Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Mumi


__ADS_3

Arie berhias dengan secantik mungkin, entah apa yang merasuki ibu hamil itu. Arie yang biasanya cuek bebek, hanya memakai daster rumahan seadanya. Sekarang ia memoleskan make up dengan cantik dan memakai gaun hitam dengan belahan di bagian belakang. Rambutnya di gerai begitu saja.


"Sayang, bagaimana penampilanku?" Arie bertanya kepada sang suami yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.




Alex yang baru saja hendak keluar kamar pun menoleh saat sang istri memanggil. Alex membalikkan badannya menatap Arie dengan tatapan memuja. Dengan langkah cepat ia menghampiri sang istri.


"Sayang, ini..." Alex benar benar terpesona dengan kecantikan istrinya.


Alex berulang kali mengucek matanya, memastikan apa yang di lihatnya bukanlah mimpi.


"Kau seperti bidadari, sempurna," Alex memuji sang istri dengan penuh cinta. Arie mengulum senyum, pipinya bersemu merah.


"Ayo kita keluar, sebentar lagi Ayah dan kak Arow akan sampai." Arie mengandeng tangan suaminya.


Alex bergeming, Arie yang merasa kalau suaminya tidak ikut bergerak pun menoleh.


Wajah berbinar Alex berubah, manik hitam itu menatap tajam pada dirinya.


"Ada apa?" tanya Arie lembut. Ia tahu dengan pasti arti tatapan itu.


"Ganti," ucap Alex dingin.


"Sayang."


"Aku bilang ganti," ulang Alex, kali ini dengan tatapannya yang lebih tajam.


Arie mantap Alex dengan wajah memelas, kedua matanya melebar dan mulai berkaca-kaca.


Alex menghela nafasnya. Ia berjalan ke belakang Arie lalu memeluknya erat, karena tidak mungkin lagi memeluk Arie dari depan dengan erat. Arie meronta, berusaha melepaskan tangan kekar itu dari pinggangnya.


Buliran bening kini sudah meleleh tanpa permisi di kedua pipinya. Alex mengusap lembut cairan itu, lalu mengecup pipinya yang basah.


"Dengarkan, aku tidak rela membagi kecantikan istriku dengan orang lain."


"Tapi mereka-


"Shhht..." Alex menempel jari telunjuknya di bibir Arie.


"Mereka juga laki-laki sayang. Aku bahkan tidak mau kau dilirik oleh seorang perempuan , bagaimana kau bisa berpikir aku akan membiarkan mata laki-laki lain melihatmu secantik ini." Alex menyusupkan wajahnya di ceruk leher Arie.

__ADS_1


Arie mengulum senyum, antara geli dan bahagia dengan sifat posesif suaminya. Bagaimana bisa Alex merasa cemburu pada Ayah dan juga kakaknya. Tapi, inilah Alex yang Arie cintai, yang selalu membuatnya merasa teristimewa.


"Aku ingin terlihat cantik," lirih Arie.


"Aku selalu terlihat cantik, Sayang." Alex mengecup pipi chubby istrinya.


"Alex melepaskan pelukan lalu berjalan ke arah lemari. "Lepaskan bajumu, aku akan memilih baju untukmu."


Arie pun menurut dan melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya, dan hanya menyisakan penutup inti saja.


"Apa kau ingin menggodaku?" Alex menautkan kedua alisnya, saat melihat Arie yang hampir tela*jang.


Arie memutar matanya jengah.


"Bukankah yang mulia sendiri yang menyuruh hamba untuk melepaskan pakaian . Kenapa sekarang Anda menuduh saya." Arie memiringkan kepalanya melihat Alex dengan puppy eyes.


"Jangan terus menggodaku, atau makan malam kita akan tertunda sampai waktu yang tidak bisa aku tentukan," ucap Alex dengan seringai nakal. Arie mencebikkan bibirnya.


"Iya iya.. terserah." ucap Arie malas.


"Angkat tanganmu," titah Alex, Arie pun menurut dan mengangkat kedua tangannya.


Alex memasukkan tangan sang istri ke dalam lubang lengan baju yang ia bawa. Arie hanya pasrah membiarkan sang suami memakaikan apa saja yang ia inginkan.


"Sudah selesai," ucap Alex setelah beberapa saat. Akhirnya tuan sipit itu selesai mendandani istrinya.


"Iya, wajib. Jika kau ingin keluar dari kamar."


