
Sementara di sebuah ruangan tanpa dua orang duduk saling berhadapan dengan hanya di batasi sebuah meja kosong.
Salah satu dari mereka berdua tanpa cemas. Ia berkali-kali membuka berkas yang Mr.Huang berikan. Namun, di baca berapa kali pun, isinya tetap sama.
"Mr.Huang, saya mohon tidak bisakah anda memberikan saya waktu," ucap Adinata mengiba. Ia masih belum bisa melepaskan perusahaannya begitu saja.
"Maaf tuan Adinata, semua sudah sesuai kesepakatan kita di awal. Anda akan mengembalikan semua pinjaman beserta bunganya, dan lagi pula harga saham anda tidak bisa untuk menutupi semua hutang anda. Tuan saya sudah sangat berbaik hati untuk tidak menyita aset anda lainnya," ujar Mr. Huang dengan tenang.
"Siapa yang anda maksud dengan tuan?" Adinata mengeryitkan keningnya heran.
"Iya, tuan saya. Orang yang mempunyai saham terbesar di perusahaan saya. Dialah yang menyelamatkan perusahaan saya dari kebangkrutan," tutur Mr.Huang dengan senyum bangga.
"Dia juga orang selama ini memberikan pinjaman kepada anda."
Adinata terkejut mendengar penuturan Huang. Selama ini ia berpikir bahwa semua pinjaman yang ia terima berasalan dari H. corp. Namun, ternyata ia salah.
Rasa terima kasihnya kepada keluarga Wang sungguh besar. Ia berhutang Budi yang sungguh tak terbalaskan. Bagaimana tidak, saat semua orang mengusirnya keluar hanya Alex yang menerimanya dengan tangan terbuka. Bahkan saat perusahaannya sudah beralih tangan kepada Alex. Mr.Huang masih di di percaya untuk menjabat sebagai CEO di sana. Dan tetap menjalankan bisnis mereka sebagai mana mestinya.
"Jika memang dia sebaik yang anda bicarakan. Kenapa dia memeras saya seperti ini?" ujar Adinata frustasi.
"Apa maksud anda, tuan saya sudah sangat membantu dengan memberikan pinjaman tanpa jaminan kepada anda. Memberikan tenggang waktu untuk membayarnya. Apa masih kurang!"
"Bahkan kami tidak meminta lebih dari perusahaan anda meskipun harga keseluruhan sahamnya tidak cukup untuk menutupi hutang anda!"
Adinata terdiam. semua yang di katakan Huang memang benar. Bahakan jika mereka mau, orang di sebut tuan itu bisa saja menyita rumah besar yang di tinggali keluarganya. Karena memang harga sahamnya tidak mencukupi untuk menutupi bunga dari hutangnya.
Mr.Huang mengepalkan tangannya kuat. Ia tidak terima bila dewa penyelamatnya di tuduh seperti itu.
"Maafkan saya. Saya hanya tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Perusahaan yang sudah di besarkan oleh ayah saya dan sekarang malah berakhir di tangan saya seperti ini," Adinata berucap dengan penuh penyesalan.
Mr.Huang berusaha menahan emosinya. Ia bisa mengerti apa yang di rasakan pria yang ada di hadapannya. Karena Huang juga pernah di posisi itu. Namun, bedanya Huang lebih beruntung karena Alex menolongnya tanpa syarat yang memberatkannya.
"Saya mengerti tuan, tapi dunia selalu berputar. Kita tidak bisa selamanya di atas."
"Anda benar." Adinata mengusap wajahnya kasar.
Kita memang tidak bisa memilih takdir. Kita hanya bisa menjalankannya dan berusaha melakukan yang terbaik.
"Mr.Huang. Bisakah saya bertemu dengan tuan anda?" ucap Adinata tiba tiba.
Ia sendiri merasa sangat penasaran dengan sosok tuan yang di bicarakan Huang. Adinata berharap dia bisa mempunyai nasib yang sama seperti Huang. Dia ingin berusaha bernegosiasi dengan orang yang disebut tuan itu.
"Saya tidak tahu, tuan sangat sibuk. Kami hanya bertemu saat beliau memanggil saya. Kenapa anda ingin bertemu dengannya?"
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantu saya. Meskipun akhirnya dia mengambil perusahaan saya sebagai pembayaran,"
"saya akan coba bertanya kepada tuan,"
"Mr.Huang apa saya harus memecat seluruh karyawan saya?"
"Tidak perlu tuan, biarkan semua tetap pada posisinya. Hanya pemilik dan nama perusahaan saja yang akan berusaha selebihnya akan di atur sendiri oleh tuan saya."
"Syukurlah, saya sangat bingung dengan nasib semua karyawan saya bila harus memecat mereka. Mereka pekerja yang sangat loyal terhadap perusahaan, saya harap tuan anda akan tetap memperkejakan mereka semua," ucap Adinata penuh harap.
