Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Makan siang bersama


__ADS_3

"Sial beraninya anak haram itu menyuruhku berkerja seperti ini. Lihat saja Aku akan membalas semua ini saat aku sudah mendapatkan kembali hartaku," gerutu Puspa sambil mengayunkan sapunya dengan asal.


Tubuh Puspa sudah bercucuran keringat. Jubah berwarna putih yang ia kenakan kini sudah belepotan dengan debu dan berubah menjadi doreng. Kerudungnya yang di pakainya sudah melorot sampai leher , di sampirkan begitu saja.


Sementara Arie sedang leyeh-leyeh sambil bercengkrama ria dengan sang sopir dan Bu Asih, juga pengawal pribadinya hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan memasang wajah datar. Arie sudah menjahilinya beberapa kali. Namun, tidak merubah wanita dingin itu sama sekali. Arie akhirnya menyerah dan membiarkannya.


Hari semakin siang, matahari sudah sampai di atas ubun-ubun. Bi Asih pun sudah menyiapkan makan siang yang sudah tersaji rapi di meja makan.


"Bi, tolong panggil nenek untuk makan bareng. Dia pasti udah capek banget," ujar Arie dengan terkekeh.


"Baik Non," Bu Asih pun bergegas pergi ke kamar yang dulunya di tempati Puspa.


Sebenarnya Arie tidak memberikan perkejaan berat untuk neneknya. Dia hanya meminta Bu Asih untuk memberi tahu neneknya agar membersihkan kamar yang ia tempati dulu. Namun, kamar itu adalah kamar yang paling lama tidak di bersihkan, semenjak keluarga Sasongko tidak lagi menempati rumah besar itu, apalagi dengan sengaja Arie tidak pernah menutup jendela kamar.


Jadi, bisa readers bayangkan, betapa tebal debu yang menempel di sana.


Tak begitu lama, Bu Asih pun datang dengan sang nenek berjalan di belakangnya. Rambutnya lepek dan tak berbentuk lagi, sepertinya Nenek Puspa puas mandi keringat di dalam kamarnya. Mukanya terlihat kusut dan kelelahan.


"Nenek, ayo makan. Bi Asih sudah masak banyak lho.." Arie begitu semangat menyambut Neneknya di meja makan.


Puspa menatap Arie dengan senyum yang sangat di paksakan. Ia sudah ingin sekali memaki dan mencakar wajar ibu hamil itu. Andai saja semua ini bukan karena hartanya. Puspa tidak sudi, bahkan hanya untuk berbagi oksigen dengan Arie di ruangan yang sama saja sudah membuatnya sesak.


"Ah...Nenek cepatlah duduk, agar kita semua bisa mulai makan," ujar Arie dengan setengah berteriak. Namun, memasang wajah imutnya.


"Iya nenek duduk, nenek juga sudah lapar." Puspa mendudukkan dirinya di kursi yang berseberangan dengan Arie.


"Ayo semuanya kita makan," panggil Arie pada semua asisten rumah tangga yang ada di sana.


Termasuk juga dua orang tukang kebun, sopir dan pengawal pribadinya. Jadi semua orang hadir, kecuali satpam yang sedang berjaga di pintu gerbang. Satu persatu dari mereka pun mulai mengambil tempat duduk masing-masing. Mereka merasa tidak canggung makan bersama Arie. Karena Nona muda ini dekat dengan mereka sejak keluarga Sasongko masih tinggal di sana. Sekarang setelah rumah itu menjadi milik Arie, ia mewajibkan pada pekerja di sana untuk menemaninya makan saat Alex tidak bersamanya.


Lagi-lagi Puspa dibuat darah tinggi oleh Arie. Bagaimana seorang Puspa Sasongko bisa makan semeja dengan para pelayan di rumah ini. Ini adalah penghinaan besar bagi dirinya.


"Apa yang kau lakukan, heh!"

__ADS_1


"Kau pikir siapa aku, aku adalah Nyonya besar di rumah ini. Bisa bisanya kau menyuruh aku makan bersama orang orang rendah seperti ini!" Sentak Puspa yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


Sesaat ia lupa dengan semua rencana yang tersusun rapi di otaknya. Rasa lelah dan lapar membuat emosinya gampang tersulut. Puspa sontak berdiri dengan kedua tangannya yang mengepal di atas meja, ia menatap Arie penuh amarah.


Semua orang yang sudah duduk rapi mengelilingi meja itu, tertunduk takut. Meskipun Puspa bukan lagi majikan mereka, akan tetapi mereka semua masih ingat betapa mengerikannya wanita itu saat sudah mengeluarkan tanduknya. Ia tidak akan segan menghukum orang yang menghukum orang yang ia anggap bersalah.


Arie malah dengan sangat santai menguap, setelah menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Ia pun membalas tatapan sang nenek yang masih setia menatapnya dengan amarahnya.


Arie tersenyum miring lalu menghembuskan nafas dengan kasar.


"Apa Nenek bilang tadi? Rendahan," Arie berucap tanpa meninggikan suaranya, matanya menyipit memandang ke arah sang Nenek.


"Berarti menurut Nenek, cucumu ini juga rendahan sama seperti ibunya dulu. Benar," Arie sengaja menekankan tiap kata dari ucapannya.


Mendengar hal itu, otak Puspa baru tersentil dan sadar.


