.
Kraak
Dengan mudahnya pria itu merobek kain sari yang menutupi tubuh Arie.
"Tolong jangan, Tolong Tuan Eric jangan lakukan!" jerit Arie " hiks.. hiks..."
"Kau bahkan masih mengingat namaku dengan baik," puji Eric.
Dengan cepat Eric mengungkung tubuh Arie, merobek atasan yang di pakai wanita hamil itu hingga memperlihatkan belahan dadanya.
"Aaaaah.... hentikan!"
"Hentikan" jerit Arie,
mengema di ruangan gelap itu terdengar begitu memilukan.
"Teruslah seperti ini, kau membuatku semakin bersemangat."
"Alex, tolong!"
Plaakk
Plaakk.
Tangan Eric kembali mendarat di kedua pipi Arie, menyisakan lebam di pipi mulus itu. Eric menarik rambut Arie dengan kuat hingga membuat wanita hamil itu meringis kesakitan.
"Jangan sebut nama pria lain di hadapan ku!" hardik Eric.
"Kenapa, kau takut," jawab Arie.
Entah keberanian dari mana, Arie berani menatap tajam pada Eric. Bahkan Arie tersenyum meremehkan.
__ADS_1
"Hahahaha..kita ada jauh di pinggir kota, apa kau pikir dengan berteriak seperti itu akan membuat orang itu datang, Heh!" bentak Eric tepat di depan wajah Arie.
Eric kembali menyesap dada Arie dengan tangannya yang masih menarik kuat rambut Arie.
"Hentikan, Brengsek,!" pekik Arie.
"Aku jadi brengsek karena mu," ujar Eric dengan seringainya.
Sementara di luar gedung tua itu, seorang pria berpakaian serba hitam memberikan isyarat pada rekannya, seorang lain mengangguk lain mengangguk dan masuk kedalam gedung di ikuti beberapa orang di belakangnya.
Dengan keahliannya, mereka bisa melumpuhkan musuh dengan senyap.Tak membutuhkan waktu untuk mereka melumpuhkan penjaga.
Eric mencoba meraup bibir Arie dengan paksa. Namun, gagal karena Arie terus mengerakkan kepalanya, rasa sakit dari cengkeraman tangan Eric di rambutnya tak membuat Arie menyerah.
Bruugh..
Sebuah tendangan membuat tubuh Eric terpental. Eric meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Alex," pekik Arie.
"Sayang."
Alex segera melepaskan jas yang di pakainya untuk menutupi tubuh Arie.
"Sayang maaf, aku datang terlambat," ucap Alex lirih sambil memeluk tubuh Arie.
Alex melepaskan pelukan, dan menghampiri Eric. Alex mencengkeram kerah baju Eric.
Brugh
Brugh.
Alex memukul perut Eric bertubi tubi.
"Beraninya kau menyentuh istriku," geram Alex, dan kembali menghajar Eric dengan membabi buta.
Eric mengerang kesakitan, tergeletak di lantai. Puas menghajar pria di hadapannya, Alex berbalik, mendekati Arie.
Alex segera melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya, Arie memegangi pergelangan tangannya yang membekas merah, karena ikatan yang sangat kencang.
"Sayang maaf," lirih Alex sambil memeluk tubuh istrinya.
Melihat pipi Arie yang lebam dan darah yang mengering di kedua sudut bibirnya membuat Alex merasa bersalah.
"Alex awas!" teriak Arie.
Dor!
__ADS_1