Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Masih buntu


__ADS_3

Alex terdiam, tak ada niatan samasekali untuk menjawab pertanyaan Tama. Merasa di acuhkan Tama pun akhirnya memilih keluar dari ruangan itu.


"Istirahatlah, meskipun kau tidak mau. Tapi kau membutuhkannya," ucap Tama sebelum berlalu di balik pintu.


Alex bukannya tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Dadanya masih terasa amat sakit saat ia bergerak, bagaikan ribuan jarum yang menusuk di dalam. Setiap tarikan nafasnya terasa berat dan menyiksa. Namun, rasa takut kehilangan belahan jiwanya lebih besar hingga bisa membuatnya bertahan. Alex meletakkan kepalanya di sebelah tangan Arie. Menghirup aroma tubuh sang istri. Pria bermata sipit itu sangat berharap semua ini hanya bunga tidur. Yang akan hilang saat ia membuka matanya.


Hari bergulir dengan cepat. Dua hari telah berlalu dari insiden kecelakaan yang di alami Alex dan istrinya. Polisi kehilangan jejak sang pelaku, mereka hanya menemukan truk yang sudah terbakar habis.


Sementara itu Arie masih berbaring lemah, belum ada tanda-tanda wanita cantik itu akan siuman. Dokter sudah berusaha semampu mereka untuk memberikan pengobatan pada Arie.


Kakek Wu menemani Alex sehari penuh kemarin. Hari ini sang mertua lah yang menemaninya. Bersama Arow Adinata menemani menantunya.


"Nak kau sebaiknya istirahat, biar ayah dan kakakmu saja yang akan menjaga Arie." Ucap adinata. Ia merasa tidak tega melihat menantunya yang terus berada di sisi putrinya.


Alex menggeleng. "Tidak, aku akan tetap di sini. Ayah pulanglah, aku baik baik saja."


Adinata hanya bisa menghela nafasnya. sangat sulit untuk berbicara dengan Alex di saat seperti ini. Dia sangat keras kepala.


Meskipun Alex sudah berada sekamar dengan istrinya. Namun, ia masih enggan untuk sekedar berbaring.


Adinata berjalan mendekati Alex, yang berada di samping ranjang Arie. Dengan satu tangan yang terus menggenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin Alex menatap lekat wajah Arie yang masih betah memejamkan matanya.


"Alex, kau harus istirahat. Kalau kau terus seperti ini kondisimu tidak akan membaik. Arie akan baik-baik saja," ucap Adinata dengan meletakkan tangannya di atas bahu sang menantu.


Alex tersenyum kecut mendengar ucapan mertuanya. Orang tua itu sok menenangkan dirinya. Padahal Alex tahu bagaimana ia meraung-raung dalam tangisnya saat pertama melihat keadaan Arie.


"Aku juga baik-baik saja, jika ayah menganggap istriku yang sedang koma dalam keadaan baik. Maka aku yang masih sadar dan bisa bicara dengan jelas ini, sangat jauh lebih baik darinya. Aku tidak butuh istirahat. Yang aku butuhkan sekarang adalah Arie bisa membuka matanya lagi. Jika memang ayah merasa lelah, dengan senang hati saya akan menyuruh perawat untuk mengantarkan Anda keluar," ucap Alex dengan datar dan dingin. Ia terus memperhatikan Arie.


Entah kenapa ucapan Alex sekarang sangat dingin dan terkesan seperti memojokkan orang lain. Adinata buang mendengar ucapan sang menantu pun tidak bisa berkata banyak. Ucapan Alex tidak salah, akan tetapi apakah dia harus berkata seperti itu. Adinata hanya ingin menenangkannya, kenapa Alex bicara begitu dingin kepadanya.


"Alex jangan bicara seperti itu biasa Ayah, " geram Arow. Ia merasa Alex sudah bicara keterlaluan Kepada sang Ayah.

__ADS_1


Adinata mengisyaratkan Arow untuk diam. Adinata bisa memahami bagaimana terpukulnya Alex melihat kondisi istrinya yang sudah di ambang gerbang maut. Ia pun pernah merasakan hal yang sama saat Anjar meninggal dunia.


"Baiklah Nak, ayah akan kembali besok. Jaga dirimu, Arie akan sangat membutuhkan mu saat dia membuka matanya."


Alex tidak menjawab, ia masih fokus pada istrinya. Adinata hanya bisa menghela nafas panjang, melihat Alex sama sekali tidak meresponnya.


Adinata pun meninggalkan ruangan itu bersama Arow. Keluar dari ruangan itu Adinata mendapati Chiko sedang duduk di luar ruang. Chiko pun segera berdiri dan membungkuk hormat saat Adinata dan Arow keluar.


