Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Rumah baru untuk Nenek


__ADS_3

"Isshh.. Kakak pelit, aku kan pengen gendong Byaz setiap hari," rengek Arie lagi.


"Tunggu saja bayimu keluar, pasti dia juga sama lucunya dengan Byaz," ucap Nana seraya menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Arie.


"Hua... kak Nana pelit!"


Nana hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan absrud adik iparnya.


"Sayang ada apa? kenapa kau berteriak?" tanya Alex yang baru saja datang.


Alex mendengar samar suara istrinya yang sedang berteriak. Ia pun memutuskan untuk pergi melihat Arie di ruang keluarga.


"Sayang." Arie merentangkan kedua tangannya menyambut sang suami dengan nada manja.


Alex mengulum senyum tipis, lalu berjalan mendekati sang istri. Ia menarik lembut tangan Arie lalu melingkarkannya di sekitar pinggangnya.


"Sayang Kak Nana pelit, dia tidak mau berbagi denganku. Hiks..hiks." Nana melongo mendengar ucapan Arie yang mengadukannya pada Alex.


Alex menatap tajam pada kakak iparnya.


"Apa maksudmu? aku tidak mau berbagi apa?" ucap Nana kesal.


Alex menautkan kedua alisnya, ia menunduk menanti Arie menjawab.


"Kak Nana nggak mau berbagi Byaz sama aku!"


"Ya ampun Arie, gimana cara baginya?" protes Nana.


"Pinjemin aja ke aku, aku kan pengen gendong Byaz setiap hari," rengek Arie.


"Yang, kasih tau kak Na-


Arie tidak melanjutkan ucapannya, Mata Alex sudah melotot tajam ke arahnya. Macan sipit itu sudah mengeluarkan taring kecemburuannya.


"Jadi kau ingin bayi jelek itu menempel seharian padamu begitu." Alex menatap tajam pada istrinya. Arie menelan ludahnya membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.


Nana melotot kepada Alex. Ia merasa tidak terima anaknya yang imoet itu di bilang jelek. Walaupun pamannya sendiri yang berucap.


"Ya.. aku kan pengen belajar gendong bayi, biar nanti nggak kaku kalau gendong anak kita," kilah Arie dengan wajahnya yang di buat imut.


"Aku akan memberikanmu boneka untuk berlatih," tukas Alex.


"Aku pengen Byaz, Yang."


"Nggak sekali nggak tetap nggak!" tegas Alex.


Bagaimana bisa Arie berpikir kalau dia akan membiarkan anak laki-laki itu menempel seharian dengannya.


Arie memberengut kesal. Ia hendak melepaskan tangannya dari pinggang Alex. Namun, segera dicekal oleh tangan kekar itu.

__ADS_1


"Ayolah yang.. please. Aku pingin, Byaz," Arie masih trus merengek pada suaminya.


Nana hanya bisa mengelus dada, melihat tingkah adik iparnya yang masih kekeh dengan kemauannya. Arow masuk ke ruangan itu saat Arie dan Alex masih bersitegang tentang anaknya.


"Sayang ayo pulang sudah malam," Arie memanggil lembut sang istri. Nana mengangguk kecil, ia pun mulai beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah sang suami.


"Kalian mau kemana?" tanya Arie. Kedatangan Arow mengalihkan perhatian ibu hamil itu dari keinginannya untuk meminjam Byaz.


"Ini sudah malam adik kecilku, kami akan pulang. Besok aku harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor sebelum aku mengundurkan diri," ucap Arow menjelaskan.


"iya aku tau kak, tapi yang aku tanyakan. Ke rumah mana kalian akan pulang." Arie bangun dari duduknya di bantu sang suami.


"Tentu saja ke rumah lama," jawab Arow singkat.


"Tidak kalian tidak akan pulang ke sana."


Arie pun mengandeng tangan Alex, lalu mereka berjalan ke ruang tamu. Nana dan Arow mengekor di belakangnya.


Sesampainya di ruang tamu Arie masih berdiri dan bergelayut manja di lengan suaminya. Semua orang berkumpul di sana. Arow dan Nana berjalan mendekati sang ayah yang duduk sendiri di sofa. Puspa duduk di sofa yang berbeda di sebelah Adinata. Sementara Arie dan Alex berdiri di samping Kakek Wu, yang posisinya berhadapan langsung dengan para tamunya.


"Ayah, Kakak. Kalian semua akan pulang ke rumah besar Sasongko mulai malam ini," ucap Arie dengan senyum.


Wajah Puspa langsung berbinar mendengar ucapan Arie. Berbeda dengan Adinata yang cukup terkejut dengan keputusan anaknya itu.


"Semua barang milik kalian, sudah di antar oleh orang suruhan suamiku. Jadi kalian bisa langsung pulang ke sana sekarang."


"Tapi Nak, apa ini tidak berlebihan."


Adinata segera bangkit dari duduknya, dengan langkah lebar ia menghampiri Arie lalu memeluknya erat.


"Kau sungguh terlalu baik pada Ayahmu ini nak, terima kasih. Maafkan Ayah," lirih Adinata di sela pelukannya.


