
Tama baru saja turun dari mobilnya, dengan langkah lebar ia masuk ke rumah. Hari ini dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Akan tetapi untungnya dia masih bisa menyelesaikan operasinya dengan baik.
Tama sengaja tidak mengaktifkan ponselnya sama sekali, ia ingin memenangkan dirinya terlebih dahulu.
Lampu ruang tamu masih menyala, berarti sang penghuni rumah belum terlelap. Dengan perlahan Tama membuka pintu rumahnya. Ia terdiam saat melihat seseorang wanita yang ia cintai terlelap, meringkuk di sofa.
Tama membuang nafasnya kasar, dengan langkah pelan Tama mendekati sofa di mana istrinya terlelap. Ia duduk bertumpu pada lututnya, mensejajarkan diri dengan posisi istrinya.
Jemari besarnya menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Wajah yang begitu damai, Tama tersenyum namun sejurus kemudian raut wajahnya berubah sendu.
"Apa yang harus aku lakukan, kenapa kau menyembunyikan itu. Aku tidak akan marah seandainya kau mengatakan itu padaku," Tama berucap pada Siska yang tidak mungkin mendengarkannya.
Tama berdiri, lalu membungkuk untuk mengangkat tubuh kecil sang istri dalam dekapannya. Tak ada pergerakan yang berarti dari istrinya, sepertinya Siska sedang benar benar terlelap. Dengan langkah pasti Tama membawa istrinya berjalan ke peraduan mereka.
Tama membuka pintu kamar dengan kakinya, untungnya pintu kamar tidak ditutup dengan baik. Mungkin Siska terlalu tergesa-gesa saat keluar sehingga menutupnya dengan asal. Tama pun masuk dan merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan.
Setelah menyelimuti tubuh Siska dengan selimut, Tama pun segera membersihkan dirinya. Siska mengeliat menyusup ke dalam selimut hangat yang menutupi tubuhnya. Selimut! Siska pun langsung membuka lebar matanya. Sadar dirinya sudah berada di dalam kamar, tapi siapa yang membawanya masuk. Apa dia berjalan sambil tidur?
Pintu kamar mandi terbuka, Tama keluar dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Siska segera bangkit dan berhamburan ke pelukan suaminya.
"Mas," ucap Siska sambil mengusap wajahnya di dada Tama yang basah.
Siska memeluk erat tubuh suaminya. Namun, tangan Tama tidak menyambut pelukan sang istri. Siska yang merasa heran pun melerai pelukan mereka. Ia menatap suaminya yang menatapnya dengan datar, bukan tatapan hangat seperti biasanya.
"Mas kenapa? apa mas sakit? kenapa -
Siska tidak melanjutkan ucapannya melihat tatapan mata Tama yang tak biasa tertuju kepadanya.
Tama berjalan melewati Siska begitu saja menuju ke tempat pakaian mereka di simpan. Setelah selesai Tama pun menghampiri sang istri yang menunggunya. Ia duduk tercenung di pinggir ranjang dengan mata kosong yang terus menatap ke depan.
"Sis," Tama memanggil sang istri Nyang tidak menatapnya. Siska menoleh, matanya sudah berkaca-kaca.
Tama tidak tega menatap istrinya, tapi dia juga butuh sebuah penjelasan tentang semuanya. Ia menggenggam erat tangan Siska dengan satu tangannya.
"Mas, mau kamu menjelaskan tentang ini." Tama meletakkan stip bekas obat yang sudah kosong di atas pangkuannya.
Mata Siska melebar, air matanya langsung jatuh begitu saja. Takut, ia sangat terkejut dan menatap suaminya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Maaf," dari sekian banyak kata penyesalan yang berjubel di otaknya, hanya satu kata itu yang lolos keluar dari mulutnya yang bergetar.
__ADS_1
"Sejak kapan?"
"Sejak kita masih tinggal di kontrakan, dan tidur bersama." Siska menunduk, ia sungguh tak sanggup menatap wajah suaminya yang terlihat sangat kecewa.
"Kenapa Sis? Apa kamu tidak mencintaiku? kenapa, kamu tidak ingin memiliki anak dariku?" Tama menyugar rambutnya dengan kasar. Akhirnya ia meluapkan segala yang mengganjal di hatinya sejak tadi pagi.
Siska hanya diam dengan air mata yang semakin mengalir deras. Bagaimana Tama bisa mengatakan hal seperti itu. Siska mencintainya, sangat mencintai suaminya. Hanya Tama, laki laki yang membuat Siska membuka hatinya kembali. Maka dari itu ia tidak ingin kehilangannya, ia tidak ingin ditinggalkan untuk kedua kalinya.
"Kenapa diam? Jawab pertanyaan ku!" Tama berdiri di depan Siska, membungkuk dan mencengkeram bahu perempuan itu dengan kuat.
