
Matahari mulai menyapa permukaan bumi, memulai hari yan baru. Hiruk pikuk manusia memulai kegiatan pagi mereka. Tak terkecuali Siska seorang wanita beranak satu, yang baru belum lama melepaskan status jandanya. Meskipun semua terjadi secara tidak sengaja. Begitulah, Tuhan memang mempunyai cara yang unik dan tak terduga untuk mempertemukan kita dengan seseorang.
Siska menggulung rambutnya Sembarangan. Walaupun masih sangat mengantuk. Namun, Siska ingin sekali menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Tama masih bertugas sift malam di UGD jadi, dia akan pulang di pagi hari. Jam kerja Siska pun hampir sama, hanya bedanya Siska pulang jam tiga pagi.
Siska melangkah ke dapur. Membuka lemari pendingin yang kosong melompong. Hanya ada air mineral dan beberapa camilan, tidak cocok untuk sarapan. Siksa pun kembali ke kamar untuk mengambil dompetnya.
"Masak apa ya?" Siska bertanya pada dirinya sendiri. Ia memang belum belajar banyak soal masak memasak, dan Tama pun tidak pernah mengeluhkan soal itu.
Beberapa kali Siska sempat memasak untuk Tama, dan suaminya selalu bilang enak. Sebelum keluar Siska mengintip Naoki dan Bu sari di kamar, kedua masih terlelap. Siska tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya.
Udara pagi yang dingin terasa menusuk tulang. Siska mendesah sambil mengelus kedua lengannya, agr terasa lebih hangat.
Tak butuh waktu lama untuk Siska sampai di tempat mangkal tukang sayur keliling.
"Mau masak apa mba? masih lengkap nih! ada ikan, ayam, daging, udang, lengkap mba," ujar tukang sayur itu sambil menatap dagangannya.
"Masih bingung," jawab Siska.
"Walah.. Mba, masak aja kok bingung. Tinggal oseng oseng, cemplang cemplung beres," sahut tukang sayur.
Siska hanya tersenyum dan kembali memilah berbagai macam sayuran yang ada di hadapannya. Siska melihat ada wortel yang terlihat segar ia pun mengambil beberapa. Tak berapa lama ibu ibu lain pun mulai berdatangan untuk belanja.
"Eh, Mba Siska tumben belanja pagi kayak gini," ucap seorang wanita dengan nada merendahkan.
"Iya Bu," jawab Siska singkat, Siska menoleh pada ibu itu sebentar, tersenyum. Lalu Siska kembali memilih sayuran lagi.
"Singkat amat sih Mba jawabannya," ketus ibu yang tadi bertanya.
"Mentang mentang udah punya suami aja sombong amat!"sahut seorang ibu yang baru saja datang.
Siska lagi lagi hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu ibu itu. membuat para emak emak julid itu semakin meradang.
__ADS_1
Sabar Siska sabar, ga usah si ladeni. gumam Siska dalam hati.
"Masak apa ya enaknya?" lirih Siska bertanya pada dirinya sendiri.
"Masak ayam saja Mba, tuh gemuk gemuk ayamnya, masih seger Mba," sahut tukang sayur itu menawarkan dagangannya.
"Boleh deh! ayamnya satu, sama tepung bumbunya sekalian kang,"
"Siap Mba." Tukang sayur itu dengan sigap mengambil plastik yang berisi satu kilo ayam. Dan tak lupa sebungkus tepung berlogo ayam goreng.
"Kalau cowok yang ngomong aja langsung di jawab, dasar cewek gatel," ejek seorang ibu, walaupun dia berucap dengan lirih Siska masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Eh, ibu ibu tahu ga? Munah berantem lagi sama Bang Ali," celetuk seorang ibu.
"Yang bener, Bu!" sambung ibu lainnya dengan antusias.