"Baiklah saya akan membicarakannya dengan tuan saya.
Silahkan anda menandatangani surat pernyataan itu. Maaf saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Saya masih ada jadwal pekerjaan yang lain."
"Baik."
Adinata membuka kembali berkas yang di tutupnya. Dengan berat hati dia membubuhkan tanda tangan di atas materai yang tertempel di kertas itu.
Ia sudah kalah. Adinata sudah kehilangan segalanya. Tidak ada lagi yang tersisa. Dengan menghela nafas panjang ia memberikan berkas yang sudah ia tanda tangani.
__ADS_1
"Terima kasih. Saya harap kedepannya kita masih bisa berkerja sama tuan Adinata," sindir Huang.
"Apa anda mengejek saya. Baru saja saya menyerahkan perusahaan saya kepada anda. Dan anda mengatakan kerja sama," ujar Adinata kesal.
Huang tergelak mendengar ucapan Adinata. Sementara Adinata menatapnya dengan kesal. Huang bangkit dari duduknya, lalu mengambil berkas yang di telah di tanda tangani Adinata.
"Hahahaha... maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu. Namun, bukankah perjalanan hidup kita masih panjang tuan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Mungkin anda bisa mendapatkan perusahaan anda kembali, suatu saat nanti," ucap Huang dengan senyum meremehkan.
"Anda tidak perlu terus mengolok olok saya seperti itu."
"Hahahaha...mana ada saya mengolok-olok anda. Saya hanya sedikit bergurau."
"Sampai jumpa lagi tuan Adinata. Semoga hari anda menyenangkan," ucap Huang seraya mengayunkan kakinya.
Langkah Huang terhenti saat dia hampir sampai di pintu. Ia membalikkan badannya dan melihat wajah Adinata yang masih menatapnya dengan kesal.
"Tolong segera anda kosongkan ruangan ini. Karena tuan saya akan segera menempatinya," ujar Huang dengan senyum smirk, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Adinata mengepalkan tangannya kuat. Bagaimana bisa dia di suruh membereskan barang di kantornya sendiri. Kantornya? Bukan. Ruangan ini bukan lagi kantornya. Gedung ini bukan lagi miliknya.
Adinata mengambil sebuah kotak yang sudah ia siapkan di bawah mejanya. Mengambil satu persatu barang pribadi miliknya.
Pria paruh baya tersenyum lembut saat melihat foto yang ia pajang di atas meja kerjanya. Seorang wanita yang tengah hamil besar dengan Adinata di sisinya dan seorang anak laki-laki di sisi lain wanita itu. Mereka tersenyum bahagia. Keluar kecilnya.
"Aku merindukanmu Anjar," lirih Adinata.
Pria itu terduduk kembali di kursinya. Memeluk erat bingkai foto yang ada di tangannya. Pria itu ada di titik terendah dalam bisnisnya. Ia mengharapkan kekuatan dari seorang yang sangat ia cintai. Namun, cintanya telah pergi.
Sejenak ia menatap foto itu kembali. Mengusapnya foto istrinya yang tengah mengandung putri mereka.
"Maafkan aku. Aku belum bisa membahagiakan anak-anak kita." Adinata tertunduk dalam.
Sedih, kecewa dan menyesal pada dirinya sendiri, dengan apa yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang. Dulu ia percaya penuh kepada ibunya yang ternyata tega mengkhianati kepercayaannya, ibu yang selama ini ia hormati malah tega menganiaya istrinya dan menukar bayinya dengan jenazah bayi orang lain. Sehingga membuat istrinya depresi berat hingga akhirnya meninggal.
Mungkin kebangkrutannya adalah karma baginya. Karma karena telah membiarkan putrinya hidup dengan susah payah. Sementara ia berkecimpung kemewahan.
Setelah selesai memasukkan beberapa barang miliknya dalam box. Adinata pun beranjak keluar dari ruangan itu.
Semua karyawan menunduk hormat dengan sedih. beberapa memberikannya pelukan selamat tinggal. Adinata adalah pemimpin yang baik. Ia selalu memperhatikan setiap karyawannya. Hanya saja takdir tidak berpihak padanya.
Rumah Besar Sasongko.
Puspa yang baru saja pulang dari Mall tanpa marah. Ia terus menggerutu sepanjang perjalanan pulang dan berlanjut sampai ke dalam rumah.
Nana dan Arow yang melihat neneknya pulang dengan wajah masam pun merasa heran.
"Nenek kenapa?" tanya Arow kepada istrinya.
"Tidak tahu, bukankah tadi beliau baik baik saja?" tanya Nana balik.