Melihat sang mertua yang memeluk istrinya erat, membuat mata Alex gatal. Belum lagi tangan mertuanya yang tidak sengaja memegang lengan Arie yang tidak terbalut kain. Itu, semakin membuat Alex naik pitam.


"Ehem!" Alex langsung berdehem keras, ia tidak perduli dengan mata orang lain yang lihatnya dengan aneh.


Adinata pun tersenyum kecil. Adinata memahami bagaimana sifat cemburu menantunya yang sudah tidak ada obatnya itu. Adinata pun melepaskan pelukannya.


"Kalau begitu ayah pamit pulang dulu." Adinata menoleh ke arah menantunya. "Jaga istrimu dengan baik."


"Tentu Ayah."


Alex pun memeluk sang Ayah, dan kedua Kakak iparnya. Dengan berat hati Arie melepaskan kepulauan keluarganya.


"Aku pulang dulu Tante," pamit Nana meniru suara anak kecil sambil mengerakkan tangannya Byaz seperti melambai.


"Byaz jangan pulang nanti Tante kangen," rengek Arie, lalu mendaratkan ciuman di pipi bayi yang sedang tertidur pulas itu.


"Nggak usah kangen, nanti kita buat yang lebih lucu dari bayi itu," ucap Alex sambil menatap dingin pada bayi yang tidak bersalah itu.

__ADS_1


Arie dan suaminya berserta Kakek Wu mengantarkan para tamu sampai di halaman depan. Semua orang masuk ke dalam mobil dengan Ipul sebagai sopir kecuali Puspa. Para asisten rumah tangga pun sudah pulang mendahului mereka.


"Mobil itu sudah penuh Nek, Nenek akan di antara asisten suamiku, dengan mobil yang lain," ucap Arie menjelaskan.


"Baiklah, di mana mobilnya?" Arie menunjukkan mobil Mercedez Benz keluaran terbaru.


Puspa tersenyum lebar. Ia merasa paling istimewa kara hanya dia sendiri yang dia di antar mengunakan mobil mewah itu. Sementara yang lain hanya mengunakan mobil standar biasa, menurut Puspa.


Mobil yang mereka tumpangi pun perlahan melaju meninggalkan rumah besar itu.


Mobil Mercedes Benz yang di tumpangi Puspa melaju kencang di jalanan kota. Awalnya Puspa tidak merasa curiga. Namun, jalan yang mereka lewati bukanlah arah menuju rumah besar.


"Ini bukan arah ke rumah Sasongko, kau mau kemana?" tanya Puspa dengan ketus.


"Maaf Nyonya saya harus mengantarkan barang penting sebentar. Saya harap Nyonya tidak keberatan," jawab Arow datar.


Puspa hanya menjawab dengan anggukan.


Setelah beberapa saat, mobil itu pun sampai di sebuah tempat yang lebih mirip dengan kos kosan. Seorang penjaga membuka pagar agar mobil mereka bisa masuk. Sesampainya di dalam, Chiko pun turun dan membukakan pintu untuk Puspa.


"Aku tidak mau turun, kau saja. cepat selesaikan perkerjaan mu."


"Maaf tapi nyonya harus turun, karena paket ini sangat penting untuk nyonya," ucap Chiko menjelaskan.


Dengan terpaksa Puspa turun dari mobil. Ia merasa aneh saat dua orang berpakaian perawatan menyambutnya.


"Panti Werdha?" Puspa menautkan kedua alisnya.


"Apa maksudmu membawaku kemari heh!"


Chiko menyeringai tipis.


"Sesuai dengan perintah Nyonya besar, anda akan tinggal di sini. Selamat datang di rumah baru Anda." Chiko membungkuk hormat lalu segera masuk ke dalam mobil.


"Hei.. tunggu aku dasar gila. Aku mau pulang ke rumahku... gila, kalian semua gila. Aku akan membalasnya, katakan pada anak haram itu, aku akan membalasnya!" Puspa berteriak dan meronta dengan sekuat tenaganya.


Namun, kedua perawat itu mencekal lengannya. Puspa menatap mobil yang meninggalkannya itu dengan penuh amarah.


"Sudahlah nek, ayo saya antar ke rumah baru nenek, sudah malam saatnya istirahat," ujar salah satu perawatan itu.


"Aku bisa jalan sendiri," ketus Puspa.


Di dalam sebuah kamar.


Arie sedang bermanja-manja dengan suaminya di atas ranjang. Alex duduk berselonjor kaki, dengan istrinya yang menempel di sampingnya.


"Sayang apa aku tidak keterlaluan, mengirim nenek ke panti jompo?" tanya Arie sambil memainkan jari telunjuknya di perut Alex.


"Tidak, aku malah ingin kau mengirimnya ke rumah sakit jiwa."

__ADS_1


"Isshh..Nenekku tidak gila, dia hanya terobsesi dengan harta. Aku tau selama ini dia tidak benar benar tulus menerima ku. Aku harap dengan jauh dari keluarga dia akan sadar, arti keluarga sesungguhnya," ucap Arie punuh harap.


Ia masih berharap neneknya bisa berubah. Harta memang segalanya, kita tidak bisa hidup jika tidak punya harta. Akan tetapi, jangan sampai itu membuat kita lupa dengan harta yang paling berharga, keluarga dan orang orang yang menyayangi kita.


__ADS_2