
Seorang wanita berjalan dengan angkuh masuk ke dalam Gedung Albied Inc. berjalan dengan ponggah, semua orang menunduk hormat, mereka tau dia adalah ibu dari CEO muda mereka. barang branded yang melekat di seluruh tubuhnya, belum lagi tas berlogo huruf G yang saling bertaut, di jinjing tangannya, seakan menunjukkan status sosial yang di sandangnya.
"Selamat pagi Nyonya" ucap Chiko sambil menunduk hormat. Li Wei berhenti di depan meja Chiko memandang pria itu sejenak.
"Kamu saya pecat," ucap Li Wei tanpa memandang Chiko.
"Ap.. a , maksud Nyonya," Chiko yang merasa terkejut dengan ucapan Nyonya besar yang baru saja datang.
"Kamu tuli atau bodoh, Kamu saya pecat dan segera tinggalkan gedung ini, sekarang"
"Nyonya tidak punya hak untuk memecat saya," ucap Chiko yang masih merasa bingung.
"Aku yang berkuasa sekarang" Li Wei mengambil sesuatu dari tas mahalnya, dan menunjukkannya pada Chiko, Chiko mengambil benda itu dan membacanya dengan teliti, Chiko tertunduk lesu, sedangkan Li Wei mengangkat wajahnya lebih tinggi, merasakan kemenangannya.
"Bisa tolong Nyonya jelaskan, alasan Nyonya memecat Saya"
"Kamu, an*ing yang terlalu setia, tidak salah, tapi aku tidak suka, sebelum kau pergi kumpulkan semua karyawan di aula, tanpa terkecuali," Li Wei melenggang masuk ke dalam ruangan Presdir.
Li Wei duduk di kursi kebesaran Alex, dengan senyumannya yang menyeringai penuh kemenangan.
"Permisi, Nyonya." ucap Chiko lesu, sampul mengetuk pintu ruangan.
"Masuk"
Chiko berjalan dengan gontai masuk ke dalam ruangan itu.
"Para karyawan sudah berkumpul di aula" ucap Chiko.
"Bagus, aku akan kesana. Dan pastikan Kau sudah membereskan semua barang barangmu saat aku kembali" Li Wei bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Chiko yang mematung.
Aula.
"kenapa tiba-tiba kita di kumpulkan di sini," ucap salah seorang karyawan.
"Aku juga tidak tau, bukankah Tuan Alex sedang perjalanan keluar kota, ada apa ini sebenarnya"
"Mungkinkah ada pengurangan karyawan?"
"Yang benar saja, oh Tuhan semoga bukan itu yang terjadi"
Bisik bisik dari para pegawai terdengar riuh, mereka semua menebak nebak, tentang alasan mereka di kumpulkan pagi ini.
Li Wei naik ke atas podium berdiri di belakang tiang pengeras suara.
"Diam" Suara Li Wei yang mengema membuat kerumunan manusia itu menutup mulutnya.
"Mulai hari ini perusahaan akan di pimpin langsung oleh saya, di larang protes atau berbicara tentang ini, dan akan ada perubahan pada peraturan yang berlaku di sini, jika ada yang keberatan, saya tunggu surat pengunduran diri di meja saya" semua orang tertunduk tak ada yang berani bersuara, meskipun semua ini.mendadak namun tak ada yang berani protes.
Semua bubar, mereka berjalan menuju ruangan masing-masing, beberapa dari mereka nampak memperhatikan kertas yang baru saja di tempelkan di papan pengumuman perusahaan.
Di larang mengambil cuti lebih dari tiga hari selama setahun.
Telat masuk kantor potong gaji 10 persen.
Dan masih banyak peraturan yang tidak masuk akal menurut mereka, namun mereka hanya diam , mereka masih membutuhkan perkejaan ini.
__ADS_1
"Bukankah ini keterlaluan" ucap seorang pria.
"Huss tutup mulutmu, kerja saja, jangan sampai Nyonya mendengarnya, bisa..." ucap seorang pria lain sambil menaruh tangannya di leher dan menjulurkan lidahnya.
"hiiii..." mereka yang berkumpul pun bergidik ngeri.
Li Wei semakin bertindak semena mena, memecat beberapa karyawan dalam sehari dengan alasan yang sepele.
Chiko yang merasa tidak terima dengan keputusan yang terasa mendadak ini akhirnya memutuskan untuk menghubungi Alex, Chiko meraih ponsel yang ia simpan di dalam tas kerjanya, yang tergeletak di kursi penumpang.
"Halo, Tuan" Ucap Chiko saat telepon sudah tersambung.
"Alex sedang istirahat, ada apa" ucap seorang wanita di ujung telepon.
Sesaat Chiko terdiam, dia ragu untuk mengatakannya kepada Nyonya Arie.
"Kenapa diam, ada sesuatu yang terjadi di kantor"
Bagaimana Nyonya bisa tau, apa Dia seorang dukun, batin Chiko.
"Datanglah ke apartemen sekarang" sambungan terputus sebelum Chiko sempat berkata apapun, tanpa berfikir panjang Chiko segera menyalakan mesin mobilnya, melaju membelah pagi kota Surabaya yang sesak, seperti perasaan Chiko saat ini.