Keduanya pun memutuskan untuk menghampiri nenek mereka yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Nenek kenapa? apa terjadi sesuatu?" tanya Nana dengan lembut. kemudian duduk di samping perempuan yang sudah berumur itu.
"Nenek bertemu dengan orang asing yang sangat menyebalkan tadi. Dia terus saja membalikkan omongan nenek. Dasar wanita kurang ajar," ujar Puspa dengan bersungut-sungut.
Nana hanya bisa diam mendengarkan neneknya kalau sudah seperti ini. Puspa pun mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya. Lalu memberikan kepada Nana.
"Ini hadiah untuk mu."
"Terima kasih, Nek." Nana menerimanya dengan kaku. Ia melirik ke arah Arow yang duduk di hadapannya. Arow hanya mengedikkan bahunya.
"Kenapa kau tidak suka, aku membelinya karena kau memberikan keturunan laki-laki untuk keluarga ini. Jadi terimalah," ucap Puspa setengah kesal. Dia masih teringat bagaimana malunya dia membeli kalung itu dengan uang cucu haramnya.
__ADS_1
"Saya sangat menyukainya, terima kasih."
"Bagus."
"Arow kenapa semua kartu kredit milik nenek tidak bisa di gunakan? apa yang terjadi sebenarnya?"
Arow tersedak udara. Ia memang belum mengatakan apapun kepada neneknya ini. Arow yakin neneknya bisa ngamuk dan Arie tidak sanggup menerima amukannya.
"Emh.. itu Nek." Arie mengusap tangannya gugup. Begitu juga Nana, dia ikut ikutan merasa gugup bercampur takut.
Puspa yang melihat itu pun merasa curiga.
"Ada apa sebenarnya?!" hardik Puspa.
Sebenarnya adalah kita sudah bangkrut. Aku, Arow kami berdua sudah bukan pemilik perusahaan lagi," ucap Adinata yang baru saja masuk ke rumah.
Puspa seketika bangun dari duduknya, ia menoleh ke arah anak laki lakinya.
"Hahahaha... jangan bercanda dengan wanita tua ini nak, aku takut jantungku tidak akan kuat," Puspa tergelak, tawanya terdengar nyaring. Namun, seketika tawa itu sirna saat melihat wajah anaknya yang begitu serius.
Puspa berganti menatap Arow dan Adinata. Mukanya terlihat merah padam menahan amarahnya.
"Bodoh! Kalian berdua apa tidak punya otak hah! Bagaimana bisa dua perusahaan jatuh secara bersamaan.
Kau Adinata,aku tidak mendidikmu jadi laki laki pecundang seperti ini. Kau hanya tinggal menjalankan perusahaan yang di besarkan oleh suamiku, kenapa kau begitu bodoh hingga membuatnya failed," teriak Puspa.
Adinata hanya diam mendengarkan ucapan ibunya. Begitupun Nana dan Arow mereka lebih memilih bungkam.
Puspa memegangi dadanya yang terasa sesak. Kepalanya terasa berputar dan berat.
"Ibu." Adinata mendekati ibunya yang terlihat kesakitan.
Tangannya terulur untuk memapahnya. Namun, segera di tepis oleh Puspa.
"Jangan sentuh aku, dasar anak tidak berguna! Nana bantu nenek ke kamar!" titah Puspa.
"Baik, Nek."
Nana pun berdiri lalu membantu Puspa berjalan menuju kamarnya. Adinata hanya bisa menghela nafasnya.
Tidak akan mudah menjelaskan semuanya pada Ibunya. Dengan semua ego dan cara berpikir ibunya yang kaku.
"Bagaimana kabar Ayah?" tanya Arow dengan tersenyum kecut.
"Kau anak bodoh atau apa, menanyakan kabar Ayahmu yang baru saja kehilangan perusahaannya!"
"Maaf Ayah," jawab Arow sambil tertunduk.
Adinata tersenyum dan berjalan mendekati anaknya. Ia memeluk Arow singkat.
"Kita memulai semuanya dari awal." Adinata menepuk pundak anak dengan kuat.
"Ingatlah anak dan istrimu, kau harus berjuang keras untuk mereka," imbuh Adinata lagi.
"Iya," ujar Arow dengan mata berkaca-kaca.
Adinata menepuk pundak Arow lagi. Ia tahu anaknya sangat mengkhawatirkan dirinya. Pria paruh baya itu merasa bahagia mendapatkan perhatian seperti itu, namun ia juga sedih memikirkan putri bungsu yang tidak pernah menghubunginya lagi.
"Apa kau tahu kabar Adikmu?"
"Tidak ayah, bahkan ponselnya sudah tidak bisa di hubungi lagi. dan sepertinya dia sudah pindah dari apartemen."
Adinata terdiam. Rasa rindu menyeruak dalam hatinya.
__ADS_1