"Ya apa lagi, pasti masalah cewek. Jaman sekarang kan cewek pada gatel semua. Ibu Ibu harus hati-hati lho," ujar seorang ibu dengan melirik Siska.
Siska hanya bisa menghela nafasnya. Mencoba menebalkan kupingnya yang sudah mulai terasa panas.
"Apalagi yang kerjanya pergi malem pulang subuh, hmm.. jelas ga bener." ucap seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat di sami Siska.
"Ibu, Emak, ayo di pilih sayur sama ikan itu loh, seger seger.. gosipnya di tahan dulu!" seru abang tukang sayur.
"Eh, Bang diem aja deh! ga usah ikut ikutan ngomong. Nanti juga kita belanja kok, udah langganan juga masih ga hafal," tukas seorang ibu yang memakai daster batik. Abang tukang sayur hanya bisa menelan liurnya, ia tak melanjutkan ucapannya lagi. Lebih baik diam, karena dia tidak mungkin menghadapi semua emak emak itu.
"Berapa semuanya?" tanya Siska dengan cepat. Ia ingin segera pulang dan mulai memasak.
"Semuanya jadi lima puluh ribu, Mba! pas," jawab tukang sayur itu sambil memasukkan belanjaan Siska ke dalam kantong plastik.
"Ini uangnya, terima kasih," ucap Siska seraya menyodorkan lembaran berwarna biru.
__ADS_1
"Sama sama Mba," sahut tukang sayur itu.
Siska pun tersenyum dan bergegas melangkah menjauh. Baru beberapa langkah Siska mengayunkan kakinya. Sebuah telur busuk yang sengaja di lemparkan mengenai punggungnya.
"He! perempuan gatel, udah nikah masih aja gatel," teriak seorang wanita dengan suaranya yang cempeng.
Siska pun membalikkan tubuhnya. Dilihatnya seorang wanita dengan memakai daster melangkah mendekat dengan bersungut-sungut. Siska memicingkan matanya, tak salah lagi. Itu adalah Munah istri dari Ali, bengkel langganan Siska.
"Ada apa Mba Munah?" Siska berusaha bicara dengan lembut. Walaupun dalam hatinya ia merasa sangat kesal.
"Masih aja nanya. Kamu ga usah telfon telfon suami ku lagi. Dasar wanita s*nd*l!" Munah kembali melempari Siska dengan telur busuk yang sengaja dia bawa dari rumah.
"Salah saya apa Mba?!" teriak Siska yang sudah mulai menahan emosinya. Rasanya sudah cukup dia bersabar dengan cara ibu ibu di sini memperlakukannya.
"Ga usah pura pura, kamu seminggu yang lalu buat apa telfon Mas Ali malem malem?!" sentak Munah yang tak kalah emosi.
Siska mulai memutar memorinya. Seminggu yang lalu.
"Itu karena mobil suami saya mogok .Saya telefon bang Ali buat benerin mobil suami saya, apa salah Mba?" tanya Siska dengan masih menahan emosinya.
"Ga usah banyak alasan kamu." Munah mendarat sebuah tamparan di pipi Siska.
"Hajar aja Mba Munah, biar kapok!" sahut seorang ibu. Seakan-akan mendapatkan semangat baru. Munah mulai menarik rambut Siska. Siska meringis kesakitan.
Setelah puas Munah pun melepaskan tangannya. Ia mendorong tubuh Siska sampai Siska jatuh terduduk di atas jalan paving.
Ibu Ibu yang tadi berbelanja sayur pun kini mulia mengelilingi Siska. Ibu satu anak itu mulai takut dengan tatapan para emak emak yang mendakwanya.
"Dasar wanita gatel!" seru seorang wanita.
"Sundel," sahut wanita lainnya
__ADS_1
"Minggat sana, bikin kotor kampung kita!" ibu itu turut melemparkan telur mentah kepada Siska. Dan di ikuti ibu ibu lainnya.
Pertahan Siska runtuh. Air matanya meleleh begitu saja.