"Kau keterlaluan. Aku sesak tau, cepat lepaskan semua ini atau kau akan tidur di sofa malam ini!"


"Tapi sayang, kau terlihat cantik seperti ini," Alex berbicara selembut mungkin agar Arie tidak melepaskan pakaiannya.


Arie meraup oksigen sebanyak mungkin untuk meredam gemuruh di dadanya.


"Satu ...dua.. lepaskan ini semua sebelum aku melanjutkan hitungan!"


"Ti...


"Iya..iya... aku akan melepaskan jangan di teruskan." Alex mulai melepas jaket yang menempel paling luar dari tubuh istriku.


Dengan malas Alex melepaskan syal yang melilit di leher Arie, lalu mulai membuka kancing baju lengan panjang sampai selesai. Setelah itu ia pun melepas rok panjang, menyisakan daster dengan motif polkadot berwarna pink selutut dengan leher sabrina.


"Ini ga di lepas sekalian," ketus Arie.

__ADS_1


Tidak menjawab, tapi tangan Alex meraih topi rajut yang ada di kepala Arie.


"Terima kasih." Arie mengecup pipi Alex yang cemberut.


"Hem," jawab Alex singkat.


Sepertinya tuan sipit masih tidak rela dengan apa yang di pakai sang istri. Dia masih merasa itu terlalu terbuka.


Setelah merapikan rambutnya, Arie mengandeng suami sipitnya untuk keluar dari kamar. Para tamu pun sudah bersiap di meja makan menanti kehadiran mereka.


"Apa saja yang kalian lakukan? kenapa lama sekali?" ujar Kakek Wu dengan nada menyindir.


"Kakek tau suamiku tersayang ini membungkus ku seperti mumi!" ucap Arie sambil melirik tajam ke arah suaminya.


Alex menanggapi ucapan istrinya dengan acuh.


Arow yang sudah sangat rindu pada adik kecilnya itu pun, langsung bangkit dari duduknya. Dengan setengah berlari dia menghampiri sang adik lalu meraih Arie dalam pelukannya, meskipun hanya bisa sekedar mempertemukan bahu dan pipi mereka, karena perut Arie yang besar. Arie pun membalas pelukan sang kakak dengan rasa haru.


"Ehem!"


Alex berdehem keras, ia merasa tidak suka melihat kedekatan adik dan kakaknya itu. Arow pun melepaskan pelukannya dan menatap remeh pada adik iparnya.


"Cih... posesif."


"Terserah," ketus Alex, pria sipit itu merengkuh pinggang istrinya. lalu mengajaknya berjalan ke arah meja makan.


Arie terkekeh dengan tingkah kedua pria ini. Alex membantu Arie duduk dengan nyaman, sebelum dirinya duduk di sampingnya.


"Ayah, kak Nana maaf aku membuat kalian menunggu lama," ucap Arie dengan senyum manisnya. Sebenarnya ia merasa tidak enak karena membuat semua tamunya karena drama di kamarnya.


"Tenang saja, Nak. Kami juga baru sampai," Adinata menjawab dengan tenang. Sorot matanya menyiratkan kebahagiaan melihat anak anaknya berkumpul bersama. Nana pun tersenyum kecil pada adik iparnya.


"Mana Byaz kak? aku kangen dengan pangeran kecil itu, uh... sangat imut dan ganteng. Aku jadi jatuh cinta."


"Aku juga imut dan ganteng sayang. Jangan lupakan itu, lagi pula aku punya mata sipit yang membuatku lebih manis daripada bayi itu," seloroh Alex yang merasa tidak terima sang istri memuji laki-laki lain di hadapannya.


Kakek Wu mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar tidak habis pikir dengan kecemburuan cucunya yang sudah level dewa.


"Iya sayang, Kau nomer dua Setelah baby Byaz." wajah Alex langsung di tekuk masam. Arie tertawa lepas, ia sangat puas bisa menggoda suaminya.


Arie menarik lengan sang suami, dengan terpaksa Alex pun memiringkan tubuhnya ke arah Arie. Arie mendekatkan bibirnya ke telinga Alex.


"Jangan marah, kau tuan sipit yang paling aku sayang. meskipun Byaz sangat tampan, tapi hanya kau yang ada di hatiku."

__ADS_1


Cup.


Bisikan Arie di akhiri dengan kecupan manis di pipi Alex, seketika bulan sabit pun tersungging di bibirnya.


__ADS_2