"Bukannya kau harus ada di kantor?" tanya Arow.


"Hari ini saya ingin menyampaikan suatu pada Tuan Alex secara langsung." ucap Chiko menjelaskan.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Tolong jaga mereka," Pamit Arow, kemudian ia menyusul langkah Ayahnya.


"Tentu."


Setelah dua orang itu berlalu, Chiko pun bergegas masuk.


"Tuan," sapa Chiko.


"Tidak tuan, seperti apa yang di sampaikan oleh polisi kemarin. Kami hanya bisa menemukan truk itu dalam keadaan yang sudah habis terbakar. Saya masih berusaha mencari petunjuk," lapor Chiko.


Alex memutar kursi rodanya, adat bisa melihat langsung ke arah asisten pribadinya.


"Kerahkan lebih banyak orang lagi. periksa setiap Cctv yang terpasang di sekitar minimarket itu dan tempat dimana truk itu dibakar."


"Kau harus segera menemukannya. Aku ingin pelakunya tersiksa seumur hidupnya!" ucap Alex dengan penuh amarah.


"Baik Tuan, akan saya laksanakan."


Percakapan mereka berdua terhenti saat seseorang perawatan membawa masuk box bayi. Seorang bayi kecil dengan kulitnya yang masih memerah. Bayi itu datang setelah melewati masa kritisnya. Perawat itu berharap Pasien cepat sadar saat berdekatan dengan bayinya.

__ADS_1


Perlahan perawat itu membawa box bayi itu mendekat ke arah Alex. Dengan terpaksa Alex melihat sekilas wajah malaikat kecil yang terlelap itu.


Yang ia takutkan benar, wajah bayi itu sangat mirip dengan ibunya. Kecuali hidungnya yang mirip dengan Alex. Rasa haru menyelimuti hatinya, melihat malaikat kecil itu lahir dengan sempurna. Namun, rasa takut lebih mendominasi, ia takut tidak bisa merawat putrinya, atau bahkan ia bisa membenci bayi yang tidak berdosa itu. jika Arie benar benar meninggalkannya.


"Kenapa kau membawanya kemari?" tanya Alex datar.


"Biasanya seorang ibu punya ikatan batin lebih dalam pada anaknya. Saya mencoba membangunkan Nyonya. Mungkin Nyonya akan siuman jika bayinya ada di dekatnya," ucap perawat itu menjelaskan, ia sebenarnya sangat takut dengan tatapan Alex yang seolah menusuk sampai ke ujung kaki.


Respon Alex sungguh di luar dugaan perawat itu. Ini adalah kali pertama Alex bertemu dengan putrinya, akan tetapi ia terkesan acuh. Bahkan ia terlihat sama sekali tidak ingin untuk melihat sang anak.


"Kau dengar itu sayang, perawat ini membawa anak kita untuk bertemu denganmu." ucap Alex datar.


Hoe..


Tiba-tiba saja bayi itu menangis kencang. Seakan memanggil sang Mama untuk segera membukakan matanya. Semakin lama semakin kencang.


"Buat dia diam atau bawa dia keluar, berisik!" sentak Alex. Hatinya merasa tercabik cabik mendengar suara tangisan bayi itu.


Perawat itu masih membeku di tempatnya. Ia masih berusaha mencerna ucapan ayah dari bayi itu.


"Apa kau tuli, aku bilang bawa bayi itu keluar!"


"I-iya Tuan." Dengan tergesa gesa perawat itu mendorong box bayi itu keluar dari ruangan itu.


POV Arie.


Tubuhku terasa sangat berat dan lelah. Aku ingin istirahat di taman bunga ini. Begitu harum dan menenangkan. Ada seberkas cahaya putih yang berbinar dengan terang. Aku akan pergi ke sana.


Aku bangkit dari dudukku lalu berjalan melangkah ke arah cahaya putih itu. Sangat indah, seperti menarik ku agar masuk ke dalamnya. Baru beberapa langkah aku berjalan ke arah cahaya itu.


Suara tangisan seorang bayi yang terdengar sangat pilu. Aku pun membalikkan tubuhku, lalu melangkah menjauhi cahaya itu. Tangisan itu terdengar semakin kencang dari balik sebuah pintu.

__ADS_1


Saat aku akan membuka pintu itu, suara tangis itu hilang. Aku pun mengurungkan niatku untuk memutar handel pintu. Aku melepaskannya handle pintu lalu berjalan ke arah bangku di mana aku duduk sebelumnya.


****


__ADS_2