Siska mengigit bibir bawahnya, menahan dirinya agar tidak semakin terisak. Bahunya terasa sakit, tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Diam mu tidak akan menjawab pertanyaan ku. Apa kau pikir pernikahan ini hanya permainan, kita bahkan sudah menikah secara resmi. Tapi kenapa kau melakukan ini. Apa kau sungguh tidak ingin melahirkan keturunanku?!"
"Cukup mas! jangan terus menyudutkan ku. Aku punya alasan untuk itu!" Siska mendongakkan wajahnya yang sudah bersimbah air mata.
Mata coklatnya bertemu dengan manik hitam Tama yang menatapnya dengan geram.
"Aku menunggu alasanmu."
"Aku...aku takut mas, aku takut mas Tama akan meninggalkan ku kalau nanti aku hamil." Siska kembali menundukkan wajahnya, tubuhnya semakin gemetar.
"Jelaskan sis, aku tidak mengerti dengan ucapanmu," Tama berkata dengan nada merendahkan, ia pun melepaskan cengkraman tangannya dari bahu sang istri.
Siska mengusap pipinya yang basah. Ia mengambil nafas dalam lalu menghembuskanya perlahan. Siska menyentuh dadanya dengan kedua tangannya, berusaha mengatur nafas. Tama kembali duduk di samping sang istri, dengan sabar ia menunggu bibir mungil itu untuk mulai bicara.
"Waktu Siska hamil Naoki, tubuh Siska berubah mas, pucat, kurus, tidak terawat. Aku mengalami morning sickness yang parah. Sampai aku harus diinfus beberapa kali ke rumah sakit. karena tidak ada satu makanan pun yang bisa masuk. Semuanya akan kembali ke luar begitu aku memakannya."
"Badan Siska bau muntah, Siska seperti mayat hidup dengan perut buncit. Aku terbaring lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, saat itulah suami Siska yang dulu, pulang sambil membawa seorang wanita. Dia bilang dia nggak butuh wanita kayak Siska, dia nggak butuh wanita jelek yang hanya bisa nyusahin kayak aku. Malam itu dia meninggal Siska dan Naoki yang masih ada dalam kandungan." Tubuh Siska bergetar, air matanya kembali luruh, mengingat hancur hatinya kala itu.
Tama mendengus, lalu meraih bahu Siska lalu menyandarkan kepala sang istri di dadanya.
"Kau menyamakan aku, dengan pria brengsek yang meninggalkanmu itu," ucapan Tama terdengar kesal.
"Bukan seperti itu mas, Siska takut. Kalau Siska hamil dan seperti itu lagi.. mas Tama akan ninggalin Siska, aku takut mas." Siska mendekap tubuh suaminya dengan erat.
Tama menundukkan kepalanya, dengan satu tangannya Tama mengapit dagu kecil istrinya lalu mengarahkannya ke atas.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Sampai maut memisahkan kita, aku kan selalu ada di sampingmu. Karena aku milikmu dan akan selalu seperti itu."
__ADS_1
Siska menatap suaminya dengan penuh arti. Tama pun melahap wajah sang istri dengan penuh kasih, ia sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang di lalui oleh istrinya. Ia berjanji akan membuat Siska menjadi wanita paling bahagia.
"Mas, maafin Siska."
"Tidak sayang, aku yang minta maaf. Kau sudah menyakiti kamu. Maafin mas ya," ucap Tama dengan tulus, ia benar benar merasa bersalah.
"Kalau kamu masih belum mau hamil, aku nggak apa-apa kok, senyaman kamu aja. Toh, aku masih muda, masih kuat buat main bola tiap malem sama kamu. Jadi hamilnya bisa kita progam saat kami sudah siap, ok." Tama melabuhkan bibirnya di kening dan kedua pipi sang istri.
"Apa sih mas, kok maen bola!"
"Lha kan kamu gawangnya, aku yang masukin bola panjangnya."
Tama pura-pura meringis kesakitan saat Siska mencubit perutnya dengan sayang.
"Rasain, dasar mesum!"
"Mesum juga sama kamu, istriku sayang."
"Gombal."
"Biarin."
Keduanya pun tergelak bersama. Tama menatap wajah sang istri yang terasa lepas. Terdengar merdu di telinga Tama.
Terus seperti ini sayang, jangan teteskan air matamu lagi. Aku akan menjagamu, selama nafasku masih berhembus.
Tama merengkuh Siska erat dalam pelukannya.
"Mas kenapa?" tanya Siska lembut.
"Mas pengen main bola."
"Eh, sekarang?"
"He'em, bolanya udah kangen mau masuk gawang."
Tanpa menunggu jawaban dari sang istri. Tama pun segera mendorong tubuh istrinya, lalu mengungkungnya di bawah.
Malam semakin larut dengan hawa dingin yang menusuk. Tapi di atas ranjang pertempuran, angin malam itu tak berarti. Pemain bola yang begitu sengit, saling mengecap dan mengigit. Remasan dan hentakan pun mewarnai permainan malam ini.
__ADS_1