"Bukan begitu maksudku Nak, Nenek hanya bilang soal pelayan pelayan ini. Bisa bisanya mereka duduk semeja bersama majikannya, seharusnya mereka sadar diri. Tempat mereka di belakang, tidak pantas mereka duduk di sini bersama kita," kilah Puspa dengan begitu lancarnya.


"Aku yang meminta mereka duduk bersamaku di sini, apa nenek keberatan dengan hal itu?"


Puspa kembali duduk, lain dengan mulutnya yang berkata tidak, wajah sudah merah padam menahan amarahnya. Andai bisa di lihat dengan mata, kepulan asap tidak hanya keluar dari ubun ubun saja tapi juga dari telinga dan lubang hidungnya.


Arie menengok ke kanan dan kirinya. Mengamati semua orang yang menundukkan kepalanya.


"Kenapa diam saja, ayo cepat habiskan makanan kalian. Setelah itu cepat bereskan semua perkejaan, sore nanti kita semua akan berangkat ke rumah besar Wang. Kalian semua aku undang makan malam di sana." Arie bangun dari duduknya. lalu pergi ke kamar yang pernah di tempati sang ayah untuk beristirahat.


"Baik Non," semuanya menjawab dengan serempak.


Semuanya yang duduk di meja makan, akhirnya menikmati makan siang mereka. Tanpa mengubris Puspa yang terus saja menggerutu.


*****


Matahari telah lengser dari singgasananya. Gelap mulai merayap mengantikan warna langit.

__ADS_1


Arie dan pasukannya sudah sampai di rumah besar keluarga Wang. Semua pekerja yang ada di sana di boyong ke sana. Setelah mengantarkan sang Nenek ke kamar tamu, dan memberikan instruksi pada para pelayan. Arie pun masuk ke dalam kamarnya, bersiap menyambut kedatangan sang suami.


Alex yang baru saja pulang dari kantor bersama kakeknya, segera mengambil langkah lebar untuk segera sampai ke kamarnya. Sehari tak melihat wajah cantik istrinya, membuat rindu Alex sudah sampai ubun-ubun.


Masuk ke dalam kamarnya, Alex di suguhi dengan suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Dengan seringai nakal, ia pun segera melepaskan semua yang melekat pada tubuhnya, lalu membuka pintu kamar mandi dengan sangat pelan.


Tubuh polos Arie yang semakin berisi, dua melon kembar yang menjadi kegemaran Alex mengantuk sempurna. Arie menyugar rambutnya kebelakang dengan mata terpejam, menikmati rintikan air membasahi tubuhnya. Pemandangan yang indah, membuat Alex berkali kali menelan salivanya.


Grep.


Arie terkejut saat dua tangan besar tiba tiba melingkar di lehernya. Alex menyibakkan rambut Arie, dan menciumi ceruk leher istrinya tanpa henti.


"Sayang, aku sangat merindukanmu," bisik Alex di sela kegiatannya.


Arie mengigit bibir bawahnya, ia sudah oleh melayang saat jemari besar suaminya yang menyusup, meliuk dengan kasar dalam goa miliknya. Satu tangan Alex beralih meremas melon gantung yang begitu menggodanya. Jari Alex semakin aktif bergerak dalam goa sempit istrinya. Arie mend*sah hebat saat gelombang kenikmatan menghantam.


"Emmp.."


Alex membalikkan tubuh sang istri, menghimpitnya di tembok, dengan kasar ia meraup bibir ranum istrinya, di bawah guyuran air mereka meluapkan segalanya rindu dan cinta yang membuncah. Alex menelusuri leher jenjang Arie, menyesap dan meninggalkan jejak kepemilikannya. Semakin turun ia menengelamkan wajahnya di dua gundukan kenyal favoritnya. Mengulum, menyesap pucuk berwarna pink itu dengan rakus. Satu tangannya memilin dan meremas ujung satunya, Alex benar benar tidak membiarkan Arie untuk berhenti mengeluarkan suara erotisnya.


Alex mengarah istrinya untuk menunduk, dan berpegang pada bathtub. Ia pun menuntun pusakanya yang sudah mengeras dari tadi, untuk segera masuk ke dalam doa sempit istrinya.


Arie Meleng*h panjang saat intinya terasa penuh. Alex menghentak pinggulnya dengan cepat. Memberikan gelayar nikmat ke setiap inchi di tubuh mereka. Suara merdu Arie semakin membuat Alex bersemangat dan semakin mempercepat ritmenya. Menghentak semakin dalam, membuat Arie mengelinjang penuh kenikmatan.


"Eughh... Alex aku mau sampai," ucap Arie dengan suara tertahan.


"Bersama sayang." Alex menghentak lebih dalam lebih keras.


Sampai akhirnya tubuh keduanya menegang. Mata Alex terpejam, kepalanya mendongak ke atas merasakan inti Arie yang begitu erat mencengkeram pusaka miliknya.


Alex membantu Arie untuk berdiri setelah mencabut miliknya membantu sang istri untuk berdiri.


"Terima kasih sayang," ucap Alex dengan nafas yang masih memburu.

__ADS_1


Arie mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Alex. Dengan telaten Alex membersihkan tubuh Arie dari sisa percintaan mereka, dan dengan cepat membungkus tubuh istrinya dengan handuk sebelum pusakanya kembali berdiri, kerena melihat tubuh polos Arie.


__ADS_2