"Apa yang terjadi sebenarnya" gumam Arie dalam hati,dia pun meletakkan kembali ponsel Alex di atas nakas, ponsel Alex yang sedari tadi bergetar membuat Arie memberanikan diri untuk mengangkat telepon, Arie menatap Alex yang tertidur lelap setelah mengkonsumsi obat.
Arie merapikan selimut yang menutupi tubuh Alex.
"Cepat sembuh Sayang" ucap Arie, dengan lembut Arie mendaratkan kecupan lembut di kening Alex
Arie keluar dari kamarnya, untuk melanjutkan pekerjaan rumah seperti biasanya, tak berapa lama Arie mendengar bel pintu berbunyi, Arie bergegas membuka pintu.
"Pagii, masuklah" Arie berjalan mendahului Chiko, setelah mempersilahkan Chiko duduk, Arie pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman.
"Nyonya tidak perlu repot-repot" Chiko merasa tidak enak di layani langsung oleh Nyonya kecilnya.
"Tidak usah sungkan, katakan apa yang membuat mukamu kusut seperti kanebo kering" ujar Arie sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
Nyonya bisakah Anda tidak terlalu jujur, lirih Chiko dalam hati.
"Saya di pecat Nyonya," ucap Chiko.
"Apa," mata Arie terbelalak, dia sedikit bangkit dari duduknya mendengar ucapan Chiko.
"Di pecat siapa yang memecat mu?, apakah Alex? kapan?"
"Pelan pelan, Nyonya"
"Kau yang membuat ku penasaran, cepat katakan"
Kalau boleh tahu, di mana Tuan Alex, Nyonya?"
"Kau ini, aku bertanya malah balik nanya, jawab dulu pertanyaan ku" ucap Arie tidak sabar.
"Baik"
"Nyonya yang memecat saya" lirih Chiko.
__ADS_1
"Kapan aku memecat mu, jangan fitnahnya, berani menuduhku seperti itu, kurang ajar" ucap Arie sambil menyingsingkan lengannya, bersiap mendaratkan kepalan tangannya.
"Eh.. bukan seperti itu Nyonya sabar dulu, dengarkan saya dulu" Chiko takut bogem mentah dari tangan kecil itu mendarat di tubuhnya, meskipun tidak akan terasa sakit. Arie kembali duduk, namun tetap menatap tajam pada Chiko.
"Nyonya Li Wei yang memecat saya, tapi yang saya tau beliau tidak mempunyai hak untuk memecat orang di kantor"
"Terus"
"Tapi Beliau bilang, Beliau yang berkuasa sekarang, dan Beliau juga menunjukkan surat kuasa yang di tanda tangani oleh Tuan Alex"
"Apa, apa mungkin Alex begitu saja mengalihkan kuasanya pada Ibu mertua"
"Saya kurang tau Nyonya" ucap Chika tertunduk lesu.
"Apa kau pernah lihat Ibu Mertuaku, ke kantor, sebelum kejadian ini"
"Dulu sekali, saat Tuan Besar Wu masih menjadi CEO"
"Hmmmm... apa mereka bertemu di luar, aku akan bertanya pada Alex, tapi dia sedang sakit, aku tidak ingin membuatnya merasa khawatir"
"Tuan sakit?" ucap Chiko terkejut.
"Iya dia sedang istirahat di kamar, "
"Kau pulang saja dulu, Anggap saja hari kau libur, aku akan menghubungimu nanti,"
"Lalu bagaimana dengan perusahaannya?"
"Biarkan saja dulu seperti itu"
"Baiklah, kalau begitu saya permisi" Chiko bangkit dari duduknya,
"Terima kasih sudah memberitahu ku"
"Sudah menjadi tugas saya" Arie mengantar Chiko sampai di pintu rumahnya, setelah Chiko pergi Arie kembali ke dalam kamarnya untuk memeriksa keadaan Alex.
Arie memeriksa suhu tubuh Alex, menempel tangannya di kening. suami sipitnya.
"Siapa yang datang" ucap Alex lirih tanpa membuka matanya.
"Emmhh.. Sekretaris mu,"
"Ada apa dia datang ke mari"
"Dia ingin melihat keadaan mu, tadi dia menelepon ponselmu , tapi aku yang mengangkatnya, dan aku memberitahukannya kalau kau sakit" Arie menjelaskan panjang lebar.
"Apa kau ingin makan sesuatu" ucap Arie mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak, ke marilah," ucap Alex sampul menepuk pelan sisi kosong di kasurnya, Arie pun menuruti perintah Alex, dia naik ke atas kasur dan berbaring di sisi Alex.
"Aku ingin seperti ini" Alex merengkuh pinggang Arie dengan tangannya yang tidak terpasang infus.
Arie hanya tersenyum dengan perilaku Alex yang manja.
Maaf aku harus berbohong padamu. lirih Arie dalam hati.
__ADS_1
Terima kasih kau sudah berbohong, tapi itu tidak perlu, aku akan menyelidikinya, gumam Alex dalam hati, sambil mempererat pelukannya.